NovelToon NovelToon
Ada Cinta Di Balai Desa

Ada Cinta Di Balai Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ayuni

Arka Baskara, dikirim oleh dinas ke Desa Sukamaju. Tugasnya menjadi Pejabat (Pj) Kepala Desa termuda untuk membereskan kekacauan administrasi dan korupsi yang ditinggalkan kades sebelumnya.

Arka datang dengan prinsip kaku dan disiplin tinggi, berharap bisa menyelesaikan tugasnya dengan cepat lalu kembali ke kota.

Namun, rencananya berantakan saat ia berhadapan dengan Zahwa Qonita. Gadis ceria, vokal, dan pemberani, anak dari seorang Kiai pemilik pesantren cukup besar di desa.

Zahwa adalah "juru bicara" warga yang tak segan mendatangi Balai Desa untuk menuntut transparansi. Baginya, Arka hanyalah orang kota yang tidak paham denyut nadi rakyat kecil.

Bagaimanakah kisah Arka dan Zahwa selanjutnya? Hanya di Novel "Ada Cinta di Balai Desa"

Follow Me :
Ig : @author.ayuni
TT: author ayuni

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Konflik Kekuasaan

Hari-hari berikutnya di Sukamaju terasa berjalan begitu cepat bagi Arka. Setiap detik yang ia habiskan kini memiliki makna yang lebih dalam. Sejak mendapat lampu hijau dari Kiai Hasan, semangat kerjanya seolah berlipat ganda. Arka ingin meninggalkan rekam jejak yang sempurna di Sukamaju sebelum ia membawa urusan pribadinya ke jenjang yang lebih serius.

Dan.. Keberhasilan Pameran Teh Sukamaju yang viral hingga ke ibu kota ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membawa kebanggaan dan harapan bagi warga, namun di sisi lain, ia menarik perhatian para mafia properti yang sudah lama mengincar tanah subur di kaki perbukitan itu.

Bagi para pengusaha besar, Sukamaju bukan lagi sekedar desa terpencil, melainkan tambang emas hijau yang siap dikonversi menjadi resor mewah dan vila eksklusif.

Di sebuah ruangan kantor yang dingin di Jakarta, seorang pria paruh baya bernama Hermawan, pimpinan PT Daya Guna Abadi menyesap cerutunya dengan gusar. Di depannya, terpampang peta Desa Sukamaju dengan coretan tinta merah di area wisata yang sedang digarap Arka.

"Dulu, Kades lama sudah hampir tanda tangan. Tinggal selangkah lagi lahan itu jadi milik kita," geram Hermawan.

"Tapi anak ingusan itu malah menutup pintu. Dia mau mengelola itu sendiri dengan warga? Konyol. Warga tahu apa soal bisnis triliunan?"

Hermawan bukan orang baru bagi Sukamaju. Selama bertahun-tahun, ia adalah donatur utama kades sebelumnya. Dengan iming-iming uang di bawah meja, kades lama selalu memuluskan izin apa pun. Namun kini, Arka berdiri seperti benteng kokoh yang tak bisa ditembus dengan amplop tebal.

Beberapa hari kemudian, sebuah mobil mewah berwarna hitam legam terparkir di depan Balai Desa Sukamaju. Hermawan turun didampingi dua asistennya, bermaksud melakukan pendekatan langsung. Di ruang kerja Kades, Arka menyambut mereka dengan sopan namun formal.

"Pak Arka, kami melihat potensi luar biasa di bukit itu. Jika Bapak setuju melepas hak kelola lahan tersebut kepada perusahaan kami, kami sudah menyiapkan dana kompensasi yang... katakanlah, cukup untuk membuat Bapak hidup nyaman di Ibu Kota, tanpa harus bekerja lagi seumur hidup," ujar Hermawan sambil menggeser sebuah koper kecil ke atas meja.

Arka bahkan tidak melirik koper itu. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kayu jati kantornya.

"Pak Hermawan, saya di sini bukan untuk mencari kenyamanan pribadi. Wisata Bukit Teh itu adalah warisan leluhur Sukamaju. Jika saya serahkan kepada Bapak, warga hanya akan jadi penonton atau paling maksimal jadi tukang sapu di resor Bapak. Saya ingin mereka jadi pemilik. Hasilnya harus masuk ke kantong mereka, untuk sekolah anak-anak mereka, bukan ke rekening investor di Ibu Kota."

"Idealisme tidak akan memberi makan orang banyak, Arka," balas Hermawan tajam. "Anda masih muda, jangan keras kepala."

