Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Legalitas Terkunci
Dua hari kemudian.
Jam dinding kuno di ruang tamu rumah utama berdentang dua belas kali. Siang itu terik, namun atmosfer di dalam ruangan berlantai marmer itu terasa sedingin kamar mayat.
Eyang Marsinah duduk tegak di sofa kulit jati antiknya. Wajahnya kaku, bibirnya terkatup rapat membentuk garis keras.
Di sampingnya, Bibi Mirna mengipas-ngipas lehernya yang berkeringat dengan kipas cendana, matanya menatap sinis ke arah pintu depan.
"Sudah siang bolong," cibir Mirna. "Anak itu pasti kabur. Mana mungkin dia dapat uang sebanyak itu dalam dua hari? Paling dia cuma gedebul (bual) saja supaya tidak diusir saat itu juga."
Eyang Marsinah tidak menjawab, tapi jari-jarinya mengetuk pegangan kursi dengan tidak sabar.
Rentenir yang menagih utang Rudi sudah memberi ultimatum: sore ini atau rumah disita.
Tepat saat itu, pintu depan terbuka.
Sekar Wening melangkah masuk.
Penampilannya berbeda. Tidak ada lagi kebaya lusuh peninggalan nenek buyut yang kedodoran.
Hari ini, Sekar mengenakan kemeja batik katun sederhana namun pas badan yang baru dibelinya di pasar, dipadukan dengan celana kain hitam bersih. Rambutnya diikat satu ke belakang, rapi dan praktis.
Wajahnya tenang, namun memancarkan aura otoritas yang asing, membuat Bibi Mirna tanpa sadar membetulkan posisi duduknya.
Di tangan kanannya, Sekar menenteng sebuah tas anyaman pandan yang terlihat padat.
Pak Man, yang berdiri tegang di sudut ruangan sebagai saksi, menatap anak majikannya itu dengan pandangan takjub.
"Kau datang juga," suara Marsinah dingin menyambutnya. "Mana uangnya? Jangan buang waktuku kalau kau cuma mau minta perpanjangan waktu."
Sekar tidak menjawab dengan kata-kata. Dia berjalan mendekat ke meja marmer bundar di tengah ruangan.
Tanpa ragu, Sekar membuka tas anyamannya. Dia mengeluarkan tiga gepok uang pecahan seratus ribu rupiah yang diikat karet gelang tebal.
Brak.
Sekar meletakkan tumpukan uang itu di atas meja. Suaranya berat, padat, dan nyata. Mata Bibi Mirna nyaris melompat keluar. Mulutnya menganga lebar, kipas cendananya berhenti bergerak.
Eyang Marsinah menegakkan punggungnya seketika. Matanya membelalak, menatap tumpukan merah bergambar Soekarno-Hatta itu seolah melihat hantu.
"Dua puluh lima juta rupiah," ucap Sekar tenang. "Ini lima puluh persen dari total utang Paman Rudi."
Hening.
Hening yang panjang dan mencekam menyelimuti ruangan itu.
Dua hari yang lalu, gadis ini masih makan nasi aking. Sekarang, dia meletakkan uang tunai setara harga sepeda motor baru di atas meja tamu mereka.
"K-kamu..." suara Bibi Mirna gagap, jari telunjuknya gemetar menunjuk wajah Sekar.
"Kamu dapat uang ini dari mana?! Kamu nyuri uang kas desa?! Atau... kamu jual diri di kota?!" tuduh Mirna dengan suara melengking.
Sekar menatap bibinya dengan tatapan datar, seolah sedang melihat spesimen bakteri yang tidak menarik di bawah mikroskop.
"Jaga mulut Bibi," balas Sekar dingin, namun tajam. "Uang itu halal. Murni hasil bisnis saya."
Di dalam benaknya, Profesor Sekar tersenyum tipis.
Mereka tidak akan pernah paham konsep supply and demand.
Flashback Singkat:
Kartu nama Aryasatya bukan sekadar kertas. Itu adalah tiket emas. Pria itu tidak membual.
Sehari setelah pertemuan pertama, Arya mempertemukan Sekar dengan pemilik "Resto Keraton", salah satu restoran fine dining paling bergengsi di Yogyakarta yang melayani tamu VVIP dan pejabat negara.
Setelah tes rasa dan tes laboratorium sederhana, pemilik restoran itu langsung memborong 500 kilogram stok beras "Padi Emas".
Di dunia nyata, mustahil memanen 500 kg dalam sehari. Tapi di Ruang Spasial dengan rasio waktu 1:10, Sekar memiliki waktu setara 10 hari kerja untuk memanen, merontokkan, dan mengemas beras itu sendirian.
Lelah? Sangat. Tapi hasilnya sepadan.
Dengan harga premium Rp 50.000 per kilogram, Sekar mengantongi Rp 25.000.000 tunai dalam satu kali transaksi Direct to Business (B2B). Tanpa tengkulak. Tanpa perantara.
End Flashback.
