NovelToon NovelToon
Tanah Wonosobo

Tanah Wonosobo

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Lansia / Single Mom / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Duda / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Restu Langit 2

Mereka berdiri di atas tanah yang sama, namun dengan suasana yang berbeda.

Bertahun-tahun telah berlalu, namun kenangan tentang Arumni masih terasa segar. Cinta pertama yang pernah membakar hatinya, kini menjadi api yang membara dalam do'anya.

Bertahun-tahun Galih berdoa di tengah kemustahilan, berharap akan disatukan kembali dengan Arumni. Meskipun jalan hidup telah membawa mereka ke arah yang berbeda tapi hati mereka masih terikat.

Galih tidak pernah menyerah, dia terus berdoa di tengah kemustahilan, terus berharap, dan terus mencintai tanpa henti.

Apakah mereka akan dapat kembali ke pelukan satu sama lain?

Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗🤗

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia yang nyaris terbongkar

  Usai menikmati indahnya matahari terbit dan berfoto-foto, mereka kembali menuruni bukit, lalu masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalan yang sudah cukup dekat dari tempat itu.

  "Alhamdulillah, akhirnya aku bisa sampai di desa yang indah ini bersama ayah dan ibu." Ucap Rama secara tiba-tiba sebelum mereka turun dari mobil.

 "Jangan lupa ada aku juga ya, kak." Sergah Tya yang membuat semuanya jadi tertawa.

 "Iya, adik ku... Kakak nggak mungkin lupa." Kata Rama lalu mengajaknya turun.

 Tya dan Rama begitu bahagia, mereka turun dari mobil penuh rasa semangat. Jari telunjuk mereka menunjuk ke arah sawah yang membentang luas. Mata mereka terbuka lebar dengan rasa ingin tahu.

  "Sepertinya mereka sudah tidak sabar untuk berpetualang di sawah." Ucap Galih, diiringi suara kicauan burung dan hembusan angin pagi yang membuat suasana lebih tenang.

  Arumni mengukir senyum menatap Galih, "ayo kita turun." Ajaknya.

 Galih menghela napas, tersenyum penuh rasa syukur. Dia masih duduk bersandar, dijadikannya tangan sebagai bantal. "Aku masih mau di sini," ucapnya yang dibalas tawa oleh Arumni.

  "Kenapa? Mau ngapain di sini sendirian, mas?"

  "Aku mau lihat kamu berjalan sampai masuk ke rumah mu." Kata Galih yang hanya dijawab senyum oleh Arumni.

   Arumni turun, lalu menghampiri Rama dan Tya yang sedang asyik berfoto di sana, mereka seperti kakak adik sungguhan.

  "Ibu, di mana ayah?" Tanya Rama sesampainya Arumni di sana.

  "Masih di mobil. Ayo kita ke rumah dulu!" ajak Arumni.

  Kedua anak itu jalan menuju rumah sambil bermanja pada ibunya, Rama memegang tangan kiri sementara Tya memegang tangan kanan, keduanya mengoyang-goyangkan tubuh mereka.

Arumni tersenyum, memandang mereka secara bergantian dengan rasa syukur, melewati mobil Galih yang terparkir di sana.

  "Lambaikan tangan pada ayah." Ucap Arumni menyuruh pada mereka.

  "Daa ayah..." Ucap Rama yang diikuti oleh Tya.

  "Daa om Galih..." Lalu mereka melewati Galih begitu saja, setelah dibalas lambaian tangan oleh Galih.

  Galih tersenyum, menatap mereka yang sedang berjalan melewatinya. Dia sangat bahagia, melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah mereka.

Galih merasa damai, merasa hidupnya telah lengkap dengan melihat mereka bersama-sama, seperti keluarga yang utuh, tapi bukan.

  Lamunannya buyar, ketika seorang warga menyapa Galih dari pintu mobil yang sedari tadi terbuka. "Galih!" ucap pak Rofik yang tanpa sengaja melihat Galih di mobil itu.

   Galih keluar dari mobil. "Pak Rofik, apa kabar pak?" Galih mengulurkan tangannya, "pak Rofik mau ke sawah?" tanya Galih, setelah melihat cangkul yang terpasang di pundak pak Rofik.

 "Baik, kamu sendiri bagaimana?" balas pak Rofik. "Berapa tahun ya, kita tidak bertemu?"

  "Aku juga baik, pak Rofik. Nggak tahu, berapa lama ya, pak?" balas Galih.

  "Bapak juga sudah lupa, kapan terakhir kita bertemu. Ngomong-ngomong kamu ngapain di sini?"

  "Aku habis berziarah ke makam bapak sama ibu, kebetulan anak-anak sedang libur, jadi sekalian mampir ke sini." Kata Galih yang membuat pak Rofik celingukan ke dalam mobil.

