NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Kebangkitan pecundang / Kelahiran kembali menjadi kuat / Putri asli/palsu / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir
Popularitas:15.9k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih Bisa Senyum

Bus menuju SMA Citra Bangsa memang surga bagi para pencopet karena isinya anak-anak orang kaya. Sejak Salma dan Aksa naik, gerak-gerik mereka sudah diawasi. Saat suasana berdesakan, sebuah tangan kurus kotor mulai merayap ke saku jas seragam Salma.

Namun, begitu tangan itu menyentuh kain, Salma dan Aksa menyadarinya bersamaan.

Salma menepis tangan itu dengan kasar. Bukannya takut, si pencopet—pria kurus kering dengan mata cekung khas pecandu—malah mengeluarkan pisau lipat.

"Serahkan dompet dan ponsel, atau gue baret muka mulus lo!" ancamnya dengan suara serak.

Salma tersenyum dingin. "Kalau gue nggak mau?"

"Jangan cari mati, Nona Manis!"

Baru saja pisau itu teracung, pergelangan tangan si pencopet tiba-tiba dicengkeram dan dipelintir dengan brutal.

Krak.

"ARGH!"

Pisau jatuh ke lantai bus. Aksa berdiri di sana, wajahnya datar, tapi cengkeramannya membuat tulang si pencopet serasa mau remuk.

Sadar kalah tenaga, si pencopet langsung memutar otak. Dia menjatuhkan diri ke lantai dan berteriak histeris. "Tolong! Pembunuhan! Mentang-mentang anak orang kaya, dia mau bunuh rakyat kecil! Tolong!"

Suasana bus mendadak hening, lalu berubah riuh. Tatapan para penumpang berubah curiga mengarah ke Salma dan Aksa.

"Lepasin! Sakit! Dasar anak sekolah biadab!" raung si pencopet, air mata buayanya meleleh.

"Akting lo boleh juga," cibir Salma. "Pisau itu jatuh dari tangan siapa? Gue yang nyelipin?"

"Kalian yang nyelipin! Kalian mau nyuri barang gue!"

"Nyuri barang lo?" Salma tertawa remeh. "Coba keluarin barang berharga lo yang layak gue curi. Ponsel? Uang?"

Si pencopet mati kutu. Dia mencuri justru untuk beli narkoba, mana punya uang?

"Kalian sudah ambil! Panggil polisi! Pak Sopir, lapor polisi!"

"Boleh," sahut Salma santai. Dia menoleh ke siswi di sebelahnya. "Dek, tolong telepon polisi."

Si pencopet panik dan menepis ponsel siswi itu sampai jatuh. "Kalian sekongkol!"

Siswi itu marah besar. "Mata lo buta? Gue mau lapor polisi dibilang sekongkol?"

"Tolong! Ada pembunuhan!" Si pencopet kembali meraung-raung gila.

Kesabaran Aksa habis. Tatapannya menajam, dingin menusuk tulang. "Coba saja teriak lagi."

Aura mengerikan yang memancar dari tubuh Aksa seketika membungkam nyali si pencopet. Suaranya tercekat.

"Eh, bukannya itu Salma Tanudjaja?" Seseorang berbisik. "Yang kemarin kecelakaan mobil itu?"

Identitas terbongkar. Penumpang mulai heboh.

"Iya benar! Salma, gimana caranya kamu hentikan mobil kemarin? Itu settingan ya?"

Pertanyaan bertubi-tubi datang. Si pencopet yang mendengar nama 'Tanudjaja' langsung pucat pasi. Dia tahu dia baru saja menendang papan besi. Keluarga Tanudjaja bukan lawan yang bisa dihadapi preman kroco sepertinya.

"Nona Salma... sa-saya salah lihat... ampun," cicitnya gemetar.

"Simpan saja buat Pak Polisi," ujar Salma datar.

Tapi pertanyaan penumpang tentang kecelakaan kemarin makin mendesak. "Jadi itu settingan?"

