Setelah mengetahui pengkhianatan sang kekasih, serta ada masalah di pabriknya, Rayyan memutuskan untuk healing sejenak ke sebuah desa, tempat salah seorang sahabatnya berada.
Tapi, nasib justru mempermainkannya. Malam itu, Rayyan menyelamatkan Lilis yang hendak di lecehkan seseorang, tapi Rayyan terjebak dalam sebuah kondisi, yang membuat warga desa salah paham, hingga mengharuskannya menikahi Lilis, seorang janda kembang.
Bagaimanakah lika-liku perjalanan mereka selanjutnya?
Apakah Rayyan akan tetap mempertahankan Lilis sebagai istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#28
#28
Lilis membeku saat tubuhnya dipeluk erat, seluruh tubuhnya lemas, tiba-tiba tak bertenaga ketika Rayyan meraup bibirnya seperti musafir yang menemukan telaga. Meski sebelumnya Rayyan bukan pemain profesional dalam hal ini, namun, bagi Lilis ini sebuah pelajaran baru yang ditularkan Rayyan padanya.
Wanita itu pasrah ketika lidah Rayyan menerobos masuk menjelajahi rongga mulutnya, menghisap, kadang dibumbui gigitan-gigitan kecil, karena terus terang saja Rayyan sungguh gemas dengan kepolosan istrinya.
Lilis yang tak siap dengan ulah suaminya, mulai megap-megap kehabisan nafas, dan secara otomatis kedua tangannya bergerak memperingatkan Rayyan agar berhenti sejenak.
Akhirnya pria itu menyudahi aksinya sambil meringis malu, “Maaf,” katanya, sementara Lilis tak sanggup menjawab karena sibuk menormalkan kembali laju nafasnya.
“T-ti-tidak— apa-apa—” jawab Lilis terbata seperti baru saja berlari jarak jauh. Wajahnya menunduk malu menyembunyikan rona yang tak biasa.
Padahal ada banyak sekali hal yang ingin wanita itu tanyakan, termasuk pakaian kerja yang dikenakan Rayyan, sama sekali tak mencerminkan seorang bawahan yang bekerja menjaga kebun dan peternakan.
Rayyan mengangkat dagu Lilis agar wajahnya mendongak kemudian menempelkan kening mereka, ia bisa merasakan hembusan nafas Lilis yang tak jauh berbeda dengan nafasnya sendiri. “Barusan Mas kepikiran kamu, makanya jadi begini. Apa kamu juga memikirkan Mas?”
“Mmm—” Ingin menjawab ‘iya’ tapi Lilis ragu mengatakannya.
Hal itu membuat Rayyan jadi salah paham, berujung merengut bibirnya. “Jadi, hanya aku saja yang rindu? Sayang sekali,” gumamnya.
“Sebaiknya, Mas mandi saja,” pancing Rayyan, ia melepaskan pelukan, berharap Lilis menahan kepergiannya.
“Mas, tunggu!”
Diluar dugaan, Lilis justru melingkarkan kedua tangannya di pinggang Rayyan.
“Apa ini? Jangan pura-pura, ya! Mas tak suka hal yang palsu.” Rayyan melanjutkan aksi pura-pura ngambeknya, berharap Lilis mengakui apa yang ia rasakan selama mereka LDR dua hari lamanya.
😝
Lilis semakin mengeratkan pelukan, “Iih, mana ada sikapku palsu, aku selalu jujur loh,” cicitnya.
“Lalu?”
“Aku juga—” gumam Lilis, namun, suaranya sedikit samar karena wajahnya tenggelam di dada suaminya.
Rayyan bersorak dalam diam, bersusah payah menahan euforia kebahagian yang saat ini tengah ia rasakan. “Apa? Mas tak dengar, keraskan sedikit suaramu.” Rayyan sengaja merengek terdengar sedikit memaksa, tapi biarlah.
Lilis terpaksa mendongak, sorot matanya bertabrakan dengan kedua mata suaminya. “Aku juga.”
“Juga—”
“Kangen,” ulang Lilis.
Senyum Rayyan kini mengembang lebar, kedua tangannya kembali memeluk tubuh Lilis yang masih menempel padanya. Senangnya bila rindu berbalas, hati dan jiwa tenang, pikiran pun mendapatkan suntikan hormon kebahagiaan.
•••
Usai Rayyan mandi keduanya pun sholat berjamaah, lalu makan bersama dalam suasana bisu, lebih tepatnya sama-sama malu setelah beberapa saat lalu saling meluapkan perasaan rindu.
Padahal ia pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita, tapi setelah sekian tahun LDR, rasa rindunya pada Mitha tak menggebu-gebu seperti rasa rindunya pada Lilis, padahal baru LDR dua hari.
Getaran di hatinya terasa berbeda, ada percik-percik api kecil sebagai wujud perasaan yang sungguh menggebu.
Malahan sekarang, Rayyan benar-benar dibuat terpesona dengan perubahan istrinya, benarlah kiranya ucapan para emak-emak masa kini, cantik memang butuh modal, karena biaya perawatan kecantikan tidak ditanggung jaminan kesehatan sosial.
