hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Suasana di meja makan kediaman utama malam itu terasa sangat mencekam. Kursi yang biasanya diduduki Safira dan Vian tampak kosong melompong, menciptakan lubang besar dalam formasi keluarga tersebut. Raga Maheswara duduk di ujung meja dengan wajah kaku, sementara Ratih terus-menerus mengusap bahu Maya yang sedari tadi hanya mengaduk-aduk nasinya dengan wajah sembab.
Raka dan Bima duduk berhadapan, keduanya tampak kehilangan selera makan.
"Pa, sampai kapan kita mau diam begini?" Bima akhirnya memecah keheningan, suaranya bergema di ruang makan yang luas itu. "Vian ikut Safira. Dia itu adik kita, anak Papa. Bagaimana bisa Papa membiarkan Safira membawa Vian pergi begitu saja?"
"Dia yang memilih untuk ikut kakaknya, Bima!" sahut Ratih dengan nada tinggi yang bergetar. "Safira itu sudah mencuci otak Vian. Dia sengaja membawa Vian supaya kita semua merasa bersalah!"
Raka meletakkan sendoknya dengan dentingan keras. "Mencuci otak? Atau Vian akhirnya sadar kalau selama ini rumah ini lebih mirip medan perang daripada tempat tinggal? Ma, Maya... berhenti akting seolah kalian korbannya. Video di sekolah itu sudah menjelaskan semuanya."
"Raka! Kamu membela anak sialan itu?" bentak Raga, matanya berkilat marah ke arah putra sulungnya.
"Aku membela kenyataan, Pa!" balas Raka tak kalah sengit.
Di tengah perdebatan itu, pintu utama terbuka. Langkah kaki yang tenang namun berwibawa terdengar mendekat. Bukan Safira, melainkan seorang pria paruh baya dengan setelan safari abu-abu yang membawa tas kerja kulit.
"Maaf mengganggu makan malam Tuan Raga," ucap Haryo dengan nada formal yang dingin. Ia meletakkan sebuah map biru di atas meja makan, tepat di depan Raga.
"Haryo? Ada apa malam-malam begini?" tanya Raga heran.
"Saya baru saja menerima surat tuntutan resmi dari firma hukum Byakta. Ini bukan tentang aset, Tuan. Ini tentang hak asuh dan pengalihan perwalian Ravian Pradipta," jelas Haryo.
Ratih tersentak berdiri. "Apa?! Safira mau mengambil hak asuh anakku?!"
"Bukan hanya itu," Haryo melirik Maya sekilas dengan tatapan meremehkan. "Nona Safira juga mengajukan audit investigasi terhadap dana yayasan pendidikan yang selama ini dikelola oleh Ibu Ratih dan digunakan untuk keperluan pribadi Nona Maya. Mereka memiliki bukti transaksi yang sangat mendetail."
Wajah Ratih seketika pucat pasi. Maya yang tadi berpura-pura sedih, kini tampak benar-benar ketakutan. Jika audit itu berjalan, maka kedok mereka selama ini yang menggunakan uang perusahaan untuk gaya hidup mewah Maya akan terbongkar.
"Sialan kau, Safira!" geram Raga, ia menghantam meja hingga gelas-gelas bergetar. "Dia benar-benar ingin mengibarkan bendera perang denganku!"
"Dia tidak hanya mengibarkan bendera, Pa," sela Bima sambil menatap map biru itu. "Dia sudah mulai menembakkan meriamnya."
Sementara itu, di sebuah restoran privat di pusat kota, Safira sedang duduk tenang bersama Abian . Di hadapan mereka, duduk seorang pria muda berkacamata dengan aura yang sangat misterius.
(Reza Al-Fahri; Seorang ahli forensik digital dan peretas 'white hat' yang disewa Safira untuk memantau setiap pergerakan rekening bank keluarga Maheswara secara real-time.)
"Semua sudah sesuai rencana, Kak Fira," ucap Reza sambil menggeser tabletnya. "Begitu Pak Haryo sampai di rumah itu, saya langsung memutus akses kartu kredit tambahan milik Maya. Sekarang, dia bahkan tidak bisa membeli sebotol air mineral dengan uang Papa Anda."
Safira menyesap minumannya, matanya memancarkan ketegasan yang tak tergoyahkan. "Itu baru permulaan, Reza. Aku ingin mereka merasakan bagaimana rasanya hidup di bawah tekanan yang mereka berikan padaku selama bertahun-tahun. Raka dan Bima mungkin abang kandungku, tapi jika mereka memilih berdiri di samping Papa, mereka juga akan ikut terbakar."
Abian mengamati Safira dengan senyum tipis yang penuh kekaguman. "Kau sangat kejam jika sudah marah, Safira. Dan aku menyukainya."
"Aku tidak kejam, Abian . Aku hanya sedang menagih hutang," jawab Safira dingin.
Di kediaman Maheswara, kekacauan baru saja dimulai. Maya menjerit histeris saat mencoba melakukan belanja online dan menemukan semua kartunya ditolak, sementara Raga mulai menerima telepon dari pemegang saham yang menuntut penjelasan atas berita audit yang mulai bocor ke telinga publik.
...****************...
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas