NovelToon NovelToon
Diam-diam Hamil Anak Mantan

Diam-diam Hamil Anak Mantan

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Mantan / Romansa / Cintapertama
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Puji170

Karena cinta tak direstui orang tuanya, Sonya merelakan keperawanannya untuk Yudha, lelaki yang sangat ia cintai. Namun hubungan itu harus berakhir karena Sonya akan segera dijodohkan dengan Reza.

Setelah malam panas itu, Sonya justru diusir dari rumah dan berakhir hamil anak Yudha. Ia ingin kembali pada Yudha, tetapi lelaki itu sudah pergi ke luar negeri.

Saat Sonya bertekad membesarkan anak itu seorang diri, takdir kembali mempermainkannya. Anak tersebut menderita kanker darah dan membutuhkan donor sumsum tulang belakang dari ayah kandungnya.

Apa yang akan dilakukan Sonya. Kembali pada Yudha demi kesembuhan sang anak, atau pergi ketika Yudha kembali ke Indonesia dengan seorang anak laki laki dan calon istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Gadis itu masih berdiri mematung, gendang telinganya berdengung kencang. Otaknya tak mampu mencerna kalimat yang baru saja diucapkan sang ayah. Sonya bingung, Darah orang luar? Apa aku anak angkat?

"Apa maksud Ayah?" tanya Sonya dengan suara parau. Ia mengiba agar bisa mendapatkan penjelasan, tingkah acuh dan cueknya tadi lenyap begitu saja berganti dengan kesedihan mendalam.

"Jangan panggil namaku dengan mulut kotormu itu!" jawab Darwin tegas. Dia memandang sang istri yang kini mulai terisak.

"Ayah—"

"Kamu bisa tanya pada mamamu. Setelah itu, kamu bisa mengambil keputusan, tetap di sini dengan menikahi lelaki pilihanku atau keluar dari keluarga ini." Setelah itu, Darwin meninggalkan mereka berdua.

Sonya terdiam, masih mencoba mencerna setiap kalimat yang baru saja didengar. Beberapa saat kemudian, ia memberanikan diri bertanya pada Yohana, "Apa aku anak angkat?"

Yohana mengulurkan tangannya ingin menyentuh Sonya, namun gadis itu sigap menghindar.

"Jawab aku, Ma."

"Bukan, Nak. Kamu anak Mama," jawab Yohana, air matanya mulai jatuh.

"Jika aku anak Mama, kenapa Ayah berkata seperti itu?"

Sonya selama ini merasa dicintai oleh Darwin dan Yohana, merasa menjadi bagian dari keluarga yang sempurna. Namun hari ini, Ayahnya berkata bahwa darah yang mengalir di tubuhnya adalah darah orang luar.

"Jawab aku, Ma!" Sonya mulai tidak sabar, ingin mendengar jawaban yang pasti tentang dirinya.

"Kamu anak Mama, Sonya. Mama hamil duluan sebelum menikah dengan Ayah Darwin," ujar Yohana, suaranya tersekat-sekat.

"Lalu siapa ayahku?" Sonya merasa seperti disambar petir, dunia yang selama ini ia kenal hancur dalam sekejap.

"Saat itu, Mama menolong Ayah Darwin dari sekelompok preman yang ingin mencelakainya. Sayangnya Mama tidak bisa melawan mereka, dan kejadian itu membuat Mama kehilangan kehormatan. Tidak lama kemudian, Mama hamil kamu. Untuk menyelamatkan nama baik keluarga, Ayah Darwin mau menikahi Mama," jelas Yohana dengan suara parunya, dirinya juga sakit karena mengungkit masa lalu.

Sonya terdiam. Selama ini ia merasa terhormat, namun kini ia merasa dihantam kenyataan bahwa dirinya hanyalah anak haram. Bahkan darah yang mengalir di tubuhnya tidak ada yang tahu.

"Nak, Ayah Darwin seorang pemaaf. Kamu harus minta maaf agar keluarga ini kembali seperti dulu. Dan kamu harus lupakan Yudha," ujar Yohana, mencoba meraih tangan Sonya, berharap anaknya setuju dengan nasihat itu.

"Apa aku masih pantas berada di sini?" Sonya berbalik, meninggalkan ibunya yang kini menatapnya iba. Ia bergegas mencari sang ayah, berjalan di sekitar rumah sampai akhirnya menemukannya di taman. Darwin, lelaki tua dengan punggung kokoh, berdiri memberi makan ikan di kolam.

"Tuan Darwin," panggil Sonya, suaranya datar, seperti tak ada lagi hubungan keluarga di antara mereka.

"Jadi, kamu memilih pergi?" tanya Darwin tanpa menoleh, matanya tetap terfokus pada ikan-ikan di kolam.

"Tidak ada lagi tempatku di sini. Hanya saja, aku berharap belas kasih darimu. Lepaskan Yudha, biarkan dia mencapai suksesnya, dan aku akan pergi dari sini," ujar Sonya dengan suara tertahan.

"Pada titik ini, kamu masih membelanya? Aku ingin tahu seberapa besar cintanya padamu setelah dia mencapai sukses," ujar Darwin dingin.