Selama ini tak pernah ada yang memberi modal pada Lilis agar bisa memperbaiki penampilan fisiknya, mungkin mantan suami wanita itu pun sama dengan pria-pria pelit di luar sana, yang menginginkan istrinya secantik para artis, tapi modalnya amat tipis.
Kesannya, Hanya mau enaknya saja, tapi tak mau menyumbang modal.
Lihatlah kini, setelah mendapatkan perawatan, kecantikan Lilis jauh melampaui kecantikan Arimbi. Wajahnya yang semula kusam, kini terlihat bersih segar dengan rona alami di pipi. Lipstik tipis natural yang menghiasi bibirnya seolah mampu menarik Rayyan untuk mendekat hingga terciptalah ciuman mesra, lembut, pelan, tapi tidak menuntut. Namanya juga baru belajar.
“Lis, kok nggak di lepas, sih?” gerutu Rayyan, sedikit kesal, ketika Lilis masih setia mengenakan kain sholat untuk menutupi kepalanya. Padahal Rayyan ingin memanjakan matanya dengan melihat dan menikmati kecantikan istrinya tanpa hijab atau penutup kain sholat.
Apalagi tadi ketika mereka larut dalam ciuman panas, Rayyan mencium aroma bunga yang menguar dari tubuh istrinya. Otaknya kosong seperti sedang dibersihkan selama beberapa saat, tak mampu memikirkan apa-apa, bahkan tak bisa membuat keputusan penting yang brilliant seperti biasa nya.
“Mmm— annu, Mas, itu, a-aku—”
Rayyan menatap wajah gugup Lilis, “Apa, hmm?”
Mendapati tatapan intens dari kedua mata suaminya, jantung Lilis makin dar, der, dor, tak karuan. Benar-benar situasi yang tak bisa ia gambarkan dengan untaian kata.
“Masa suamimu tak boleh lihat, sih? Padahal kan berpahala,” pancing Rayyan gemas.
Rayyan meletakkan sumpit yang ia pakai untuk mengambil potongan dim sum. Kemudian memutar tubuhnya menghadap ke tempat Lilis berada. Tangannya terjulur membuka karet yang mengikat kepala agar kain sholat tidak terbuka ketika dalam posisi sujud.
“Boleh?”
Rayyan kembali bertanya dengan suara yang amat lembut, menanti persetujuan Lilis, karena tak ingin Lilis berpikir bahwa dirinya pria egois yang pemaksa.
“B-boleh, Mas. Silahkan, semoga menjadi ladang pahala untuk kita.”
Wadidaw, jumpalitan rasanya tubuh Rayyan, jika reaksi jumpalitan terlihat sungguhan, pasti orang-orang mengira dirinya sedang kesurupan. “Alhamdulillah,” ucapnya tenang, berlawanan dengan gemuruh yang bertalu di dalam rongga dadanya.
Kain sholat berwarna pastel itu pun terlepas, dan secara otomatis gulungan rambut Lilis pun terurai. Indera penciuman Rayyan kembali mencium shampoo beraroma bunga. “Cantiknya, istriku,” gumam Rayyan.
Uhuk!
Lilis tersedak pelan setelah mendengar pujian suaminya, Rayyan memijat tengkuk istrinya, kemudian mengambilkan botol berisi air mineral dan membukanya. “Pelan-pelan minumnya,” bisik Rayyan, tangannya tetap setia, mengusap rambut panjang Lilis yang terurai hingga ke punggung.
“Sudah, Mas,” kata Lilis, hendak menepis tangan Rayyan, tapi ia suka di belai lembut seperti ini. Rasanya sungguh menyenangkan, dicintai dan diterima sepenuh hati.
Rayyan mengambil alih botol dari tangan Lilis, lalu membereskan bungkusan-bungkusan makanan yang sudah ludes tak bersisa. “Biar aku saja, Mas,” kata Lilis, ikut membereskan bungkus makanan yang telah habis setelah mereka santap berdua.
“Ya, udah, sama-sama kita bereskan biar bisa lekas tidur,” sahut Rayyan karena tak mungkin menghalangi tangan gesit istrinya.
Mendengar kata tidur, jantung Lilis semakin tidak aman. Tapi suka atau tidak mereka harus melewatinya, agar sakinah, mawaddah, wa rohmah, benar-benar terwujud dalam rumah tangga baru mereka.
•••
Setelah membereskan semua bungkusan bekas wadah makan malam, ponsel Rayyan berdering.
“Mas terima telepon dulu, ya.”
Lilis mengangguk, ia menghampiri lemari bermaksud mengganti pakaian, lalu bersih-bersih dan tidur.
Deretan paperbag berjajar di lemari, semua berisi pakaian dan perlengkapan lain, selama Lilis menginap di hotel. Lilis meraih paperbag yang kata Rosa berisi pakaian salin semacam daster yang adem dan nyaman untuk dipakai ketika tidur.
Tapi—
“Pakaian apa ini?! Kalo ini sih bukan cuma adem, tapi bisa membuatku beku!”
cepet pulih ya lis
pantes lah kalau kurang gizi, lilis banting tulang buat nyari uang kebutuhan emak tiri