Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Aurora tersenyum lebar, matanya berbinar penuh semangat. "Terima kasih, Pa, Ma, Kak. Ahhh...Aku punya ide!" Suaranya melonjak penuh harap.
"Bagaimana kalau ajak kedua orang tua Anjani pindah ke sini? Ah, maksudku, tidak persis di sini, tapi di dekat sini saja. Jadi, nanti kalau Anjani rindu, dia bisa pulang dengan mudah, seperti pulang ke pelukan keluarga."
Harapan Aurora mengembang di udara, seolah membuka jalan bagi kehangatan yang selama ini tersimpan, membangun jembatan kecil di antara hati-hati yang ingin bersatu tanpa harus berjauhan.
Anjani menahan amarah yang membara saat kata-kata Aurora terngiang jelas di telinganya. 'Sialan! Apa-apaan ide itu, dia pasti ingin aku segera angkat kaki dari rumah ini. Sok-sokan mau ngajak orang kampung itu pindah kesini, sampai kapan pun aku tak Sudi tinggal dengan orang kampung itu!'
Darahnya berdesir panas, jantungnya berdetak cepat, seakan hendak meledak di dada.
Aurora ingin melihat bagaimana reaksi Anjani saat ini. Dia yakin dalam hati Anjani pasti mengumpati dirinya.
"Kau baik sekali sayang!" puji Baskara, dia tak pernah memikirkan ini sebab terlalu sibuk.
"Tentu, bagaimana pun mereka juga orang tuaku, dan lagi aku pun merindukan mereka," ucap Aurora dengan sendu.
"Kamu tahu hatimu itu terlalu baik, baiklah Mama dan Papa akan memikirkan usulanmu ini," kata Adeline.
Aurora mengangguk, dia bersorak dalam hati. Dan matanya pun tak lepas dari wajah Anjani yang matanya masih memaksakan untuk terpejam.
'Harus kuat mental menghadapi mereka, Anjani!' batin Aurora.
...****************...
Malam harinya.
"Anjani," panggil Baskara, dia menatap Anjani dengan tatapan tegas.
"Iya, Pa," jawab Anjani, semenjak masalah itu ia jadi tak bisa bebas dan berakhir terkurung di dalam rumah.
"Hukuman kamu Papa dan Mama ubah, kamu tidak jadi di kembalikan ke kampung halaman orang tuamu," jeda sebentar,"Ini semua atas usulan Aurora dan hukuman kamu hanya di kurung dalam rumah dengan fasilitas yang di cabut dalam waktu satu bulan!" ucapan Baskara bagaikan belati yang menusuk tajam relung hati Anjani.
"Tapi aku butuh sekolah Pa, lalu bagaimana?" tanya Anjani, dia mencoba berkompromi.
"Sekolah sudah menyediakan makanan siang, dan kamu tak perlu bawa uang untuk itu," tegas Baskara, keputusan ia kali ini mutlak.
Anjani menarik napas pelan, dia ingin protes hanya saja melihat gelengan kepala Aruna membuat dia mengurungkan niatnya.
"Dan untuk kamu Aruna!" Baskara menatap Aruna juga.
"Aku, Pa? Kenapa?" tanya Aruna tak mengerti.
"Kau jangan coba-coba untuk membantu Anjani! Jika sampai ketahuan Papa juga akan menghukum kamu juga," itu bukan sekedar perintah. Namun, sebuah ancaman tegas untuk Aruna yang sering kali ingkar.
"Baik, Pia." angguk Aruna, dia hanya bisa setuju kali ini.
Sedangkan Aurora, dia tenang menikmati makan malam dalam kegembiraan hati yang tak bisa ia ungkapkan. Ia puas karena kedua orang tuanya mendukung dirinya.
Malam menunjukkan pukul sepuluh malam.
BRAK!
Pintu terbuka kasar, Aurora yang berada di dalam kamar sampai menoleh dan dia menemukan Anjani di depan pintu kamarnya.
"Ada apa? Kamu belum puas menerima hukuman? " tanya Aurora.
"Kau pasti sengaja, kan?" tuduh Anjani.
"Sengaja? Memang benar, lalu kau mau apa?" tanya Aurora menantang, wajahnya mendongak penuh dengan keangkuhan.
"Seharusnya kau tidak kembali ke sini dan merusak semuanya, kau wanita jalang tak tahu malu!" desis Anjani.
"Aku? Tak tahu malu? Yang benar saja?" geleng Aurora, dia malam ini malas meladeni Anjani karena ada beberapa tugas yang harus segera dirinya selesaikan.
"Aku sedang bicara denganmu, Aurora!" seru Anjani.
Aurora melirik, dia menatap tanpa ekpresi pada sosok Anjani yang berhati batu itu,"Aku peringatkan untuk segera keluar dari kamarku! Jika tidak maka hukuman mu mungkin akan lebih besar lagi dari hanya sebuah pemberhentian Fasilitas," itu bukan sekedar ancaman. Namun, sebuah peringatan berbahaya jika Anjani tak segera keluar.
"Awas kau!" tunjuknya dengan wajah memerah.
BRAK!
