NovelToon NovelToon
Balerina 2025

Balerina 2025

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Misteri / Dendam Kesumat / Balas Dendam
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: Banggultom Gultom

Bella Shofie adalah gadis pembunuh dan keras kepala yang ingin membalaskan dendamnya karena kematian ayahnya bernama Haikal Sopin pada umur delapan tahun di sebuah rumah milik ayahnya sendiri, dia dikirim ke sebuah tempat latihan penari balet yang membuat dia harus bertahan hidup akibat latihan yang tidak mudah dilakukan olehnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Banggultom Gultom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 Dentuman

Cahaya di tengah dentuman.

Lampu kota berkilau di balik kaca mobil hitam yang melaju tanpa suara.

Gedung-gedung tinggi menjulang seperti dinding cahaya, memantulkan neon dan papan iklan yang berkedip tanpa henti. Jalanan malam tampak hidup, namun di dalam mobil itu, suasananya tenang, hampir hening. Mesin berdengung halus, roda meluncur stabil, dan tidak ada musik yang diputar.

Bella Shofie duduk di kursi belakang.

Posturnya tegak, punggungnya menempel ringan pada sandaran. Wajahnya datar, nyaris tanpa ekspresi, sementara matanya fokus menatap bayangannya sendiri di kaca jendela. Cahaya kota memantul di pupilnya, menciptakan kilatan yang membuatnya tampak lebih dewasa dari usianya.

Ini bukan latihan.

Ini bukan simulasi.

Ini adalah misi lapangan pertamanya.

Selama bertahun-tahun, ia telah disiapkan untuk saat seperti ini. Ruang tertutup tanpa jendela. Latihan fisik tanpa henti. Simulasi tembak-menembak. Pertarungan satu lawan banyak. Rasa sakit yang dipaksakan agar menjadi biasa.

Namun malam ini berbeda.

Malam ini, dunia nyata tidak akan memberi tanda mulai atau berhenti.

“Targetmu bukan pembunuhnya,” suara Madam Doss terdengar melalui alat komunikasi kecil yang tersembunyi di telinga Bella. Suaranya tenang, terkendali, tanpa emosi.

“Targetmu adalah keselamatan.”

Bella tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, refleks yang sudah tertanam. Tangannya diletakkan di pangkuan, jari-jarinya rileks, meski di balik ketenangan itu, seluruh inderanya siaga.

Malam ini, ia bukan Bella Shofie dari BALLERINA MURDERER.

Ia adalah tamu istimewa.

Dress bermerek Dior membalut tubuhnya dengan sempurna. Kainnya berkilau lembut, mengikuti lekuk tubuhnya tanpa terlihat berlebihan. Potongannya anggun, elegan, dirancang untuk menarik perhatian sekaligus menenangkan kecurigaan. Ini bukan pakaian untuk bertarung.

Ini pakaian untuk menyamar.

Gelang tipis melingkar di pergelangan tangannya, terasa dingin saat menyentuh kulit. Anting kecil berkilau menghiasi telinganya, memantulkan cahaya setiap kali ia sedikit menggerakkan kepala.

Penampilan seorang gadis dari dunia atas.

Namun di balik jaket ringan yang ia kenakan, tersembunyi bekas goresan di lengannya. Luka-luka latihan yang belum sepenuhnya sembuh. Jaket itu bukan sekadar pelengkap busana. Itu pelindung tipis, dirancang untuk menyembunyikan jejak kekerasan yang tak boleh terlihat malam ini.

Mobil melambat.

Kemudian berhenti.

Dentuman musik elektronik langsung terasa, bahkan sebelum pintu terbuka. Getarannya menembus kaca, menyusup ke dalam dada, seperti denyut jantung yang dipercepat secara paksa.

Pintu mobil terbuka.

Cahaya lampu klub menyilaukan.

Bella turun dengan langkah mantap. Tidak tergesa, tidak ragu. Sepatunya menyentuh trotoar dengan bunyi ringan, dan ia langsung melangkah masuk bersama arus tamu lainnya.

Club DJ itu dipenuhi cahaya strobo yang berkedip cepat, asap tipis yang melayang rendah, dan tubuh-tubuh yang bergerak mengikuti irama tanpa peduli dunia di luar sana. Musik berdentum keras, menelan suara langkah dan percakapan.

Bella menyatu dengan keramaian.

Tidak ada yang menoleh curiga.

Ia terlalu tepat. Terlalu sesuai dengan tempat itu. Terlalu meyakinkan sebagai bagian dari dunia malam kelas atas.

Matanya bergerak tanpa henti.

Ia memindai ruangan, mencatat pintu keluar, posisi bar, sudut gelap, dan jalur tercepat menuju ruang VIP. Setiap detail terekam cepat di pikirannya.

