NovelToon NovelToon
Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Kita Yang Tidak Pernah Diundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Mengubah sejarah
Popularitas:106
Nilai: 5
Nama Author: Timotius Safari

Kisah ini tidak menawarkan jawaban tentang apakah Great Reset benar-benar dirancang oleh elite global. Yang dihadirkan justru sesuatu yang lebih mengganggu: bagaimana bahasa, teknologi, dan kebijakan modern membentuk kepatuhan tanpa paksaan, membuat pilihan terasa semakin sempit, dan menjadikan penyesuaian sebagai satu-satunya cara untuk tetap dianggap “normal”.
Kita yang Tidak Pernah Diundang bukan dongeng tentang konspirasi besar, melainkan tentang manusia-manusia biasa yang hidup di dalamnya… tanpa sadar, tanpa persetujuan, dan tanpa kepastian apakah kesadaran akan menyelamatkan atau justru menyulitkan.
Sebuah kontemplasi gelap-reflektif tentang sistem yang tidak memaksa, dunia yang terlalu tertib, dan pertanyaan sederhana yang terus menghantui:
…jika semuanya sudah diputuskan, apa arti menjadi manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Timotius Safari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hak Untuk Bertanya

Yanto selalu merasa Bali terlalu indah untuk dunia yang tidak adil.

Keindahan pulau itu sering dipakai sebagai penutup, tirai warna-warni yang membuat orang lupa bertanya. Pantai biru, senyum ramah, dupa terbakar di sudut-sudut pura. Semua terlihat seimbang, seolah dunia tahu persis apa yang sedang ia lakukan. Padahal Yanto tahu, keseimbangan sering kali hanya ilusi yang dipelihara dengan baik.

Pagi itu, Yanto berdiri di dekat parkiran kecil tak jauh dari pantai Sanur, menunggu rombongan turis Jepang yang terlambat turun dari bus. Ia mengenakan hoodie hijau kebesaran, tudungnya setengah menutup rambut bergelombang yang sudah mulai kepanjangan. Kacamata bertengger di hidungnya, sedikit miring. Di tangannya, sebotol teh tawar yang sudah setengah hangat.

Ia mengecek ponsel. Tidak ada pesan baru di Random. Tapi percakapan kemarin belum benar-benar pergi dari kepalanya.

Ngak kebaca.

Kata itu menempel seperti duri kecil. Terlalu sederhana untuk dianggap serius, tapi terlalu nyata untuk diabaikan. Yanto mengulangnya dalam kepala, mencoba memecahnya secara logis, seperti biasa ia lakukan pada hampir semua hal.

“Ngak kebaca oleh siapa?”

“Dengan standar apa?”

“Dan siapa yang menentukan keterbacaan itu?”

Ia tertawa kecil sendiri. Kalau pertanyaan-pertanyaan itu ia ucapkan keras-keras, orang mungkin mengira ia sedang berbicara dengan roh laut.

Salah satu turis mendekat, menyapanya dengan bahasa Jepang yang sopan dan kaku. Yanto langsung beralih mode. Senyum ramah. Nada suara ringan. Ia menjelaskan jadwal hari itu dengan bahasa Jepang yang fasih, hampir tanpa aksen. Tubuhnya bergerak otomatis, seperti aktor yang hafal peran.

Di sela-sela penjelasan, pikirannya tetap melompat.

Ia teringat diskusi-diskusi lama di kampus, tentang bagaimana agama, negara, dan sistem selalu meminta satu hal yang sama: kepatuhan yang dibungkus makna. Dulu ia membicarakannya dengan semangat intelektual, seolah dunia adalah papan tulis besar yang bisa dihapus dan ditulis ulang.

Sekarang, satu temannya tidak bisa bekerja karena sebuah kolom kosong.

Perjalanan dimulai. Bus melaju pelan, melewati jalan-jalan yang sudah dihafal Yanto luar kepala. Ia duduk di kursi depan, mikrofon di tangan, menjelaskan sejarah pura, legenda setempat, filosofi keseimbangan antara manusia dan alam. Ia mengucapkannya dengan lancar, nyaris meyakinkan dirinya sendiri.

Semua harus seimbang, katanya pada turis.

Di kepalanya, suara lain menyela:

Kalau seimbang, kenapa selalu ada yang jatuh duluan?

Yanto mematikan mikrofon ketika rombongan turun. Ia berjalan menyusuri sisi pura, duduk di anak tangga batu, menyalakan rokok… lalu ingat bahwa ia sudah lama tidak merokok. Ia menghela napas, menyimpan kembali rokok itu ke saku hoodie.

Ia membuka ponsel. Random masih sunyi.

Yanto mengetik, lalu menghapus. Mengetik lagi, lalu menghapus. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi semuanya terdengar seperti ceramah jika ditulis.

Ia akhirnya membuka catatan pribadi di ponsel, tempat ia menyimpan potongan pikiran yang tidak tahu harus dibawa ke mana.

“Sistem selalu bilang: ini demi kebaikan.

