NovelToon NovelToon
Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Penjelajah Ghaib [Perkumpulan Pawang Ghaib] ~ [SEASON 2]

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Matabatin / Misteri / Tumbal / Hantu / Kumpulan Cerita Horror
Popularitas:48.8k
Nilai: 5
Nama Author: Stanalise

Setelah dokumentasi ekspedisi mereka melesat ke permukaan dan menjadi perbincangan dunia, nama "Gautama Family" bukan lagi sekadar nama keluarga biasa.

Mereka kini menjadi tujuan akhir bagi mereka yang sukmanya tersesat di tempat-tempat yang tidak bisa dijangkau oleh akal manusia.

Kelahiran Arka Kumitir Gautama, bayi yang lahir tepat di ambang batas kematian semalam, membawa aura baru sekaligus beban yang lebih berat bagi keluarga ini.

Namun, di balik kebahagiaan itu, sebuah panggilan pahit datang dari benua lain. Ada raga-raga yang terbaring kaku; tubuh mereka masih di sini, namun sukma mereka telah didekap habis oleh kegelapan alam sebelah.

.Kalian akan kembali mendengar suara teriakan, tangisan, dan jeritan dari sudut-sudut bumi yang paling sunyi. Ekspedisi ini akan terus berjalan hingga waktu memaksa mereka untuk berhenti.


[Saya sarankan baca Season 1, supaya lebih mengenal kemampuan dan karakter keluarga Gautama]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 025 : Rumah Untuk Pulang

Pesawat berbadan lebar itu akhirnya menyentuh aspal landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta dengan guncangan halus yang membuyarkan keheningan kabin.

Suara mesin jet yang menderu perlahan mengecil, digantikan oleh suara pengumuman pramugari yang menandakan perjalanan belasan jam dari Roma telah usai. Namun, bagi Rachel, ini hanyalah persinggahan singkat sebelum menuju tanah kelahirannya.

Di batinnya, ia sudah tidak sabar ingin segera menukar aroma antiseptik Eropa dengan bau tanah basah di kampung halamannya.

Di barisan kursi Gautama Family, Adio masih bergeming. Ia menatap Rachel yang masih terlelap dengan selimut yang membungkus rapi kedua kakinya.

Senyum tipis terukir di wajah Adio; ada rasa haru melihat gadis tangguh itu kini bisa tidur dengan begitu tenang di sampingnya.

Cak Dika melangkah melewati kursi mereka dan berbisik pelan pada Adio,

"Gendong dia, ya! Tolong. Makasih, Yo! Udah jaga dia sejak di negara orang!"

Adio mendongak, matanya memancarkan kesungguhan.

"Tanpa kamu minta pun, Rachel tetap tak jaga, Mas! Tenang!"

Setelah area kabin cukup lengang, Adio dengan perlahan mengangkat tubuh mungil Rachel secara bridal style.

Ia melangkah mantap keluar dari pesawat menuju terminal kedatangan. Sepanjang langkahnya, Adio merasakan betapa ringannya tubuh Rachel, seolah beban berat yang selama ini dipikul gadis itu telah mengikis berat badannya.

"Rachel..." panggil Adio dengan suara sangat lembut.

Tiba-tiba, sebuah suara bergumam keluar dari bibir Rachel.

"Eung... apa?" jawabnya parau tanpa membuka mata. Ia justru menyamankan posisinya dalam dekapan Adio.

Adio terkekeh pelan.

"Oh, kamu bangun ternyata?"

"Aku ngantuk banget! Yo... aku mau ke rumah Ibunda. Bilang ya ke orang-orang. Aku kangen Ibundaku. Lagi pula, kamu juga belum ketemu Ibundaku, kan? Ayo kita ketemu bareng."

Adio merasakan jantungnya berdegup kencang. Bertemu Ibunda Rachel artinya melangkah ke tahap yang lebih serius.

"Ya, baiklah kalau begitu! Sesenangnya kamu aja, sayangan!" tutur Adio. Panggilan mesra itu membuat Rachel tersenyum lebar di balik dada Adio.

Perjalanan pun berlanjut menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur yang asri. Semakin jauh mereka masuk, pemandangan gedung tinggi berganti menjadi hamparan sawah dan hutan jati yang rimbun.

Di ujung jalan setapak yang sunyi, berdirilah sebuah rumah model lama dengan kayu-kayu jati yang kokoh. Itulah rumah Ibunda Rachel.

Adio dengan sigap membantu Rachel berpindah ke kursi rodanya. Marsya kemudian mendorong kursi roda kakaknya menuju teras, diikuti anggota tim lainnya yang berjalan dengan langkah berat.

Begitu sampai di hadapan Ibunda, suasana mendadak sunyi senyap. Tatapan Ibunda Rachel jatuh ke bawah, menatap kedua kaki Rachel yang terkulai lemas untuk waktu yang cukup lama.

Marsya yang tak kuat menahan rasa bersalah langsung terisak.

