Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Siang itu datang lebih cepat, matahari mulai naik keatas, anak-anak berhamburan keluar kelas, ketika bel pulang sudah terdengar. Hari ini Arbani pulang lebih cepat tidak seperti biasanya, tidak ada les tambahan dari sekolahnya.
Anak itu berjalan santai tidak terburu-buru, langkahnya terlalu tenang untuk ukuran anak seusianya, tangannya berayun pelan mengikuti ritme langkah kakinya. Arbani menatap jalanan desa yang dipenuhi dengan pepohonan di pinggir jalan.
Saat langkahnya sudah jauh, tiba-tiba saja ia melihat sosok pria yang sebelumnya sudah pertama bertemu. "Hah, Bapak iku mene," gumamnya lirih. (Hah, Bapak itu lagi)
Seketika ia teringat ucapan dari ibunya yang melarangnya untuk berbicara dengan orang asing seketika Arbani mulai menundukkan pandangannya, ia hanya diam, tidak seramah saat pertama kali bertemu.
"Nak, sudah pulang sekolah?" Ardan bertanya, dengan nada yang terdengar biasa saja.
Arbani berhenti sekilas, ia menatap wajah Ardan lalu menunduk kembali. "Maaf Pak, aku harus pulang cepat," sahutnya pelan. Lalu ia melangkah meninggalkan Ardan yang sedang berdiri di depan warung kopi.
Ardan ingin sekali mengejar, namun entah kenapa langkahnya terasa berat. "Dia seperti menghindar, pasti karena kemarin," gumamnya pelan.
Ya, semenjak pagi itu Ardan baru berani menampakkan wajahnya sekarang, dan sudah pasti kedatangannya kali ini mendapatkan penolakan.
Ardan melangkah mundur tangannya mulai mengepal, saat ia baru menyadari jika Arbani sudah mulai dipengaruhi oleh ibunya. "Apa Nara sudah menghasut Arbani," pikirnya sendiri.
☘️☘️☘️☘️☘️
Langkah Arbani sudah sampai di depan rumahnya, ia melihat ibunya sedang mengikat bunga-bunga yang akan di bawa ke pasar.
"Assalamualaikum Bu." Langkah Arbani terhenti tepat di ambang pintu.
Nara menoleh dari tumpukan bunga kenanga dan mawar yang sedang ia ikat rapi. Mendengar salam itu, ia mengangkat wajah dengan senyum kecil yang masih utuh belum tahu apa pun.
“Waalaikumsalam, Nak,” sahutnya lembut.
Arbani meletakkan tasnya di bangku kayu. Ia menatap ibunya sebentar, ragu, seperti menimbang apakah ceritanya pantas keluar sekarang atau nanti. Tangannya saling meremas.
“Ibu…” panggilnya pelan.
Nara menangkap keganjilan itu. Tangannya berhenti mengikat.
“Kenopo, Bani?” tanyanya hati-hati.
(Ada apa, Bani?)
Arbani mendekat satu langkah. “Tadi… aku ketemu maneh karo bapak sing wingi kuwi.”
(Tadi aku ketemu lagi sama bapak yang kemarin itu.)
Tali rafia di tangan Nara terlepas.
Bunga-bunga di pangkuannya hampir jatuh, tapi ia cepat menahannya. Wajahnya tidak langsung berubah, namun sorot matanya mengeras tajam, waspada.
“Ketemu neng endi?” suaranya lebih rendah.
(Ketemu di mana?)
“Neng cedhak warung kopi, pas aku muleh sekolah.”
(Di dekat warung kopi, waktu aku pulang sekolah.)
Nara menarik napas dalam-dalam, berusaha tetap tenang.
“Kowe ngomong opo karo dheweke?”
(Kamu ngomong apa sama dia?)
Arbani menggeleng cepat. “Gak akeh, Bu. Aku mung njawab sakedhik, terus langsung muleh.”
(Tidak banyak, Bu. Aku cuma jawab sedikit, lalu langsung pulang.)
“Kok iso ketemu maneh?” tanya Nara, kali ini lebih tegas.
(Kok bisa ketemu lagi?)
Arbani menunduk. “Aku ora sengaja, Bu.”
(Aku tidak sengaja, Bu.)
Sunyi jatuh di antara mereka. Nara memejamkan mata sejenak. Bayangan wajah Ardan kembali menghantam ingatannya tatapan itu, cara ia berdiri terlalu lama, seolah menunggu sesuatu yang belum selesai.
Ia berjongkok di depan Arbani, menatap wajah anaknya lurus-lurus.
“Bani, rungokno ibu.”