"Bisnis apa yang bisa menghasilkan dua puluh lima juta dalam dua hari buat anak ingusan sepertimu?!" Eyang Marsinah membentak, skeptis namun matanya tak bisa lepas dari tumpukan uang itu. "Jangan-jangan benar kamu pakai pesugihan?"
"Eyang mau uangnya atau tidak?" potong Sekar tegas, memotong omong kosong takhayul itu.
"Kalau Eyang tidak mau, saya bawa pulang lagi. Biar rentenir yang mengacak-acak rumah ini sore nanti."
Ancaman itu efektif. Wajah Marsinah memucat. Dia tidak punya pilihan. Desakan ekonomi mengalahkan kecurigaannya.
"Pak Man!" perintah Marsinah kasar. "Hitung uangnya! Pastikan tidak ada uang palsu!"
Pak Man maju dengan tangan gemetar. Dia mengambil gepokan uang itu.
Bau kertas uang baru dan aroma wangi pandan samar tercium dari lembaran-lembaran itu.
"Satu... dua... tiga..."
Pak Man menghitung dengan cekatan. Ruangan itu hanya diisi suara gesekan kertas uang.
"Pas, Ndoro Putri," lapor Pak Man lima menit kemudian, suaranya penuh kekaguman.
"Dua puluh lima juta. Asli semua."
Marsinah mendengus. Dia hendak menjangkau uang itu, tapi tangan Sekar lebih cepat menahannya.
"Tunggu dulu, Eyang," kata Sekar.
Sekar mengeluarkan sebuah map dari tasnya. Dia menyodorkan selembar kertas bermeterai 10.000 yang sudah diketik rapi oleh jasa rental komputer di pasar.
"Ini Surat Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB) untuk tanah dan gubuk belakang," jelas Sekar dengan gaya bicara lugas layaknya seorang pengacara.
"Di sini tertulis: Dengan pembayaran tahap pertama sebesar 25 juta rupiah, pihak pertama yaitu Eyang setuju untuk melepas hak atas tanah seluas 200 meter persegi di belakang rumah utama kepada pihak kedua yaitu Ibu Rahayu, dan proses balik nama sertifikat akan dilakukan segera setelah pelunasan sisa 25 juta minggu depan."
"Minggu depan?!" pekik Mirna. "Kamu yakin bisa lunasin sisanya minggu depan? Jangan mimpi!"
"Sangat yakin," jawab Sekar mantap, matanya berkilat penuh keyakinan. "Asal kalian tidak mengganggu saya."
Marsinah membaca kertas itu dengan teliti, mencari celah.
"Kau menggali kuburanmu sendiri, Sekar," gumam Marsinah.
"Kalau sisa dua puluh lima jutanya meleset sehari saja... uang muka ini hangus. Tidak ada pengembalian. Dan ibumu tetap kuseret keluar."
"Sepakat," jawab Sekar tanpa gentar. "Saya pegang kata-kata Eyang. Dan Eyang pegang hitam di atas putih ini."
Marsinah mengambil pulpen. Dengan tangan keriput yang masih kuat, dia membubuhkan tanda tangan di atas meterai.
Legalitas terkunci.
Sekar menarik napas lega. Satu langkah besar telah diambil.
Status gubuk itu bukan lagi "tumpangan gratis", tapi "aset dalam proses pembelian".
Sekar mengambil salinan dokumen miliknya, melipatnya rapi, dan memasukkannya ke dalam tas.
Dia berdiri, menatap kedua wanita yang selama ini menindas ibunya itu.
"Satu hal lagi," ucap Sekar, nadanya memberat.
"Mulai detik ini, karena saya sudah membayar separuh harga... halaman belakang adalah area privat saya dan Ibu Rahayu."
Sekar menatap mata Bibi Mirna tajam-tajam.
"Jangan ada yang masuk tanpa izin. Jangan ada yang mengintip. Dan berhenti menuduh kami memelihara demit atau melakukan pesugihan."
"Kalau saya dengar fitnah itu lagi... saya tidak akan segan melapor ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik dan perbuatan tidak menyenangkan. Saya punya uang sekarang untuk menyewa pengacara."
Ancaman itu membuat mulut Mirna terkatup rapat. Dia melihat keseriusan yang mengerikan di mata keponakannya itu. Itu bukan gertakan sambal.
Sekar mengangguk sopan pada Pak Man, lalu berbalik badan dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi pada nenek dan bibinya.
Langkahnya ringan. Punggungnya tegak.
Saat dia melintasi pintu penghubung menuju halaman belakang, Sekar menghela napas panjang, melepaskan ketegangan yang tadi dia tahan.
Dia menatap gubuk reyot di kejauhan, di bawah naungan pohon jati besar.
Ibunya sedang menunggu di sana dengan cemas.
Sekar meraba saku celananya. Masih ada sisa uang beberapa ratus ribu dari transaksi kemarin cukup untuk membeli daging dan susu.
Malam ini, mereka akan makan enak.
Dan besok... dia harus kembali ke Ruang Spasial. Pesanan dari teman Arya sudah menumpuk.