Seorang pria tua, mantan narapidana, harus berusaha mencari kebenaran dari rentetan pembunuhan yang menyeret namanya.
"Aku masih tak mengerti, apa motif si pembunuh dengan menjadi peniru?"
"Tapi pembunuh kali ini, dia tampak lebih cerdas. dia sudah memikirkan dengan matang semua langkahnya."
"Kurasa bukan peniru, tapi memang dia sendiri pelakunya, dia... Santaroni ingin mengulang pembunuhannya dengan lebih sempurna."
Mampukah Santaroni—si residivis, membuktikan pertobatannya, dan menemukan pelaku pembunuhan yang telah meniru jejaknya?
note: mungkin akan ada beberapa adegan keji, mohon bijak saat membaca. ingat: 'ini hanya cerita karangan, jika ada kesamaan nama tokoh dan situasi, hanya kebetulan yang sengaja dibetul-betulkan.'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoshuaSatrio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petunjuk Kusut
Marco—kenalan lama Santaroni masih berdiri menatap pistol yang ia simpan rapi di lacinya. Keraguan jelas terlihat di wajah pria seusia Roni itu.
“Buatkan aku identitas baru, aku harus menyebrang untuk memastikan sesuatu,” ucap Roni mengulang.
Marco tak menjawab, namun ia membuat gerakan cepat, meraih pistol dari laci, lalu mendekati Roni. Dengan tatapan geram penuh emosi, Marco mengacungkan ujung pistolnya tepat di pelipis Roni,
Santaroni terkejut, namun ia tetap berusaha tenang, seolah ia tak peduli jika peluru itu benar-benar akan melubangi kepalanya. “Kau yakin akan membunuhku sekarang?” tanya Roni berusaha menyembunyikan kebingungannya.
Marco berdecak, "Cih!" suaranya penuh kebencian. Marco semakin menempelkan ujung pistol pada pelipis Roni, perlahan, ia mulai menarik pelatuknya. "Kau pikir aku akan tertipu dengan semua sandiwaramu, Ron!"
Santaroni terkekeh kecil, dengan telunjuknya ia menggaruk pelipis kanannya, dengan kedua alis terangkat seolah ia mulai menemukan alasan kemarahan Marco. “Jadi mereka menawarkan berapa, untuk harga setiap lubang di kepalaku?”
Marco mengernyit, kali ini ia yang terkejut dengan respon Roni. “Kenapa harus ada harga, hanya untuk mengeluarkan otak pembunuh dari kepalamu?”
“Aku tidak punya waktu untuk bermain denganmu, Marco. Sekali lagi bantu aku menyeberang dengan identitas lain. Simpan pelurumu hingga perayaan natal nanti, aku akan kembali untuk membayar hutangku!” pinta Santaroni tegas.
Marco menatap dalam pada manik mata Roni, sedang mencari kebenaran dari ucapan kenalan lamanya itu. “Jadi, kau benar-benar tak tahu yang terjadi di sini?”
Santaroni menghela napas dalam. “Aku tak punya uang saat keluar dari penjara, terpaksa aku membuka bengkel tua yang ditinggalkan Ayahku. Dan sepertinya aku jadi menyukai pekerjaan itu, hingga aku lupa berkunjung.”
Marco menemukan kejujuran dari ucapan Roni. Kemarahannya bukan mereda, ia hanya sedang menekannya, lalu memutuskan mengurungkan niatnya yang semula ingin segera menghabisi Roni.
Marco kembali menjauhi Roni, kemudian berdiri di dekat meja. "Baiklah, akan bantu kau menyeberang, tapi ada harga untuk itu."
"Apapun itu!" sahut cepat Santaroni.
"Cari tahu kenapa Diaz mati, aku yakin seseorang sengaja membunuhnya, entah itu bocah yang kau titipkan padanya, atau seseorang lain yang dekat dengannya. Kematiannya terlalu wajar, tapi aku masih tidak bisa menerimanya!"
