Tokoh utama nya adalah pria bernama Reza (30 tahun) .Dia bukan Pahlawan, dia bukan orang kaya ,dia cuma pria yang merasa hidupnya sudah tamat karena hutang, patah hati, Dan Rasa bosan.
dia memutuskan untuk pergi secara terencana .dia sudah menjual semua barang nya , menulis surat perpisahan yang puitis, dan sudah memilih Gedung paling tinggi. tapi setiap kali ia mencoba selalu ada hal konyol yang menggagal kan nya , misalnya pas mau lompat tiba tiba ada kurir paket salah alamat yang maksa dia tanda tangan. Pas mau minum obat, eh ternyata obatnya kedaluwarsa dan cuma bikin dia mulas-mulas di toilet seharian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka Dalam Selimut
Suasana di gudang Koperasi Kurir Jujur (K.KJ) mendadak tegang. Pagi itu, tiga buah paket berisi barang elektronik senilai puluhan juta rupiah dilaporkan hilang dalam perjalanan. Ini bukan sekadar salah alamat atau telat antar; sistem pelacakan menunjukkan paket tersebut sudah diterima, tapi pelanggan bersumpah tidak pernah melihat kurirnya.
Reza duduk di kursi kayunya, menatap layar monitor dengan mata lelah. Ia memeriksa data digital. Kurir yang bertugas di rute tersebut adalah Sandi, seorang pria muda yang dulu Reza selamatkan dari kejaran penagih hutang judi bola.
"Sandi nggak mungkin melakukannya, Za," ujar Budi sambil mondar-mandir. "Dia sudah kita anggap adik sendiri. Dia yang paling rajin, bahkan sering lembur tanpa minta tambahan."
"Data tidak berbohong, Bud," jawab Reza datar. "Statusnya 'Diterima oleh Yang Bersangkutan', tapi foto buktinya blur, hanya memperlihatkan ujung pagar yang bukan milik pelanggan. Sandi tahu celah sistem kita."
Reza tidak langsung memanggil polisi. Ia teringat bagaimana kurir ayam geprek dulu memberinya kesempatan kedua. Ia ingin memberikan hal yang sama pada Sandi. Malamnya, Reza mendatangi rumah kontrakan Sandi di gang sempit dekat stasiun.
Lewat jendela yang terbuka sedikit, Reza melihat Sandi sedang menangis di depan meja makannya. Di atas meja itu, ada tumpukan uang tunai dan sebuah surat teguran dari Metro Express. Reza mengetuk pintu perlahan.
Sandi tersentak, wajahnya pucat pasi saat melihat siapa yang datang. "Mas Reza..."
"Aku tidak ke sini untuk marah, San. Aku cuma mau tanya satu hal: apakah uang itu cukup untuk membayar harga dirimu?" Reza masuk dan duduk di kursi plastik yang reyot.
Sandi jatuh bersimpuh, air matanya tumpah. "Maaf, Mas... mereka mengancam saya. Adik saya butuh operasi ginjal segera. Metro Express janji akan membiayai semuanya kalau saya bisa merusak reputasi K.KJ dengan membuat paket- paket mahal itu seolah-olah dicuri oleh sistem kita. Saya terjepit, Mas."
Reza menghela napas panjang. Rasa marah yang sempat membuncah kini berganti menjadi rasa iba yang menyesakkan. Inilah cara kerja raksasa; mereka tidak hanya menyerang secara bisnis, tapi mereka menyerang titik paling lemah dari kemanusiaan: kemiskinan dan rasa takut.
"Kenapa kamu tidak bilang padaku? Koperasi kita punya dana darurat," kata Reza lembut.
"Saya malu, Mas. Saya sudah banyak berhutang budi. Saya pikir dengan cara ini, masalah saya selesai tanpa membebani koperasi."
Reza berdiri, menatap tumpukan uang di meja. "Uang itu adalah racun, Sandi. Kalau kamu ambil, kamu bukan cuma mengkhianatiku, tapi kamu mengkhianati tiga puluh orang lain yang sedang berjuang di jalanan setiap hari demi nama 'Jujur' yang kita bawa."
Malam itu, Reza membuat keputusan sulit. Ia meminta Sandi mengembalikan semua paket yang ia sembunyikan di bawah tempat tidur. Esok paginya, di depan seluruh anggota koperasi, Reza berdiri berdampingan dengan Sandi yang tertunduk lesu.
"Hari ini, kita belajar tentang pengampunan, tapi juga tentang konsekuensi," suara Reza bergema di gudang. "Sandi telah melakukan kesalahan besar. Ia tergoda oleh pihak luar untuk merusak kita. Tapi ia juga telah jujur dan mengembalikan apa yang bukan miliknya."
Reza menatap para kurir yang mulai berbisik-bisik marah. "Sandi akan diberhentikan dari status kurir lapangan selama enam bulan. Ia akan bekerja mencuci motor dan membersihkan gudang ini dengan gaji minimum. Seluruh gajinya akan dipotong sebagian untuk mengganti kerugian operasional. Dan mengenai adiknya..."
Reza merogoh saku jaketnya, mengeluarkan sebuah amplop. "Ini adalah hasil patungan dari dana darurat koperasi dan tabungan pribadiku. Kita akan bawa adiknya ke rumah sakit hari ini."
Suasana gudang menjadi hening. Sandi menangis sejadi-jadinya, sementara kurir-kurir lain yang tadinya marah mulai mendekat dan menepuk bahunya. Mereka menyadari bahwa di K.KJ, mereka bukan sekadar pekerja; mereka adalah sebuah keluarga yang saling menjaga, bahkan dari kesalahan anggota sendiri.
Pengkhianatan itu justru memperkuat ikatan mereka. Metro Express gagal lagi. Mereka mengira uang bisa membeli segalanya, tapi mereka lupa bahwa orang-orang yang pernah berada di titik terendah hidup seperti Reza tahu bahwa integritas adalah satu-satunya hal yang tidak boleh ditawar.
Saat pulang ke rumah, Anya menyambutnya dengan senyuman dan Fajar yang sudah mulai merangkak.
"Kamu melakukan hal yang benar, Za, " bisik Anya sambil memberikan teh hangat.
"Aku hanya melakukan apa yang kurir ayam geprek itu lakukan padaku dulu, Anya. Memberi waktu untuk berpikir sebelum semuanya terlambat."
Reza menatap langit malam Bogor yang berbintang. Ia tahu, suatu saat nanti, tantangan akan lebih besar. Tapi selama "kejujuran" bukan sekadar tulisan di papan nama gudang, ia tidak takut lagi pada badai apapun.