"Justru karena saya muda, saya punya energi untuk menjaga kebenaran ini," jawab Arka tegas.

"Tawaran Anda saya tolak. Pintu keluar ada di sebelah sana" susul Arka, dengan ramah namun tatapannya cukup tajam.

Gagal melakukan suap langsung, Hermawan menggunakan cara lain Ia tahu siapa Arka, putra tunggal Baskara, rekan lamanya dalam berbagai proyek birokrasi di kementerian. Malam itu juga, Hermawan menemui Pak Baskara di sebuah restoran eksklusif di Ibu Kota.

"Baskara, putra kamu itu benar-benar menyulitkan," keluh Hermawan.

"Dia menolak proyek pembangunan kawasan ekonomi terintegrasi di Sukamaju. Padahal, ini adalah titipan dari beberapa orang atas juga. Kalau proyek ini macet karena anakmu, posisimu di kementerian bisa goyang. Kamu tahu sendiri kan bagaimana relasi kuasa di sini bekerja?"

Pak Baskara memijat keningnya. Ia dilema di antara rasa bangga melihat prestasi anaknya yang masuk berita nasional, dan ketakutan akan ancaman kolega bisnisnya. Ia tahu Arka sangat keras kepala, tapi ia tidak menyangka Arka akan berani melawan arus modal besar.

***

Keesokan paginya, telepon Arka berdering. Suara ayahnya terdengar sangat berat dan penuh tekanan.

"Arka, Papa minta kamu pikirkan lagi soal penawaran PT Daya Guna Abadi. Jangan cari musuh yang terlalu besar, Arka. Kamu itu baru beberapa bulan jadi Kades. Hermawan punya akses ke menteri, bahkan ke atasan Papa. Jika kamu terus menolak, Papa yang akan kena getahnya di sini!"

Arka memejamkan mata, memegang dahi yang kembali terasa pening.

"Pa... kalau Arka setuju, Arka mengkhianati ribuan warga yang sudah mulai percaya pada Arka. Papa mau Arka jadi pemimpin yang menjual rakyatnya demi posisi Papa?"

"Jangan bicara soal moralitas padaku!" bentak Pak Baskara.

"Ini soal realitas politik! Setujui atau Papa akan pastikan mutasimu keluar dari Sukamaju minggu ini juga! Papa tidak main-main!"

Tekanan mulai datang bertubi-tubi. Bukan hanya dari ayahnya, tapi juga mulai muncul gangguan di desa. Tiba-tiba saja, beberapa preman kiriman mulai terlihat mondar-mandir di area pembangunan wisata, mengintimidasi warga yang sedang bekerja bakti. Bahkan, muncul isu di beberapa sudut desa yang menyebut Arka sengaja menolak pengembang besar karena ia ingin menguasai lahan itu sendiri untuk kepentingan keluarganya.

Badai ini jauh lebih besar daripada sekadar gosip Dokter Citra, ataupun hadangan dari Fikri. Ini adalah benturan antara idealisme dengan kekuasaan.

Di tengah kalutnya pikiran, Arka berjalan menuju pesantren. Ia butuh ketenangan yang hanya bisa ia temukan di sana. Langkah kaki Arka terasa berat saat melewati gerbang pesantren.

Suara riuh rendah santri yang sedang mengaji di kejauhan biasanya menjadi obat penenang baginya, namun siang ini, kebisingan di kepalanya jauh lebih kencang. Bayang-bayang ancaman ayahnya dan wajah-wajah sangar preman yang mulai mengusik ketenangan warga terus berputar di benaknya.

Di serambi masjid yang beralaskan ubin marmer dingin, ia melihat sosok Kiai Hasan duduk bersila, menatap hamparan kebun teh bagaikan permadani hijau yang menyegarkan mata. Arka mendekat, menunduk takzim, dan mencium tangan sang Kiai.

"Assalamu'alaikum kiai.."

"Wa'alaikumusalam... Duduklah, Nak Arka," suara Kiai Hasan lembut, namun memiliki getaran yang sanggup menembus kekalutan Arka.

"Sepertinya pundak Pak Kades ini, sedang mengangkut beban yang cukup berat?."

Arka terduduk lemas di samping beliau. Ia terdiam cukup lama, hanya memandangi ujung kakinya.

"Kiai... terkadang saya merasa, apakah idealisme saya ini justru mencelakai orang lain?"

