Meski sudah menikah, Nabila Rasmini tetap menjadi aktris ternama. Filmnya laku dan dia punya banyak fans. Namun tak ada yang tahu kalau Nabila ternyata memiliki suami toxic. Semuanya tambah rumit saat Nabila syuting film bersama aktor muda naik daun, Nathan Oktaviyan.
Syuting film dilakukan di Berlin selama satu bulan. Maka selama itu cinta terlarang Nabila dan Nathan terjalin. Adegan ciuman panas mereka menjadi alasan tumbuhnya api-api cinta yang menggebu.
"Semua orang bisa merasakan cemistry kita di depan kamera. Aku yakin kau pasti juga merasakannya." Nathan.
"Nath! Kau punya tunangan, dan aku punya suami. Ini salah!" Nabila.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 20 - Salju Di Berlin
Butiran salju pertama itu jatuh pelan, seolah ragu menyentuh bumi. Nabila mendongak, matanya membesar. Tangannya terulur refleks, membiarkan butiran putih itu mendarat di kulitnya sebelum mencair.
“Salju…” gumamnya tak percaya.
Nathan ikut menengadah, senyum kecil tersungging di bibirnya. “Kau belum pernah melihat salju turun langsung?”
Nabila menggeleng pelan. “Pernah lihat. Pernah syuting. Tapi tidak pernah… seperti ini. Tanpa kru, tanpa lampu sorot, tanpa teriakan ‘action’.”
Salju mulai turun lebih banyak, lembut namun pasti. Lampu jalan memantulkan kilau putih yang menari di udara. Nathan memperhatikan ekspresi Nabila, mata berbinar, wajahnya dipenuhi kekaguman polos yang jarang terlihat.
“Kau terlihat seperti anak kecil yang menemukan keajaiban,” katanya lembut.
“Jangan ejek,” sahut Nabila, tapi senyumnya tak pudar. “Aku cuma… bahagia.”
Angin malam bertiup lebih dingin. Nathan refleks berdiri sedikit lebih dekat, memposisikan tubuhnya agar Nabila terlindung dari angin. “Ayo,” ajaknya. “Ada kafe 24 jam tak jauh dari sini. Kita bisa menghangatkan diri.”
Mereka berjalan berdampingan, langkah dipercepat oleh dingin yang kian menusuk. Salju kini turun lebih rapat, menempel di rambut Nabila. Nathan menepuk-nepuknya pelan, membuat Nabila tertawa kecil.
Cafe itu kecil dan hangat, dengan jendela besar menghadap jalan. Mereka duduk di dekat kaca. Nathan memesan cokelat panas; Nabila memilih teh hangat dengan madu. Uap mengepul dari cangkir, menghangatkan wajah.
Nabila memeluk cangkirnya. “Tempat ini nyaman.”
“Seperti malam ini,” balas Nathan.
Mereka terdiam sejenak, menatap salju yang kini menutupi trotoar. Orang-orang berlalu-lalang dengan mantel tebal, beberapa berhenti memotret. Dunia terasa melambat.
“Aku ingin menyimpan momen ini,” kata Nabila tiba-tiba. “Kalau suatu hari aku kembali merasa kosong… aku ingin mengingat malam ini.”
Nathan menatapnya lama. “Kalau kau lupa, aku akan mengingatkan.”
Nabila tersenyum, hangat. “Kau pintar merayu.”
“Bukan rayuan,” sanggah Nathan. “Kejujuran.”
Telepon di meja bergetar. Sebuah notifikasi berita lokal muncul di layar Nathan. Ia membacanya sekilas, lalu menghela napas kecil.
“Ada apa?” tanya Nabila.
“Katanya salju akan makin deras. Ada kemungkinan badai malam ini.”
Nabila melirik ke luar jendela. Salju benar-benar turun lebih lebat, menutup jejak langkah di jalan. “Terdengar dramatis.”
“Berlin memang suka drama,” jawab Nathan sambil terkekeh.
Hening kembali menyelimuti mereka, kali ini terasa lebih intim. Nabila menyesap tehnya, lalu berkata pelan, “Aku tahu jalan ini rumit. Aku tahu kita sama-sama punya beban.”
Nathan mengangguk. “Aku tak ingin menjanjikan hal yang belum bisa kupastikan. Tapi satu hal yang pasti, aku ingin jujur padamu.”
“Itu sudah cukup,” tanggap Nabila. “Untuk sekarang.”
Salju di luar berubah menjadi tirai putih. Lampu-lampu tampak buram. Kafe terasa seperti dunia kecil yang terpisah. Nathan menyandarkan punggungnya, memandangi Nabila dengan tenang.
“Kau tahu apa yang paling aku syukuri malam ini?” katanya.
“Apa?”
“Kita tidak terburu-buru. Bahwa kita memilih duduk, berbicara, menghangatkan tangan.”
Nabila tersenyum. “Itu romantis dengan caranya sendiri.”
Jam berdetak pelan. Pelayan lewat, tersenyum ramah, memberi tahu bahwa badai mungkin akan membuat jalanan licin. Mereka mengangguk, tak keberatan menunggu.
Nathan mengulurkan tangannya di atas meja. Nabila menatapnya sejenak, lalu meletakkan tangannya di sana. Hangat, mantap.
“Jika badai datang,” kata Nathan pelan, “aku ingin menghadapinya dengan tenang.”
“Dengan secangkir minuman hangat,” tambah Nabila sambil tersenyum.
Dan di balik kaca, salju terus turun, deras, indah, dan penuh janji, sementara dua hati yang lelah menemukan kehangatan, satu malam yang akan mereka kenang lama setelah badai berlalu.
Di sisi lain, Indy dan Zidan terbuai dalam kehangatan tubuh. Keduanya menyatu dengan penuh gairah malam itu. Mengerang bersahut-sahutan tanpa henti.
billa dipenjara tidak papa menyelamatkan semua korban lukman gak akan lama nanti para saksi akan muncul sendiri.
modelan lukman kalau gak dead gak akan berhenti