NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Yuki

Cinta Untuk Yuki

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Anak Yatim Piatu / Pelakor jahat / Selingkuh
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Mawarhirang94

Dalam hujan deras yang menyesakkan, Yuki berlari menyelamatkan diri bersama bayi perempuannya, Ai Chikara, dari masa lalu yang mengancam nyawa mereka. Sebuah kecelakaan di tengah pelariannya justru mempertemukannya dengan Kai, pria asing yang tanpa ragu memberi perlindungan.

Di rumah keluarga Kai, Yuki dan bayinya menemukan kehangatan, perawatan, dan rasa aman yang belum pernah mereka rasakan. Di balik sikap dingin Kai dan kelembutan ibunya, perlahan tumbuh ikatan yang tak terduga—ikatan yang mungkin mampu menyembuhkan luka, sekaligus mengubah takdir mereka.

Namun, saat malam hujan berlalu, bayang-bayang masa lalu Yuki belum tentu ikut menghilang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mawarhirang94, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Keberangkatan Kai Keluar Negeri

Hari itu terasa seperti halaman baru yang benar-benar bersih. Setelah langkah pertama Ai, rumah seakan menemukan iramanya sendiri. Yuki menempelkan catatan kecil di kulkas jadwal makan, waktu bermain, dan jam tidur si kecil. Kai ikut menambahkan satu baris dengan tulisan tangannya yang tegas “Waktu keluarga, pulang lebih cepat.” Yuki membacanya sambil tersenyum, lalu menatap punggung Kai yang sedang mengenakan jas. Ada rasa aman yang dulu hanya ada dalam bayangannya.

Sore itu, hujan turun tipis. Yuki duduk di ruang keluarga, memandangi Ai yang meraih mainan. Kai pulang lebih cepat dari biasanya. Ia melepas jas, menggulung lengan baju, lalu duduk di lantai tanpa ragu. “Ayo, sini,” katanya. Ai merangkak mendekat, lalu tertawa kecil ketika Kai mengangkatnya tinggi-tinggi. Yuki menahan napas sejenak, mengunci momen itu di kepalanya. Dunia yang dulu terasa berisik kini menjadi sederhana.

Ibu Kai muncul dari dapur membawa teh hangat. “Kalian kelihatan seperti lukisan,” katanya sambil tersenyum. Yuki menunduk sedikit, merasa pipinya hangat. “Terima kasih, Bu,” ucapnya.

“Jaga kebiasaan kecil seperti ini,” lanjut Ibu, “karena kebahagiaan sering bersembunyi di situ.”

Malamnya, setelah Ai tertidur, Yuki dan Kai duduk berdampingan di sofa. Yuki memecah keheningan. “Aku masih belajar percaya pada hari esok,” katanya jujur.

Kai meraih tangannya, tidak erat, tidak ragu. “Kita tidak perlu mengebut. Kita jalan bersama saja.”

Beberapa hari kemudian, Yuki mulai kembali menata mimpinya. Ia membuka kotak lama berisi sketsa yang sempat ditinggalkan. Kai melihatnya, lalu bertanya, “Kamu mau pameran kecil di rumah? Kita undang Ibu, Ayah, dan teman dekat.”

Yuki terkejut, lalu tertawa kecil. “Aku takut.”

“Takut itu wajar,” jawab Kai. “Berhenti bukan.”

Mereka menyiapkan sudut kecil di ruang tamu. Ibu Kai membantu memilih bingkai. Ayah Kai, yang biasanya pendiam, memberi saran pencahayaan. Pada hari itu, Yuki berdiri dengan Ai di gendongan, menyambut tamu sederhana. Tidak ada tepuk tangan besar, tapi ada mata yang bersinar tulus. Yuki pulang ke kamar dengan langkah ringan, merasa bagian dirinya yang hilang mulai pulih.

Waktu terus bergerak. Ai mulai belajar berdiri lebih lama, kadang terjatuh, lalu bangkit lagi dengan tawa yang tidak pernah habis. Kai selalu ada di dekatnya, mengulurkan tangan tanpa tergesa. Yuki menyadari satu hal: cinta tidak selalu berbunyi keras; sering kali ia hadir sebagai kebiasaan yang setia.

Suatu malam, Yuki berdiri di balkon, memandangi lampu kota. Kai menyusul, menyampirkan selimut tipis. “Kamu terlihat jauh,” katanya.

