Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hening Sebelum Badai
Pagi di km-12 datang dengan kabut tipis yang menggantung malas di antara pepohonan. Udara dingin masih setia menyelusup ke sela-sela jaket, bahkan ketika matahari mulai mengintip malu-malu dari balik bukit.
Safira terbangun lebih dulu.
Tubuhnya masih berada dalam dekapan Bagas. Lengan lelaki itu melingkar di pinggangnya, napasnya teratur, wajahnya tampak damai—seolah semalam tidak pernah ada luka, ragu, dan ketakutan yang bersembunyi di balik kata-kata.
Safira menatap wajah itu lama.
Ada rasa hangat. Ada nyaman. Tapi juga ada sesuatu yang mengganjal, seperti duri kecil yang tertinggal di hati.
Pelan-pelan, Safira melepaskan diri. Ia bangkit tanpa membangunkan Bagas, meraih jaket, lalu keluar kamar, menuju balkon.
Di luar, suasana begitu sunyi. Hanya suara dedaunan dan langkah kaki pengunjung lain yang terdengar samar.
Safira berdiri di tepi pembatas balkon, memeluk tubuhnya sendiri, menatap lembah yang diselimuti kabut.
"Ya Allah," lirihnya, "kalau ini ujian, tolong jangan biarkan aku lelah sendirian."
Ia mengusap wajahnya, menahan air mata yang mengendap sejak semalam.
Entah dia harus bahagia, atau memang harus terluka.
Tak lama kemudian, langkah kaki terdengar mendekat.
"Kamu dingin?" suara Bagas muncul dari belakang.
Safira menoleh. Bagas sudah berdiri beberapa langkah darinya, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya masih menyimpan sisa kantuk.
"Enggak," jawab Safira singkat.
Bagas mendekat, lalu berdiri di sampingnya. Mereka kembali diam. Kali ini, diam yang berbeda, bukan canggung, tapi penuh hal-hal yang belum diucapkan.
"Semalam ... abang bahagia,” ucap Bagas membuka suara.
Safira menatap lurus ke depan. "Aku juga."
Jawaban itu jujur. Tapi tidak utuh.
Bagas menghela napas. "Kalau suatu hari nanti abang berubah lagi ... kamu bakal pergi?"
Safira menoleh. Pertanyaan itu menusuk lebih dalam dari yang Bagas kira.
"Aku bukan takut ditinggal, Bang," jawab Safira pelan. "Aku takut terus bertahan, tapi pada akhirnya aku tetap, sendirian."
Bagas terdiam.
Kata-kata itu sederhana, tapi cukup untuk membuat dadanya sesak.
"Aku gak janji jadi sempurna," ucap Bagas lirih.
"Tapi abang janji, gak akan lari lagi."
Safira mengangguk. Tidak tersenyum. Tidak menangis. Ia hanya mengangguk—seolah menyimpan janji itu di tempat yang sangat rapuh.
"Izinkan abang, untuk membuktikan jika abang layak untuk kamu cintai," dan kini posisi mereka berubah. Bagas, memeluk Safira dari belakang.
"Izinkan hatiku, untuk mencintainya, Tuhan," mohon Bagas, mengecup kepala Safira, yang di tutupi hijab instan.
"Jangan menangis, karena aku telah berjanji pada Tuhanku. Kedepannya hanya akan melihatmu seorang, sebagai wanitaku," bisik Bagas, menyadari tubuh Safira bergetar.
Bahkan kini, dia semakin mengeratkan pelukannya, di tubuh sang istri.
Di sisi lain, Nadia duduk di teras rumahnya dengan mata sembab. Semalaman ia hampir tak tidur.
Kata-kata orang tuanya berputar-putar di kepalanya seperti racun yang perlahan bekerja.
Safira mandul.
Kamu bisa membawa harapan.
Kalian saling mencintai.
Nadia menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Kenapa cinta harus begini?" gumamnya lirih.
"Bagaimana? Kamu sudah memikirkannya?" Hesti tiba-tiba muncul dengan membawakan sepiring pisang goreng.
"Bu, aku gak bisa ..." tolak Nadia lembut. "Aku gak bisa menyakiti Safira," sambungnya.
Hesti menghela napas. Sebelah tangannya mengepal.
