Ledakan pada sebuah laboratorium saat anak kelas XII IPA sedang praktek fisika, menjadi sebuah tragedi yang menagkibatkan menyebarnya wabah.
Zach dan Carol serta murid yang lain menjadi korban peristiwa tragis itu. Wabah penyakit yang menyebabkan manusia berubah wujud menjadi kera.
Virus merajalela,korban berjatuhan. Semua orang berputus asa, akankah dunia kiamat.
Apakah akan ditemukan obat untuk menangkal virus jahat itu.
Siapakah sebenarnya Pak Edward, orang yang menyebabkan virus itu.
Berhasilkah Zach dan Carol menyelamatkan diri?
Siapakah Jhon sebenarnya? pria paruh baya yang mencoba menyelamatkan Zach dan Carol dari daerah pandemi?
apakah pemerintah akan membumi hanguskan kota kecil tempat tinggal.Zach dan Carol.
Yuk simak cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17.
Sepeninggal Tante Rachel dan orang tuanya, Zach duduk di sisi pembaringan. Mengamati Carol yang terbaring. Benak Zach bertanya-tanya. Cairan apa yang diambil Carol dari kulkas? Kenapa bisa membuatnya seperti ini?
Dokter Haris kembali memeriksa Carol. Melihat reaksi obat yang diberikan pada Carol.
"Dokter, sebenarnya apa yang terjadi dengan teman saya?"
"Maaf, kita tunggu saja hasil labnya besok. Semua kamar penuh, sebaiknya besok saja dia dipindahkan ke ruang rawat."
"Dokter, boleh tanya sesuatu?" Dokter muda itu mengangguk seraya mengetuk-ketuk selang infus. "Saya lihat banyak sekali pasien di rumah sakit. Apa ada wabah dokter?"
"Iya, beberapa hari ini pasien membludak. Keluhannya sama. Batuk dan sesak nafas. Seharusnya pemerintah mengeluarkan peringatan kepada warga. Supaya lebih waspada."
"Apakah penyebabnya virus covid itu, Dokter?"
"Sepertinya bukan virus. Polanya berbeda. Tapi penyebarannya hampir sama. Ini semacam bakteri. Tetaplah pakai masker dan jaga stamina tubuh." nasehat dokter Haris lantas pergi memeriksa pasien lain.
"Bukan virus? Apakah kasus ini sama seperti yang aku temukan di internet. Penyebabnya adalah bakteri berbentuk spora?"
"Uh-uk," tiba-tiba Carol terbatuk dan membuka kedua matanya. Dia heran melihat dirinya terbaring di ranjang rumah sakit.
"Carol, kamu sudah siuman?" Zach menghampiri Carol.
"Aku berada dimana, Zach. Rumah sakit, ya?" Carol menatap ke sekeliling.
"Iya kamu sakit, Carol. Tadi kamu menelpon aku. Kamu bilang perutmu sakit. Saat aku datang, kamu sudah pingsan." Carol menyimak ucapan Zach. Perlahan ingatannya pulih.
Setelah Zach mengantarnya, mendadak dia pusing dan perutnya sakit. Tubuhnya juga bergetar hebat. Padahal sebelumnya dia baik-baik saja.
"Zach, apakah penyebabnya air mineral yang aku minum di rumah Pak Edward? Rasanya memang aneh. Untung kamu langsung merampasnya. Lalu apa kata dokter tentang aku?"
"Besok hasilnya keluar, Carol. Sekarang, bagaimana perasaan kamu? Perutmu masih sakit?" Carol menggeleng.
"Aku merasa lebih baik. Tidak pusing lagi. Menurutmu siapa yang telah membakar rumah Pak Edward. Dan kenapa rumah itu dibakar?"
"Ssttt, jangan membahas itu disini, Carol, bahaya. Tadi barusan Dokter Haris mengakui, kemungkinan kota kita sudah terserang wabah. Tapi pemerintah belum mengeluarkan peringatan. Padahal korban sudah banyak."
"Trus, bagaimana keadaan Meghan dan Vivian? Apakah mereka masih diisolasi?"
"Sepertinya iya. Aku mau menyelidikinya nanti. Katanya mereka dirawat di rumah sakit ini juga."
"Aku ikut."
"Kamu sedang sakit, Carol. Jangan menarik perhatian. Aku mau pergi sebentar, mencari info dimana medeka dirawat."
Zach keluar dari ruang IGD, menemui seorang satpam yang sedang berjaga. Zach mengeluarkan sebungkus rokoknya yang dia sembunyikan di dalam topi yang dikenakannya. Setelah berbasa basi sebentar, Zach menanyakan keberadaan Mario.
"Pak, korban kebakaran di sekolah kemarin itu, dirawat dimana ya, Pak?" iseng Zach mengorek informasi.
"Murid Sekolah Kesuma itu, ya?"
"Betul, Pak. Mereka adalah teman saya."
"Mereka dirawat di ruang isolasi, lantai tiga, block F. Mereka tidak boleh di kunjungi. Hanya dokter tertentu yang bisa masuk kesana. Tempatnya dikawal ketat. Bapak kan biasanya tugas disana. Tiba-tiba saja di pindah ke ruang IGD."
