Arum, seorang sarjana ekonomi yang cerdas dan taktis, terpaksa menikah dengan Baskara, Kepala Desa muda yang idealis namun terlalu kaku. Di balik ketenangan Desa Makmur Jaya, tersimpan carut-marut birokrasi, manipulasi dana desa oleh perangkat yang culas, hingga jeratan tengkulak yang mencekik petani.
Baskara sering kali terjebak dalam politik "muka dua" bawahannya. Arum tidak tinggal diam. Dengan kecerdikan mengolah data, memanfaatkan jaringan gosip ibu-ibu PKK sebagai intelijen, dan strategi ekonomi yang berani, ia mulai membersihkan desa dari para parasit. Sambil menata desa, Arum juga harus menata hatinya untuk memenangkan cinta Baskara di tengah gangguan mantan kekasih dan tekanan mertua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon habbah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Audit Tanpa Batas
Setahun setelah "Malam Tanpa Tidur" di Jakarta, nama Arum dan Baskara telah menjadi mitos urban. Di Nagasari, sebuah monumen kecil berbentuk neraca timbangan didirikan di alun-alun desa, namun orang yang menginspirasinya telah menghilang dalam kabut birokrasi yang sengaja mereka ciptakan sendiri.
Di sebuah pelabuhan kecil di pinggiran Geneva, Swiss, seorang wanita dengan rambut pendek sebahu dan kacamata tebal duduk di sebuah kafe kuno yang menghadap ke danau. Di paspornya tertulis nama Elena, seorang analis data independen. Di seberangnya, Baskara yang kini dikenal sebagai Marco sedang menyesap kopi sambil mengamati kerumunan turis.
"Sistem kliring mereka di sini terlalu rapi, Mas," bisik Arum sambil menatap layar tablet yang menampilkan aliran dana masuk dari berbagai belahan dunia. "Tapi serapi apa pun bank-bank di Swiss, mereka tetap meninggalkan 'jejak panas' di jaringan listrik saat melakukan pemrosesan data besar-besaran."
Arum kini tidak lagi mengincar pejabat lokal. Ia sedang melacak "The Global Ledger", sebuah konsorsium keuangan bayangan yang menjadi tempat pelarian terakhir bagi aset-aset "Aset No. 01" hingga "00" yang berhasil kabur saat penggerebekan di Jakarta.
"Mereka pikir dengan memindahkan angka-angka itu ke server di pegunungan Alpen, mereka aman dari jangkauan hukum Indonesia," Baskara tersenyum tipis. "Mereka lupa bahwa hukum matematika berlaku universal."
Arum telah mengembangkan metode baru: Audit Entri Digital. Ia tidak mencari nama atau nomor rekening, melainkan mencari ketidakteraturan dalam algoritma enkripsi yang digunakan bank-bank tersebut. Ia menemukan bahwa ada sebuah "pintu belakang" (back door) yang sengaja ditinggalkan oleh para bankir untuk memindahkan dana secara instan jika terjadi penggeledahan.
"Mas, aku sudah masuk," Arum menggeser layar tabletnya. "Aku baru saja menemukan akun yang menampung royalti nikel dari Muara Biru dan lithium dari Nagasari yang sempat dilarikan Adrian sebelum dia tertangkap. Nilainya cukup untuk membiayai transisi energi seluruh Asia Tenggara."
Namun, saat Arum hendak melakukan sinkronisasi data, seorang pria bersetelan tweed abu-abu duduk di meja sebelah. Ia tidak membawa senjata, melainkan sebuah amplop biru dengan segel lilin kuno.
"Nyonya Arum... atau haruskah saya memanggil Anda 'Hantu dari Nagasari'?" suara pria itu tenang, dengan aksen Inggris yang kental.
Arum tidak terkejut. Ia sudah mendeteksi keberadaan pria ini sejak tiga blok sebelumnya melalui sensor pengenal wajah portable nya. "Anda terlambat, Tuan. Data ini sudah terenkripsi secara otomatis ke seribu server cloud di seluruh dunia."
"Saya bukan datang untuk menghentikan Anda," pria itu menyodorkan amplop tersebut. "Saya mewakili Otoritas Audit Global . Kami telah memperhatikan kerja Anda. Dunia sedang menuju kehancuran ekonomi karena sistem yang tidak jujur, dan kami butuh seseorang yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dilacak, dan tidak takut kehilangan identitasnya."
Arum membuka amplop itu. Isinya bukan ancaman, melainkan sebuah lencana perak kecil dengan simbol mata yang terbuka—lambang para pengawas yang bekerja di luar yurisdiksi negara mana pun.
"Dunia butuh lebih dari sekadar polisi, Arum. Dunia butuh Pemeriksa Terakhir," lanjut pria itu.