Aksa menatap tajam kerumunan. "Menurut kalian, gadis kecil begini punya tenaga super?"

Salma menangkap kode dari Aksa. Dia melepas maskernya, memasang wajah syok yang sangat meyakinkan, lalu menunduk gemetar. "Aku pikir... aku pasti mati saat itu..."

Aktingnya sempurna. Penumpang yang tadinya curiga langsung merasa bersalah. Aksa menepuk bahu Salma pelan, berlagak menenangkan.

"Sudah, semua sudah lewat."

Simpati publik berbalik. Si pencopet diserahkan ke polisi di halte berikutnya, sementara Salma turun dari bus dengan napas lega.

"Mulai besok, aku minta Pak Asep jemput saja," keluh Salma. "Nggak aman buatmu kalau terus-terusan terekspos begini."

Aksa mengangguk setuju. Kejadian tadi terlalu kebetulan. Ada yang sengaja menyebar rute perjalanan Salma untuk memancing kejahatan.

"Nanti sore aku temani kamu cari Pak Rahmat. Kamu butuh bela diri," kata Aksa.

"Dia keras kepala, susah dibujuk."

"Aku temani." Aksa tersenyum penuh arti. "Aku suka ngikutin kamu, biar bisa terus mengejarmu."

Wajah Salma memanas. "Gombal!"

Mereka sampai di gerbang SMA Citra Bangsa. Mading sekolah yang biasanya sepi kini dikerumuni banyak orang. Terdengar bisik-bisik pedas yang menyebut nama Salma.

"Gila, Salma beneran buta ya mau sama si Aksa yang kampungan itu?"

"Jodoh cerminan diri kali. Preman sama cewek brandalan."

"Sakit mata gue lihatnya. Salma bener-bener bikin malu kaum elit."

Salma menerobos kerumunan. Di mading terpampang foto Aksa yang sedang memegang lengannya, wajah mereka sangat dekat seolah sedang berciuman. Foto itu diambil di dekat kompleks rumah Salma.

Tanpa perlu menebak, Salma tahu ini ulah Manda.

Dari koridor lantai dua, Manda berdiri melihat Salma dikepung gosip. Senyum puas terukir di bibirnya. Namun, Salma tiba-tiba mendongak, menatap tepat ke arah Manda, dan tersenyum miring.

Senyum itu penuh ejekan. Cuma segini kemampuanmu?

Darah Manda mendidih. Tunggu saja, Salma!

Salma menarik Aksa pergi dari mading. "Ayo cabut."

Semua orang bengong. Harusnya Salma mengamuk, kenapa malah santai?

Tapi jalan mereka dihadang oleh Flora dan Jessi, dua pentolan OSIS yang hobi cari muka.

"Kalian sudah bikin malu nama sekolah," cibir Flora. "Peluk-pelukan pakai seragam. Nggak punya malu?"

Salma tersenyum tipis. "Anjing pintar tidak menghalangi jalan."

"Lo ngatain gue anjing?!" Jessi meledak.

"Siapa yang merasa, ya itu orangnya."

Flora maju selangkah, menatap jijik pada Aksa. "Selera lo rendah banget, Sal. Cowok kampungan gini dipungut."

"Salma kami tidak buta, kalian yang rabun."

Naya tiba-tiba muncul di samping Salma, wajahnya datar tapi tatapannya tajam. Dia menoleh ke Aksa. "Lo cuma diam aja? Gimana mau ngelindungin Salma?"

Aksa menjawab santai, "Nggak ada orang yang digigit anjing lalu balik menggigit anjingnya. Nanti mulutnya penuh bulu, kan menjijikkan?"

"Pfft..." Salma menahan tawa.

Wajah Flora merah padam. "Berani-beraninya menghina anggota OSIS!"

"Flora, lo hobi banget pakai jabatan buat nekan orang," potong Salma dingin. "Lo koar-koar soal nama baik sekolah cuma gara-gara satu foto buram. Terus apa kabar kelakuan lo yang tiap malam joget erotis sama bule di Klub LUCKY?"

