NovelToon NovelToon
Jika Cinta Tidak Cukup

Jika Cinta Tidak Cukup

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: LilacPink

Enam belas tahun lalu, ia menyimpan rasa pada seorang perempuan yang tak pernah ia temui secara nyata.

Waktu berlalu, hidup menuntutnya dewasa,
namun perasaan itu tak pernah benar-benar pergi.

Ketika takdir mempertemukan mereka kembali,
perempuan itu telah menjadi ibu dari tiga anak,
dan ia dihadapkan pada cinta yang tak lagi sederhana.

Di antara keyakinan, tanggung jawab, dan logika,
ia harus menjawab satu pertanyaan paling berat dalam hidupnya:

apakah cinta cukup untuk memulai segalanya dari awal?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LilacPink, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar yang menghentikan waktu

...****************...

Aku pamit dari rumah Linda pagi itu. Tidak ada pelukan panjang, tidak ada percakapan berarti.

Hanya ucapan singkat dan senyum yang terasa dipaksakan.

Hari ini libur kerja. Niat awalku sederhana aku ingin istirahat. Menenangkan kepala. Menghentikan pikiranku yang terasa penuh sejak semalam.

Sesampainya di kos, aku langsung merebahkan tubuh di kasur. Langit-langit kamar menatapku kosong. Aku menarik napas panjang, lalu meraih ponsel sekadar mengalihkan pikiran.

Kubuka media sosial.

Scroll perlahan. Satu demi satu unggahan lewat tanpa benar-benar kubaca.

Sampai akhirnya

Aku berhenti.

Jari-jariku mendadak kaku.

Dadaku seperti diremas kuat.

Sebuah unggahan muncul di berandaku.

Nama itu.

Hana.

Foto profilnya hitam.

Dan di bawahnya, deretan komentar panjang.

Ucapan belasungkawa.

Aku membaca satu per satu, mataku menelusuri kata-kata yang terasa asing namun menyesakkan.

Turut berduka cita… Semoga almarhum diterima di sisi-Nya… Kuat ya, Han…

Kepalaku berdengung.

“Almarhum…?” gumamku pelan.

Tanganku mulai gemetar.

Aku membuka unggahan itu dengan napas tertahan.

Tidak ada foto jenazah.

Hanya latar hitam dan satu kalimat singkat.

Doa.

Nama seseorang.

Tanggal hari ini.

Aku menelan ludah.

Entah kenapa, dadaku terasa sesak meski aku belum sepenuhnya mengerti apa yang sedang terjadi. Perasaan itu datang tiba-tiba seperti firasat buruk yang selama ini tersembunyi.

Aku keluar dari unggahan itu, membuka profil Hana. Story-nya juga hitam. Tidak ada senyum. Tidak ada kata-kata ceria seperti biasanya. Hanya satu kalimat.

Mohon doanya.

Aku menjatuhkan ponsel ke atas kasur.

Menatap langit-langit lagi.

Aneh. Aku bukan siapa-siapa baginya.

Aku bahkan baru benar-benar bertemu dengannya sekali. Tapi kenapa dadaku terasa seperti kehilangan?

Kenapa pikiranku langsung tertuju padanya?

Aku bangkit duduk, meraih ponsel lagi.

Jariku menggantung lama di layar chat.

Haruskah aku bertanya?

Atau aku tidak punya hak apa pun?

Aku menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa dunia kembali diam seperti saat aku pertama kali kehilangan pekerjaanku.

Perasaan kosong yang sama.

Perasaan tak berdaya yang sama.

Dan entah kenapa…

bayangan Hana memenuhi kepalaku.

Hari libur yang seharusnya tenang,

berubah menjadi hari yang membuat waktuku berhenti.

Aku menatap layar sekali lagi.

Dan dalam hati, tanpa sadar, aku berdoa

semoga dia baik-baik saja.

Aku kembali membaca komentar-komentar itu dengan lebih teliti.

Dan akhirnya aku menemukannya.

Satu komentar menyebut nama almarhum secara lengkap.

Aku terdiam.

Nama itu… adalah nama suami Hana.

Dadaku seperti dihantam sesuatu yang keras.

“Innalilahi wa innailaihi rojiun…” gumamku pelan.

Tanganku gemetar saat mengetik kalimat yang sama di kolom komentar. Rasanya kaku. Tidak cukup. Terlalu sederhana untuk sebuah kehilangan sebesar itu.

Aku menutup aplikasi itu dengan napas tidak teratur. Kepalaku penuh. Bayangan wajahnya saat terakhir kami bertemu kembali muncul. Senyumnya. Tatapannya. Caranya berbicara yang tenang.

Kenapa aku tidak pernah tahu?

Atau mungkin… aku yang tidak pernah benar-benar bertanya. Tanpa berpikir panjang, aku berdiri. Jantungku berdegup lebih cepat dari biasanya.

Aku harus ke sana.

Entah untuk apa. Entah dengan hak apa.

Aku hanya merasa… harus.

Aku mengenakan pakaian serba hitam. Tanganku bergerak otomatis, pikiranku masih tertinggal di unggahan tadi. Setelah itu aku meraih kunci mobil dan bergegas keluar.

