Ketika dunia seolah runtuh di sekelilingnya, hanya cinta anak-anak yang bisa membangunnya kembali.
Rian baru saja di-PHK ketika rumah tangganya yang sudah berjalan 7 tahun hancur berkeping-keping. Dituduh selingkuh oleh istri, Novi, dan dipermalukan oleh keluarga besarnya, ia tidak punya pilihan selain kembali ke kampung halaman dengan membawa dua anaknya – Hadian dan Alea. Kedua anak itu dengan tegas memilih mengikuti ayahnya, bahkan menolak untuk bertemu dengan ibunda kandung mereka yang kini sudah hidup dengan orang lain.
Di rumah panggung peninggalan orangtuanya, Rian memulai dari nol. Dengan tangan yang terlatih bekerja keras dan dukungan tak lekang dari kedua anaknya, ia mengolah lahan pertanian, membuka peternakan, hingga akhirnya mendirikan perusahaan dan restoran yang sukses.
Setiap langkah kemajuan yang diraihnya tak pernah lepas dari kehadiran Hadian dan Alea. Ketika pertemuan tak terduga dengan Novi dan keluarga barunya terjadi berkali-kali, anak-anak itu tetap berdir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34. HADIAN BELAJAR PERTANIAN
Pada pagi hari berikutnya, sementara Rian sedang memperbaiki parit irigasi di bagian lain lahan, Hadian mendekat ke arah Pak Soleh yang sedang memeriksa kondisi benih padi yang baru saja ditanam. Anak laki-laki itu membawa buku catatan kecil dan pulpen yang diberikan oleh ayahnya, wajahnya penuh dengan rasa ingin tahu yang tak terpendam.
“Pak Soleh, bolehkah aku bertanya tentang cara merawat tanaman padi ya?” tanya Hadian dengan suara yang sopan namun penuh semangat. “Aku ingin mencatat semua petunjukmu agar tidak lupa dan bisa membantu Papa dengan benar.”
Pak Soleh tersenyum hangat dan mengangguk dengan senyum bangga. “Tentu saja, nak,” jawabnya dengan suara yang penuh dengan pengalaman. “Sangat bagus kalau kamu ingin belajar tentang pertanian. Ini adalah ilmu yang sangat berharga dan akan membantumu kelak nanti.”
Tanpa berlama-lama, Hadian segera membuka buku catatannya dan siap mencatat setiap penjelasan Pak Soleh. Pak Soleh mulai dengan menjelaskan tentang cara memantau kelembapan tanah yang tepat untuk tanaman padi.
“Tanaman padi membutuhkan air yang cukup, tapi tidak boleh terlalu banyak hingga membuat akarnya tergenang terlalu lama,” ujar Pak Soleh sambil menunjukkan ke arah parit irigasi. “Kita harus mengatur aliran air dengan bijak – pada tahap awal pertumbuhan, tanah harus tetap lembab tapi tidak tergenang. Setelah tunas mulai tumbuh tinggi, kita bisa tambahkan air sedikit demi sedikit.”
Hadian dengan cepat mencatat setiap kata Pak Soleh, kadang-kadang mengajukan pertanyaan tambahan untuk memastikan dia memahami dengan benar. “Kalau musim kemarau datang dan air sungai berkurang, apa yang harus kita lakukan Pak?” tanya dia dengan suara yang jelas.
Pak Soleh tersenyum dan menjawab dengan sabar. “Kita bisa membuat sumur resapan kecil di sekitar lahan untuk menyimpan air hujan ketika ada hujan,” jelasnya. “Atau kita bisa menggunakan metode penyiraman yang efisien dengan membawa air menggunakan ember atau selang kecil. Juga, kita bisa menutupi tanah dengan jerami kering untuk mencegah air menguap terlalu cepat.”
Setelah itu, Pak Soleh menjelaskan tentang cara mengenali tanda-tanda serangan hama atau penyakit pada tanaman padi. Dia menunjukkan beberapa daun yang mulai menunjukkan bintik-bintik kecil, menjelaskan bahwa itu adalah tanda awal serangan jamur yang perlu diatasi segera.
“Kalau melihat tanda seperti ini,” ujar Pak Soleh sambil menyentuh daun yang terkena, “kita bisa membuat obat alami dari daun sirih dan cabai merah yang dihancurkan kemudian dicampur dengan air. Semprotkan secara merata pada tanaman setiap pagi atau sore hari agar tidak merusak tunas yang masih muda.”
Hadian dengan cermat mencatat resep obat alami tersebut, bahkan menambahkan catatan kecil tentang di mana mereka bisa mendapatkan bahan-bahannya dengan mudah di sekitar desa. Pak Soleh kemudian melanjutkan menjelaskan tentang waktu yang tepat untuk memberikan pupuk.
“Pupuk pertama bisa diberikan ketika tanaman sudah tumbuh sekitar 15 sentimeter,” jelasnya. “Kita bisa menggunakan pupuk organik dari kotoran hewan atau kompos daun kering. Berikan secara merata di antara barisan tanaman agar setiap tanaman mendapatkan nutrisi yang cukup.”
Selama beberapa jam, Hadian terus bertanya berbagai hal tentang pertanian – mulai dari cara membajak tanah dengan benar, jenis pupuk yang cocok untuk berbagai jenis tanaman, hingga cara memprediksi cuaca berdasarkan perubahan awan dan arah angin. Pak Soleh dengan sabar menjawab setiap pertanyaan, terkadang bahkan menunjukkan secara langsung cara melakukan pekerjaan tertentu seperti cara menyiram tanaman dengan benar atau cara membersihkan gulma tanpa merusak akar tanaman padi.