"Ibunda, Marsya sing salah! Mbak—"

(Ibunda, Marsya yang salah! Mbak—)

"Rachel, buk! Rachel kecelakaan sendiri pas ada kasus. Tapi ibuk tenang aja! Aku gak apa kok. Buk, aku lumpuh. Tapi ojo dibahas nemen-nemen, ya! Aku ki rene pingin ketemu ibuk ae! Kangen buk!"

(Tapi jangan dibahas terlalu dalam ya! Aku ke sini cuma ingin ketemu ibu saja! Kangen bu!)

Rachel merentangkan kedua tangannya. Ibunda Rachel dan Marsya segera membalas pelukan itu dengan hangat. Air mata seorang ibu jatuh tanpa suara. Begitu suasana menjadi sepi di teras, Ibunda Rachel berbisik lirih.

"Pie nduk? Nangis ndang! Ora usah ditahan neh!"

(Bagaimana nak? Menangislah sekarang! Jangan ditahan lagi!)

Dalam pelukan itu, tangis Rachel pecah. Ia mencengkeram baju daster Ibundanya erat.

"Abah ki wong kuat toh, nda! Aku isih ileng Abah sak urung e ra enek nggeh lumpuh ngoten. Delapan tahun! Abahku wong kuat, toh! Aku ki anak e yo kudu e ngoten!"

(Ayah itu orang kuat kan, bu! Aku masih ingat Ayah sebelum meninggal juga lumpuh seperti ini. Delapan tahun! Ayahku orang kuat, kan! Aku anaknya ya harusnya begitu juga!)

Ibundanya justru terkekeh menanggapi keraguan Rachel.

"Lapo isin nduk? Ora, nak. Anakku pun gede. Wis iso mundut tanggung jawab gede. Koe ki, anak kesayangan e ibuk. Ibuk nek isin karo sampean yowes tak buak toh ket lahir!"

(Kenapa malu nak? Tidak, nak. Anakku sudah besar. Sudah bisa mengambil tanggung jawab besar. Kamu ini anak kesayangan ibu. Ibu kalau malu sama kamu sudah kubuang sejak lahir!)

"Ibuk rek!" kesal Rachel. Ibundanya tertawa renyah dan mengecup puncak kepala anaknya lama.

"Yen niat e apik nduk, mesti enek wae gantine. Ora usah minder. Yen dunio iki ora nerimo awakmu, sek enek keluargamu, Ibukmu, Cacakmu, dulurmu sing nerimo awakmu. Koe istimewa, nduk! Ayok maem!"

(Kalau niatnya baik nak, pasti ada saja gantinya. Tidak usah minder. Kalau dunia ini tidak menerimamu, masih ada keluargamu, ibumu, kakakmu, saudaramu yang menerimamu. Kamu istimewa, nak! Ayo makan!)

Setelah makan malam yang penuh tawa dan sapaan jenaka, keheningan kembali merayap di rumah tua itu.

Para anggota tim lainnya mulai bergiliran membersihkan diri di kamar mandi belakang. Rachel duduk di kursi rodanya di ruang tengah, menatap sebuah foto tua di atas lemari jati. Foto Abah. Di sampingnya, Adio setia berdiri, memijat bahu Rachel yang masih tampak tegang.

"Yo," panggil Rachel lirih.

"Dalem, Sayang?" sahut Adio lembut.

"Kamu tadi lihat, kan? Koleksi Ibunda?" Rachel melirik ke sudut ruangan di mana sosok 'kakek surjan' yang hanya bisa dilihat olehnya itu sedang berdiri diam.

Adio mengernyitkan dahi, menatap sudut ruangan yang kosong di matanya.

"Lihat apa, Chel? Kamu tahu aku nggak bisa lihat apa-apa. Tapi... hawama memang beda. Terasa adem, kayak ada yang jagain kita."

Rachel terkekeh pelan.

"Ibunda itu unik. Dia nggak pernah menganggap mereka hantu jahat. Katanya, mereka itu arwah yang kesepian. Jadi, Ibunda kasih mereka 'tugas' di sini. Ada yang jaga pintu, ada yang jaga dapur, bahkan ada yang cuma dengerin Ibunda curhat."

Tiba-tiba, Ibunda Rachel muncul dari arah dapur membawa nampan berisi wedang jahe panas. Beliau duduk di depan mereka dan menatap Adio dengan tatapan menyelidik.

"Adio, kamu sudah siap mental tinggal di sini semalam? Rumah ini kalau malam memang agak 'rame', walaupun kamu nggak bisa lihat. Tapi tenang saja, mereka semua sudah Ibu kasih tahu kalau ada tamu agung yang ganteng."

Adio tertawa sopan.

"Saya sudah terbiasa dengan hal-hal aneh karena Rachel, Bu. Meski saya nggak bisa lihat, suasana di sini terasa sangat... terlindungi."

Ibunda mengangguk mantap. Matanya kemudian beralih ke kaki Rachel. Ekspresinya melunak.

