Sinopsis
Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.
Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.
Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.
Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15: Ketika Pulang Tidak Lagi Sama
(POV: Noah)
Kereta sore dari selatan biasanya tiba pukul lima lewat sedikit.
Aku tahu itu tanpa perlu melihat jadwal.
Aku juga tahu aku seharusnya tidak berdiri di peron, menunggu seperti orang yang berharap sesuatu terjadi dengan sendirinya. Tapi kakiku tetap membawaku ke sini setelah bengkel kututup lebih awal dengan alasan yang tidak terlalu jujur pada diri sendiri.
Udara dingin menyelusup ke balik jaketku. Salju belum turun hari ini, tapi langit Norden menggantung rendah, seolah menahan sesuatu.
Ketika suara roda besi mulai terdengar, dadaku mengencang dengan cara yang sama sekali tidak rasional.
Kereta berhenti perlahan.
Pintu terbuka.
Orang-orang turun satu per satu—pekerja, nelayan, dua turis yang tampak kebingungan.
Lalu aku melihatnya.
Alice melangkah turun dengan koper kecil di tangannya. Mantelnya lebih gelap dari terakhir kali kulihat, rambutnya terikat rapi. Dia terlihat… berbeda. Bukan berubah drastis, tapi lebih tegak.
Lebih sadar.
Matanya menyapu peron.
Dan berhenti padaku.
Kami tidak langsung bergerak.
Tidak ada lambaian. Tidak ada senyum besar.
Hanya dua orang yang berdiri di tempat, menyadari bahwa jarak yang barusan mereka lewati tidak bisa begitu saja dihapus.
Aku melangkah lebih dulu.
“Kau sampai tepat waktu,” kataku.
Ia mengangguk. “Kereta tidak terlambat.”
“Ajaib.”
Ia tersenyum kecil. Senyum yang kukenali—yang hanya muncul ketika ia tidak sedang berpura-pura baik-baik saja.
“Kau menunggu lama?” tanyanya.
“Tidak,” jawabku. Separuh jujur. “Aku baru datang.”
Kami berjalan berdampingan keluar dari stasiun.
Tidak bersentuhan. Tapi cukup dekat untuk saling menyadari keberadaan masing-masing.
“Bagaimana kota?” tanyaku.
Alice menarik napas. “Masih terlalu penuh. Dan terlalu tahu siapa aku seharusnya.”
Aku mengangguk. Aku tidak perlu bertanya lebih jauh.
“Kau?” tanyanya balik. “Bengkel?”
“Masih berdiri,” jawabku. “Dan masih bocor kalau hujan deras.”
Ia tertawa pelan. Suara itu terasa… kembali.
(POV: Alice)
Norden terasa berbeda setelah seminggu pergi.
Atau mungkin aku yang berbeda.
Aku duduk di kursi penumpang truk Noah, memperhatikan tangannya di setir—kasar, penuh bekas luka, tapi stabil. Tidak ada kegugupan yang berlebihan. Tidak ada keinginan untuk mengisi setiap jeda dengan kata-kata.
Dan justru itu yang membuatku berani.
“Kau belum cerita soal tawaran kerjamu,” kataku akhirnya.
Ia tidak langsung menjawab. Matanya tetap di jalan.
“Aku belum memutuskan,” katanya.
“Dua minggu, kan?”
Ia melirikku sekilas. “Kau ingat.”
“Aku memperhatikan,” jawabku.
Kami berhenti di lampu merah kecil yang sering rusak. Cahaya merah memantul di kaca depan.
“Aku tidak ingin keputusanmu bergantung padaku,” kataku pelan. “Aku sungguh-sungguh soal itu.”
Ia mematikan mesin saat kami sampai di depan bangunan tempatku menginap.
“Aku tahu,” katanya. “Dan justru itu yang membuatnya rumit.”
Aku menoleh ke arahnya. “Kenapa?”
Karena kau tidak memintaku tinggal.
Ia tidak mengucapkannya. Tapi aku melihatnya di rahangnya yang mengeras sedikit, di napasnya yang tertahan.
“Kau capek?” tanyanya, mengalihkan topik.
“Sedikit.”
“Aku bisa mengantarmu ke vila besok. Ambil barang-barangmu.”
Aku mengangguk. “Terima kasih.”
Saat aku membuka pintu truk, aku berhenti.
“Noah?”
“Ya?”
“Aku tidak kembali untuk melanjutkan sesuatu yang tidak jelas,” kataku jujur. “Aku kembali karena aku ingin tahu apakah aku bisa tinggal tanpa menghilang lagi.”
Ia menatapku lama.
“Aku juga tidak ingin sesuatu yang setengah-setengah,” jawabnya akhirnya.
