Gawat, ini benar-benar gawat. Oke perkenalkan, aku Ravindra Arvana, dari keluarga terpandang Arvana. Aku KUALAT!
Karena aku ketahuan menyelingkuhi istri kontrakku dengan cinta pertamaku masa SMP. Tapi kan... dia cuma istri kontrak.
Anyway, setelah kepergok, semesta seperti tidak membiarkan aku dan Yunika, selingkuhanku, bersama.
Ada aja halangan. Apalagi sejak itu, hasratku ke dia kok hilang?!?
Aku memohon maaf pada Tafana, istriku, agar kutukan ini berakhir.
Dia setuju memaafkan dengan syarat:
1. Aku menceraikannya
2. Aku mencarikan PENGGANTIKU yang lebih baik dariku
Masalahnya pria muda, lajang, baik hati dan tidak sombong dengan status kekayaan menyaingiku SANGAT JARANG...
Begitu ketemu kandidatnya... kok kejadiannya begini?
Pokoknya kalian baca aja lah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Khodijah Lubis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemana Aja?
Kantor Luminara, sore hari.
Yunika baru turun dari lift ketika langkahnya terhenti.
Darren berdiri di dekat pintu kaca lobi kantor Luminara, bersandar santai seperti orang yang kebetulan lewat, padahal jelas tidak. Kemeja jeans belel, lengan digulung. Tatapannya naik perlahan, memastikan ia benar-benar melihat Yunika, bukan bayangannya.
“Gue kemarin lupa minta nomor lo,” kata Darren, tanpa pembuka.
Tidak ada senyum sok manis. Tidak ada basa-basi.
Yunika mengerjap. “Lo kesini cuma buat minta itu?”
“Iya.” Darren mengangguk, nadanya lugu. Seperti menyatakan niat besarnya.
Yunika tertawa kecil, refleks. Ada rasa tersanjung yang datang terlalu cepat untuk ditolak. Ia menyerahkan ponsel. Darren menyimpan nomornya, menekan save tanpa nama tambahan.
“Darren,” katanya singkat.
“Yunika,” balasnya.
Padahal mereka berdua tahu, perkenalan itu cuma formalitas yang telat.
Apartemen Darren terasa berbeda sore itu. Lebih sunyi. Lebih terasa akrab.
Yunika duduk di ujung sofa, memegang gelas air tanpa diminum. Darren tidak duduk terlalu dekat. Ia membiarkan jarak bekerja.
“Gue mau jujur,” kata Yunika tiba-tiba. “Gue udah punya cowok.”
“Terus?” Darren menyahut datar.
Yunika menoleh cepat. “Hah?”
“Terus apa?” ulang Darren. “Lo mau gue tepuk tangan atau mundur teratur?”
Alis Yunika berkerut. Ia sempat mengira Darren tertarik padanya secara rapi. Normal. Ternyata tidak.
“Tapi…” Yunika menarik napas. “Dia suami orang.”
“Oh.” Darren mengangguk kecil.
“Gitu doang?” Yunika menahan senyum tak percaya. “Gue kira lo bakal nge-judge.”
“Kayak gue suci aja,” seloroh Darren. “Gue malah suka cewek yang pacaran sama suami orang.”
Yunika tercekat. “Siapa?”
Darren mendekat setengah langkah. Tangannya menangkap pergelangan Yunika ringan, tidak memaksa. “Lo.”
Tatapan itu menahan. Tenang. Mengunci. Yunika tidak menarik tangannya.
Bibir mereka bertemu tanpa aba-aba. Bukan ciuman yang tergesa, lebih seperti keputusan yang diambil bersamaan. Yunika menghela napas pendek, ragu yang langsung mencair.
Saat ia berbisik, nyaris protes, “Gue udah punya cowok—”
“Gue tahu,” kata Darren, dekat. “Tapi lo nggak nolak.”
Sisa jarak menghilang. Dunia menyempit jadi detak dan panas yang naik perlahan, lalu adegan itu tenggelam ke balik pintu kamar yang tertutup.
Malam di hari yang sama, Yunika duduk di restoran dengan lampu temaram. Ravindra di seberangnya, rapi, hangat, menaruh buket bunga di meja dengan senyum yang percaya diri.
“Buat kamu,” katanya.
Yunika membalas senyum tipis, tertahan.