"Kenapa, Pak? Memang ada yang gawat ya, Pak?"
"Tidak tau. Bapak sempat melihat hal yang aneh di sana. Mereka bertiga berubah wujud. Tapi jangan sebarkan ini ya."
"Maksud Bapak berubah bagaimana?"
"Awalnya kan mereka batuk dan memuntahkan darah. Setelah itu mengamuk dan berubah wujud. Seperti kera. Makanya mereka ditahan disana."
"Eh, Bapak ngomong serius?" Zach melirik ke kiri dan kanan. Gamblang sekali Pak Satpam itu bicara. Jangan-jangan cerita itu sudah tersebar kemana-mana.
Seolah bisa membaca pikiran Zach, Pak Satpam itu menukas. "Bapak cuma cerita ke kamu. Entah kenapa Bapak percaya kamu tidak akan menyebarkan cerita ini. Bapak tidak bohong. Buktikan saja ke sana." bisiknya pada Zach.
"Bapak serius? Bagaimana aku bisa masuk ke sana kalau Bapak yang bekerja disini saja gak diijinkan masuk."
"Sebentar lagi, tepat pukul dua belas akan ada pergantian penjaga. Ada jeda sepuluh menit. Saat itulah kamu masuk. Tapi awas jangan sampai ketahuan. Dan kalau kamu tertangkap, jangan seret Bapak." Zach mengangguk setuju. Rasa penasarannya tidak bisa dibendung lagi.
Dia memutuskan akan menyelidiki malam ini juga. Apakah ucapan Pak Satpam itu benar. Ternyata bukan hanya dia yang berubah. Teman-temannya juga. Apakah Carol juga akan bernasib sama? Dan mungkin sedang dalam proses?
Sepuluh menit lagi menjelang tengah malam. Sesuai intruksi Pak Satpam, Zach naik ke lantai tiga rumah sakit. Menelisik letak ruang isolasi. Benar kata Pak Satpam itu, ruang isolasi dijaga tiga orang satpam.
Dengan langkah mengendap, Zach menuju ruang isolasi. Tidak ada jendela untuk sekedar mengintip ke dalam. Zach berpikir keras, bagaimana caranya bisa masuk ke ruang isolasi. Sementara dipintu ada tiga orang berjaga.
Zach melihat seorang dokter keluar dari ruang sebelah. Lalu berjalan melintas dari depannya. Zach mengikuti dokter itu. Ternyata menuju toilet. Detik berikutnya Zach keluar dengan mengenakan jas dokter. Dengan santainya dia masuk menuju ruangan. Tanpa dicurigai oleh ke tiga orang satpam yang tengah berjaga.
Zach segera mencari berkas penting. Dan menemukan sebuah catatan. Buru-buru Zach menyembunyikannya dikantong. Bersamaan dengan pintu terbuka. Zach kaget, tapi berusaha tenang.
"Dokter, lima menit lagi ganti shift," salah satu satpam yang berjaga, mengingatkan.
"Iya, sebentar." sahut Zach dengan suara parau. Satpam itu mengernyitkan kening. Diam sebentar tapi segera menutup pintu itu kembali. Zach keluar dari ruangan dan hendak pergi. Tapi di tegur lagi oleh salah satu satpam.
"Dokter Ryan, tunggu. Dokter tidak mencek ruang isolasi?"
"Sebentar, aku ke toilet dulu." sahut Zach tanpa menoleh. Dan buru-buru ke toilet. Melepas jas dokternya, juga kaca matanya. Sementara Dokter Ryan masih tergeletak pingsan di toilet.
"Aneh, tidak biasanya Dokter Ryan teledor. Mana suaranya juga agak serak. Apa dia sakit?"
"Mungkin. Tadi juga kan bolak balik ke toilet." seru yang satu lagi.
"Iya, bisa jadi sakit perut."
Ketiga satpam itu sama sekali tidak curiga. Karena sosok Dokter Ryan tidak begitu mencolok dengan Zach yang jangkung. Terlebih karena pakai masker, tidak ada yang curiga.
Sementara Zach sudah kembali ke ruang IGD. Dengan jantung berdebar kalau saja dia ketahuan. Sekalipun dia sudah menghindari titik kamera pengawas.
"Kamu dari mana saja, Zach? Tadi Dokter Haris mencarimu."
"Ah, iya aku lupa ada janji dengan beliau. Tunggu sebentar, aku mau cari beliau." Zach segera mencari ruangan Dokter Haris. Tapi langkahnya tiba-tiba terhenti di depan pintu. Manakala mendengar percakapan Dokter Haris dengan seseorang. Kebetulan pintu itu terbuka sedikit.
"Kok Dokter Ryan bisa terjatuh di toilet?"
"Sepertinya ada yang mendorongku,"
"Siapa pula yang mendorong dokter. Tidak sembarang orang boleh kesana. Palingan juga dokter pingsan karena kelelahan."***
"