Yuki menggeleng. “Aku hanya… bersyukur. Dan sedikit takut kalau ini mimpi.”

Kai tersenyum, menatap lurus. “Kalau pun mimpi, kita bangun besok dan membangunnya lagi.”

Mereka kembali masuk. Ai tidur dengan tangan kecil menggenggam ujung baju Yuki. Yuki membenarkan selimut, lalu menatap Kai. Tidak ada janji besar yang diucapkan malam itu. Hanya kesepakatan tanpa kata mereka akan memilih satu sama lain, setiap hari, dengan cara yang paling sederhana hadir, jujur, dan tidak menyerah.

Dan di rumah itu, pelan-pelan, hari esok terasa tidak lagi menakutkan.

***

Kai berdiri di ruang kerjanya yang luas, ponsel di tangan dan pandangan tertuju pada layar laptop. Cahaya senja dari jendela kaca besar memantul di jas hitam rapi yang ia kenakan. Suasana sunyi di ruangan itu hanya terganggu oleh bunyi ketukan ringan dari asisten pribadinya, Ren, yang setia menemaninya setiap perjalanan bisnis maupun urusan yang lebih… “sensitif.”

“Kai, dokumen terakhir sudah aku susun. Semua transaksi dan jadwal pertemuan dengan rekan dari luar negeri siap untuk diverifikasi,” ujar Ren, suaranya serius namun tenang. Ia meletakkan map tebal di atas meja.

Kai mengangguk singkat tanpa menoleh. “Bagus. Aku ingin semuanya berjalan lancar. Setiap orang yang berani mengkhianati kita… harus merasakan konsekuensinya.” Nada suaranya rendah namun penuh ancaman tersirat. Mata Kai menatap jauh ke luar jendela, bayangan masa lalu dan reputasinya sebagai mafia yang sadis dan kejam menyeruak di benaknya.

Ren menelan ludah, memahami maksud Kai. “Semua rekan kerja sama dari jaringan luar negeri sudah dikonfirmasi. Tidak ada yang mencurigakan sejauh ini.”

Kai menepuk meja pelan, ekspresi wajahnya menegang. “Hati-hati. Jangan sampai ada yang mencoba bermain di belakangku. Aku tidak akan segan menyingkirkan siapa pun yang menyalahi aturan, tidak peduli siapa mereka.”

Ren mengangguk tegas. “Aku mengerti. Semua langkahmu akan didukung penuh. Kita harus pastikan semuanya berjalan seperti rencana, Kai.”

Kai menatap peta digital di layar laptopnya. Jaringan mafia internasional yang ia bangun selama bertahun-tahun membutuhkan strategi yang matang. Setiap pergerakan harus tepat, setiap aliansi harus aman. Bahkan sedikit celah bisa berakibat fatal.

“Ren, aku akan ke luar negeri beberapa hari,” kata Kai akhirnya, suaranya sedikit lembut saat mengingat Yuki di rumah. “Aku sudah izin ke Yuki. Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja. Fokus kita sekarang adalah urusan bisnis, tapi aku tidak boleh lengah.”

Ren menepuk pundak Kai. “Yuki mengerti. Aku sudah mengatur semuanya di rumah. Bayi akan tetap aman, makanan siap, dan pengawasan penuh akan dilakukan. Kau hanya perlu fokus pada pekerjaan.”

Kai menghela napas panjang, menatap foto Yuki dan Ai Chikara di meja. Senyum mereka menjadi kekuatan di tengah dunia gelap yang ia jalani. “Baik. Jangan sampai ada yang mengganggu mereka. Kita harus memastikan keamanan mereka tetap nomor satu.”

Ren tersenyum tipis. “Tenang, Kai. Aku akan menjaga mereka dengan sebaik-baiknya. Kau bisa pergi dengan tenang.”

Kai menoleh ke layar laptopnya kembali. Ia mulai menyusun jadwal pertemuan dengan rekan kerja sama mafia internasional. Tiap detail, mulai dari transportasi, pengawasan keamanan, hingga strategi negosiasi, harus diperhatikan. Reputasinya sebagai mafia yang sadis dan kejam tidak boleh ternodai, terutama jika ada pengkhianat.

Selama perjalanan, Kai memastikan dirinya selalu terhubung dengan Ren. Setiap laporan tentang jaringan mafia atau gerak-gerik rekan kerja sama harus diterima secara real-time. Ia tahu, satu kesalahan kecil bisa menjadi bencana.