"Maaf tadi sedikit terlambat."
Kepalanya masih bergulat dengan kalimat Darren yang terlalu jujur untuk diabaikan.
"Lo ada buat gue."
“Yunika?” Ravindra mengibaskan tangan di hadapannya, lalu tersenyum. “Kamu mikirin apa? Bengong gitu.”
“Kerjaan,” jawabnya singkat.
Ia mengangkat garpu, menata ekspresi stabil, selalu terlihat bagus dari luar.
-oOo-
Beberapa jam sebelumnya, di apartemen, Darren berbaring santai bertelanjang dada, menatap langit-langit.
“Gue tahu,” katanya ringan, seperti menyebut fakta cuaca. “Lo suka gue. Nggak usah menampik.”
Yunika memalingkan wajah, masih tanpa busana. Hanya selimut yang menutupi dirinya. “Tapi gue tetap bakal milih cowok gue. Statusnya jelas dari keluarga terpandang.”
“Stabilitas, pamor?” Darren menyeringai. “Gue nggak peduli. Yang penting sekarang lo sama gue.” Ia mendekat, suaranya rendah. “Lo ada buat gue.”
Kalimat itu tidak menjanjikan apa pun. Justru itu yang membuatnya berbahaya.
Di luar restoran, Darren berdiri di seberang jalan. Lampu kota memantul di kaca. Ia melihat Yunika tertawa kecil pada sesuatu yang Ravindra katakan. Terlambat setengah detik, seperti orang yang baru kembali dari tempat lain.
Darren menyeringai.
Permainan sudah berjalan. Dan malam ini, semua pihak merasa menang tanpa sadar siapa yang sedang mengatur papan.
Saat itu juga ponsel pemuda itu berdering. Panggilan dari kakaknya, Tafana. Ini tidak biasa. Segera ia mengangkatnya.
-oOo-
Malam itu di tempat berbeda. Tafana terbangun dengan napas tersendat, telapak tangannya menekan perut bawah. Rasa nyerinya datang tanpa aba-aba, tajam, memutar, seperti ada yang meremas dari dalam. Ia mencoba duduk, gagal. Keringat langsung pecah di pelipis, bulirnya besar-besar, jatuh ke sprei seperti hujan yang malu-malu.
“Rav…” suaranya pecah sebelum selesai.
Ia meraba ponsel di nakas. Layar menyala.
Jemarinya gemetar menekan nama suaminya. Nada sambung. Lalu hening. Dicoba lagi. Gagal. Ponselnya tidak aktif.
Napasnya semakin pendek. Ia menggigit bibir, menahan agar tidak mengerang.
Jangan panik. Jangan berlebihan.
Kalimat-kalimat itu berderap di kepala, tak satu pun menolong.
Ia terpikir Sierra. Tapi di jam segini, ia tak tega membayangkan wajah sahabatnya yang pasti terbangun dengan kaget. Rasa sungkan menahan jarinya.
Nyeri itu datang lagi, lebih dalam. Pandangannya mengabur.
Ia menekan nama yang jarang ia ganggu malam-malam: Darren.
“Halo?” suara di seberang sigap, belum sempat mengantuk.
“Ren…” Tafana menghela napas, gagal menyelesaikan kalimat. “Perut kakak… sakit.”
Tidak ada pertanyaan bertele-tele. “Aku OTW.”
Telepon terputus. Tafana memejamkan mata, mencoba bernapas pelan. Dunia mengerut. Suara detak jam dinding terdengar terlalu keras. Lalu gelap.
Darren datang dengan kecepatan yang merobek ketenangan malam. Pintu dibuka paksa dengan kunci cadangan. Rumah menyambutnya dengan sunyi yang salah. Ia menemukan Tafana di lantai kamar, tubuhnya meringkuk, wajah pucat, keringat membasahi rambut.
“Astaga...” Darren berlutut, menepuk pipi kakaknya pelan. “Kak. Kak.”
Tidak ada respons.
Kepalanya terisi gambar lain: Ravindra tertawa di restoran, lampu temaram, buket bunga, dan Yunika.
Of course, pikirnya dingin. Waktu selalu punya selera humor yang buruk.
“Tenang, Kak,” gumam Darren sambil mengangkat Tafana hati-hati. “Aku di sini.”