Wajah Flora langsung pucat pasi. "L-lo ngawur! Mana buktinya?"

"Mau bukti? Gue telepon bos Klub LUCKY sekarang buat minta CCTV. Kita nobar di sini, gimana?" Salma mengeluarkan ponselnya.

Flora membeku. Rahasia dugemnya adalah kartu mati.

"Ada keributan apa ini?"

Farel Barata, sang Ketua OSIS sekaligus idola sekolah, muncul membelah kerumunan. Dia memelototi Flora, lalu beralih menatap Salma dengan pandangan rumit.

"Kejadian ini cuma laporan iseng. Flora salah karena belum menyelidiki," kata Farel diplomatis, tapi matanya memancarkan ketidaksukaan saat melihat tangan Aksa di bahu Salma. "Salma, nanti ke ruang OSIS. Dan satu lagi... nggak perlu demi gengsi kamu melakukan hal konyol yang bertentangan dengan hatimu."

Maksud Farel jelas: Jangan pacaran sama cowok kampungan cuma buat bikin gue cemburu.

Aksa mengangkat alis. Dia merangkul bahu Salma lebih erat, memancarkan aura dominan yang membuat Farel terdiam sesaat.

"Gue cuma suka Salma. Kalian semua? Satu pun nggak ada yang masuk hitungan gue!" tegas Aksa.

Orang-orang tersedak oleh arogansi itu. Tapi anehnya, tidak ada yang berani membantah. Tatapan Aksa terlalu mengintimidasi.

Salma merasa pipinya memanas. Dia mencoba melepaskan diri, tapi rangkulan Aksa sekuat besi.

Setelah Farel pergi dengan wajah masam, kerumunan pun bubar.

"Oke, lepasin!" desis Salma.

"Nggak mau. Kamu kan pacarku," Aksa nyengir tanpa dosa. "Tadi kamu diam aja waktu aku bilang gitu."

"Itu kan situasi darurat!"

"Pokoknya aku anggap iya. Kamu harus tanggung jawab sama nama baikku."

"Aksa, lo beneran nggak tahu malu ya!"

Mereka berjalan bersisian menuju kelas. Aksa tiba-tiba berhenti, senyum main-mainnya lenyap, digantikan ekspresi serius yang belum pernah Salma lihat sebelumnya.

Dia menunduk, bibirnya menyapu telinga Salma. "Salma, aku kasih tahu satu rahasia."

"Apaan sih, deket banget," Salma mencoba mundur, jantungnya berdegup kencang.

"Kamu pacarku. Kamu nggak akan bisa lari dariku seumur hidup ini," bisik Aksa lembut, lalu suaranya merendah, penuh penekanan. "Namaku Aksa Abhimana. Arya Abhimana adalah ayahku."

DUAR!

Salma membeku. Otaknya mendadak blank.

Aksa Abhimana. Putra tunggal Arya Abhimana. Pewaris tunggal konglomerat nomor satu di negeri ini.

Salma menoleh kaku, menatap cowok di hadapannya.

Potongan teka-teki itu akhirnya menyatu. Kemampuan beladirinya, aura bangsawannya, cara bicaranya yang berkelas...

Di kehidupan lalu, Salma tahu Aksa akan jadi orang sukses, tapi dia tidak pernah menyangka Aksa adalah Pangeran Mahkota dunia bisnis!

"Salma? Jangan bengong dong, aku jadi takut," Aksa mulai panik melihat Salma mematung. "Aku nggak bermaksud bohong. Gimana kalau kita bolos sekarang biar aku jelasin?"

Salma menarik napas panjang, menatap manik mata Aksa. "Lo... beneran Tuan Muda Besar Keluarga Abhimana?"

Aksa mengangguk pelan.

"Ya Tuhan..." Salma menepuk jidatnya. Dia sudah cari masalah dengan orang yang salah. Kalau tahu begini, dia bakal jaga jarak 100 meter dari awal!

