NovelToon NovelToon
The Silent Muse: Gilded Chains

The Silent Muse: Gilded Chains

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Duniahiburan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Model
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

Di dunia yang penuh dengan kilatan kamera, Alice Vane adalah satu-satunya hal yang nyata bagi Julian Reed. Namun, bagi Julian, mencintai Alice berarti harus mengawasinya dari kejauhan—sambil membenci setiap pria yang berani bernapas di dekatnya.
Alice adalah magnet. Dari penyanyi manis Sean Miller hingga rapper tangguh D-Rock, semua menginginkannya. Alice tidak pernah sadar bahwa setiap tawa yang ia bagikan dengan pria lain akan dibalas oleh Julian dengan lirik lagu yang menghujatnya di radio keesokan harinya.
Saat Julian mulai menggunakan diva pop Ellena Breeze untuk memancing cemburu Alice, permainan pun berubah. Di antara lagu sindiran, rumor palsu, dan kepemilikan yang menyesakkan, Alice harus bertanya pada dirinya sendiri: Apakah ia benar-benar pelabuhan bagi Julian, atau hanya sekadar inspirasi yang ingin dipenjara dalam sangkar emas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. The Crimson Thread of Jealousy

Lampu kristal di Grand Ballroom Metropolitan Museum of Art memantulkan cahaya yang menyilaukan, namun atmosfer di dalam limusin yang membawa Alice dan Sean terasa jauh lebih intim. Sean Miller, dengan setelan tuksedo beludru hitamnya, tampak tidak bisa melepaskan pandangannya dari Alice.

"Kau terlihat sangat menakjubkan malam ini, Alice. Gaun ini... seolah memang diciptakan hanya untukmu," ujar Sean, suaranya rendah dan tulus.

Alice tersenyum tipis, merapikan sarung tangan sutranya. "Terima kasih, Sean. Kau juga terlihat sangat tampan."

Sean tiba-tiba meraih tangan kanan Alice. Di pergelangan tangan yang halus itu, melingkar sebuah gelang tali merah sederhana yang sangat kontras dengan perhiasan berlian yang Alice kenakan. Sean menunjukkan pergelangan tangannya sendiri—gelang yang sama persis melingkar di sana.

"Terima kasih sudah memakainya malam ini," bisik Sean. "Aku tahu ini hanya tali sederhana, tapi bagiku, ini seperti janji. Kau tahu legenda benang merah takdir, kan?"

Alice sedikit menarik napas, merasa sedikit terbebani dengan intensitas Sean. "Sean, bukankah kita sudah sepakat? Kita jalani saja dulu pelan-pelan. Aku tidak ingin terburu-buru memberi label pada apa pun."

"Aku tahu, Al. Aku tidak memaksamu," Sean mengusap punggung tangan Alice dengan ibu jarinya. "Tapi aku ingin dunia tahu bahwa aku serius. Aku mencintaimu. Aku sudah menunggu momen ini sejak lama, jauh sebelum Julian Reed menyadari betapa berharganya kau."

Alice terdiam. Nama itu selalu berhasil menyentak sesuatu di dadanya. "Mari kita fokus pada malam ini saja, oke?"

"Apapun untukmu," jawab Sean sambil mengecup pelipis Alice tepat saat pintu mobil dibuka oleh petugas.

Begitu mereka menginjakkan kaki di karpet merah, Sean langsung melingkarkan lengannya di pinggang Alice dengan posesif. Ia tidak membiarkan ada jarak satu inci pun di antara mereka. Di dalam aula, musik klasik mengalun, namun mata Alice langsung tertuju pada meja utama.

Di sana, Julian Reed duduk seperti seorang raja yang sedang memimpin pengadilan yang membosankan. Ellena Breeze duduk di sampingnya, melingkarkan lengannya di lengan Julian dengan begitu erat, seolah takut pria itu akan melarikan diri.