  Sejenak pak Rofik melamun, "anak-anak? Siapa yang Galih maksud? Bukanya Galih dan Arumni bercerai? Dan mereka sama-sama memiliki satu anak, kan?" sederet pertanyaan hanya berputar di kepala pak Rofik.

 Galih menyadari, pasti pak Rofik sedang bertanya-tanya dalan hatinya. "Anak aku dan anak Arumni, maksudnya pak. Mereka sudah turun bersama Arumni," pernyataan mengejutkan itu semakin membuat pak Rofik kebingungan.

  "Ooh, begitu?" ucap pak Rofik yang dia sendiri masih belum paham dengan yang dimaksud oleh Galih, sebab yang dia tahu Arumni menikah lagi dan Galih tidak. "Jadi, Arumni ke sini juga? Sama suaminya yang jadi polisi itu nggak?"

  "Nggak, pak Rofik. Tadi suaminya hanya sampai di makam, lalu pergi karena tugas sudah menunggunya. Oleh sebab itulah, kita mampir ke sini. Aku pikir, aku sudah terlalu lama tidak datang ke sini," ucap Galih yang mulai membuat pak Rofik paham.

 "Jadi, kalian datang ke sini atas ijin dari suaminya?" tanya pak Rofik yang dijawab anggukan oleh Galih.

 "Oh, syukurlah." Pak Rofik pun jadi lega setelah mendengar ucapan Galih.

  "Ayah...!" teriak Rama dari depan rumah Arumni.

  Galih menoleh, lalu pamit pada pak Rofik. "Maaf pak, anak aku manggil. Aku mau ke sana dulu," katanya.

  "Iya, iya, bapak juga mau ke sawah. Takut kesiangan." Katanya, lalu pergi ke arah berlawanan.

  Rumah Arumni yang dulunya kosong tanpa penghuni, beberapa tahun terlihat sunyi dan menakutkan, kini berubah menjadi tempat yang penuh dengan kehidupan. Karena sejumlah dari remaja muslim yang berada di desa itu, memutuskan untuk mengunakan rumah itu sebagai tempat tilawah Quran, membaca dan menghafal ayat-ayat suci bersama-sama.

  Tidak hanya itu, mereka juga menggunakan rumah itu sebagai tempat untuk bermain gitar, mengiringi lagu-lagu yang syar'i dan penuh makna. Suara gitar yang merdu dan suara tilawah yang khusyuk, membuat rumah itu terasa penuh dengan keberkahan setiap harinya.

  Galih tersenyum, menatap beberapa remaja yang sedang asyik menikmati kopi dan sepiring kue di sana. "Siapa mereka, Arumni?"

 "Ayub, Deni, Alfan, Figi, dan Fahri." Arumni memperkenalkan mereka satu persatu, lalu mereka semua mencium tangan Galih secara bergantian.

  "Ini ayah ku, teman-teman." Ucap Rama yang langsung akrab dengan mereka.

  "Iya, wajahnya mirip kamu, Rama." Kata Fahri.

  "Tapi kulitmu lebih putih, Rama." Kata Deni yang dibenarkan oleh semua yang ada di sana.

  "Iya, aku juga selalu berpikir begitu." Kata Rama, lalu bertanya pada ayah dan ibunya, "jelaskan pada mereka ayah, ibu. Kenapa kulit ku beda dari kalian?" tanya Rama yang memicu gelak tawa dari semuanya.

  "Karena waktu hamil, ibu mu sering minum pemutih." Jawab Galih asal yang membuat semua kembali tertawa.

 Kerutan tipis muncul di dahi, "mas, bercandanya jangan kelewatan, ya?" Arumni memberi peringatan.

 "Iya, ibu. Om Galih bisa saja jujur, lagi pula siapa yang percaya kalau ternyata kak Rama anaknya ibu? orang nggak ada miripnya, iya kan akak-akak?" ucap Tya yang dibenarkan oleh semua remaja yang ada di sana.

  Semuanya tertawa, namun Arumni hanya menatap Galih sekilas, lalu menunduk tersenyum getir.

  Tak ingin membuat ibunya bersedih, Rama berusaha memecah suasana dengan merangkul Arumni, "tidak masalah kulit kita berbeda, yang penting ibu tetaplah ibu ku." Sergah Rama.

  Semua turut bahagia, lalu mereka menikmati kopi bersama. Namun Galih merasa ada yang kurang, "di mana bu Erin?" tetangga yang biasanya datang ke rumah Arumni seperti saudara sendiri.

  "Sudah pindah ke rumah anaknya, mas." Jawab Ayub pemuda yang usianya lebih tua diantara mereka.

 "Pindah?" Galih menatap Arumni.