Tapi jarang ada sistem yang mau menjelaskan: kebaikan versi siapa.”

Ia menyimpan catatan itu, lalu menutup layar.

Di siang hari, rombongan berhenti makan. Yanto duduk terpisah, memilih soto ayam dari warung kecil di pinggir jalan. Ia menyesap kuahnya pelan. Rasa gurih itu menenangkan, membawanya kembali ke hal-hal sederhana yang masih bisa ia percaya: makanan yang jujur, rasa yang tidak menipu.

Ia teringat Wawan.

Wawan selalu punya jawaban. Selalu punya dalil. Selalu percaya bahwa jika niat baik dijaga, hasil baik akan menyusul. Dulu Yanto mengagumi keyakinan itu. Sekarang, ia melihatnya dengan rasa campur aduk… antara iri dan khawatir.

Yanto tidak ingin hidup di dunia yang tidak boleh dipertanyakan.

Dan ia semakin curiga bahwa dunia sedang bergerak ke arah sana.

Ponselnya bergetar. Pesan pribadi. Dari Doli.

Doli:

Lo bener soal satu hal, To.

Bahaya itu bukan niat jahat.

Tapi sistem yang nggak bisa diajak debat.

Yanto tersenyum tipis. Ia membalas singkat.

Yanto:

Dan sistem paling bahaya itu

yang bikin kita ngerasa bersalah

karena nanya.

Ia menatap langit Bali yang biru tanpa cacat. Terlalu sempurna. Terlalu tenang.

Di kepalanya, satu kesadaran mulai mengeras… bukan sebagai teori, tapi sebagai firasat: bahwa apa yang dialami Kusuma bukan anomali, dan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang selama ini ia lontarkan setengah bercanda sebentar lagi akan menjadi pertanyaan yang menentukan hidup.

Bus kembali berjalan. Yanto kembali ke perannya sebagai pemandu. Senyum lagi. Cerita lagi. Dunia tetap berjalan seperti biasa.

Tapi di dalam dirinya, sesuatu sudah bergeser.

Dan Yanto tahu, ketika pertanyaan tidak lagi dianggap wajar, yang pertama kali dibungkam bukan suara keras… melainkan keraguan yang jujur.

Sore di Bali selalu datang tanpa permisi.

Matahari turun pelan, tapi panasnya tidak serta-merta pergi. Yanto berdiri di tepi jalan, menunggu bus terakhir mengantar rombongan kembali ke hotel. Kakinya pegal. Kepalanya lebih lelah. Ada jenis kelelahan yang tidak bisa diselesaikan dengan duduk atau minum, kelelahan karena terlalu banyak pertanyaan yang tidak menemukan tempat.

Bus berhenti. Turis-turis turun satu per satu, mengucapkan terima kasih dengan sopan, membungkuk ringan, lalu menghilang ke dalam lobi hotel yang sejuk dan wangi. Yanto membalas senyum mereka dengan otomatis. Setelah pintu bus tertutup, ia berdiri sendirian beberapa detik, menatap pantulan dirinya di kaca gelap.

Hoodie hijau kebesaran. Kacamata sedikit melorot. Wajah yang terlihat tenang, tapi mata yang tidak sepenuhnya ikut tenang.

Ia mengeluarkan ponsel. Random masih sunyi. Tapi ada satu notifikasi yang ia abaikan sejak siang: missed call dari Wawan.

Yanto menghela napas panjang.

Ia tahu cepat atau lambat percakapan itu akan terjadi. Percakapan yang tidak bisa diselesaikan lewat teks pendek atau meme setengah serius. Percakapan yang selama ini mereka hindari dengan bercanda atau mengganti topik.

Ia menekan tombol panggil balik.

Nada sambung terdengar beberapa detik sebelum suara Wawan muncul, agak terengah, seperti baru selesai mengangkat sesuatu.

“Assalamu’alaikum, To.”

“Waalaikumsalam.”

Yanto menjawab sambil berjalan menjauh dari jalan raya, mencari tempat yang lebih sepi.

“Lo sibuk?” tanya Wawan.

“Abis kerja. Kenapa?”

Ada jeda singkat. Terlalu singkat untuk dianggap wajar. Yanto mengenal jeda itu… jeda orang yang sedang menyusun kalimat aman.

“Gue baca chat lo sama Doli,” kata Wawan akhirnya. “Yang soal sistem nggak bisa diajak debat.”

Yanto tersenyum kecil, tapi senyum itu tidak terlihat oleh siapa pun. “Terus?”

“Gue ngerasa… lo kebangetan, To.”

Kalimat itu tidak diucapkan dengan marah. Justru itu yang membuatnya terasa berat.

“Kebangetan di mana?” Yanto bertanya, nadanya tetap datar.

“Lo selalu narik semua ke arah yang gelap. Seolah-olah semua kebijakan itu niatnya jahat. Padahal kan nggak gitu.”

Yanto berhenti berjalan. Ia berdiri di bawah pohon kamboja, daun-daunnya berguguran pelan. “Gue nggak bilang niatnya jahat.”

