Elena, seorang gadis yang selalu kalah dan selalu di perlakukan tidak adil. Kini telah menemukan dunia baru, dengan tujuan hidup yang baru.
Mengejar cinta atau mencari harta? Elena akan melakukan keduanya sekaligus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pesta ulang tahun [Visual]
Akhirnya pesta yang di tunggu-tunggu banyak orang tiba, Elena sudah bersiap sejak pagi buta untuk memperlihatkan kecantikannya malam ini. Elena akan melakukan debutante sosialitanya di pesta ini, meski bisa saja Elena membuat Pesta Debutante sendiri tapi dia malas melakukannya.
Elena sudah memakai aneka macam masker dan lulur dari ujung rambut sampai ujung kaki, dia kini benar-benar seperti porselen yang sangat halus dan mempesona tanpa noda.
Elena merias wajahnya sendiri, mempertegas keindahan miliknya untuk memikat para kumbang. Memakai gaun perak dengan bordiran emas, tidak lupa menggunakan renda putih yang membuatnya semakin cantik mempesona.
Karena rambut Elena hitam panjang lurus, Elena meminta Merida untuk membuatnya bergelombang. Mengerol rambut dari pagi sampai malam untuk hasil yang maksimal, tidak lupa aksesoris dan mahkota yang anggun.
Elena saat ini sangat harum semerbak, dia benar-benar menjadi bunga yang mekar begitu indah saat musim semi. Meksipun bukan dia pemeran utama di pesta ini, tapi setidaknya dia memiliki hak berias untuk Debutante pertamanya di dunia sosialita.
"Merida, apa kau sudah memeriksa hadiah yang akan diberikan pada yang mulia putra mahkota?." Tanya Elena.
"Ya nona, semua hadiah milik anda sudah digabungkan dengan milik Tuan Duke." Ucap Merida.
"Baiklah, tinggal menunggu waktu berangkat. Aku benar-benar berdebar, apa aku cantik? atau justru terlalu berlebihan?." Tanya Elena.
"Anda benar-benar terlihat sangat anggun seperti Dewi, padahal aksesoris yang anda pakai hanya kalung dan anting. Tapi anda benar-benar terlihat mewah dan indah, mungkin karena gaun ini sangat cocok dengan anda." Ucap Merida jujur.
"Hahahahah kau bisa saja, apa kau ingat kalung ini. Aku benar-benar tidak akan melepaskan nya, akan ada pertunjukan bagus di pesta nanti." Ucap Elena penuh arti.
"Tolong jangan membuat kekacauan nona, saya tidak mau anda mendapatkan hukuman." Ucap Merida was-was.
"Hahahahahh mana mungkin, Ayah sangat menyayangiku. Tapi ngomong-ngomong kau sangat cocok dengan gaun itu Merida, kau terlihat anggun dan berkelas. Jangan berani menundukan pandangan pada pelayan lain, kau harus percaya diri karena menjadi pelayanku adalah sebuah kehormatan." Ucap Elena tegas.
"Sebuah kehormatan bagi saya, nona." Merida membungkuk merasa tersanjung.
"Oh sepertinya sudah saatnya kita pergi, ayo berangkat." Ucap Elena.
Elena berjalan dengan anggun menuju kereta kuda, sepanjang jalan bau harum semerbak mengikuti Elena kemanapun. Para pelayan dan pengawal terpana dengan kecantikan Elena, bisanya Elena juga cantik tapi dia jarang berias seperti ini.
"Elena..." Duke sampai tercengang melihat putrinya yang sangat cantik.
"Hei kenapa Ayah malah menangis? memangnya aku jelek?." Elena tersenyum manis.
"Tidak, kau benar-benar cantik seperti Ibumu." Duke teringat dengan mendiang istrinya.
"Hahahhaa tentu saja, bukan kah aku adalah bukti cinta Ayah dan Ibu?." Elena merangkul lengan Ayahnya yang tampan.
"Tentu saja, kau harus bahagia Elena." Duke sangat bangga sekali.
"Baiklah, ayo berangkat. Sudah saatnya Ayah memperlihatkan betapa indah dan mempesona Putri Ayah ini." Elena sangat pandai membuat suasana menjadi santai.
Elena berangkat bersama dengan Duke Denilen ke istana Delon. Perjalanan memakan waktu sekitar 2 jam dari mansion Duke ke Istana Kekaisaran.
Saat sudah dekat dengan gerbang istana, Kereta kuda macet karena harus antre. Di depan pintu aula sudah sangat banyak orang yang datang, mereka melihat siapa saja yang datang menilai penampilan mereka.
