Terjerat utang ratusan juta dan ancaman pernikahan paksa, Alisha kehilangan segalanya termasuk kenangan dari kekasihnya. Di tengah keputusasaan, ia bertemu Aruna, wanita kaya berwajah identik yang menawarkan kontrak gila: Bertukar hidup demi pelunasan utang.
Alisha terjun ke dunia mewah yang palsu, namun tantangan sesungguhnya adalah kakak laki-laki Aruna. Pria dingin namun sangat penyayang itu mulai mencurigai perubahan pada "adiknya" sosok yang kini tampak lebih lembut dan tulus. Di balik kemegahan yang dingin, Alisha menyadari bahwa menjadi orang lain jauh lebih berbahaya daripada menjadi miskin saat ia mulai mempertaruhkan hatinya pada pria yang kini menjadi pelindungnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Harapan Yang Terbungkam
"Hai, Cantik... Pak Adam-nya ada?" sapa pria itu. Suaranya berat dan serak, diiringi tatapan mata yang menyapu tubuh Alisha dengan cara yang membuat bulu kuduk gadis itu berdiri seketika.
Itu Mandor Darwis. Pria yang kekuasaannya di perkebunan sawit pinggir kota dikenal luas, namun reputasinya sebagai pria yang suka "mengoleksi" istri siri jauh lebih dikenal lagi.
Mendengar suara itu, Adam dan Aliando langsung tersentak. Mereka bangkit dari kursi ruang tamu dengan gerakan serentak, seolah ada alarm bahaya yang berbunyi di kepala mereka.
"Alisha, masuk!" perintah Adam dengan suara yang tak terbantahkan. Wajahnya yang tadi lesu kini berganti menjadi ekspresi waspada seorang ayah yang mencium ancaman.
Mama Devi dengan cepat merengkuh bahu Alisha, menariknya mundur ke dalam kegelapan ruang tengah.
"Ayo, Nak. Jangan di sini," bisik Mama dengan suara gemetar, tangannya terasa dingin saat menyentuh kulit Alisha.
Namun, Mandor Darwis justru melangkah maju tanpa permisi, melewati ambang pintu yang terbuka. Ia mengabaikan Adam yang berdiri menghalanginya dan tetap mengarahkan pandangan mesumnya ke arah Alisha yang mulai menghilang di balik tirai.
"Jangan galak-galak begitu, Pak Adam," kekeh Darwis sambil menyelipkan tangan ke saku celananya.
"Saya ke sini bukan mau nagih hutang seratus juta itu pakai urat. Saya justru mau kasih solusi yang enak buat kita semua."
Darwis kembali menatap ke arah dalam rumah, suaranya sengaja dikeraskan.
"Saya dengar Alisha sudah lulus sarjana, ya? Sayang kalau kecantikan dan kepintaran sehebat itu cuma habis buat jahit baju tetangga. Bagaimana kalau hutang Pak Adam dianggap lunas, dan Alisha jadi nyonya di rumah saya?"
Brak!
Aliando tidak bisa menahan diri lagi. Ia maju selangkah, napasnya memburu. "Jaga mulut Anda, Tua Bangka! Kakak saya bukan barang dagangan!"
"Ali, sabar!" Adam menahan dada putra bungsunya, meski rahangnya sendiri mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol.
"Keluar dari rumah saya, Darwis. Saya akan bayar hutang itu, tapi tidak dengan cara merendahkan martabat putri saya."
Darwis hanya tertawa, tawa yang terdengar sangat merendahkan. Ia tahu keluarga di hadapannya ini sedang tercekik, dan ia hanya perlu menarik talinya sedikit lebih kencang.
***
Setelah Jeep hitam itu menderu menjauh, meninggalkan kepulan debu dan tawa yang masih terngiang menjijikkan, keheningan yang menyesakkan menyelimuti rumah itu.
"Tidak akan, Alisha. Sampai mati pun, Papa tidak akan membiarkan bajingan itu menyentuhmu," suara Adam pecah, ia segera merengkuh Alisha ke dalam pelukan yang gemetar. Mama Devi memeluk mereka dari samping, tangisnya pecah tertahan di bahu suaminya.
"Kita jual apa yang bisa dijual," Aliando bersuara dengan nada dingin yang getir. Ia menatap kunci motornya yang tergantung di dinding.
"Besok Ali bawa motor ke dealer bekas. Kita cicil hutang Darwis. Kita tunjukkan kalau harga diri keluarga ini tidak bisa dibeli dengan seratus juta."
Malam itu, Alisha tidak bisa memejamkan mata. Di dalam kamar, ia menggenggam ponselnya, menimbang-nimbang untuk menghubungi Rendy. Ia butuh bantuan, atau setidaknya butuh tempat untuk berbagi beban. Namun, saat sambungan telepon terhubung, suara Rendy di ujung sana terdengar sangat lelah.
"Sha... maaf ya, aku baru bisa angkat," suara Rendy serak.
"Keluargaku lagi kalut. Andin positif gagal ginjal. Dia harus mulai prosedur cuci darah rutin minggu depan. Aku... aku bingung harus cari tambahan biaya dari mana lagi sebagai tulang punggung."
Andin adalah adik bungsu Rendy.
Kata-kata yang sudah berada di ujung lidah Alisha tertelan kembali. Niatnya untuk meminjam uang atau sekadar mengadu tentang Mandor Darwis mendadak terasa sangat egois. Bagaimana mungkin ia meminta bantuan pada pria yang dunianya sendiri sedang runtuh?
"Oh Tuhan... yang sabar ya, Ren," bisik Alisha perih, air matanya jatuh tanpa suara.
"Jangan pikirkan aku, fokus saja ke adikmu. Semua akan baik-baik saja."
Alisha menutup telepon dengan tangan gemetar. Harapan terakhirnya untuk meminta bantuan telah pupus. Kini, ia benar-benar sendirian di medan perang ini. Ia menatap ijazah dan laptopnya di atas meja. Jika motor Aliando belum cukup, maka alat tempur satu-satunya untuk meraih mimpinya itulah yang harus dikorbankan berikutnya.
semoga bisa bertahan sampai akhir ceritanya y thor..
semangat ✊✊