NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Tuan Ammar

Istri Kontrak Tuan Ammar

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Nikah Kontrak
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: hermawati

Pengusaha sukses, Harta berlimpah, Istri Cantik. Tapi sayang di usianya yang sudah kepala empat, keluarga kecilnya belum dikaruniai keturunan.

Lalu kepada siapa kelak, harta kekayaannya akan diwariskan?

Bukan karena Ammar dan Istrinya tidak sehat, ada penyebab yang membuat mereka belum juga dikaruniai keturunan.

Sementara di sisi lain.

Seorang Janda anak dua, mati-matian bekerja untuk menghidupi anak-anaknya.


Bagaimana kesepakatan bisa terjalin antara si Janda dan Pengusaha kaya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hermawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Debat

Sisa liburan yang seharusnya Nina nikmati dengan tenang bersama anak-anaknya, harus terusik oleh pesan beruntun yang diterimanya dari suami kontraknya.

Ammar memaksanya memberikan nomor baru dan juga alamat kontrakan dimana Nina tinggal selama ini.

Nina sudah mengadukan pertemuan tak sengaja-nya dengan Ammar pada Damian. Lalu apa tanggapan pemilik netra biru itu? Juga soal kehamilannya.

Damian tak memberikan tanggapan apapun, tapi pria itu sempat memberikan nasehat agar meminimalisir interaksi dengan Tuannya.

Lebaran kali ini, lebih spesial. Karena Nina bisa menyediakan beberapa setel baju baru untuk dua buah hatinya. Sebenarnya bukan dia yang membelikannya, tapi Ammar yang memesannya dari usaha toko online milik salah satu koleganya. Juga hidangan lebaran cukup lengkap.

Setelah bertahun-tahun, Mereka bertiga bisa merayakan hari raya dengan suka cita tanpa kekurangan. Tawa bahagia itu, Nina abadikan dalam sebuah foto.

Nina mengakui jika lelaki asal Timur Tengah yang mentraktir mereka tempo hari adalah majikannya. Aby dan Anin jelas terkejut, tapi kedua remaja itu pada akhirnya menerima.

Waktu terus berlalu, liburan sekolah anak-anak hampir usai. Terasa berat bagi Nina harus kembali berpisah dengan anak-anaknya. Tapi demi masa depan lebih baik, Nina berusaha mengikhlaskan.

Nina mengantarkan sendiri anak-anaknya menuju stasiun. Dia sudah memesankan tiket kereta jauh-jauh hari, yang keberangkatannya sehari sebelum hari dimulainya pembelajaran.

Nina juga membelikan masih-masing ponsel baru, walau nantinya harus dititipkan pada pihak pondok pesantren. Ingin rasanya dia mengantarkan, tapi mengingat kondisinya yang tengah hamil. Terpaksa Nina menunda keinginannya.

"Pokoknya selalu kabari ibu." Pesan Nina dengan mata berkaca-kaca. "Kalian harus saling jaga, nggak boleh berantem terus." Sambungnya lagi.

Ada satu hal yang membuat Nina berpesan demikian. Liburan kenaikan kelas nanti, dia tidak bisa berkumpul dengan anak-anaknya. Nina harus mempersiapkan diri untuk kelahiran anak-anak suami kontraknya.

Sedih tentu saja, tapi demi masa depan lebih baik dan merahasiakan pekerjaan aslinya. Nina menahan rindu pada anak-anaknya. Dia mengaku akan ikut majikannya ke luar negeri. Ada rasa bersalah karena membohongi anak-anaknya, tapi sekali lagi ini semua Nina lakukan demi masa depan lebih baik.

"Iya ibu ..." Sahut Anin. "Ibu jangan capek-capek kerjanya." Aby juga mengatakan hal yang sama.

Air mata tak bisa ditahan lagi, begitu anak-anaknya memasuki pintu pemeriksaan tiket. Lambaian tangan mereka, juga senyum yang entah kapan akan Nina lihat lagi.

Sebuah tangan besar menepuk pelan pundak dibalik jilbab berwarna hijau botol yang dikenakan Nina, sontak dia menoleh dan mendapati lelaki jangkung berkemeja hitam berdiri di sampingnya.

"Liburan telah usai, istriku! Saatnya kembali pada ku, sayang ..." Ucap Ammar lembut.

Ingin sekali Nina menepis tangan itu, dia muak kala ingat jika suaminya ini adalah milik wanita lain. Bukan karena cemburu tapi rasa bersalah, menghantuinya. Nina tau rasanya dikhianati.

Ammar menuntun istrinya menuju mobil yang terparkir di parkiran stasiun. Tadi dia sudah tiba terlebih dahulu dan menyaksikan drama ibu serta anak kembarnya.

Selama perjalanan, Nina hanya diam menatap jalanan yang dilalui. Dia malas saja bersuara.

"Aku sudah membelikan kamu rumah." Ammar menoleh sekilas pada perempuan yang sedari tadi membelakanginya, dalam arti Nina hanya menoleh ke samping.

Tidak ada tanggapan, seolah Nina sudah pasrah saja. Dia benar-benar malas menghadapi suami kontraknya, Nina kecewa. Ingat, bukan karena dia mencintai pria itu. Sekali lagi, dia hanya merasa bersalah pada istri dari suami kontraknya.

"Namun sebelum itu, aku mau mengajak kamu untuk bertemu dengan dokter Asha. Aku hanya ingin memastikan perkembangan janin dalam kandungan kamu." Ammar menoleh sekilas dan kembali fokus menatap jalan di depannya.