Kiai Hasan menoleh perlahan, membetulkan letak kacamata tuanya. "Kenapa kamu berpikir begitu? Bukankah kejujuran adalah jalan yang paling benar?"

"Jalannya benar Kiai, tapi badainya sangat kencang," jawab Arka lirih.

"Saat ini saya dihadapkan pada pilihan yang mustahil. Jika saya mempertahankan lahan desa dari pengembang, warga diancam, dan... orang tua saya sendiri yang akan menghancurkan karier saya. Tapi jika saya menyerah, saya mengkhianati amanah warga Sukamaju."

Kiai Hasan mengangguk paham. Beliau belum menanyakan detail masalah lahan tersebut, namun beliau bisa membaca bahwa ini adalah benturan antara prinsip dan kekuasaan.

"Nak Arka, dengarkan ini, pohon yang paling tinggi adalah yang paling kuat diterjang angin. Kamu tahu kenapa dia tidak tumbang? Bukan hanya karena batangnya yang keras, tapi karena akarnya yang kuat."

Beliau terdiam sejenak, membiarkan angin siang bertiup di antara mereka.

"Ancaman manusia itu terbatas, Nak Arka. Mereka hanya bisa mengancam jabatanmu, hartamu, atau kenyamanan mu. Tapi mereka tidak bisa mencuri kedamaian di hatimu yang berpaut pada kebenaran. Jangan takut kehilangan jabatan demi mempertahankan prinsip, karena jabatan hanyalah pakaian. Pakaian bisa diganti kapan saja, tapi harga diri dan iman adalah kulit dalam dirimu, jika ia terkelupas, ia akan sangat sakit."

Kiai Hasan kemudian menepuk bahu Arka. "Pulanglah. Ambil wudhu, tenang diri. Jangan ambil keputusan saat hatimu sedang tidak baik. Ingatlah, Sukamaju bukan milikmu, bukan milik ayahmu, dan bukan milik pengembang itu. Tanah ini milik Allah yang dititipkan pada warga. Tugasmu hanya satu, menjadi penjaga yang jujur. Hasilnya? Itu bukan urusan mu lagi."

Arka menarik napas panjang. Beban di pundaknya belum sepenuhnya hilang, namun arah tujuannya kini kembali jelas. Tekanan dari Ibu Kota dan preman di desa seolah mengecil di hadapan nasihat yang begitu luas maknanya.

"Terima kasih, Kiai. Nasihat Kiai membuat saya ingat siapa saya sebenarnya," ucap Arka dengan nada yang lebih stabil.

"Berangkatlah dengan Bismillah, Nak Arka. Allah tidak akan membiarkan hambanya yang berjuang untuk orang banyak sendirian," tutup Kiai Hasan sambil bangkit untuk mempersiapkan shalat dzuhur santri.

Arka berdiri, menatap masjid dengan perasaan yang lebih tenang. Ia tahu badai di depan belum usai, bahkan mungkin akan semakin besar, tapi ia tidak lagi merasa sendirian di tengah masalah itu.

...🌻🌻🌻...

...🌻🌻🌻...

1
Suherni 123
sip pak kades,fokus dulu untuk masyarakat sukamaju
Suherni 123
bagai simalakama ya pak kades,,,
Suherni 123
lanjut
Suherni 123
cakep kek,,,aku padamu 🥰
Suherni 123
semoga kakek ada di pihak mu ya pak kades
Suherni 123
ada benarnya juga Zahwa,, jangan sampai tidak diridhoi orang tua
Suherni 123
adakah bab yang hilang kah kak othor,
Ayuni (ig/tt : author.ayuni ): iya kakak, satu bab kelewat gak aku apdet, hari ini diperbaharui yaa.. maafkan 😍
total 1 replies
demoet..
hadeuhhh.. bner2 c papa pengen diserbu!!
Suherni 123
semangat Arka ....
Suherni 123
waduuh... badai mulai menerjang
Bun cie
semoga niat baik arka disambut baik juga oleh mama papanya mau merestui arka
Bun cie
bismillah semangat pak kades👍
Bun cie
cie..cie..pak kades memanfaatkan suasana..goog job pak kades👍
Suherni 123
semoga pak Bhaskara tak menghalangi niat tulus mu pak kades
Suherni 123
pak kades nembak nih😁
Suherni 123
masih anteng ka,, sebentar lagi badai datang 😁
Bun cie
goodjob pak sugeng👍
Suherni 123
yes pak Sugeng 😚
Suherni 123
aku juga uhuyyy 😁
Suherni 123
mantap pak kades,, lanjutkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!