Sofia hamil anak dari Jabez suaminya namun Layla merebut kebahagian itu dari Sofia dengan mencuri Test Pack milik Sofia, dan Layla mengaku-ngaku bahwa dia lah yang hamil anak dari Jabez.
Mendengar kabar baik atas kehamilan Layla, tentu saja membuat Jabez menjadi senang karena selama ini, dia sangat mendambakan seorang anak untuknya sebagai penerus keturunan Gurita kerajaan perusahaan EZAZ RAYA.
Layla merupakan istri pertama dari Jabez Ezaz yang digadang-gadang semua orang untuk meneruskan garis keturunan keluarga Ezaz Raya.
Mampukah Sofia menjalani pernikahan ini bersama Jabez serta membuktikan pada semua orang bahwa Layla berbohong akan kehamilannya. Dan kembali merebut hati suaminya agar Jabez mencintainya lagi serta menendang kekuasaan Layla dari istana Alhambra.
Mohon dukungannya ya pemirsa yang budiman 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 KECANTIKAN YANG BERBAHAYA
"Apa yang Sofia inginkan dari saya?" tanya Layla lagi dengan suara yang waspada. "Dan mengapa dia membiarkanku hidup dan tidak mengungkapkan identitasku?"
Sorot mata Layla memandang dingin serta tajam menusuk ke dalam pandangan mata Riven kepadanya.
Riven membalas memandang Layla dengan mata yang serius. "Saya tidak tahu pasti apa yang Sofia inginkan, tapi saya percaya bahwa dia memiliki rencana yang lebih besar. Mungkin dia ingin menggunakan Anda sebagai bagian dari rencana untuk menghancurkan Jabez Ezaz," kata Riven dengan suara yang lembut.
Layla memandang Riven dengan rasa tidak yakin. Apakah dia hanya menjadi pion dalam permainan Sofia? Ataukah ada sesuatu yang lebih dari itu?
"Saya perlu bertemu dengan Sofia," kata Layla dengan suara yang tegas. "Saya perlu tahu apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang dia inginkan dari saya."
Riven mengangguk. "Saya bisa mengatur pertemuan antara Anda dan Sofia. Tapi Anda harus berhati-hati, Layla. Sofia tidak seperti yang Anda pikirkan," kata Riven dengan suara yang serius.
Layla memandang Riven dengan rasa tekad. Dia siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi. "Saya siap," kata Layla dengan suara yang tegas.
Layla tertawa dengan suara yang lembut, tapi ada sedikit kesan sinis di dalamnya. "Ha! Sofia tidak seperti yang saya pikirkan? Mungkin tidak ada yang seperti yang saya pikirkan di sini," kata Layla dengan suara yang penuh dengan ironi.
Riven memandang Layla dengan mata yang serius, tapi ada sedikit kesan senyum di bibirnya. "Mungkin," kata Riven dengan suara yang lembut. "Tapi Anda harus siap untuk menghadapi apa pun yang akan terjadi."
Layla mengangguk, masih tersenyum sinis. "Saya sudah siap," kata Layla dengan suara yang penuh dengan tekad. "Saya tidak takut dengan apa pun yang akan terjadi."
Riven memandang Layla dengan mata yang serius, lalu mengangguk. "Baiklah, saya akan mengatur pertemuan antara Anda dan Sofia."
Layla tertawa dengan suara yang keras dan menghina, "Ha! Pertemuan dengan Sofia? Saya tidak sabar untuk melihat apa yang dia katakan. Apakah dia akan memberitahu saya tentang kebaikan dan keadilan, ataukah dia akan menunjukkan wajah aslinya?" kata Layla dengan suara yang penuh dengan ejekan.
Riven memandang Layla dengan mata yang dingin, tapi tidak mengatakan apa-apa. Dia hanya menunggu Layla untuk melanjutkan.
Layla terus tertawa, suaranya yang keras dan menghina memenuhi ruangan. "Saya tidak sabar untuk melihat apa yang akan terjadi," kata Layla dengan suara yang penuh dengan tantangan.
Riven memandang Layla dengan mata yang dingin dan serius. "Baiklah, saya akan mengatur pertemuan itu. Tapi saya peringatkan Anda, Layla, Sofia tidak seperti yang Anda pikirkan. Dia memiliki kekuasaan dan pengaruh yang besar, dan dia tidak akan ragu untuk menggunakan apa saja untuk mencapai tujuannya," kata Riven dengan suara yang tegas.
Layla tertawa lagi, suaranya yang menghina masih terdengar. "Saya tidak takut dengan Sofia atau kekuasaannya. Saya sudah siap untuk apa saja yang akan terjadi," kata Layla dengan suara yang penuh dengan kepercayaan diri.
Riven memandang Layla dengan mata yang serius, lalu mengangguk. "Baiklah, saya akan mengatur pertemuan itu. Tapi jangan katakan saya tidak memperingatkan Anda," kata Riven dengan suara yang dingin. Lalu dia berbalik dan meninggalkan ruangan, meninggalkan Layla sendirian.