"Dan kamu rela? Kamu sendiri rela gak, terus-terusan sakit, melihat Bagas, bersama Safira," ujar Hesti, lembut.
Ya, Hesti tahu, sekarang bukan saatnya memarahi Nadia. Sebisa mungkin, dia mengompori anaknya, dengan lembut dan pelan.
"Aku ..." Nadia menunduk.
"Nak, ibu tahu, selama ini kami berdua salah. Tapi sekarang, kami ingin memperbaikinya nak. Apa yang lebih penting, bagi seorang ibu, selain melihat kebahagiaan anaknya," Hesti berbicara tanpa menatap ke arah Nadia.
"Kenapa baru sekarang?"
"Tak ada kata terlambat, kan? Untuk kami minta maaf? Bahkan kami rela menanggung malu, demi kebahagianmu nak," tutur Hesti, kini ia menatap Nadia.
Nadia menggigit bibir.
"Segala sesuatu memang harus ada pengorbanan. Jadi, biarkan Safira sedikit berkorban, untuk orang yang di cintainya." nasihat Hesti dengan tatapan teduh.
Benar, ibunya benar. Bukankah, seharusnya begitu? Cinta butuh pengorbanan. Dan dia telah mengorbankannya, dengan membiarkan Bagas, menikahi Safira lebih dulu.
"Dan untuk menebus semua kesalahan kami. Biar ibu ataupun ayah, yang mencari cara, agar kamu bisa kembali sama Bagas," tutur Hesti meyakinkan Nadia.
Melihat anaknya diam saja, Hesti senyum. Namun, hanya sesaat. Takut sang anak menyadarinya.
✨✨✨
Di km-12, langit sore berwarna jingga pucat bercampur keemasan, memantul lembut di balik lapisan kabut tipis yang menggantung rendah.
Awan-awan bergerak malas, sesekali menyingkap matahari yang mulai condong ke barat, menyisakan cahaya hangat yang tak lagi menyengat, tapi menenangkan.
Udara dingin menyapa kulit, secara halus. Angin berembus pelan, membuat Safira semakin merapatkan tubuhnya ke Bagas.
Ya, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap semalam lagi. Guna, merasakan hangatnya mentari pagi.
Sekali, lagi.
Bagas dan Safira sedang duduk di kursi beton. Keduanya menatap, hamparan kabut yang terbentang di depan sana.
Sesekali, keduanya menyeremput kopi, yang masih mengempulkan asapnya.
"Udara disini, bikin tenang ya," Bagas membuka suara.
Safira melirik sekilas. Di km-12 dia banyak melihat perubahan pada suaminya.
Bagas, yang semula banyak diam. Perlahan mulai terbuka. Bahkan, dia tidak menyembunyikan apapun tentang Nadia.
Termasuk, kenapa mereka gak bisa bersama.
"Selain karena lamaran ku di tolak. Aku lebih yakin, karena kamu lah, tulang rusukku, yang Allah siapkan untukku, dan yang pasti, terbaik untukku,"
Alasan, yang Bagas katakan. Ketika ia menanyakan tentang, kenapa Bagas dan Nadia tidak menikah saja.
"Aku harap, mereka bisa tumbuh disini," Bagas mengelus perut Safira.
"Bagaimana, kalo ..."
"Jangan ucapkan, sesuatu yang belum kita ketahui dik. Karena setiap perkataan itu doa," potong Bagas, karena tahu apa yang akan di katakan istrinya.
"Harapan ku hanya satu, semoga abang bisa mencintaiku sepenuhnya," lirih Safira, menatap mata Bagas.
"Abang yakin, itu pasti terjadi. Karena pada kenyataannya, abang hanya bergantung padamu," balas Bagas lirih.
Safira tersenyum. Dia melihat kesungguhan dan kejujuran di mata suaminya.
Dan malam kembali terjadi. Bagas dan Safira, mulai menikmati hangatnya api unggun.
Bahkan sebelumnya Bagas dan beberapa tamu lainnya sempat mencari ikan di sungai di bawah gunung sana.
Dan kini, mereka sedang membakar ikan. Menikmati indahnya bintang di temani oleh angin malam.
"Aku harap, kamu akan selalu bersamaku," batin Bagas. Menatap Safira yang tertawa mendengar sambungan-sambungan lirik lagu dari tamu lainnya.
kebiasaan ih