“Ini bukan sekadar urusan bisnis,” gumam Kai pada dirinya sendiri saat menatap kota dari jendela pesawat. “Ini tentang menjaga kontrol, melindungi Yuki, dan memastikan siapa pun yang mencoba menghancurkan keseimbangan… akan menyesal seumur hidupnya.”

Ren duduk di sebelahnya, menatap dokumen digital di tablet. “Kai, untuk pertemuan pertama dengan aliansi Asia, aku sudah menyiapkan semua data tentang rekan yang mencurigakan. Mereka dicatat berdasarkan sejarah transaksi dan perilaku.”

Kai menatap layar tablet dengan mata yang tajam. “Bagus. Aku ingin kita memulai dengan tegas. Tidak ada kompromi. Kita harus tunjukkan siapa yang berkuasa di jaringan ini. Dan ingat, jika ada yang berkhianat… kita harus bertindak cepat dan tepat. Tanpa ampun.”

Ren mengangguk. “Aku sudah menyiapkan rencana cadangan. Setiap langkah akan tertutup rapat. Tidak ada yang akan tahu, kecuali kita.”

Kai menarik napas panjang, menundukkan kepala sejenak. Pikiran tentang Yuki kembali muncul. Ia teringat senyum lembut Yuki ketika menemaninya di rumah, bagaimana bayi kecil mereka, Ai, tertawa bahagia saat digendongnya. Rasa cinta dan tanggung jawab itu menguatkan tekadnya.

“Tapi aku harus hati-hati,” bisik Kai pelan, “Aku tidak bisa membawa dunia gelapku ke rumah… tidak pada mereka. Mereka harus tetap aman dari semua ini. Bahkan jika aku harus menghadapi musuh sendirian.”

Ren menepuk pundak Kai lagi, lebih sebagai isyarat penguatan. “Kami akan memastikan semua aman, Kai. Kau hanya fokus pada strategi. Tinggalkan masalah lain padaku.”

Kai mengangguk, mata kembali menatap layar, memeriksa jadwal dan detail setiap pertemuan. Ia tahu, dunia mafia tidak bisa menunggu. Tidak ada ruang untuk keraguan. Setiap langkah harus penuh perhitungan.

“Siapkan tim keamanan khusus untuk pertemuan besok. Setiap orang yang terlibat harus loyal dan siap mengikuti perintah tanpa pertanyaan. Kita tidak boleh membiarkan celah sedikit pun,” perintah Kai tegas.

Ren mengangguk cepat. “Sudah aku siapkan. Semua anggota tim memahami peran mereka dan siap melaksanakan strategi tanpa kompromi.”

Kai tersenyum tipis. Meski terkenal sadis dan kejam, ia selalu berpikir jauh ke depan. Setiap tindakan bukan semata kekerasan, tapi bagian dari perencanaan yang matang untuk memastikan keamanan semua pihak yang ia sayangi.

“Kita akan mulai pagi ini. Setelah itu, aku akan meninjau ulang setiap rencana darurat. Aku tidak ingin ada hal yang mengganggu jalannya operasi,” ujar Kai sambil menutup laptop, matanya menatap horizon yang mulai gelap oleh malam.

Ren menunduk, memastikan semua catatan digital aman. “Siap, Kai. Aku akan memantau segalanya dari sini. Kau bisa tetap fokus pada pertemuan dan strategi.”

Kai menatap foto Yuki dan Ai sekali lagi sebelum menutup tasnya. “Aku harus melakukan ini. Bukan untuk diriku, tapi untuk mereka. Aku harus memastikan dunia gelapku tidak pernah menyakiti mereka… dan setiap pengkhianat akan merasakan akibatnya.”

Ren tersenyum tipis, memahami bahwa meski Kai terlihat dingin dan kejam, hatinya penuh dengan tekad melindungi orang-orang yang dicintainya. Dan di balik reputasi itu, hanya ada satu hal yang Kai benar-benar takut kehilangan: keluarga kecilnya.

Pesawat mulai menanjak, membawa Kai ke dunia bisnis yang penuh intrik dan bahaya. Di rumah, Yuki dan Ai tetap aman, terlindungi oleh tangan-tangan tepercaya yang dipercayakan Kai. Sementara di luar negeri, setiap keputusan, setiap langkah, dan setiap pertemuan akan menentukan keseimbangan kekuasaan… dan sekaligus masa depan yang aman bagi keluarga yang sangat ia sayangi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!