NovelToon NovelToon
Love Ribbon

Love Ribbon

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Romantis / Cintamanis / Romansa / Cintapertama / Idola sekolah
Popularitas:50
Nilai: 5
Nama Author: Marsanda Marsanda

Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Zea sakit

Zea berjalan menyusuri koridor sekolah dengan langkah yang dipaksakan ringan. Chacha dan angel mengikutinya dari belakang, sesekali saling pandang.

"Lo yakin bisa, ze?" tanya angel pelan.

Zea berhenti sebentar, lalu menoleh dengan senyum tipis yang terlalu dipaksakan.

"Bisa lah, cuma jaga jarak doang, bukan pindah planet."

Chacha menyipitkan mata. "Biasanya lo yang paling nggak bisa diam kalau ada kak leo lewat."

Zea mengangkat bahu. "Ya berarti sekarang gue lagi belajar diam."

Belajar diam.

Kalimat itu terdengar sederhana, tapi rasanya tidak sesederhana itu. Biasanya setiap melihat leo dari kejauhan, kakinya otomatis melangkah mendekat. Mulutnya otomatis mencari bahan untuk mengusik. Sekarang? Ia justru harus menahan diri agar tidak menoleh.

Tiba-tiba suara langkah sepatu terdengar dari arah berlawanan.

Refleks

Zea hampir menoleh, namun ia cepat-cepat mengalihkan pandangan ke papan pengumuman di sampingnya, pura-pura membaca sesuatu yang bahkan tidak ia pahami.

Leo lewat.

Aroma kopi samar bercampur parfum maskulin yang familiar menyentuh inderanya sesaat, dada zea berdebar tanpa izin. Jangan lihat, jangan sapa, jangan ganggu.

Beberapa detik setelah leo benar-benar menjauh, zea baru mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan.

"Lo lihat nggak?" bisik chacha.

"Lihat apa?" zea pura-pura tidak tahu.

"Dia lewat ze, biasanya lo udah teriak ‘kak leo!’ dari tadi."

Zea mendengus kecil. "Udah nggak zaman."

Angel mengamati wajahnya. "Lo nggak apa-apa?"

Zea tersenyum lagi. Kali ini lebih tenang, meski matanya tidak sepenuhnya sejalan dengan senyum itu.

"Gue cuma lagi nurunin level halu aja."

Mereka kembali berjalan.

Namun setelah berbelok di ujung koridor, zea tanpa sadar menoleh sedikit ke belakang.

Kosong, leo sudah tidak terlihat, entah kenapa ada rasa kecewa kecil yang menyelinap.

"Harusnya gue seneng, kan?" gumamnya dalam hati. “Dia nggak peduli, gue juga nggak ganggu, impas.”

Tapi kenapa rasanya seperti kalah?

Di kelas, zea duduk sambil memutar bolpoin di antara jarinya, pikirannya berantakan. Kalau dia memang nggak peduli, kenapa tadi dia sempat datang ke tribun? kalau memang biasa aja, kenapa tatapannya nggak sepenuhnya dingin?

Zea mendesah pelan lalu menepuk pipinya sendiri pelan.

"Stop mikir."

Ia membuka buku, memaksa fokus, satu halaman, dua halaman, lima menit.

Gagal.

Tangannya refleks mengambil ponsel, ia membuka Instagram. Profil leo muncul di layar, di bagian atas tertulis jelas mengikuti anda. Sudah sejak beberapa hari lalu.

Zea menatap tulisan itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, follow back itu sudah terjadi. Bahkan tanpa drama, tanpa komentar, tanpa pesan, hanya satu klik diam-diam. Ia membuka profilnya menggulir pelan, melihat beberapa foto, beberapa story highlight, jempolnya sempat berhenti di kolom pesan.

Kosong, tidak pernah ada DM.

Zea menghela napas pelan lalu mengunci ponselnya lagi.

"Bagus." gumamnya pelan. "Yaudah, segitu aja."

****

Sore harinya, zea duduk sendirian di kamar, mia meringkuk di pangkuannya. Jari-jarinya mengelus bulu putih lembut itu dengan ritme pelan.

"Mia…" bisiknya.

"Kalo gue berhenti, dia bakal nyari nggak ya?"

Mia tentu saja tidak menjawab.

Zea tersenyum tipis.

"Gue capek ngejar, sekarang biar dia yang ngerasain nggak ada gue."

Namun kalimat itu terasa lebih seperti penghiburan diri sendiri daripada keputusan yang benar-benar mantap.

Ia memejamkan mata sejenak, bayangan leo yang berhenti sebentar di lapangan tadi kembali muncul di pikirannya, tatapan yang tidak sepenuhnya dingin.

"Lo kenapa sih, kak…" gumamnya lirih.

Di sisi lain kota, mungkin di waktu yang hampir bersamaan, seseorang juga sedang memikirkan hal yang sama.

Dan tanpa mereka sadari, jarak yang sedang mereka ciptakan justru perlahan menarik benang tak terlihat di antara keduanya, membuat semuanya terasa semakin rumit.