“Aku juga akan mengajarmu cara membaca kondisi tanah,” ujar Pak Soleh sambil mengambil segenggam tanah dan menunjukkan kepada Hadian. “Lihat ini, nak – tanah yang subur memiliki warna coklat tua dan tekstur yang gembur. Kalau tanah sudah mulai menjadi keras dan berwarna kecoklatan muda, itu tandanya tanah perlu diberi pupuk dan dibasahi dengan air yang cukup.”
Hadian dengan cermat mengamati tanah yang diberikan Pak Soleh, kemudian mencatat ciri-ciri tanah subur di dalam bukunya. Dia bahkan mengambil sedikit tanah dan menyimpannya di dalam kantong kecil untuk dibandingkan dengan tanah dari bagian lain lahan nanti.
Ketika tengah hari tiba dan matahari mulai terik, mereka beristirahat di bawah pohon trembesi yang sama seperti hari sebelumnya. Alea datang membawa air hangat dan beberapa makanan ringan yang dibuat oleh Nenek Siti. Anak perempuan itu melihat buku catatan Hadian dengan rasa ingin tahu, kemudian meminta kakaknya untuk menjelaskan apa yang dia pelajari.
Hadian dengan senang hati menjelaskan kepada adik perempuannya tentang cara merawat tanaman padi, menunjukkan catatan-catatan yang dia buat dengan rapi di dalam bukunya. Alea mendengarkan dengan penuh perhatian, kadang-kadang bertanya tentang hal-hal yang dia tidak mengerti dan meminta kakaknya untuk mengajarkannya cara mencatat seperti yang dia lakukan.
Setelah istirahat, Pak Soleh mengajak Hadian untuk melihat kebun sayuran kecil yang dia kelola di belakang rumahnya. Di sana, Pak Soleh menunjukkan berbagai jenis sayuran yang dia tanam, menjelaskan tentang pola tanam yang tepat agar setiap tanaman bisa tumbuh dengan baik dan tidak bersaing untuk mendapatkan nutrisi dari tanah.
“Kita bisa menanam bayam di antara barisan cabai, atau tomat di sekitar pohon pepaya,” jelas Pak Soleh. “Ini disebut pola tanam tumpangsari, dan bisa membuat lahan kita lebih produktif tanpa perlu menambah luas lahan yang digunakan.”
Hadian segera mencatat tentang pola tanam tumpangsari, bahkan membuat sketsa kecil di dalam bukunya tentang bagaimana cara mengatur tanaman dengan benar. Dia juga bertanya tentang cara mengatasi hama pada sayuran dan bagaimana cara menyimpan hasil panen agar bisa bertahan lama.
Ketika mereka kembali ke lahan pertanian pada sore hari, Hadian langsung menunjukkan kepada ayahnya apa yang dia pelajari dari Pak Soleh. Dia menjelaskan tentang cara mengatur aliran air yang tepat, cara membuat obat alami dari bahan-bahan lokal, dan tentang pola tanam tumpangsari yang bisa mereka terapkan di lahan mereka.
Rian melihat putranya dengan mata yang penuh dengan bangga dan rasa syukur. “Aku sangat bangga padamu, Nak,” ujarnya dengan suara yang penuh dengan cinta. “Dengan ilmu yang kamu dapatkan dari Pak Soleh, kamu akan bisa membantu kita mengembangkan lahan ini menjadi lebih baik lagi. Bahkan mungkin kelak kamu akan menjadi petani yang lebih pandai dari ayahmu.”
Hadian tersenyum dan mengangguk dengan penuh keyakinan. “Aku akan belajar dengan giat, Papa,” jawabnya dengan suara yang jelas. “Aku ingin membuat lahan Kakek dan Nenek menjadi lebih produktif dari sebelumnya, dan membuat kamu dan Kakak Alea bangga padaku.”
Di malam hari itu, Hadian menghabiskan waktu di rumah panggung untuk mengatur catatan-catatan yang dia buat selama hari itu. Dia menulis ulang setiap catatan dengan lebih rapi, menambahkan gambar dan sketsa agar lebih mudah dipahami. Alea membantu kakaknya dengan membuat dekorasi kecil dari daun dan bunga untuk menghiasi buku catatan tersebut, membuatnya terlihat lebih menarik dan menyenangkan untuk dibaca.
Rian melihat anak-anaknya bekerja bersama dengan bahagia, merasa bahwa semua pengorbanan yang dia lakukan sebanding dengan masa depan yang lebih baik yang akan mereka dapatkan. Hadian yang dulu hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang pertanian kini sudah mulai menguasai ilmu yang berharga, dan Alea yang ceria selalu siap membantu dengan segala cara yang dia bisa.
Di luar rumah, bulan mulai muncul di langit malam yang jernih, memberikan cahaya lembut pada lahan pertanian yang baru saja ditanami benih padi. Rian tahu bahwa masih banyak hal yang harus dipelajari oleh Hadian dan keluarga mereka, namun dengan bimbingan dari Pak Soleh dan semangat yang tinggi dari anak-anak, dia yakin bahwa mereka akan bisa menjadi petani yang sukses dan membangun kehidupan yang layak serta bahagia di desa yang mereka cintai.
Hadian menutup buku catatannya dengan senyum puas, sudah tidak sabar untuk kembali ke lahan pada pagi hari berikutnya untuk menerapkan ilmu yang dia pelajari. Dia tahu bahwa belajar pertanian bukan hanya tentang mendapatkan makanan atau uang, tapi juga tentang menjaga warisan keluarga dan tanah kelahiran yang telah memberi kehidupan bagi generasi-generasi sebelumnya. Dengan setiap catatan yang dia buat dan setiap pelajaran yang dia dapatkan, dia semakin dekat untuk mewujudkan impiannya – membuat lahan pertanian keluarga menjadi lebih produktif dan membawa kemakmuran bagi desa mereka.