"Kalau begitu katakan padaku, apa yang terjadi sebenarnya!" ucap Roni.
"Diaz tewas tepat di hari kamu keluar dari penjara. Aku terlalu terkejut, dan aku tak bisa menemukanmu dimana-mana waktu itu." terang Marco seolah menjelaskan kemana arah kemarahannya.
Santaroni terhenyak, ia menatap lurus ke arah Marco. “Lalu, kau tahu dimana Rey? Apa dia masih tinggal disana?" tanyanya khawatir.
Marco menghela napas, kembali menyimpan pistolnya, lalu menjawab, "Kudengar dia sangat terpukul, lalu tak lama kemudian adikmu itu memutuskan menjual mansion itu untuk pindah ke kota. Tapi tak ada yang tahu kemana, jejaknya seolah hilang, atau mungkin saja dia pun sudah...." Marco tak yakin untuk melanjutkan ucapannya.
..............
Sammy berjalan tegas masuk ke lobi utama Rumah Sakit Jiwa itu, lalu menuju ke meja resepsionis seraya menunjukkan lencananya. "Bisakah aku melihat riwayat seseorang?” ucapnya seraya menyodorkan foto Santaroni.
Resepsionis menatap segan pada Sammy, kemudian beralih menatap foto itu, dahinya tampak mengernyit. “Sebenarnya saya minta maaf tidak bisa membantu anda, karena semua berkaitan dengan privasi pasien kami. Tapi jika itu penting, saya akan mempertemukan anda pada manajer rumah sakit.”
Resepsionis itu mengambil napas dalam-dalam, lalu mengangkat gagang telepon dan menekan tombol ekstensi yang menghubungkan langsung dengan ruang manager rumah sakit.
Tak lama berselang, sang resepsionis beranjak dari mejanya. “Silahkan tunggu sejenak, Petugas. Manager kami akan segera turun, mari saya antar ke ruang tunggu.”
Beberapa menit kemudian, seorang pria berpakaian rapi muncul tak lama setelah Sammy duduk. “Ada yang bisa saya bantu, Petugas?” tanyanya ramah.
Sammy menoleh, kemudian terlihat reaksi kaget dari sang manager. “Oh? Petugas Sammy, ada hal apa yang membuat anda menyempatkan datang sejauh ini?”
“Bertemu lagi, Pak Dorman,” balas Sammy kemudian keduanya pun berjabat tangan.
Sammy tak ingin membuang waktu, ia segera menyampaikan maksud kedatangannya, mulai dari menanyakan kedatangan Santaroni hingga mengenai Teo.
“Rasa kangen yang terlalu berat, bisa menjadi salah satu penyebabnya, hingga suatu ketika Teo mengklaim dirinya bisa terbang untuk mencari Santaroni, dan berakhir terjun dari lantai 5,” sesal sang manager.
Sammy mengernyit dalam, hingga kedua alisnya hampir bertemu. “Bagaimana bisa rumah sakit sebesar ini lolos mengawasinya?” tuntutnya.
“Beberapa hari sebelumnya, Teo sudah lebih baik, komunikasi mulai berjalan dua arah, tapi suatu ketika... ah, semua terjadi begitu cepat, pasien lain sedang terluka dan kami sedang fokus ke sana. Kami pikir dia sedang tidur.” Terdengar dalam dan rendah suara sang manager, merasa bersalah karena lalai.
“Lalu siapa yang mengurus jenasahnya?” tandas Sammy.
“Kami rasa itu cukup, Petugas. Pihak keluarga sudah membawanya.”
“Keluarga? Bukankah tahun lalu itu Santaroni masih di dalam penjara?”
“Adik bungsunya. Adik bungsu Santaroni yang datang satu hari setelah kami mengabarkan kematian kakaknya,” jawab cepat manager itu.
“Kalian menyimpan alamatnya?”