 "Iya, mas. Jadi, setelah pak Haris meninggal, bu Erin pindah ke rumah anaknya yang ke dua. Sekarang rumahnya dikontrak sama orang lain."

Mereka mengobrolkan banyak hal, hingga semua menoleh ke arah sumber, ketika terdengar suara protes dari perut Tya.

"Perut ku bunyi, ibu... Sepertinya perutku menuntut makanan, aku belum sempat makan apa-apa sejak tadi, aku merasa sangat-sangat lapar dan tidak ada yang dapat memuaskan perutku kecuali makanan yang lezat." Protes Tya yang kembali memicu gelak tawa.

"Makanlah roti ku Tya." Kata Figi seorang anak yang seusia Tya.

"Perutku tidak bisa merasa puas sebelum makan makanan yang lebih berat, seperti nasi atau mie instan—" rengek Tya yang langsung distop oleh ibunya.

"Cukup Tya, ibu paham." Ucap Arumni yang langsung menuju dapur.

Tidak ada apapun di dapur, kecuali gula dan kopi. Lalu semua remaja itu bergerak ikut membantu Arumni mencarikan bahan-bahan untuk masak dan mereka makan bersama.

Galih turut membantu Arumni memasak di dapur, setelah bahan-bahan tersedia di sana. Tanpa banyak bertanya Galih begitu lihai dalam memasak, dia sudah terbiasa saat dulu ditinggal kerja oleh Mita.

Arumni mengamati, merasa heran karena baru tahu. "Mas, kok kamu bisa tahu cara menyiangi sayur, membuat bumbu, dan ini..." Arumni menunjuk Galih yang sedang memegang alat memasak, "kamu bisa melakukan ini semua, tanpa bertanya? Hmm, aku tidak tahu sebelumnya, sejak kapan?"

Galih merasa bangga bisa menunjukan itu pada Arumni, dia hanya melirik sedikit tanpa menjawab, lalu menunjukan kelihaiannya dalam mengeksekusi bahan masakan.

Melihat Arumni menatap penuh pertanyaan, akhirnya Galih menjelaskan. "Aku sudah terbiasa, Arumni. Dulu aku dipecat dari perusahaan, aku nganggur, Mita yang bekerja lalu aku di rumah yang memasak dan mengurus Rama."

"Hmm, pernah jadi bapak rumah tangga rupanya?"

"Ya, gitulah. Tapi aku nggak mau ingat-ingat masa itu lagi, itu sejarah terburuk yang aku rasakan dalam hidup ku." Ucap Galih yang dibenarkan oleh Arumni.

"Mita siapa, ayah? Ayah pernah kerja di perusahaan?" Saut Rama dari belakang, membuat Galih membelalakan matanya.

...****************...

1
Althea
aku kasih vote buat karyamu ya thor 👍
Restu Langit 2: terimakasih 😍
total 1 replies
Djabat
bahagianya A A 😄
Restu Langit 2: iya 🤭
total 1 replies
Djabat
semoga selalu bahagia Adit arumni
Restu Langit 2: Aamiin
total 1 replies
Djabat
semoga terwujud cita-citanya ya Rama
Restu Langit 2: Aamiin ☺
total 1 replies
Djabat
sip, keren👍
Djabat
nah lo
Djabat
ha ha arumni bisa aja
Restu Langit 2
oke, terimakasih banyak ☺
Djabat
aku bayangin gimana modisnya mama alin dalam berpenampilan
Djabat
mas ayah🤣🤣
Restu Langit 2: ha ha 🤣
total 1 replies
Djabat
semoga cepet move on dari masalalu ya Galih.
Restu Langit 2: aamiin
total 1 replies
Djabat
betul mama alin
Djabat
ganteng-ganteng jerawatan 😄
Restu Langit 2: pubertas 🤭
total 2 replies
Djabat
nikah lagi aja Galih. Lama-lama pasti lupa sama masalalu mu
Restu Langit 2: sedang diusahakan🤭
total 1 replies
Djabat
ikut saja arumni, cuma di alun-alun kan? 😄
Restu Langit 2: takut suaminya salah sangka 🤭
total 1 replies
Djabat
aku sudah baca langit Wonosobo thor 👍
Fatra Ay-yusuf
jangan biarkan masalalumu membelenggumu Galih, kubur masalalumu rajutlah kisah yng baru,
di kesibukan ku hari ini tak sempetin untuk mendukung mu wahai author /Facepalm/
Restu Langit 2: terimakasih banyak wahai readers 😘😘
total 1 replies
Fatra Ay-yusuf
wahwah kiren nikah gw nggk di undang nih thor 🤣
Restu Langit 2: Sepuluh tahun itu cukup mengubah banyak hal, sampai nggak ada yang tahu kapan dia nikah 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!