"Salma, pokoknya status pacaran kita harga mati, nggak bisa ditawar," Aksa kembali menggenggam tangan Salma, posesif.

"Gue masih syok. Kasih waktu buat mikir."

"Nggak bisa. Kalau kamu mikir-mikir, mulai besok aku bakal kejar kamu secara terbuka pakai identitas asliku sebagai Keluarga Abhimana."

"JANGAN!" teriak Salma spontan.

Bisa mati dia ditatap sinis satu sekolah kalau identitas asli Aksa terbongkar.

"Oke, gue nurut. Kita pacaran. Tapi identitas lo tetap rahasia, oke?" Salma menyerah.

Aksa tersenyum cerah, kemenangan telak di tangannya. "Siap, Kanjeng Ratu. Tapi ingat, kalau ada yang bully kamu lagi, aku nggak bakal kasih ampun."

Salma menatapnya curiga. "Jadi... Bagas yang dikeluarin dari sekolah itu kerjaan lo?"

"Hmm, emangnya siapa lagi?" Aksa mengakui santai. "Tadinya mau sekalian pecat anak-anak OSIS itu, tapi biarin deh, lumayan buat hiburan kamu."

Salma terdiam. Orang ini... main belakangnya ngeri juga.

"Salma, aku nggak akan pernah nyakitin kamu. Cara-cara licikku cuma buat musuh. Sama kamu, aku cuma mau jadi Aksa yang melindungimu."

Tatapan tulus Aksa membuat hati Salma luluh. Sial, cowok ganteng memang kelemahan terbesar.

"Dasar tukang jebak," gumam Salma, tapi bibirnya tersenyum.

Dia melepaskan Farel, tapi malah dapat Aksa.

Benar kata Aksa, orang lain yang buta, cuma dia yang matanya jeli melihat berlian di balik lumpur.

Salma masuk ke kelas dengan senyum mengembang. Manda yang duduk di bangkunya melihat ekspresi bahagia Salma dan merasa dadanya sesak karena iri.

Kenapa dia masih bisa senyum setelah dihina satu sekolah?

Salma melirik Manda, tersenyum penuh arti.

Jantung Manda berdesir ngeri.

Salma duduk dan membuka bukunya dengan tenang. Kalau Manda tahu Aksa adalah Tuan Muda Abhimana, kira-kira dia bakal stroke di tempat nggak ya?

1
Erchapram
Bagus sekali
sahabat pena
aksa terlalu lambat.. sdh tau ada barang bukti bukan di serahkan ke kantor polisi atau di viral kan. jd di manfaat kan sama rival nya pak rahmat kan? untuk menjatuhkan pak rahmat
mom SRA
pagi thoor
INeeTha: Pagi kaksk🙏🙏🙏
total 1 replies
kriwil
harusnya manda yang kejebak sama laki laki lain atau sama riko sekalian biar hancur nya tambah seru
Kembae e Kucir
❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kriwil
apa di sekolahan ini ga ada guru dan kepala sekolah ,sampai tentang soal ujian di bobol maling yang maju hanya sosok ketua osis 😄
mom SRA
pagi thor
kriwil
seno itu dapat anak pungut sezan dari mana ya😄
kriwil
awal mula seno mungut siluman ular itu knp ya
mom SRA
mpm thor
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Diah Susanti
thor, buat tanudjaja, kalo si manda cuma anak pungut, biar dia merasakan dibully 1 sekolahan.
mom SRA
malem thor
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Pawon Ana
ealah moduse kang Aksa, lancar kayak jalan tol bebas hambatan
penampilan cupu ternyata suhu 😂
Sribundanya Gifran
lanjut up lagi thor
Diah Susanti
ini apa hubungannya dengan rahasia manda? apa karena cucu orang hebat makanya mudah dapat info? 🤔🤔🤔🤔
Diah Susanti
padahal bolu pisang enak lho, aq suka tak bisa bikinnya/Grin//Grin//Grin/
mom SRA
seru critanya.... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!