“Terus?”

“Gue bilang dampaknya bisa kejam.”

Sunyi menyela lagi. Dari seberang, Yanto bisa membayangkan Wawan mengernyit, mungkin mengusap janggut tipisnya, mencari kata-kata yang tepat.

“Dunia nggak bisa jalan kalau semua dipertanyakan,” kata Wawan akhirnya. “Harus ada yang dipercaya.”

“Gue setuju,” jawab Yanto cepat. “Tapi masalahnya, sekarang yang minta dipercaya itu sistem. Bukan manusia.”

“Kita juga bagian dari sistem.”

“Nah, itu dia.”

Yanto tertawa pendek. “Sejak kapan kita berhenti jadi subjek dan rela jadi bagian?”

Nada suara Yanto mulai meninggi, meski ia berusaha menahannya. Bukan marah… lebih seperti desakan yang sudah lama tertahan.

“Wan,” lanjutnya, “lo tau nggak bedanya iman sama kepatuhan?”

Wawan tidak langsung menjawab.

“Iman itu pilihan,” kata Yanto pelan. “Kepatuhan itu kewajiban. Dan sekarang, semua dibungkus seolah iman, padahal isinya kepatuhan.”

“Lo kebanyakan mikir,” kata Wawan, kali ini nadanya lebih keras. “Orang-orang cuma pengen hidup aman.”

“Aman versi siapa?”

“Versi bersama!”

Yanto menutup mata sejenak. Kata itu lagi. Bersama. Kata yang terdengar hangat, tapi sering kosong.

“Lo tau Kusuma sekarang di mana?” tanya Yanto tiba-tiba.

Wawan terdiam.

“Lo tau dia nggak bisa kerja karena satu kolom kosong?” lanjut Yanto. “Lo tau dia disuruh nunggu sama orang yang nggak bisa jelasin apa-apa?”

“Gue tau,” jawab Wawan pelan. “Tapi itu kan sementara.”

“Dan kalau nggak sementara?”

Hening.

“Kalau semua orang kayak lo, dunia kacau,” kata Wawan akhirnya.

Yanto mengangguk, meski Wawan tidak bisa melihatnya. “Mungkin. Tapi kalau semua orang kayak lo, dunia rapi tapi nggak adil.”

Kalimat itu jatuh di antara mereka seperti benda berat. Tidak ada yang langsung menjawab. Percakapan itu berakhir bukan dengan salam, tapi dengan kelelahan.

“Gue capek, To,” kata Wawan akhirnya. “Gue cuma pengen percaya kalau semua ini ada maksud baiknya.”

Yanto menarik napas panjang. “Dan gue capek hidup di dunia yang maksud baiknya nggak boleh ditanya.”

Panggilan terputus.

Yanto menatap layar ponselnya yang kembali gelap. Ia tidak merasa menang. Ia juga tidak merasa kalah. Yang ia rasakan hanyalah satu hal: jarak.

Malam turun sepenuhnya. Lampu-lampu jalan menyala. Suara ombak terdengar samar dari kejauhan. Bali kembali terlihat indah, seperti selalu.

Yanto duduk di trotoar, punggung bersandar ke batang pohon. Ia membuka Random. Pesan Doli tentang dokumen kebijakan masih ada. Pesan Ari tentang “manusia” masih teringat.

Ia menulis satu pesan panjang, lalu menghapusnya. Menulis lagi, menghapus lagi. Akhirnya ia mengetik satu kalimat saja.

Yanto:

Gue takut suatu hari nanti,

pertanyaan dianggap lebih berbahaya

daripada ketidakadilan.

Pesan itu terkirim. Tidak ada balasan cepat. Tapi Yanto tidak menyesal mengirimnya.

Ia membuka botol bir beralkohol rendah yang ia beli di minimarket tadi. Menyesap sedikit. Rasanya pahit dan hambar. Ia tertawa kecil… bahkan rasa pun sekarang seperti kompromi.

Di kepalanya, kenangan lama bermunculan. Diskusi larut malam di kampus. Perdebatan tentang Tuhan, negara, makna. Dulu semua itu terasa seperti latihan intelektual. Sekarang, semuanya terasa seperti persiapan yang terlambat.

Yanto berdiri, berjalan pulang pelan. Di kamar kontrakannya yang sederhana, ia menjatuhkan diri ke kasur tanpa menyalakan lampu. Ponsel diletakkan di dada. Layar menyala sebentar, lalu mati.

Ia memikirkan satu hal sebelum tidur:

...bahwa dunia tidak akan runtuh karena terlalu banyak pertanyaan, tapi bisa runtuh pelan karena pertanyaan berhenti diajukan.

Dan ia tahu, posisi seperti dirinya, orang yang terus bertanya, terus mengganggu… akan semakin tidak nyaman di dunia yang sedang dibangun.

Malam itu, Yanto tidak mendapatkan jawaban. Tapi ia mendapatkan sesuatu yang lain: kepastian bahwa ia tidak bisa lagi diam.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!