NovelToon NovelToon
Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Cinta Yang Terjebak Dalam Jerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Dark Romance
Popularitas:371
Nilai: 5
Nama Author: Gitagracia Gea

Genre: Romance Drama


"Cinta seharusnya membuatmu merasa bahagia dan dihargai... bukan merasa terkurung dan tak berdaya."

Nara, gadis berusia 19 tahun yang penuh semangat dalam mengejar impian jadi desainer, merasa telah menemukan cinta sejatinya saat bertemu Reza – pria tampan dan cerdas yang selalu bisa membuatnya merasa spesial. Awalnya, hubungan mereka seperti dongeng yang indah: pelukan hangat, ucapan manis, dan janji-janji tentang masa depan yang indah.

Namun perlahan-lahan, warna indah itu mulai memudar. Reza mulai menunjukkan sisi lain yang tak pernah dilihat Nara: dia melarangnya bertemu teman-teman lama, mengontrol setiap langkah yang dia lakukan, bahkan menyalahkan Nara setiap kali ada hal yang tidak berjalan sesuai keinginannya. Setiap kali Nara merasa ingin menyerah, Reza akan datang dengan wajah menyesal dan meminta maaf, membuatnya berpikir bahwa semuanya akan baik2 saja.

Hingga saatnya Dito – teman masa kecil yang baru kembali setelah lama pergi – muncul dal

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gitagracia Gea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jerat Perbedaan Budaya Yang Malah Jadi Keunggulan

Proyek "Jembatan Kreatif Antar Generasi" mulai berkembang ke luar negeri – pertama kali ke Jepang dan Maroko. Rania dan timnya udah siap banget, tapi entah kenapa dari awal aja ada masalah yang bikin mereka jadi bingung dan sedikit kesel.

Di kantor kecil mereka di kampus Bumi Kreatif, Rania lagi ngomelin sendirian sambil liat chat grup timnya yang penuh dengan keluhan.

"Kok bisa ya begitu? Di Jepang kita mau ajak seniman origami tradisional sama anak muda buat kolaborasi, tapi mereka bilang ide kita 'terlalu bebas' dan nggak sesuai sama nilai-nilai tradisi mereka. Di Maroko lagi, seniman tenun tradisionalnya bilang kita terlalu fokus sama teknologi dan nggak menghargai proses yang butuh waktu lama!" ucap Rania sambil menepuk meja pelan.

Tiba-tiba Reza masuk dengan bawa bungkusan makanan khas Afrika yang baru aja dia bawa dari perjalanan. "Waduh Rania, wajah kamu kayak lagi nemuin hantu aja nih! Mau coba makan nyamnya dulu nggak? Makanan enak bisa bikin pikiran jadi jernih lho!"

Setelah makan beberapa suap, Rania cerita semua masalahnya sama Reza. Ternyata bukan cuma masalah nilai budaya aja – di Jepang, tim lokal mereka ada yang merasa diabaikan sama tim pusat dari Indonesia. Di Maroko juga, ada kesalahpahaman soal pembagian kerja dan siapa yang punya hak atas karya kolaboratifnya.

"Kita kayak lagi terjebak di jerat perbedaan nih Pak Reza," ucap Rania dengan wajah sedih. "Saya kira kalau tujuan kita baik, semua orang bakal langsung mau kerja sama. Ternyata bukan cuma gitu aja!"

Reza tertawa pelan. "Hehehe, kita juga pernah mengalami hal yang sama lho waktu pertama kali kerja sama ke luar negeri. Dito bahkan pernah kena salah paham sama seniman Peru sampai mau keluarin kata-kata kasar! Tapi kamu tahu nggak? Jerat perbedaan ini kalau bisa kita atuin dengan benar, bakal jadi keunggulan besar!"

 

CARANYA? JADI "PEJALANGA KREASI" YANG SANTUY AJA!

Alih-alih ngerencanain segala sesuatunya dari jauh, Reza ngajarin mereka buat jalanin cara yang lebih "hidup" – mereka harus langsung kesana, tinggal bareng sama komunitasnya, belajar budaya mereka dengan serius, dan nggak cuma kerja tapi juga main bareng!

"Kalau kita cuma datang sebentar dan langsung ngasih arahan, pasti bakal salah paham dong," ucap Reza sambil ngatur tasnya. "Yuk kita pergi aja ke Jepang dulu – saya juga pengen belajar origami dari masternya lho! Bukan cuma kerja, kita juga bisa ikutan festival lokal mereka, makan makanan khas, bahkan belajar bahasa sedikit-sedikit!"

Di Jepang, mereka tinggal di rumah seorang master origami bernama Oji-san Kenji yang udah lebih dari 70 tahun. Awalnya Oji-san Kenji agak cuek sama mereka, tapi pas liat Rania yang mau belajar cara lipat origami dari nol – bahkan rela kesusahan karena tangan belum terbiasa – dia mulai terbuka.

"Saya dulu kira kalian cuma mau pakai nama tradisi kita buat kepentingan sendiri," ucap Oji-san Kenji sambil ngajarin Rania lipat burung merpati yang rumit. "Tapi lihat kamu yang kerja keras belajar, saya tahu kalau kamu benar-benar menghargai apa yang kita punya."

Rania juga nggak cuma belajar origami – dia ajak Oji-san Kenji buat nyoba desain digital sama sekali. Awalnya Oji-san keberatan karena bilang "tangan saya udah terbiasa sama kertas, bukan sama layar". Tapi pas lihat hasil desain digital yang bisa mereka ubah-ubah dan bahkan jadi pola untuk baju atau aksesoris, dia jadi penasaran dan mulai mau coba.