Sepertinya Elena nyaris datang terakhir, tapi untunglah tidak terlambat. Elena berharap Theor datang di pesta ini, meskipun di buku tertulis Theor lebih memilih diam di Castle nya daripada mengikuti pesta.
"Kau harus datang jika ingin melihat kecantikan ku Theor." Batin Elena.
Akhirnya tiba saatnya Elena turun dari kereta kuda, saat Duke pertama turun para wanita lajang maupun istri orang menatap kagum. Karena Duke Denilen merupakan salah satu pria tampan di Kekaisaran Delon.
Duke membantu Elena turun dari kereta kuda, begitu Elena turun semua orang tercengang. Mereka terkejut karena tidak menyangka sosok pembuat onar itu sangatlah cantik. Terlihat seperti Dewi, bahkan nona bangsawan yang ada di sana mendengus iri.
Elena berjalan dengan anggun bersama Ayahnya, kenapa Elena tidak mengajak Theor? karena Elena ingin menunjukkan martabat nya sebagai seorang wanita. Dia masih lajang, alangkah baiknya jika dia datang bersama Ayah atau keluarga di banding Kekasih yang belum legal.
Sampai di aula, Elena bisa melihat putra mahkota duduk di singgasana dekat dengan Kaisar dan permaisuri. Ada juga kakak-kakak perempuan Daniel di sana, Elena merasa berdebar karena harus memberi salam.
"Memberi hormat pada matahari, bulan serta bintang kekaisaran Delon. Semoga keberkahan selalu menyertai langkah kalian."
Elena dan Duke memberi salam bersamaan, Elena menahan nafas karena gugup. Dia sudah belajar crusty terbaik, dia harus terlihat anggun dan luwes.
"Kau nyaris terlambat Duke, apa dia putrimu?." Ucap Kaisar ramah.
"Benar yang mulia, dia adalah Putri semata wayang saya Elena." Ucap Duke terlihat bangga.
"Dia sangat cantik seperti Dewi, pantas saja kau menyembunyikan nya selama ini." Ucap Permaisuri.
"Hahaha pujian anda sangat berlebihan, terimakasih sudah mengundang kami dalam pesta besar ini yang mulia." Duke bergeser pada Daniel.
"Selamat ulangtahun yang mulia putra mahkota, saya berdoa anda panjang umur dan bisa menjadi pemimpin hebat di masa depan." Ucap Duke, menyerahkan hadiahnya.
"Terimakasih Duke, silahkan menikmati pestanya." Daniel menerima dengan ramah.
"Selamat ulang tahun yang mulia, saya tidak bisa memberikan hadiah besar karena kebesaran itu telah melekat pada anda. Semoga hadiah saya bisa berguna dan bermanfaat." Ucap Elena menyanjung dengan puitis.
"Terimakasih nona Elena, silahkan menikmati pestanya." Daniel menerima dengan senang hati.
Saat Elena hendak undur diri, Daniel melihat kalung di leher jenjang Elena. Dia sangat mengenal kalung itu dengan sangat baik, itu adalah kalung milik Theor yang selalu dia pakai setiap hari.
"Apa mereka sudah memiliki hubungan dekat? sepertinya Theor diam-diam pintar menggoda." Batin Daniel, merasa tertarik.
"Apa kau tertarik dengan nona cantik itu putraku? Ibu merestui mu jika kau ingin menikahinya." Ucap Permaisuri, dia tidak suka Isabella.
"Tidak bisa Ibu, dia akan jadi adik iparku." Ucap Daniel tersenyum.
"Adik ipar?." Kaisar dan kakak perempuan Daniel menoleh heran.
"Oh sepertinya aku terlalu banyak bicara, aku akan turun menemui teman-teman ku. Terimakasih untuk pestanya Ayah, Ibu." Daniel langsung kabur.
Daniel menemui para Tuan bangsawan, teman-teman nya di Akademi dulu. Tepat hari ini Daniel telah berulang tahun yang ke 20 tahun. Dia telah masuk usia Dewasa untuk menikah dan membangun keluarga, tapi sayangnya sosok Isabella masih belum bisa di terima oleh keluarga kekaisaran.
Daniel sendiri tidak bisa memaksa, dia harus tetap sabar dan memberikan pengertian pada Isabella. Karena selalu di didik menjadi penerus, Daniel akan kebingungan jika kehilangan tahta. Karena itu lah dia harus mempertahankan tahta itu tetap dalam genggaman nya.
Visual Elena Van Denilen
semangat othorrrr....moga sehat selalu 😘😘