Ia menghubungi ambulans, suaranya rata, terlatih.
Tangan kirinya menahan tubuh kakaknya, tangan kanan menggenggam ponsel. Di sela kesibukan itu, satu pikiran mengeras, pahit dan jernih:
Ada yang berpesta, ada yang pingsan sendirian di lantai rumahnya sendiri. Dan semua orang akan menyebut ini kebetulan.
-oOo-
Dokter itu keluar dari balik pintu UGD dengan wajah profesional yang terlatih untuk kabar buruk yang harus disampaikan cepat.
“Tuan Darren?”
“Iya,” jawab Darren, berdiri. Jaketnya masih berbau debu jalanan.
“Pasien atas nama Tafana mengalami appendicitis akut. Usus buntu. Kondisinya sudah cukup parah dan harus segera dioperasi malam ini.”
Kata segera menggantung berat.
“Risikonya?” tanya Darren singkat.
“Kalau ditunda, bisa pecah. Infeksi menyebar. Kami butuh persetujuan keluarga sekarang.”
Darren mengangguk tanpa drama. “Saya keluarganya.”
Formulir disodorkan. Tangan Darren menandatangani tanpa ragu, tinta hitam menggores rapi. Di kolom hubungan dengan pasien, ia menulis: "adik kandung".
“Terima kasih,” kata dokter. “Kami bawa kakak anda ke ruang operasi.”
Pintu tertutup. Lampu merah menyala. Darren duduk, menyandarkan punggung, menghembuskan napas yang baru terasa penuh sekarang.
Di kepalanya, bayangan restoran itu lewat lagi. Ravindra dengan senyum puas, memberi bunga pada wanita lain.
Lo sampah, Bang, pikirnya dingin.
-oOo-
Ravindra membuka pintu rumah dengan satu tarikan cepat. Anehnya terasa gelap dan sunyi. Ia melangkah masuk, menyalakan lampu. Rumah itu terasa kosong dengan cara yang membuat dada mengencang.
“Tafana?” Tidak ada jawaban.
Ia melongok ke kamar Tafana, tidak menemukannya. Pun di kamarnya dan di ruangan yang lain.
Ia merogoh ponsel, menyalakannya. Layar menyala dengan deretan panggilan tak terjawab. Dari Tafana, berkali-kali. Jantungnya terasa jatuh dari ketinggian.
“Bodoh,” gumamnya. Penyesalan datang terlambat seperti biasanya.
Ia menelepon Sierra. Disambut nada sambung panjang. “Halo?” suara Sierra terdengar setengah tidur.
“Si—Sierra, Tafana sama kamu?” tanya Ravindra cepat.
“Hah? Enggak. Ada apa? Aku baru bangun.”
Telepon ditutup. Ravindra mondar-mandir, cemas yang tak punya arah. Ia mencoba menelepon Tafana. Tetap tak aktif. Malam terasa terlalu panjang.
Sekitar dini hari, ponselnya bergetar. Nama mertuanya muncul.
“Ravindra,” suara itu tegang. “Tafana sudah selesai operasi belum?"
Kata operasi menghantamnya telak.
“Apa? Operasi?” Ravindra tercekat. “Di rumah sakit mana, Ma?”
Telepon berakhir. Ravindra menyambar kunci, melesat ke mobil.
Jalanan kosong, tapi kepalanya bising. Setiap lampu merah terasa seperti hukuman kecil.
Di ruang tunggu rumah sakit, lampu putih menusuk. Darren duduk sendirian, wajahnya datar.
Ravindra berhenti di depannya, napas terengah.
“Dia di dalam,” kata Darren lebih dulu, tanpa menoleh. “Usus buntu. Udah dioperasi, lagi diobservasi.”
Ravindra menutup wajah dengan kedua tangan. Rasa bersalah datang terlambat, tepat ketika tidak ada yang bisa ia lakukan selain menunggu.
"Lo kemana aja?" pertanyaan Darren ini menghantamnya seperti badai.
ini baru permulaan, pembalasan untuk pelakor harus lebih sadis😀😀
daripada menambah sakit hati dalam diri tafana meskipun tertutupi
hukum tabur tuai menunggumu, yang lebih bersenang-senang dengan kendaraan plat kuning
kalo serakah malah nggak dapat dua-duanya 😅😅