Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 20
Hari ini Keluarga Dirgantara mengadakan tasyakuran atas kelahiran Ayumi Clearesta Dirgantara hanya keluarga terdekat dan kolega nya yang di undang dan juga acara itu diadakan di rumah padahal Arsyad dan Tiara ingin di sebuah hotel dan mengadakan acara besar.
Namun, Arumi tidak setuju disamping ia masih merasa canggung sedikit minder dengan keluarga Dirgantara yang lainnya.
Tepat hari itu juga mereka mengumumkan pernikahan Kenan dan juga memperkenalkan Arumi sebagai istrinya.
Arumi yang sangat pemalu itu hanya tertunduk sesekali menyapa media, ia merasa risih dengan kerlap Kerlip lampu wartawan yang sedang meliput mereka.
Pegangannya yang sangat erat membuat Kenan pun buru-buru menyelesaikan bicara di hadapan media dan langsung saja acara segera di mulai. Ayumi yang sudah di dandani dengan sangat cantik itu pun keluar dengan digendong oleh Nina dan kini bayi mungil nan cantik itu duduk bersama kedua orang tua nya.
Ayumi yang belum tau apapun itu hanya diam memandangi Arumi dan juga langit-langit yang hanya bisa bayi itu pandangi.
Semua orang pun sangat antusias melihatnya, bahkan ada yang ingin sekali menggendong nya, Ayumi yang memang sangat anteng dan sudah terbiasa bayi itu pun hanya diam saat digendong sanak saudaranya yang sedang mengajaknya bicara, memanggil namanya dan Ayumi pun tersenyum.
"Putrimu sangat ramah ya, murah senyum gak seperti Ayahnya selalu jutek," sindir Jimmy.
Kenan menatap sinis pada Jimmy,"Heeh, becanda bos jangan marah," lanjut Jimmy sambil cengengesan.
"Arumi ..." panggil seseorang yang langsung menghampiri Arumi.
"Anita, aku sudah menunggumu dari tadi aku kira kau tidak datang," mereka saling berpelukan. Anita memberikan bag berisi hadiah untuk Ayumi.
"Di mana putri mu aku rasanya ingin menggendong nya," Anita mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Ayumi.
"Entah lah, bantu aku mencarinya ... Mas aku cari Ayumi dulu ya takut dia menangis," pamit Arumi dan Kenan pun menganggukkan kepalanya pelan.
Kenan beralih ke arah Jimmy terlihat pria itu sedang tersenyum dan Kenan memperhatikan jika Jimmy tersenyum ke arah Anita.
"Kalau suka bilang langsung keburu diambil orang," ucap Kenan.
"Ah gak lah, aku cuma heran kenapa dia sekarang cantik banget beda saat ia masih bekerja di restoran," puji Jimmy pada Anita.
"Perasaan kau saja, menurutku sama saja," ujar Kenan.
"Iya lah di matamu hanya Arumi yang paling cantik wanita lain terlihat seperti ubur-ubur di hadapan mu," seru Jimmy.
"Kenan ... Jimmy," panggil seorang pria yang mana membuat pandangan mereka berdua teralihkan.
"Apa kau mengundangnya?" bisik Jimmy sembari melirik ke arah Narendra sekilas.
"Arumi yang menyuruh ku karena ia ingin mengundang Helen pastinya dia ikut lah," balas Kenan.
Narendra langsung memberikan hadiah yang sangat besar dengan senyuman nya yang merekah membuat Jimmy di buat merinding, hal itu dilihat Kenan yang hanya menarik sudut bibirnya.
"Jim, aku tau kau terkejut melihat perubahan sikap ku pada Kenan tapi aku sudah tau semuanya dari Helen maafkan aku atas kesalahpahaman di masa lalu," ungkap Narendra.
"Jangan minta maaf pada ku, kau tebus kesalahan mu saja pada Kenan," seru Jimmy.
Narendra merangkul keduanya membuat Jimmy terkejut begitu juga Kenan, mereka langsung saling menatap dan mengingat persahabatan mereka saat masih sekolah dulu.
"Baiklah, hari ini seperti biasa aku akan menebus kesalahan ku nanti malam kita pesta BBQ di rumah ku," ajak Narendra.
"Siapa takut," jawab Kenan lalu mereka pun tertawa.
***
Pagi itu Arumi sedang mempersiapkan keperluan Kenan untuk berangkat ke kantor, dengan telaten ia memakaikan dasi dan kemeja sang suami walaupun Kenan terlihat sibuk dengan ponselnya dan sesekali ia berbicara di telepon dengan koleganya.
"Apa tidak bisa di tunda tahun depan? Aku benar-benar tidak bisa pergi ke sana minggu-minggu ini,"
"Tidak bisa, pak Kenan yang harus pergi ke sana Minggu ini tidak bisa di wakilkan,"
"Baiklah, nanti kita bicarakan lagi di kantor,"
Persiapan selesai Kenan dan Arumi berjalan menuju meja makan untuk sarapan bersama keluarga.