"Nduk, besok pagi ikut Ibuk ke belakang ya. Ada sumur tua yang dulu sering dipakai Abahmu mandi. Airnya sudah Ibuk kasih doa-doa. Kita coba terapi di sana."

Beliau mengusap tangan putrinya.

"Ibuk mau hatimu yang sembuh duluan. Biar kamu nggak merasa jadi orang yang 'kurang'. Koe ki utuh, Rachel. Jiwamu nggak lumpuh."

Jam dinding sudah berdenting sebelas kali ketika anggota tim Gautama Family lainnya tertidur lelap berjajar di ruang tamu.

Adio berdiri di teras rumah, menatap langit malam yang pekat. Tak lama, Ibunda Rachel mendekatinya.

"Belum tidur, Le?" tanya Ibunda lembut.

"Belum, Bu. Masih menikmati sunyinya desa."

Ibunda Rachel berdiri di samping Adio, tatapannya jauh ke depan.

"Rachel itu terlihat kuat, Yo. Tapi sebenarnya dia itu anak yang sangat rapuh. Dia pasti sedang merasa dunianya runtuh, walau bibirnya tetap bilang 'gak apa-apa'. Dia ketakutan sekarang."

Ibunda menghela napas panjang.

"Dulu ada Thoriq. Kepergiannya meninggalkan lubang besar di hati Rachel. Ibu sempat takut Rachel tidak akan pernah membuka hatinya lagi. Dia mengunci diri karena takut kehilangan."

Beliau menatap Adio dengan tulus.

"Tapi melihat kamu di sini, menjaga dia tanpa diminta... Ibu senang Rachel mendapatkan kamu, Yo. Kamu menatapnya bukan sebagai 'sang Indigo hebat', tapi sebagai wanita biasa. Padahal kamu sendiri nggak punya kelebihan seperti dia."

Adio menunduk dalam, hatinya tersentuh.

"Saya memang nggak bisa lihat apa yang dia lihat, Bu. Saya nggak punya kelebihan apa-apa. Tapi saya ingin menjadi kakinya selamanya. Saya tidak akan pergi hanya karena kondisi kakinya."

"Jaga dia, ya Le. Dia mungkin mendorongmu menjauh jika dia merasa jadi beban, tapi jangan lepaskan tangannya. Dia butuh kamu," bisik Ibunda Rachel sambil menepuk bahu Adio dengan rasa sayang.

Adio mengangguk mantap, mematri janji itu di bawah langit kelam Jawa Timur yang menjadi saksi bisu kesungguhannya.

1
Chimpanzini Gagal Hiatus
serem banget. saking banyaknya mayat bisa jadi tanah pijakan.
Chimpanzini Gagal Hiatus
samudra mematuhi kehendakku
Chimpanzini Gagal Hiatus
wihh ilusinya sama kuatnya kek karakter Huli Jing di novelku/Proud//Proud/
Chimpanzini Gagal Hiatus
langsung refleks megang perut 😭😭
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
wah gagal teguh mau hibernasi ehh ada tugas mendadak 🤭🤭
duh gemesin si arka tau2an Rachel ada didepan
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
ngeri woii kalo jadi aelke jelas aja dia ketakutan.
untung yg hampir nabrak Aldo jadi seenggaknya kamu sedikit aman sekarang
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
wkwkwk Adio ihh nyuri kesempatan lagi yaa 🤣🤣
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
pas baca judulnya udh penasaran siapa lagi arwah nya , oh Bagus lah kalo ternyata orang tuamu tami
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
yeee akhirnya cak Dika melakukan niatnya buat ngelamar rara🤭🤭
wah kemana pak dokter sama pasiennya 😄
etdah Tami kamu yaa blak2an banget
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
aihh habis adegan tegang menegangkan plus serem dikasih yang manis2 gini meleleh lahh
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
sumpah menegangkan banget, untung mas suhu sama bela bisa cepat bawa Tami .
semoga nanti Tami bisa ketemu orang tua nya berkat bantuan Rachel ya
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
ini yakin kan Tami bakal selamat enggak bakal denger suara aneh2 lagi
merinding bayangin kematian toby 🥺
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
isss tamii ini gegara kecerobohan mu juga , untung Rachel bangun dan segera datang menolong mu
CACASTAR
yakin banget deh di lokasi angkernya setengah ampun
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
keren lahh Tami punya kekuatan juga ternyata, wah Bella siap2 kamu beranak banyak sama mas suhu🤣🤣
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
Wah ada 3 pasangan nih yg mau meresmikan status mereka
jadi kalau Rahel nikah dy harus melepaskan kekuatan nya
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
cie cie cie Dio
❤️⃟WᵃfᏞιͣҽᷠαͥnᷝαͣ༄⃞⃟⚡
hahahah barend ngapain kamu mau belajar dewasa pake cerutu gitu nya 🤣🤣
Tami kan bener dia random banget
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
ngeri ngeri
🔵🦋⃞⃟𝓬🧸🥑⃟RY
ternyata di ambil dr kisah nyata
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!