"Mungkin dia tak akan mencintaiku lagi. Karena hari ini aku sudah melepaskannya. Tuan Darwin, Nyonya Yolanda bilang kalau Anda seorang pemaaf. Jadi, saya mohon maafkan saya, saya yang bukan siapa-siapa. Jangan jadikan saya duri dalam kehidupan Anda," kata Sonya, air matanya mulai menetes.

Namun, Darwin tak juga menoleh. Meskipun kalimat permintaan maaf sudah terucap dari bibir Sonya, tak ada respons dari lelaki itu. Sonya menundukkan kepala, menahan perasaan yang mulai menghimpit dadanya. Ia sadar, ia telah membuat kesalahan besar, kesalahan yang tak bisa diperbaiki dengan kata-kata. Kini, yang bisa ia lakukan hanyalah pergi dari kehidupan keluarga Prawira, meninggalkan semuanya.

"Aku akan pergi, Tuan Darwin. Jaga kesehatan Anda," ucap Sonya, suaranya serak, hampir tak terdengar. Namun, kata-kata itu terasa seperti sembilu yang menancap di hatinya sendiri.

Dia menunggu beberapa menit, berharap bisa melihat wajah ayah yang selama 21 tahun ini memberinya kasih sayang yang tak ternilai. Namun, penantian itu sia-sia. Darwin tetap diam, tak bergeming sedikit pun. Matanya tetap terpaku pada ikan-ikan yang berenang di kolam, seolah dunia di sekelilingnya tak lagi ada.

Air mata Sonya akhirnya jatuh juga, deras, tanpa bisa dihentikan. Potongan-potongan kenangan bersama sang ayah, sejak ia masih kecil hingga saat ini, mulai berputar kembali dalam pikirannya, kenangan indah yang kini terasa begitu jauh. Kasih sayang yang dulu ia rasakan, kini hanya tinggal bayangan.

***

Di sisi lain, Yohana mulai putus asa. Ia tak ingin kehilangan anaknya, namun tak tahu harus berbuat apa.

"Intan, kamu tumbuh bersama Sonya. Bisakah kamu mengikutinya dan menjaga dia?" pinta Yohana pada gadis berusia 22 tahun yang tak lain adalah anak pembantunya yang kini sudah yatim piatu.

"Baik, Nyonya. Saya akan mencoba," jawab Intan, meskipun hatinya ragu. Ia tak bisa menolak permintaan majikannya, meski tahu hidupnya bersama Sonya akan jauh lebih sulit.

Intan segera mengejar Sonya yang sudah keluar dari gerbang rumah Prawira, hanya mengenakan kaos oblong dan jeans. Tanpa sepatu mahal, ia hanya mengenakan sandal jepit.

"Jangan ikuti aku!" bentak Sonya ketika menyadari Intan mengikuti langkahnya.

Sonya merasa frustasi. Selama ini hidupnya begitu mudah, segala yang diinginkan ada di tangannya tanpa usaha. Namun hari ini, ia berjalan di trotoar, seperti pengemis.

"Saya tetap mengikutimu, Nona. Saya tidak bisa membiarkan Anda hidup sendiri di luar sana. Kita sudah tumbuh bersama, jika Anda menderita, saya rela ikut menderita," jawab Intan dengan tegas.

"Apa kamu bodoh?" Sonya tak habis pikir dengan keputusan Intan. Bukankah lebih baik tinggal di rumah keluarga Prawira yang menjamin hidupnya?

"Bukankah Nona yang membuat saya bodoh? Selama ini Nona membuat saya merasa memiliki adik. Meskipun saya tidak pintar, Nona mengajari saya banyak hal. Lalu, apa artinya saya di rumah itu tanpa Anda?" Intan mencoba meyakinkan Sonya.

Air mata Sonya mulai berkaca-kaca. Ia tak menyangka, ada orang yang memandangnya begitu berharga. Kini, sedikit demi sedikit, penyesalan mulai datang, terutama karena ia rela mengorbankan kebahagiaannya demi cintanya pada Yudha.

Namun, tidak semua ia sesali. Kejadian ini membuka matanya, bahwa ia bukan darah daging seorang Darwin Prawira.

"Kamu yakin?" tanya Sonya memastikan.

"Saya yakin, Nona. Dengan bersama kita pasti bisa melewati dunia penuh sandiwara ini," jawab Intan dengan keyakinan.

Sonya tersenyum kecil. Meskipun ia kini menjadi beban, setidaknya dengan memiliki seseorang di sisi, rasa sepi di hatinya bisa berkurang.

"Lebih baik kita cari tempat tinggal sekarang. Hari semakin sore, kita tidak mungkin tidur di jalan," ujar Intan saat melihat Sonya hanya menatapnya.

"Kalau begitu, jangan panggil aku Nona. Hilangkan bahasa formal itu. Bagaimana kalau aku panggil kamu Kakak?" ucap Sonya, meraih tangan Intan.

"Tentu saja, Non—" Melihat tatapan Sonya, Intan buru-buru meralat, "Adikku."

Akhirnya, Sonya tersenyum lagi meskipun luka di hatinya belum sembuh. Mereka melanjutkan perjalanan, dan Intan mulai bertanya lagi, "Lalu, apa kamu akan menemuinya lagi?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!