Di dalam perjalanan, aku membuka kembali story WhatsApp Hana. Rumah yang ia unggah tadi pagi terlihat sederhana. Halamannya cukup luas. Ada tenda putih terpasang di depannya.

Aku mencoba mengingat.

Ia pernah bilang rumahnya dekat dengan kantorku.

“Berarti nggak jauh…” gumamku.

Mobil melaju lebih cepat dari biasanya. Jalanan hari ini terasa berbeda. Lebih sunyi. Atau mungkin hanya perasaanku saja.

Belum benar-benar menemukan alamat pastinya, aku mulai melihat beberapa orang berpakaian gelap berjalan ke arah satu gang kecil. Ada mobil terparkir berderet. Beberapa motor memenuhi sisi jalan.

Dan di ujungnya tenda putih.

Aku memperlambat mobil.

Itu pasti di sana.

Tanpa perlu memastikan lagi, aku memarkirkan mobil agak jauh dan turun perlahan. Udara siang terasa berat. Bau karpet basah dan aroma teh hangat bercampur samar di udara.

Langkahku terasa asing.

Aku mengikuti orang-orang yang datang untuk takziah. Tidak ada yang mengenalku. Tidak ada yang bertanya siapa aku. Dan mungkin memang aku bukan siapa-siapa.

Di bawah tenda itu, kulihat beberapa pria duduk melingkar. Suara doa terdengar pelan. Di dalam rumah, samar-samar kulihat sosok perempuan berpakaian hitam duduk di antara para pelayat wanita.

Hana.

Wajahnya pucat. Matanya sembab. Tidak ada sisa senyum yang dulu pernah kulihat.

Dadaku kembali sesak.

Baru beberapa hari lalu aku sibuk memikirkan masa depanku dengan Linda. Sibuk dengan hasrat, dengan rencana menikah, dengan konflik.

Dan hari ini, di hadapanku, hidup seseorang berubah selamanya.

Aku berdiri diam beberapa detik.

Untuk pertama kalinya sejak lama, aku merasa sangat kecil.

Dan sangat sadar bahwa hidup bisa berubah hanya dalam satu kabar singkat di beranda media sosial.

Hana berdiri di hadapanku. Wajahnya terlihat jauh lebih kurus dari terakhir kali kulihat. Matanya merah, bengkak, seperti sudah terlalu lama menahan tangis.

“Loh… Raka?”

Suaranya lirih, nyaris tak percaya.

“Sejak kapan di sini? Kok tahu kabar ini?”

Aku bangkit sedikit dari kursi pelayat, gugup, serba salah.

“Iya, Han… tadi kebetulan lihat di medsos,” jawabku pelan.

“Aku turut berdukacita ya, Han. Kamu yang kuat… kamu nggak sendiri. Dan anak-anak… semoga mereka juga diberi kekuatan.”

Kalimatku terdengar canggung. Terlalu kaku. Terlalu normatif. Tapi hanya itu yang mampu keluar dari mulutku saat ini.

Hana mengangguk pelan. Senyum tipis terpaksa muncul di wajahnya senyum yang lebih mirip usaha bertahan daripada bahagia.

“Makasih ya, Ka… aku nggak nyangka kamu datang.”

Aku menghela napas, menunduk sebentar.

“Aku juga nggak nyangka, Han… jujur.”

Ada jeda di antara kami. Sunyi. Hanya suara doa dan bisik-bisik pelayat yang mengisi udara.

“Aku… lagi nunggu tamu,” katanya akhirnya, berusaha tetap sopan meski jelas lelah.

“Tapi makasih banget kamu udah datang.”

“Iya, Han… aku ngerti,” kataku cepat.

“Aku cuma mau nyampein itu aja. Kalau kamu butuh apa-apa… ya, meskipun cuma teman… aku ada.”

Hana menatapku beberapa detik lebih lama. Tatapannya berbeda. Ada rapuh. Ada kosong. Ada sesuatu yang tak terucap.

“Iya, Ka… doain aja ya.”

Aku mengangguk.

Hana lalu melangkah pergi, kembali ke dalam rumah, menyambut pelayat lain dengan ketegaran yang dipaksakan.

Aku duduk kembali di kursi itu.

Dadaku terasa berat.

Ada banyak hal yang ingin kutanyakan.

Banyak hal yang ingin kukatakan.

Tapi di tempat ini, di waktu seperti ini,

aku hanyalah seorang tamu dan Hana adalah seseorang yang sedang belajar berdiri di tengah kehilangan paling besar dalam hidupnya.

Aku menatap lantai, menarik napas panjang.

Untuk pertama kalinya…

aku benar-benar berharap,

semoga aku tidak datang terlambat

bukan hanya ke rumah duka ini,

tapi ke cerita hidup Hana. Husss apa sih ..

1
Rara Purnama
q suka banget. kayak di dunia nyata. ceritanya reltade dan masuk akal ga dbuat2 gitu ga alay
LilacPink: makasih ya ka
total 1 replies
Rara Purnama
thor itu lagu Element ya. vokalisnya baru meningga tgl 25 tepat saat kamu mulai menulis ya thor. semangat thor💪
LilacPink: iya sedih banget lucky meninggal innailaihi wa innailaihi rojiun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!