"Abaikan mereka, Alice. Fokus padaku," bisik Sean tepat di telinga Alice, menyadari arah pandangan gadis itu.

Saat mereka berjalan menuju meja mereka, mereka harus melewati meja Julian. Sean sengaja memperlambat langkahnya. Ia mengangkat tangannya yang mengenakan gelang merah untuk merapikan rambut Alice, memastikan pergelangan tangan Alice yang juga mengenakan gelang serupa berada tepat di depan mata Julian.

Julian yang awalnya sedang menatap gelas sampanyenya dengan bosan, mendadak membeku. Matanya menangkap warna merah mencolok itu. Gelang yang sama. Simbol yang sama.

"Alice," sapa Julian, suaranya serak dan berat. Ia berdiri secara impulsif, mengabaikan tarikan tangan Ellena di lengannya.

"Julian," balas Alice singkat. Ia berusaha bersikap setenang mungkin, meski jantungnya berdegup kencang.

"Gelang yang bagus," desis Julian, matanya berpindah dari pergelangan tangan Alice ke arah Sean yang sedang tersenyum penuh kemenangan. "Sejak kapan kau menyukai perhiasan murah seperti itu?"

Sean tertawa kecil, melangkah maju sedikit untuk melindungi Alice. "Ini bukan soal harga, Julian. Ini soal makna. Sesuatu yang mungkin sulit dipahami oleh orang yang terbiasa hidup dalam sandiwara industri, kan?"

Rahang Julian mengeras. Ia menatap Alice dengan tatapan yang sangat hancur—campuran antara amarah, cemburu, dan penyesalan yang mendalam. "Kau benar-benar melakukannya, Alice? Kau benar-benar memilihnya?"

"Julian, sayang, sudahlah. Mereka hanya ingin cari perhatian," sela Ellena dengan nada sinis, mencoba menarik Julian kembali duduk. "Ayo, produser sedang memperhatikan kita."

Julian tidak bergerak. Ia mengabaikan Ellena sepenuhnya. Matanya berkaca-kaca saat melihat bagaimana Sean kembali merangkul pinggang Alice.

"Kita jalani hidup masing-masing sekarang, Julian," ucap Alice dengan nada yang terdengar sangat final, meski hatinya perih. "Kau punya Ellena, dan aku... aku mencoba untuk bahagia."

"Bahagia?" Julian tertawa getir, sebuah tawa yang terdengar sangat menyedihkan. "Kau pikir pria ini bisa membuatmu bahagia dengan gelang tali itu? Alice, aku bahkan tidak bisa bernapas melihatmu bersamanya."

"Cukup, Julian," Sean memotong tajam. "Ayo, Alice. Meja kita sudah menunggu."

Saat Alice berjalan pergi, ia sempat menoleh sekilas. Ia melihat Julian kembali duduk dengan bahu yang merosot. Ellena terus bicara di telinganya, tapi Julian hanya menatap kosong ke arah lantai. Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang begitu nyata hingga beberapa orang di sekitar mereka mulai berbisik-bisik.

Malam itu, kemegahan Gala tidak ada artinya bagi Julian. Setiap kali ia melihat warna merah di pergelangan tangan Alice dari kejauhan, ia merasa seolah ada belati yang ditusukkan ke jantungnya berulang kali. Ia sadar, dinginnya Alice malam ini bukan lagi sekadar sandiwara. Alice benar-benar sedang mencoba menghapusnya.

1
Ariska Kamisa
/Coffee//Coffee//Coffee/
umie chaby_ba
Ellena kepedean amat sih lo/Panic/
umie chaby_ba
Perkara gelang geh Jule Jule ..
cemburu bilang /CoolGuy/
umie chaby_ba
Julian nih... ngeselin ! /Speechless/
umie chaby_ba
Mulai merambah ke internasional nih ceritanya.../Doubt//Doubt//Doubt/
umie chaby_ba
wow internasional latarnya nih...
markicob baca...
se inter apa ya thor... /Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!