Dan itu—entah kenapa—lebih melegakan daripada janji apa pun.
(POV: Noah)
Malam itu, aku hampir tidak tidur.
Bukan karena gelisah.
Lebih karena pikiranku terlalu terjaga.
Alice kembali. Tapi ia kembali sebagai seseorang yang sudah melihat ke luar, dan memilih untuk pulang bukan karena kehabisan jalan—melainkan karena ingin.
Dan itu berarti aku tidak bisa lagi bersembunyi di balik rutinitas.
Pagi berikutnya, aku menjemputnya lebih awal.
Langit masih pucat. Vila Blackwood berdiri sunyi seperti biasa, tapi tidak lagi terasa kosong seperti dulu.
Kami memindahkan barang-barangnya tanpa banyak bicara. Koper. Beberapa kotak kecil.
Buku-buku.
Saat aku membawa kotak terakhir ke ruang tamu, Alice berdiri di tengah ruangan, memandangi sekeliling.
“Tempat ini masih terasa seperti persinggahan,” katanya.
“Kau ingin mengubahnya?” tanyaku.
Ia mengangguk pelan. “Pelan-pelan.”
Aku menaruh kotak itu dan menatapnya.
“Alice,” kataku.
Ia menoleh.
“Aku mendapat telepon lagi dari perusahaan itu. Mereka ingin jawaban besok.”
Keheningan menyebar di antara kami.
“Dan?” tanyanya, tidak menyela, tidak mendesak.
“Aku ingin tahu satu hal sebelum menjawab,”
kataku. “Jika aku pergi, kau akan melakukan apa?”
Ia berpikir lama.
“Aku tidak akan mengejarmu,” katanya jujur. “Dan aku tidak akan menunggumu sambil berharap.”
Jawaban itu menusuk—tapi bersih.
“Tapi?” tanyaku.
“Tapi jika kau pergi sebagai pilihan, bukan pelarian, aku akan menghormatimu,” lanjutnya.
“Dan jika kau tinggal… aku ingin itu juga karena pilihan. Bukan karena aku di sini.”
Aku menghela napas panjang.
“Tidak ada jalan yang mudah,” gumamku.
“Tidak,” katanya. “Tapi ada jalan yang jujur.”
(POV: Alice)
Sore itu, kami berjalan ke arah laut.
Angin dingin menerpa wajahku, membawa bau asin yang kurindukan. Ombak menghantam batu dengan irama yang tenang—tidak mengancam, tapi konsisten.
“Kau tahu,” kataku, “dulu aku pikir pulang berarti gagal.”
Noah berjalan di sampingku, tangannya di saku jaket.
“Dan sekarang?”
“Sekarang aku pikir pulang adalah keputusan yang berani,” jawabku. “Jika kau tahu kenapa kau kembali.”
Ia berhenti berjalan.
Aku ikut berhenti.
“Aku takut,” katanya tiba-tiba.
Aku menatapnya. “Tentang apa?”
“Bahwa jika aku tinggal, aku akan puas terlalu cepat,” katanya. “Bahwa aku akan berhenti bertanya apakah hidupku bisa lebih.”
Aku mendekat sedikit. Tidak menyentuh.
“Dan aku takut,” balasku, “bahwa jika aku pergi lagi, aku akan terus membuktikan bahwa aku tidak bisa tinggal di mana pun tanpa merasa tercekik.”
Kami berdiri di sana, dua ketakutan yang tidak saling membatalkan—tapi juga tidak saling meniadakan.
“Kita tidak bisa menyelamatkan satu sama lain,” kataku.
Ia mengangguk. “Dan itu mungkin satu-satunya alasan kenapa ini bisa berhasil.”
(POV: Noah)
Malam itu, aku menulis email balasan.
Tanganku sempat berhenti di atas keyboard.
Lalu aku mengetik.
Bukan jawaban final.
Permintaan waktu tambahan satu minggu.
Setelah mengirimnya, aku menutup laptop dan duduk lama di kegelapan.
Aku belum memilih.
Tapi aku juga tidak lari.
Dan itu—untuk saat ini—cukup.
(POV: Alice)
Aku menyalakan lampu vila satu per satu malam itu.
Ruang tamu. Dapur. Lorong.
Cahaya menyebar perlahan, mengisi ruang yang dulu terasa asing.
Aku berdiri di ambang jendela, menatap jalan kecil yang mengarah ke kota.
Aku tidak tahu apa yang akan dipilih Noah.
Aku juga tidak tahu apa yang akan kupilih jika ia pergi.
Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak merasa harus tahu semuanya sekarang.
Aku hanya tahu satu hal:
Aku tidak lagi bersembunyi.
Dan jika ini tentang bertahan—aku ingin bertahan sebagai diriku sendiri.