Lima tahun lalu, Zora hanyalah mahasiswi biasa di mata Dimas. Kini, ia adalah obsesi yang tak bisa ia lepaskan.
Dimas adalah dosen Ekonomi yang kaku dan dingin. Baginya, segala sesuatu harus terukur secara matematis. Namun, rumusnya berantakan saat sang ibu memboyong Zora,mantan mahasiswi yang kini sukses menjadi juragan kain untuk tinggal di rumah mereka setelah sebuah kecelakaan hebat.
Niat awal Dimas hanya ingin membalas budi karena Zora telah mempertaruhkan nyawa demi ibunya. Namun, melihat kedewasaan dan ketangguhan Zora setiap hari mulai merusak kontrol diri Dimas. Ia tidak lagi melihat Zora sebagai mahasiswi yang duduk di bangku kelasnya, melainkan seorang wanita yang ingin ia miliki seutuhnya.
Zora mengira Dimas masih dosen yang sama dingin dan formal. Ia tidak tahu, di balik sikap tenang itu, Dimas sedang merencanakan cara agar Zora tidak pernah keluar dari rumahnya.
"Kau satu-satunya yang tak bisa kulogikakan,Zora!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shadirazahran23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Hampir Sempurna
Suara klakson truk yang melengking keras memecah keheningan di dalam mobil. Bunyinya begitu dekat hingga membuat mobil mereka sedikit bergetar.
Zora tersentak dan spontan mendorong bahu Dimas. Matanya terbuka lebar, penuh keterkejutan. Sementara itu, Dimas membeku di posisinya, napasnya masih menderu pendek dengan kening yang hampir menempel pada kening Zora.
Pria itu menggeram rendah, sebuah ekspresi frustrasi yang sangat jelas terpahat di wajahnya. Ia melirik tajam ke arah jendela, menatap truk yang baru saja melintas tanpa dosa.
"Pak...." panggil Zora pelan dengan wajah yang sudah semerah kepiting rebus.
Dimas tidak langsung menjauh. Ia justru menatap bibir Zora sekali lagi dengan tatapan haus, seolah ingin melanjutkan apa yang terputus. Namun, ia tahu suasana syahdu itu sudah buyar total.
"Sial," umpat Dimas lirih, suaranya serak. Ia melepaskan tengkuk Zora perlahan, namun jemarinya sempat mengelus pipi istrinya dengan gerakan sensual yang tertahan. "Sepertinya semesta memang ingin aku menyelesaikannya di rumah nanti, Ra."
Dimas kembali ke posisi duduknya, mencengkeram setir dengan kuat hingga buku-buku jarinya memutih, mencoba meredam gejolak yang masih berkobar di dadanya.
"Pindah ke depan dan pasang sabuk pengamanmu," perintah Dimas tanpa menoleh, suaranya terdengar sangat berbahaya. "Karena aku tidak akan berhenti lagi sampai kita tiba di depan pintu kamar."
*
Sisa dua jam perjalanan itu dilewati dalam keheningan yang canggung. Begitu mobil memasuki halaman rumah mewah mereka di Bandung, suasana intim yang tadi nyaris meledak di jalan raya menguap tak berbekas, tertutup oleh bayang-bayang kenyataan yang kembali hadir.
Dimas mematikan mesin. Ia menoleh ke arah samping, mendapati Zora yang tampak sangat kelelahan hingga kembali terlelap. Wajah istrinya terlihat begitu tenang, jauh dari beban pikiran yang biasanya terpancar saat mereka terjaga.
Dimas menghela napas panjang, lalu melepas sabuk pengamannya dengan sangat perlahan agar tak menimbulkan bunyi. Ia tak tega membangunkannya. Dengan gerakan sigap namun lembut, Dimas menggendong tubuh mungil Zora masuk ke dalam rumah.
Langkahnya mantap menaiki tangga menuju kamar utama. Di sana, ia membaringkan Zora di atas ranjang yang luas. Dimas sempat terdiam sejenak, menatap wajah Zora di bawah temaram lampu kamar. Tangannya terangkat, hendak membelai pipi istrinya, namun ia segera menariknya kembali.
Ada dinding besar yang terasa membatasi mereka,sebuah pengingat bahwa di balik perlakuannya yang lembut, pernikahan ini masih merupakan sebuah paksaan bagi Zora.
Tengah malam, Zora terbangun. Ia mengerjapkan mata, sedikit terkejut dan merutuki dirinya sendiri yang lagi-lagi tertidur pulas hingga tidak sadar sudah berada di dalam kamar. Zora mengedarkan pandangan; ini bukan kamar tamu yang sempat ia tempati sebelumnya. Ini adalah kamar pribadi Dimas.
Ia mengernyit saat menyadari sisi tempat tidur di sebelahnya kosong. Di mana pria itu sekarang?