Di sudut ruangan VIP, ia melihat target perlindungan.

Putri orang kaya itu tertawa bersama teman-temannya, wajahnya cerah, bahunya terbuka, seolah dunia ini aman. Beberapa penjaga berdiri tidak jauh, namun postur mereka terlalu santai. Tangan mereka tidak selalu siap. Pandangan mereka sering teralihkan.

Terlalu percaya diri.

Bella bergerak ke bar. Ia memesan minuman tanpa alkohol, suaranya tenang, senyumnya kecil dan alami. Gelas itu hanya properti. Ia tidak benar-benar minum.

Matanya terus bekerja.

Lalu ia melihatnya.

Seorang pria berdiri di dekat pilar gelap, nyaris tak bergerak. Ia tidak menari. Tidak berbicara. Tatapannya tidak mengikuti irama musik atau cahaya.

Tatapannya tertuju pada satu titik.

Target.

Bella tidak langsung bereaksi. Ia mengawasi. Menunggu.

Dan kesalahan itu datang lebih cepat dari yang ia perkirakan.

Beberapa pria lain masuk ke klub. Gerak mereka terkoordinasi. Mereka berpencar tanpa perlu saling menatap, membentuk setengah lingkaran perlahan mengarah ke ruang VIP.

Ini bukan satu pembunuh.

Ini tim.

“Madam,” bisik Bella, hampir tak terdengar di tengah dentuman musik.

“Ada lebih dari satu.”

“Netralisir tanpa korban,” jawab Madam Doss tegas.

Dentuman musik kini terasa berbeda.

Bukan hiburan.

Detak jantung.

Salah satu pria bergerak terlalu cepat.

Pertarungan pecah.

Jeritan terdengar. Orang-orang panik. Penjaga bereaksi terlambat. Kekacauan menyebar seperti api.

Bella bergerak lebih cepat.

Tangannya masuk ke balik jaket. Pistol listrik keluar dalam satu gerakan halus. Ringkas. Senyap.

Tembakan pertama. Pria pertama tumbang, tubuhnya kejang sebelum ambruk ke lantai.

Tembakan kedua.

Tembakan ketiga.

Namun satu di antaranya lolos.

Klik.

Amunisi habis.

Bella tidak ragu.

Tangannya bergerak ke bawah, ke tempat tersembunyi di balik pakaiannya. Pisau tipis keluar, dingin di telapak tangannya.

Pembunuh itu menyerang.

Bella menghindar dengan langkah memutar. Tubuhnya bergerak seperti tarian—ringan, terukur, tanpa gerakan sia-sia. Pisau mereka beradu. Percikan cahaya singkat muncul di antara asap dan lampu strobo.

Satu goresan mengenai lengannya. Rasa panas menjalar cepat.

Bella tidak berhenti.

Ia memanfaatkan jarak, mengubah sudut, lalu menghantam tangan lawan hingga pisaunya terlepas. Dengan satu gerakan cepat, ia menjatuhkan pria itu ke lantai.

Pisau Bella menempel di lehernya.

Tidak menembus.

Tidak membunuh.

Pria itu membeku.

Keamanan klub akhirnya mengambil alih. Polisi dipanggil. Musik dimatikan. Kekacauan perlahan mereda.

Putri orang kaya itu selamat. Masih gemetar, namun tidak terluka.

Bella mundur ke sudut gelap, menarik napas dalam.

“Target aman,” ucapnya pelan.

“Bagus,” jawab Madam Doss.

“Kau kembali.”

Bella menatap dress yang ia kenakan. Kainnya indah. Mahal. Namun tidak diciptakan untuk berlari atau bertarung.

Tanpa ragu, ia merobek bagian bawah dress itu secukupnya, menciptakan ruang untuk bergerak. Bukan untuk gaya. Untuk bertahan hidup.

Ia berlari keluar klub, masuk ke mobil aksi yang telah menunggu.

Pintu tertutup.

Mobil melaju.

Bella menyandarkan kepala ke kursi. Napasnya perlahan kembali stabil. Di balik cahaya kota yang terus bergerak, wajahnya kembali dingin—tenang.

Ini bukan kemenangan besar.

Namun ini adalah langkah pertama.

Dan jauh di dalam hatinya, Bella tahu:

jika dunia bawah mulai mengenalnya malam ini,

maka cepat atau lambat,

nama pembunuh ayahnya akan muncul ke permukaan.

Dan saat itu terjadi,

tidak akan ada musik,

tidak akan ada cahaya,

dan tidak akan ada peringatan.

...Bersambung ~...

1
Panda%Sya(🐼)
Semangat terus author🐼💪
☠' Kana Aulia '⃝🌸
mampir kak
beforeme.G: makasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!