Aurora hanya menatap datar kepergian Anjani yang membanting keras pintu kamar, ia masih membutuhkan Anjani untuk bermain-main.
"Aku belum puas Anjani!" bisik Aurora.
...****************...
Di dalam kamar, Anjani meledak penuh amarah. Tangannya tak henti-hentinya mengacak-acak barang-barangnya, melemparkan segala sesuatu hingga berserakan di lantai seperti badai yang meninggalkan kehancuran.
"Brengsek kamu, Aurora! Aku tak terima diperlakukan seperti ini!" geramnya, suaranya pecah karena rasa kesal yang menguasai hatinya.
Napasnya tersengal, dadanya terasa sesak bagai terbakar api. Kemarahan yang membara ingin sekali dia salurkan dengan mencakar wajah Aurora, tapi otaknya sadar, bila sampai itu terjadi, hukuman yang menanti akan jauh lebih kejam.
Matanya berkilat tajam, penuh tipu daya dan dendam yang dalam. "Setelah hukuman ini berakhir, aku akan membalas mu Aurora. Berkali-kali lipat... Kau belum tahu apa yang menunggumu," bisiknya dingin, seperti racun yang siap menyerang tanpa ampun.
Anjani tak tahu bahwa nanti setelah kedua orang tua kandungnya datang, kehidupannya akan berubah drastis dan tak akan punya kesempatan untuk membalas Aurora.
...****************...
Keesokan harinya
Di pagi hari
Halaman sekolah riuh rendah dipenuhi gelombang siswa yang mulai membanjiri setiap sudutnya.
Namun di balik hiruk-pikuk itu, Di salah satu ruangan berdinding tebal menyimpan ketegangan berbeda basecamp geng Code Black.
Di sana, Galaxsi menatap Arion yang duduk di kursi, punggungnya bersandar, matanya terpejam seolah mencoba menahan beban yang mengganjal dadanya.
Suasana sunyi itu pecah ketika Galaxsi akhirnya bertanya dengan suara penuh kecemasan, “Bos, bagaimana keadaan Aurora?”
Arion menghela napas berat, lalu jawabannya terdengar lirih tapi tegas, “Dia baik-baik saja, hanya syok.”
Seketika ruangan itu hening, sebelum desahan lega perlahan merebak di antara mereka.
Bulan, dengan alis berkerut dan pandangan penuh penasaran, melontarkan pertanyaan yang membuat udara semakin berat, “ aku penasaran kira-kira Anjani dapat hukuman apa ya dari mereka? Karena apa yang dilakukan Anjani pada Aurora sudah sangat keterlaluan”
"Kalau mereka memberikan hukuman yang ringan untuk Anjani, itu namanya pilih kasih!" Clarin meledak dengan nada sinis, matanya menyala-nyala penuh kemarahan yang sulit disembunyikan.
Arion mengerutkan alis, dadanya berdebar tak menentu. Ia juga tak sabar menunggu langkah keluarga Harvey apakah mereka benar-benar akan bertindak adil, atau hanya membiarkan semuanya berlalu begitu saja.
Namun sebelum ketegangan makin memuncak, bel masuk berdentang memecah hening.
Mereka terpaksa bangkit dari basecamp, hati masih bergolak, melangkah menuju kelas masing-masing dengan pikiran yang tak lepas dari bayang-bayang Aurora dan hukuman untuk Anjani yang akan datang.
...****************...
Sedangkan di sisi lain,
Di kediaman keluarga Harvey, pagi itu mengalir dengan tenang, tapi di balik ketenangan itu tersembunyi kecemasan yang merayapi udara.
Suara denting sendok dan garpu menandai rutinitas sarapan, namun mata Baskara tak pernah lepas dari Aurora, yang duduk dengan seragam sekolahnya.
Baskara menatap putrinya penuh gelisah. "Kamu yakin mau berangkat sekolah, Nak?" suaranya mengandung rasa khawatir yang sulit disembunyikan.
Adeline menambahkan dengan lembut, "Sayang, di rumah saja dulu, ya..."
Namun Aurora menatap mereka dengan sorot mata penuh ketegasan. "Aku sudah baik-baik saja. Aku harus pergi ke sekolah," jawabnya tegas.
Baskara menarik napas dalam, mencoba menahan rasa takut yang menggerogoti hati seorang ayah.
"Kalau masih pusing, jangan dipaksa, istirahat saja," pesannya lirih, seperti memohon pada Aurora untuk mendengarkan.
Aurora menganggukan kepalanya, sebagai jawaban.
Suasana itu berubah menjadi momen penuh ketegangan, di mana cinta dan kekhawatiran bertabrakan dalam diam sebuah perjuangan batin antara membiarkan dan melindungi.
Sedangkan untuk Anjani, ia juga akan berangkat ke sekolah dengan wajah lesu. Karena dia tak mendapatkan uang saku, entah bagaimana dia akan berhadapan dengan teman-temannya nanti
itu aruna gk ikut liat rekaman cctv, diakan yg paling ambisi..
hshaaa...kenyataan tak sesuai ekspektasi🤣
coba lanjut
btw aku kirimin kopi thor
selalu d berikan kesehatan😄