Arum menatap Baskara, lalu menatap lencana itu. Perjuangannya yang dimulai dari sebuah sumur tua di Navasari kini telah membawanya ke puncak pengawasan dunia. Ia menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa berhenti. Korupsi adalah energi yang selalu mencari bentuk baru, dan ia adalah sang penetralisir.
"Jadi, ke mana tujuan kita selanjutnya?" tanya Baskara, siap untuk petualangan baru.
Arum memakai kembali kacamata hitamnya, menutup laptop, dan berdiri. "Ada sebuah proyek bendungan di Brasil yang laporannya tidak masuk akal secara termodinamika. Sepertinya seseorang sedang menyembunyikan pabrik superkomputer di bawah air terjun."
Arum dan Baskara berjalan menjauh dari danau, menghilang di antara kerumunan manusia. Mereka adalah hantu, mereka adalah angka, mereka adalah kebenaran yang tidak akan pernah bisa dihapus dari buku besar semesta.
Pria bersetelan tweed itu yang memperkenalkan diri sebagai Julian—meninggalkan kafe setelah memberikan lencana perak tersebut. Arum memandangi simbol mata yang terbuka di telapak tangannya. Itu bukan sekadar tanda pangkat; itu adalah beban untuk menjadi saksi atas setiap kecurangan yang dilakukan oleh mereka yang terlalu berkuasa untuk diadili.
"Mas, Julian benar," Arum berbisik sambil menyimpan lencana itu di saku rahasia tasnya. "Sistem di Swiss ini hanyalah salah satu simpul. 'The Global Ledger' bukan organisasi, melainkan protokol. Mereka menggunakan algoritma yang disebut 'Shadow-Double Entry'."
Arum menjelaskan bahwa dalam sistem ini, setiap transaksi memiliki dua wajah. Satu wajah yang bersih untuk diperlihatkan kepada auditor pajak, dan satu wajah gelap yang hanya bisa dilihat melalui frekuensi data tertentu. Itulah alasan kenapa triliunan dolar bisa berpindah tangan tanpa menggerakkan indikator inflasi dunia.
"Mereka mencuri masa depan planet ini dengan cara menyembunyikan biaya kerusakan lingkungan ke dalam 'aset tak berwujud'," lanjut Arum.
Malam itu, di sebuah apartemen sewaan di wilayah Plain palais, Arum melakukan Audit Keberlanjutan terhadap proyek bendungan di Brasil yang disebut Julian. Melalui citra satelit termal, ia menemukan bahwa bendungan tersebut mengeluarkan energi panas yang jauh melebihi kapasitas turbin listriknya.
"Konstruksinya bukan untuk mengalirkan air, Mas. Air terjun itu digunakan sebagai sistem pendingin alami untuk pusat data raksasa di bawah tanah," Arum menunjukkan peta panas tersebut. "Mereka menambang data dan memproses transaksi gelap menggunakan energi hijau curian. Ini adalah Greenwashing skala industri."
Arum menyadari bahwa misinya kini telah berevolusi menjadi Audit Bio-Digital. Ia harus membuktikan bahwa kerusakan hutan Amazon di sekitar bendungan itu berbanding lurus dengan peningkatan saldo di rekening-rekening rahasia di Geneva.
"Baskara, siapkan paspor kita untuk perjalanan ke Mana us," Arum berdiri dengan semangat yang baru. "Kali ini kita tidak hanya membawa laptop. Kita akan membawa sensor biometrik hutan. Jika pohon-pohon itu tidak bisa bicara, biar data yang menyuarakan jeritan mereka."
Baskara menatap istrinya dengan bangga. "Dulu kita hanya ingin menyelamatkan satu sumur di Nagasari, Rum. Sekarang kau ingin mengaudit paru-paru dunia."
"Karena setiap tetes air di Nagasari terhubung dengan sungai di Amazon, Mas. Di dunia ini, tidak ada angka yang berdiri sendiri. Semuanya saling mengaudit," Arum tersenyum cerdik.
Tiba-tiba, tablet Arum berkedip. Sebuah koordinat baru muncul di tengah Samudra Atlantik. Itu adalah sebuah kapal kargo yang secara teknis "tidak ada" di radar maritim, namun membawa kontainer berisi perangkat keras server paling canggih di dunia.
"Sepertinya 'The Global Ledger' sedang mencoba memindahkan otak mereka ke laut lepas," Arum menutup tabletnya. "Mari kita cegat mereka sebelum mereka menjadi benar-benar tak tersentuh."
Arum dan Baskara meninggalkan apartemen itu dalam kegelapan. Mereka bukan lagi pejuang lokal; mereka adalah garda depan dari sebuah era baru di mana kebenaran tidak lagi diminta, melainkan diambil melalui presisi sebuah audit.
menegangkan ..
lanjut thor..