Zea membuka mata.

"Oke." katanya pelan pada dirinya sendiri. “Besok mulai resmi, mode netral.”

Namun jauh di dalam hatinya, ia tahu satu hal, kalau Leo benar-benar tidak mencarinya, mungkin itu yang paling akan menyakitkan.

****

Pagi itu kamar zea terasa lebih sunyi dari biasanya.

Alarm ponselnya sudah berbunyi berkali-kali, tapi tidak ada gerakan berarti dari atas kasur. Zea masih meringkuk di bawah selimut, napasnya terasa berat, kemarin ia pulang lebih sore dari biasanya.

Seleksi klub basket ternyata jauh lebih melelahkan dari yang ia bayangkan. Lari keliling lapangan, sprint, latihan fisik tanpa jeda. Ia memaksakan diri menyelesaikan semuanya, tidak mau terlihat lemah di depan pelatih dan peserta lain, sekarang tubuhnya seperti balas dendam.

Zea membuka mata perlahan.

"Ah…" gumamnya serak.

Bahunya pegal, kakinya nyeri, pinggangnya terasa kaku. Saat ia mencoba duduk, kepalanya langsung berdenyut.

Ia menyentuh dahinya.

Panas.

Tok tok tok.

"Zea? Bangun nak?" suara mama terdengar lembut dari luar.

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian pintu terbuka, mama masuk lebih dulu, disusul raka di belakangnya.

Mama langsung mendekat ke kasur.

"Ya ampun, muka kamu pucat banget."

Zea mencoba tersenyum lemah. "Cuma pegel, ma…"

Mama menyentuh dahinya.

Ekspresinya berubah.

"Ini bukan cuma pegel, kamu demam." kata mama.

Raka menyilangkan tangan sambil memperhatikan zea yang masih duduk lemas.

"Lo kemarin pulang sore banget, habis seleksi langsung latihan lagi, kan? kakak liat lo latihan di lapangan basket belakang rumah."

Zea mengangkat bahu pelan. "Cuma nambah dikit doang kok kak, biar nggak keliatan lemah."

Raka mendengus.

"Lo sprint berapa kali?"

Zea terdiam sebentar. "Ya… beberapa kali."

"Push-up?"

"Lumayan…"

Raka menggeleng pelan. "Seleksi apa sampe lo kayak habis ditabrak truk?"

Papa yang baru saja lewat di depan kamar ikut berhenti dan masuk.

"Kenapa pagi-pagi udah sidang keluarga?" tanyanya santai, tapi langsung berubah serius saat melihat zea.

Papa ikut menyentuh kening zea sebentar.

"Ini panasnya tinggi."

Zea mendesah pelan. "Kemarin kan seleksi basket pa….mungkin kecapekan doang."

Papa langsung menatapnya khawatir. "Papa sudah bilang, jangan terlalu dipaksakan, tubuh kamu belum terbiasa latihan seberat itu. Papa juga sudah ingatkan, kalau sampai kamu kenapa-kenapa, lebih baik nggak usah ikut klub basket dulu."

"Ya masa aku berhenti di tengah-tengah, pa…" gumam zea pelan.

Papa tersenyum tipis. "Semangat boleh. Tapi badan tetap harus diajak kompromi."

Raka mengangguk. "Tuh kan, gaya banget kemarin, larinya kayak mau masuk tim nasional."

Zea melotot lemah. "Kak…"

Mama berdiri. "Sudah! zea nggak usah sekolah hari ini."

"Ma, nanti ketinggalan_

"Kesehatan dulu." potong papa tegas tapi lembut.

Mama keluar sebentar lalu kembali membawa air hangat dan obat penurun panas.

"Minum dulu."

Zea menatap obat itu dengan wajah tidak suka. "Pahit nggak?"

Papa terkekeh pelan. "Lebih pahit daripada kopi tanpa gula"

Zea langsung mengerutkan kening. "Papa"

Mama tersenyum kecil. “Minum dulu, nanti mama bikinin bubur.”

Dengan terpaksa zea menelan obat itu.

Beberapa jam berlalu.

Alih-alih membaik, panasnya justru belum turun, tubuhnya mulai menggigil ringan meski dahinya tetap panas.

Mama kembali mengecek suhu dengan termometer.

"Masih tinggi."

Papa langsung mengambil keputusan. "Kita ke rumah sakit, cek darah sekalian kalau perlu."

Zea membuka mata setengah sadar. "Ah… nggak usah segitunya…"

Mama mengusap rambutnya pelan. "Nggak ada salahnya memastikan, daripada mama kepikiran."

Raka sudah mengambil jaket.

"Ayo, kakak anter."

Papa menggeleng. "Biar papa yang nyetir, kamu siap-siap."

Zea mencoba duduk, tapi tubuhnya sedikit limbung, raka cepat-cepat menahannya.

"Hati-hati."

"Gue masih kuat…" gumam zea pelan, tapi suaranya jelas lemah.

Mama menyampirkan jaket ke bahunya.

Mobil keluarga zea pun perlahan keluar dari halaman rumah.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!