“Kami tidak memilikinya, dia hanya datang membawa identitas kartu keluarga.”
Dari balik pintu ruang perawat, seorang perawat tampak panik namun juga takut, mengintip percakapan itu, dalam hatinya ia ragu, haruskah ia menemui petugas itu, atau 'ah, tapi aku terlalu takut padanya!' bisiknya dalam hati kemudian kembali bersiap untuk pergantian sift nya.
...........
Di kantor polisi, semua petugas tampak sibuk dengan pekerjaannya, fokus mereka terpecah dengan berbagai macam kasus yang seolah tiada kunjung selesai.
Jack melangkah tegas menuju mobilnya yang terparkir di halaman. Namun kemudian ia menghentikan langkah saat melihat beberapa petugas tampak berkumpul, seolah seru karena sesuatu.
"Apa yang kalian kerjakan?" tanya Jack penasaran.
Beberapa petugas itu pun menoleh pada rekannya. "Kami hanya sedang unboxing paket saja, tak ada yang istimewa," jawab salah satunya.
Jack terlihat menghela napas kesal. "Kasus kejahatan marak dimana-mana, tapi kalian justru sibuk dengan barang yang tak jelas!" bentaknya. "Kembali ke pos masing-masing!" imbuhnya meradang.
"Ayolah Jack, kami tahu tugas kami, tapi tak ada salahnya kami hanya membeli mantel yang sedang viral saat ini," sahut salah satu petugas membela diri.
"Benar, musim dingin sudah tiba, mantel serbaguna ini akan meringankan pengintaian nanti!" sahut yang lainnya.
"Memang apa kehebatan mantel itu?" Jack pun akhirnya penasaran, lalu kembali mendekati kerumunan.
"Mantel ini, desainnya multifungsi," terang si petugas yang memesan seraya mempraktekkan cara pemakaian mantel itu. "Bisa jadi mantel yang menutup tubuh hingga ke kaki, bisa juga jadi kantong tidur di saat mendesak. Jadi lumayan menghemat barang bawaan."
"Benar, di saat cuaca paling ekstrim di puncak gunung pun, dibuat semacam wadah di bagian belakang, yang bisa kita gunakan sebagai penyimpan gel penghangat!"
Dengan penuh antusias, para petugas menunjukkan detail-detail bagian dari mantel baru yang mereka pesan itu.
Jack tak begitu memperhatikan, isi kepalanya justru berputar ke arah lain. Dan saat matanya tertuju pada label yang tertempel di salah satu sudut mantel itu, ingatannya kembali tertuju pada rekaman CCTV yang tadinya ia cermati. Sesuatu yang kusut, seolah mulai terbaca. 'Mungkinkah?' pikirnya.
Jack melebarkan matanya melihat sekeliling, bukannya memperhatikan penjelasan dari rekannya. Kemudian melihat seorang petugas administrasi wanita berjalan tergesa. "Misty! Petugas Misty!" panggil Jack membuat petugas wanita itu menoleh ke arahnya. "Kemarilah sebentar!" imbuhnya seraya melambaikan tangan.
Petugas wanita berbadan langsing dengan tinggi badan mungkin sekitar 160an itu pun berjalan menuju Jack. Sedangkan rekan-rekannya hanya menatap aneh pada kelakuan Jack.
"Kurasa postur tubuhnya hampir sama dengan tinggi gadis itu... para korban," gumam Jack membiarkan pikiran liarnya bekerja.
"Ada apa petugas Jack?" tanya Misty hormat.
"Kalian lepaskan mantel itu, lalu lembarkan di lantai!" perintah Jack yang tentu membuat rekan-rekannya menghentikan apa yang sedang mereka lakukan dan menatap terheran. Begitu juga dengan Misty.
...****************...
Bersambung...
Hmm, adakah yang masih menunggu cerita ini?
Jika ada akan kulanjutkan segera. Jika tidak, kulanjutkan kapan-kapan saja🤣