Rasa lapar yang tiba-tiba mengusik perutnya membuat Zora bangkit. Ia mengikat rambut panjangnya asal-asalan, lalu melangkah keluar kamar. Langkahnya terhenti saat melihat sosok yang dicarinya ternyata ada di ruang tengah, duduk membelakangi jendela besar dengan cahaya laptop yang menerangi wajah tegasnya.
Dimas menoleh saat mendengar suara pintu terbuka. "Kok bangun?" tanyanya lembut.
"Lapar... Pak," jawab Zora canggung.
"Mau aku pesankan makanan? Ibu tidak masak karena tidak tahu kita akan pulang malam ini."
Zora menggeleng cepat. "Tidak usah, Pak. Saya masak mi instan saja," tolaknya.
Dimas segera berdiri, menutup laptopnya dengan satu gerakan mantap. "Tunggu!"
"Biar aku yang masak," lanjutnya tanpa menunggu persetujuan Zora.
Zora hanya bisa mengekor di belakang Dimas menuju dapur. Kecanggungan itu masih ada, menyelimuti udara di antara mereka seperti kabut tipis.
"Mau pakai telur?" tanya Dimas sambil membuka lemari es.
"Boleh. Pakai rawit juga, ya?"
"Tapi cuma satu, ya. Ingat perutmu," sahut Dimas penuh peringatan.
Zora hanya bisa mengembuskan napas, namun sudut bibirnya terangkat tipis. Ia tersenyum kecil melihat punggung lebar Dimas yang kini tampak cekatan mengiris sayuran dan bawang daun, lalu memasukkannya ke dalam air yang mulai mendidih.
Beberapa menit kemudian, aroma gurih bumbu mi instan memenuhi dapur, membuat perut Zora semakin meronta.
"Makanlah," ucap Dimas sambil menyodorkan semangkuk mi dengan kuah panas yang mengepul. Ia juga menambahkan dua telur ceplok di atasnya.
"Kok telurnya dua?" tanya Zora heran.
Dimas menatap mata Zora dalam-dalam, tatapannya kini berubah menjadi lebih intens dan gelap. "Kamu butuh banyak energi setelah ini, Zora."
Zora mengernyit, merasa ada makna tersembunyi di balik kalimat itu. Namun, detik berikutnya ia memilih abai. Perutnya sudah tidak bisa diajak kompromi. Ia mulai menyantap mi itu dengan lahap, tanpa menyadari bahwa Dimas terus memperhatikannya dengan cara yang bisa membuat siapapun sesak napas.
Di sela suapan mi instannya, Zora mendongak. "Besok Bapak langsung ke kampus?"
Dimas mengangguk, ia menyesap kopinya perlahan. "Iya, ada jadwal mengajar pagi. Kamu sendiri? Mau istirahat dulu di rumah?"
"Tidak bisa, Pak. Nurul sudah kirim pesan terus, dia kewalahan menghadapi pelanggan di toko kain. Stok yang baru datang juga belum sempat aku cek. Besok aku harus kembali ke toko," jawab Zora dengan semangat yang kembali pulih setelah perutnya terisi.
Dimas tersenyum tipis, menatap Zora dengan binar bangga. "Baiklah, besok pagi aku antar. Tapi sekarang..." Dimas menggantung kalimatnya, ia berdiri dan mengulurkan tangan. "Waktu makan sudah habis. Sekarang waktunya istirahat."
Zora menyambut uluran tangan itu. Jantungnya berdegup kencang saat jemari besar Dimas menggenggam lengannya dengan lembut namun posesif, membimbingnya masuk kembali ke dalam kamar utama.
Begitu pintu tertutup, suasana mendadak berubah. Dimas tidak membiarkan Zora menjauh. Di bawah cahaya lampu tidur yang temaram, Dimas memutar tubuh Zora hingga mereka berhadapan. Kesunyian malam itu membuat suara napas mereka terdengar begitu jelas.
"Zora...," bisik Dimas.
Zora mendongak, dan sedetik kemudian, dunia seolah berhenti berputar. Dimas menundukkan wajahnya, memangkas jarak yang tersisa hingga bibir mereka bertemu. Lembut, tulus, dan penuh perasaan.
Ini adalah ciuman pertama dalam hidup Zora.
Tubuh Zora sempat menegang, namun kehangatan yang diberikan Dimas perlahan meluluhkan dinding pertahanannya. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam rasa asing yang manis dan mendebarkan ini. Dimas memperdalam ciumannya, tangannya merayap ke pinggang Zora, menarik wanita itu semakin rapat dalam dekapannya.
Ciuman itu kian menuntut, kian intens, seolah ingin menebus semua waktu yang terbuang karena rasa canggung. Tepat saat Dimas hendak membawa suasana ke tingkat yang lebih jauh, sebuah suara yang sangat nyaring membelah keheningan.
DRRRRRTTTT! DRRRRRTTTT! DRRRRRTTTT!
"Tidak semudah itu ya Dim, kamu dapatin apa yang kamu mau,Zora belum lihat perjuanganmu lho."
gagal maning 🤣🤣
sabar pak dosen
mampir lh k hotel klw g Tahn 🤭