Wajah Kenan terlihat kusut di pagi ini membuat Arsyad bertanya ada apa dengan putranya. Apakah mereka berdua bertengkar lagi?
"Minggu ini aku harus ke Paris, pah mengurus perusahaan ku yang baru saja mulai aku rintis di sana dan ingin mengajak Arumi dan Ayumi ke sana," ujar Kenan.
"Kau sudah gila ya, di Paris sedang musim dingin anak mu masih bayi biar mereka di sini saja," tolak Tiara.
"Yasudah aku tidak jadi pergi," kesal Kenan menghentikan makannya.
"Kenapa?" tanya Arsyad.
Kenan menatap Arumi yang sedang menikmati makan hingga Arumi menghentikan nya sejenak karena merasa risih.
"Kenapa menatap ku begitu?" tanya Arumi sembari mengunyah makanannya.
"Kalau aku pergi sendiri aku takut kau akan kabur lagi membawa Ayumi," takut Kenan.
Uhuuk uhuuk
Arumi tersedak dengan cepat Kenan memberikan segelas air dan langsung meminumnya.
"Kakak apa-apaan sih bucin sih bucin tapi ga segitunya kali," sindir Riana.
"Kamu belum pernah jatuh cinta ga akan pernah ngerasain apa yang aku rasain," balas Kenan.
pagi itu membuat kedua orang tua keduanya pusing dan suasana rumah menjadi sangat ramai. Biasanya hanya ada keheningan walaupun Riana dan Kenan berada di rumah tapi mereka hanya sibuk dengan kegiatannya masing-masing.
Apalagi Kenan sebelum bertemu dengan Arumi ia selalu menyendiri di kamar tidak banyak bicara apalagi dengan adik nya.
Nina datang membawa Ayumi yang sudah mandi, Arumi menyambutnya lalu ia pun berdiri ingin mengantar Kenan untuk segera berangkat.
"Ayah kerja dulu ya cantik," Kenan mencium pipi merah Ayumi tidak lupa ia juga mencium kening dan bibir Arumi lalu ia pun masuk ke dalam mobilnya.
Di meja makan masih terlihat keluarga Dirgantara masih menikmati sarapannya. Arumi memilih kembali ke kamar.
"Riana, apa belum ada calon yang mau dikenalkan dengan papi dan mami?" tanya Arsyad.
"Belum kepikiran pih, aku belum mau punya pasangan sepertinya jatuh cinta itu sangat menyiksa. Papi lihat saja kakak dia menjadi gila karena cintanya pada Arumi," ujar Riana.
"Jangan bilang begitu kau juga nanti akan sama seperti kakak mu jika sudah menemukan pujaan hati," ucap Tiara.
"Sudah lah pih, mih aku mau survey tempat dulu untuk proyek ku selanjutnya Kakak pasti sedang meeting," pamit Riana.
"Mami mau lihat cucu mami dulu ah," ucap Tiara beranjak dari duduknya.
"Tumben biasanya mami sudah pergi pagi-pagi begini sama temen arisan mami," ujat Arsyad.
"Libur dulu mau puasin sama cucu," pekik Tiara seraya berjalan menuju kamar Arumi.
***
Di ruangan sang direktur Kenan sedang berkutat dengan pekerjaan nya yang sangat menumpuk. Jari jemari nya tidak henti mengetik seolah ia sedang dikejar oleh waktu.
Walaupun Jimmy sudah membantunya tetap saja pekerjaannya tak kunjung selesai,"Lama-lama aku tua di sini ini," keluh Jimmy.
"Jangan mengeluh selesai kan sekarang aku ingin cepat pulang bertemu dengan anak dan khususnya istri ku," seru Kenan.
"CK, baru saja dua jam di kantor sudah ingin pulang. Emangnya semalam ga dikasih jatah sampe keinget terus mau pulang," sindir Jimmy.
"Jangan berisik tau apa kau tentang jatah menikah saja belum," balas Kenan.
Dreett
Dreett
Ponsel Kenan berdering ia pun mengangkat telepon itu dengan sangat serius. Hari ini memang hari yang sibuk untuknya hingga tidak ada waktu untuk sekedar menghubungi dan memberi kabar Arumi.
"Permisi Tuan Jimmy, pengacara Jen sudah sampai," ucap Sekretaris.
"Iya suruh saja dia masuk," titah Jimmy lalu sekretaris itu memanggil dan menyuruh pengacara Jen untuk masuk ke dalam.
Pengacara itu pun melangkah masuk ke dalam ia menyapa Jimmy dan Jimmy menyambutnya Lalu ia beralih menghampiri Kenan yang sedang berdiri sembari menelepon membelakanginya.
"Selamat pagi, pak Kenan?" sapa Jen.
Lalu perlahan Kenan berbalik dan tatapan mereka bertemu.
"Kau," ucap keduanya bersamaan.
*
*
Bersambung.