"Keren juga ya!" teriak Oji-san Kenji saat berhasil bikin variasi origami digital yang bisa berubah warna. "Bisa jadi kita bisa buat kolaborasi – saya lipat origami tradisional, kalian ubah jadi desain digital yang bisa kita jual buat membantu anak-anak muda yang pengen belajar origami!"

 

DI MAROKO? MAKAN KUS-KUS BARENG SAMBIL NGOBROLIN TENUN!

Setelah sukses di Jepang, mereka lanjut ke Maroko. Kali ini mereka tinggal di sebuah desa kecil di pegunungan yang terkenal dengan tenun tradisionalnya. Awalnya juga kesusahan – perempuan desa yang jadi seniman tenunnya agak minder sama mereka yang dari kota besar dan punya gadget canggih.

Tapi Rania punya ide cerdas – dia ngajak mereka buat makan malam bareng sambil bikin karya seni bareng. Mereka masak kus-kus sama-sama, cerita tentang kehidupan masing-masing, dan tanpa mereka sadari udah mulai kerja sama.

"Saya dulu kira teknologi itu bakal bikin kita lupa cara kerja keras yang kita punya," ucap salah satu seniman tenun bernama Zahra. "Tapi pas kalian tunjukin kalau bisa bikin pola tenun kita jadi lebih kompleks dengan bantuan komputer, dan juga bisa bikin video tentang cara kita menenun buat diperlihatkan ke seluruh dunia, saya jadi ngerti kalau teknologi bisa jadi teman kita!"

Mereka akhirnya buat proyek kolaboratif yang unik – tenun tradisional Maroko yang motifnya dibuat dengan bantuan desain digital dari anak muda Jepang, dan hasilnya jadi barang yang banyak dicari di pasar global. Bukan cuma itu, mereka juga buat kelas daring yang bisa diakses sama anak-anak di daerah terpencil Maroko buat belajar tenun dari masternya.

Yang paling lucu adalah pas mereka ngobrol tentang bahasa – karena bahasa berbeda, mereka sering salah paham yang malah jadi bahan candaan. Misalnya waktu Rania bilang "saya suka tenunnya" tapi salah ucap jadi "saya suka kuda Anda", bikin semua orang ketawa terbahak-bahak.

"Kesalah pahaman kayak gini yang bikin hubungan kita jadi lebih erat lho," ucap Zahra sambil tertawa. "Kalau semua halnya lancar aja, rasanya kurang hidup kan?"

 

KEJUTAN DARI GENERASI BARU

Setelah sukses mengatasi masalah di Jepang dan Maroko, mereka balik ke Indonesia buat merencanakan ekspansi proyek ke negara lain. Tapi pas mereka sampai di kampus, ada kejutan besar yang menunggu mereka!

Anak-anak muda dari berbagai negara yang ikutan proyek sudah kumpul sendiri dan buat proyek baru – namanya "Jerat yang Jadi Jembatan". Tujuannya buat dokumenterin semua cerita tentang bagaimana perbedaan dan masalah yang dulunya jadi jerat, akhirnya bisa diubah jadi jembatan buat menghubungkan orang-orang.

Mereka buat buku, film dokumenter, dan bahkan acara jalanan yang penuh dengan seni jalanan, musik, dan tari dari berbagai budaya. Yang paling spesial adalah mereka buat patung besar yang terbuat dari bahan-bahan yang biasanya dianggap sampah, tapi dibuat jadi bentuk jerat yang tengah jadi jembatan.

"Saya dapet ide ini dari cerita Bu Nara tentang bagaimana mereka dulu terjebak di jerat masalah tapi bisa keluar dengan cinta dan kreativitas," ucap Hiro dari Jepang yang jadi salah satu penggerak proyek baru. "Jadi kita mau buktiin kalau jerat itu bukan selalu buruk – terkadang dia jadi jalan buat kita belajar dan tumbuh!"

Saat acara peluncuran proyek baru berlangsung, Nara, Dito, Reza, dan Rendra berdiri di belakang melihat anak-anak muda yang sedang bersemangat berbagi cerita. Rania datang ke mereka dengan senyum lebar.

"Terima kasih ya semua! Kalian ngajarin saya kalau jerat itu bukan hal yang harus kita takutin," ucap Rania. "Kalau kita bisa liatnya dengan hati yang terbuka dan cara yang kreatif, jerat itu bisa jadi hal yang bikin kita lebih kuat dan hubungan kita lebih erat!"

Dito mengangguk. "Itulah makna sebenarnya dari judul cerita kita Rania. Cinta itu memang seringkali terjebak di dalam jerat berbagai masalah – perbedaan, kesalah pahaman, bahkan konflik. Tapi yang penting adalah kita punya keberanian buat keluar dari jerat itu dengan cinta, bukan dengan kebencian!"

Malam itu mereka semua berkumpul di Kafe Kreatif yang sekarang udah punya dekorasi dari berbagai budaya dunia. Ada yang nyanyi, yang cerita, yang bahkan mulai menggambar bersama di dinding besar yang sengaja dibuat buat kolaborasi seni. Suasana penuh cinta dan kegembiraan, membuktikan bahwa cinta yang pernah terjebak di dalam jerat, kini sudah jadi jembatan yang menghubungkan seluruh dunia.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!