Layla memandang Riven dengan mata yang membara kemarahan. "Dasar pengecut!" teriak Layla dengan suara yang keras. "Kamu tidak berani menghadapi saya, kamu hanya berani mengancam dan memperingatkan saya. Apa yang kamu takuti? Apa yang kamu sembunyikan?" kata Layla dengan suara yang penuh dengan kemarahan.
Layla terus mengumpat dan marah, suaranya yang keras memenuhi ruangan. Dia merasa bahwa Riven tidak serius dalam membantu dia, dan bahwa Riven hanya ingin memanfaatkannya untuk kepentingannya sendiri.
Tiba-tiba, Layla berhenti berbicara dan memandang sekeliling ruangan dengan mata yang liar. "Saya tidak butuh kamu!" teriak Layla dengan suara yang keras. "Saya bisa menghadapi Sofia sendiri!"
Layla menghantamkan tinjunya ke dinding, membuat suara keras yang bergemuruh di ruangan. "Aargh! Mengapa semuanya harus seperti ini? Mengapa tidak ada yang mau membantu saya? Mengapa semua orang hanya ingin memanfaatkannya?" teriak Layla dengan suara yang penuh dengan frustasi dan murka.
Dia terus menghantamkan tinjunya ke dinding, membuat dinding itu bergetar. Air matanya mengalir deras, dan suaranya yang keras berubah menjadi tangisan yang memilukan.
"Mengapa saya harus melalui semua ini? Mengapa saya harus menghadapi semua kesulitan ini?" kata Layla dengan suara yang penuh dengan kesedihan dan keputusasaan.
Layla terus menangis dan menghantamkan tinjunya ke dinding, tidak peduli dengan rasa sakit yang dirasakannya. Dia hanya ingin melepaskan semua emosi negatif yang telah menumpuk di dalam dirinya.
"Aaaarghhh... !" teriaknya frustasi bercampur kebencian. "Aku benci kamu, Sofia ! Aku benci dirimu padahal kau hanya seorang selir di istana ini tapi mengapa kau selalu menang dariku, Sofia!"
Layla terus menghantamkan tinjunya ke dinding, kesal dan marah karena tidak bisa memahami bagaimana Sofia bisa mengenalinya padahal dia telah melakukan operasi plastik. "Mengapa kamu bisa mengenaliku? Saya sudah melakukan operasi plastik, saya sudah mengubah penampilan saya. Mengapa kamu masih bisa tahu bahwa saya adalah saya?" teriak Layla dengan suara yang penuh dengan kesal dan marah.
Dia merasa bahwa identitasnya telah terungkap, dan itu membuatnya merasa tidak aman. "Apa yang kamu tahu tentang saya? Apa yang kamu inginkan dari saya?" kata Layla dengan suara yang keras dan menuntut.
Layla terus marah dan kesal, tidak bisa memahami bagaimana Sofia bisa mengenalinya. Dia merasa bahwa dirinya telah dikontrol dan dimanipulasi, dan itu membuatnya merasa sangat tidak nyaman.
"Tidak...!" Layla menggeleng pelan dengan air mata terus menerus mengalir deras. "Mengapa ini terjadi padaku, apa kekeliruanku kali ini? Aku benci ini semua, ini tidak adil bagiku ! Kenapa aku selalu di kalahkan olehmu Sofia!"
Layla jatuh ke lantai, tubuhnya yang lemah tidak bisa menahan lagi beban emosinya. Dia menangis dengan suara yang memilukan, air matanya mengalir deras membasahi wajahnya. "Mengapa... mengapa semua ini terjadi pada saya?" kata Layla dengan suara yang terguncang, antara tangisan dan isak.
Dia merasa bahwa dirinya telah kehilangan kendali atas hidupnya, bahwa semua yang dia pikir dia tahu tentang dirinya sendiri telah terbongkar. Layla merasa sangat rentan dan tak berdaya, tidak tahu bagaimana menghadapi semua ini.
Tangisannya semakin keras, tubuhnya yang lemah berguncang-guncang karena isak tangis. Layla merasa bahwa dia tidak bisa menahan lagi semua emosi negatif yang telah menumpuk di dalam dirinya. Dia hanya bisa menangis, berharap bahwa semua ini akan berlalu suatu hari nanti.
Layla berteriak dengan suara yang keras dan penuh emosi, "AAAAAAAAAAAAAAARGH!!" Suaranya menggema di ruangan, membuat dinding-dinding terasa bergetar. Dia berdiri tegak, tangannya terangkat ke atas, dan matanya terpejam erat.
Teriakannya adalah ekspresi dari semua emosi negatif yang telah menumpuk di dalam dirinya, sebuah ledakan emosi yang tidak bisa ditahan lagi. Layla merasa bahwa dia telah mencapai titik batas, dan tidak bisa menahan lagi semua kesedihan, kemarahan, dan frustasi yang telah membelenggu dirinya.
Setelah beberapa saat, teriakannya mulai memudar, dan Layla jatuh ke lantai, kehabisan napas. Dia terdiam, tubuhnya yang lemah tidak bisa bergerak lagi.