(Bani, dengarkan ibu.)
Arbani mengangguk kecil.
“Wong kuwi wong anyar. Wong sing ora kita kenal. Mbok yo, ojo diajak ngomong meneh.”
(Orang itu orang asing. Orang yang tidak kita kenal. Jadi, jangan diajak bicara lagi.)
“Tapi Bu ” Arbani sempat menyela.
“Ojo,” potong Nara lembut tapi tegas.
(Jangan.)
Ia menggenggam kedua pundak anaknya.
“Ora kabeh wong sing mesem kuwi apik. Lan ora kabeh wong sing katon apik kuwi aman.”
(Tidak semua orang yang tersenyum itu baik. Dan tidak semua yang terlihat baik itu aman.)
Arbani terdiam.
“Nggeh, Bu.”
(Iya, Bu.)
Nara menghela napas panjang, lalu menarik anak itu ke dalam pelukan. Tangannya sedikit gemetar, tapi ia berusaha menahannya agar tak terasa.
“Yen ketemu maneh, langsung muleh. Ojo mandheg. Ojo noleh.”
(Kalau ketemu lagi, langsung pulang. Jangan berhenti. Jangan menoleh.)
Arbani mengangguk, rasanya ada yang aneh dengan tingkah laku ibunya, tidak biasanya Nara melarangnya untuk bersosialisasi dengan orang baru ataupun lama, namun lidahnya terasa kaku saat ingin bertanya lebih ada rasa takut menyinggung hati ibunya.
Sementara itu Nara merasa khawatir ketenangan yang selama ini ia bangun mulai retak. Ia tahu ini bukan lagi sekadar pertemuan tak sengaja, tapi sudah direncanakan.
"Tidak jangan sampai dia mencari tahu," batin Nara.
Dan yang paling ia takuti bukan Ardan yang datang kembali, melainkan kenyataan bahwa masa lalu itu sudah mulai menyentuh anaknya, dan itu sangat ia tutupi dari dulu, bahkan ia tidak bisa membayangkan jika Bani tahu kalau pria baik yang selama ini dianggap ayah ternyata bukan, Nara menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak," gumamnya.
"Bu, kenapa?" tanya Arbani.
Nara menggeleng pelan. "Ya sudah kamu masuk dulu."
Arbani tidak banyak membantah anak itu hanya mengangguk lalu melangkah masuk.
Nara menatap jalan depan rumah sesaat, lalu menutup pintu lebih rapat dari biasanya. Bukan karena dunia di luar berubah.
Melainkan karena ia harus memastikan dunia kecil Arbani tetap aman, dari pengawasannya.
"Ya Allah tolong aku," ucapnya sembari menengadahkan tangan.
☘️☘️☘️☘️☘️
Di dalam kamarnya Nara terduduk di tepi ranjang, dadanya bergetar lebih cepat dari biasanya, air mata mulai luruh tanpa diminta, wanita itu mulai mengingat kepingan masa lalu yang terlalu menyakitkan.
Bagaimana dulu ia tidak dianggap ada, ucapannya dianggap berisik, pedulinya dianggap berlebihan dan ketakutannya dianggap beban, semua itu masih terekam jelas di dalam memory-nya.
"Aku sudah pergi jauh, bahkan aku sudah tidak menjadi beban mu, tapi kenapa kamu hadir dan menyelidiki anakku," ucap Nara dengan nada bergetar.
Hal itu jauh lebih menyakitkan dari kesakitan apapun, selama sembilan tahun ini ia sudah berusaha mengubur kenangan itu dalam-dalam, namun kenyataan seolah ingin menunjukkan siapa sebenarnya pria itu.
Nara memejamkan matanya dalam-dalam membiarkan bulir bening itu membasahi pipinya, membawa setiap tetesan luka yang selama ini sudah ia anggap mati.
Ia menyeka wajahnya kasar, lalu menarik napas panjang yang terasa tidak pernah benar-benar sampai ke paru-paru.
“Anakku ora salah opo-opo,” bisiknya lirih.
(Anakku tidak salah apa-apa.)
Dan justru karena itulah, Nara tahu ia tidak boleh runtuh. Jika masa lalu ingin kembali mengetuk, maka kali ini ia akan berdiri di depan pintu. Bukan untuk membuka. Melainkan untuk menjaga.
Bersambung ...
Sore kakak-kakak ... Semoga tetap suka ya, dan selalu menunggu kelanjutan kisah Nara
ada bonus chapter kah? hehe
aku nangis ini kak...
antara Aku, ibuku,dan Kedua Bapaku