Bisa saja Ammar menggunakan sopir, tapi dia tak ingin waktunya yang berharga bersama istrinya terganggu oleh keberadaan orang ketiga. Apalagi sejak Damian sengaja menyembunyikan keberadaan Nina selama beberapa waktu ke belakang.

"Tidak perlu, aku sudah memeriksanya secara rutin." Akhirnya Nina angkat bicara, walau tanpa menatap wajah suaminya. Selain kecewa karena status pria itu, Nina merasa sebal melihat wajah Ammar. "Kalau kamu mau lihat, buku pemeriksaan kandungan ku ada di rumah." Tambahnya.

Tak ada lagi yang bicara, hanya terdengar suara penyiar radio yang sedang membacakan berita lalu lintas sekitaran ibu kota.

Ammar tak menyangka, rumah kontrakan istrinya hanya berjarak kurang dari satu kilometer dari Penthouse tempatnya tinggal. Dia memang diberitahu tentang alamatnya, tapi tidak pernah datang menghampiri. Ammar tak ingin kehadirannya menggangu kebersamaan Nina dan anak-anaknya.

Mungkin saja dari kamarnya bisa terlihat atap rumah kontrakan yang selama ini ditempati oleh Nina. Ternyata jarak mereka cukup dekat.

Nina lega, karena jalan gang menunju rumahnya, pagi itu cukup sepi. Ya wajar saja, karena ini memang masih hari kerja dan anak-anak bersekolah.

Ammar mengernyitkan dahinya, begitu pintu rumah dibuka. Rapih tapi kenapa sempit sekali? Bahkan tidak ada sofa di sana. Hanya ada kasur yang dilipat.

Nina mempersilahkan suaminya masuk, sementara dia masuk lebih dalam guna mengambil 'buku pink' yang berisi informasi soal kehamilannya. Tapi sebelum menyerahkannya, Nina melepas foto hasil USG yang menunjukan dua kantong di dalam rahimnya.

Tak lupa membuatkan satu cangkir teh hijau, yang Nina tau disukai oleh suaminya. Dia juga menyukainya sejak dua bulan kebelakang.

"Kenapa anda berdiri?" Tanya Nina heran sambil meletakan satu cangkir teh dan beberapa toples kue lebaran buatannya di meja lipat bewarna biru bergambar salah satu tokoh kartun favorit putrinya. "Silahkan diminum dan ini buku laporan pemeriksaan kehamilan saya."

"Apa tidak ada karpet?" Ammar heran. Di rumahnya, ada pilihan untuk para tamu. Jika bertemu dengan paman atau para sepupu dekatnya, Ammar mengunakan ruangan khusus untuk lesehan tapi dilapisi karpet tebal dengan kualitas terbaik tentunya. Tapi sekarang, dia harus duduk di lantai langsung. Apa jatah bulanan untuk istrinya tidak cukup, sehingga perempuan ini tidak bisa membeli karpet?

"Tidak ada, Tuan! Rumah ini kecil." Nina sedikit ketus. Entah mengapa dirinya jadi berubah seperti ini. Nina jadi lebih berani dan tak terlalu takut pada suaminya. Dia juga membenci melihat wajah itu. "Silahkan anda lihat, hasil pemeriksaan kehamilan saya. Setelah itu, silahkan anda pulang karena saya mau istirahat." Nina beralasan.

Sepintar-pintarnya Ammar dalam hal bisnis, dia kurang paham soal keterangan kehamilan yang ditulis di buku tersebut.

Ammar memang fasih berbahasa Indonesia untuk sehari-hari, tapi bukan berarti dia paham semua kata-kata yang tertera. Terutama bagian pemeriksaan kesehatan, ada beberapa yang disingkat.

"Aku kurang mengerti, jadi lebih baik kita bertemu dengan dokter Asha." Dia meletakan buku itu begitu saja di lantai.

Nina menggeleng tak setuju, "saya tidak mau." Tolaknya.

"Itu anakku." Ammar tidak mau kalah. "Aku tidak mau anakku kekurangan apapun."

"Saya makan dengan baik dan berat badan saya selalu naik tiap bulannya. Jadi anda tidak perlu khawatir." Mungkin bayi-bayi dalam kandungannya yang memberikan energi keberanian pada Nina yang penakut. Sehingga dia berani membantah setiap perkataan ayah dari bayinya.

"Itu tidak cukup. Anakku harus dapat yang terbaik."

Walau belum mengenal lama, Nina sedikit paham tabiat suami kontraknya. "Begini, Tuan Ammar! Bukankah anda hanya butuh pewaris? Jadi percayakan pada saya dan saya tidak akan macam-macam."

Ammar tetap tidak setuju, dia ingin Nina diperiksa secara menyeluruh demi memastikan kesehatan ibu dan calon anak nya.

Keduanya tidak mau mengalah, dan memiliki pendapatnya sendiri.

1
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
siapa ya? apakah ammar atau ibu tuti? lanjut kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
up lg kak
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
jangan jatuh cinta ya nina, karena jatuh cinta sendirian itu sakit...
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
mudah mudahan nina hamil
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
lanjut kak🥰
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
cerita nya bagus, update nya jangan lama2 kak🙏
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀: aamiin,, cepat sembuh kak🤲🏼
total 2 replies
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
nina apa sofia kak
Mareeta: maaf banget ya, aku typo Mulu.
agak nggak konsentrasi. ngerjainnya kadang malam dan nggak sempat edit.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!