NovelToon NovelToon
Aku Bukan Romeo Dan Kamu Bukan Juliet

Aku Bukan Romeo Dan Kamu Bukan Juliet

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Henny

Fiana Adams tak pernah menduga akan jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertemuan yang singkat di reuni sebuah SMA telah membuatnya terus memikirkan Arjuna Zefanya Tekins. Siapa sangka keduanya justru tak bisa dipisahkan sejak malam itu walaupun mereka harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga mereka adalah orang yang paling berkuasa dan paling bermusuhan sejak zaman dulu. Berbagai tantangan datang dan berusaha memisahkan keduanya. Sampai akhirnya keduanya berada di sebuah pilihan yang sulit. Mempertahankan cinta mereka atau menjaga nama baik keluarga.
Ceritanya di jamin sangat romantis dan bikin baper. Walaupun memang penuh dengan tantangan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Henny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Memulai Rencana

"Aku punya teman. Namanya dokter Edgar. Dia dokter ahli anastesi dan juga ahli dalam meracik obat. Walaupun memang apa yang ia lakukan belum diakui oleh badan pengawas pengobatan." kata Jelita.

"Kamu jangan gitu, gimana kalau berbahaya?" tanya Tita.

"Aku akan mengambil segala resikonya." kata Fiana membuat kedua sahabatnya terkejut.

"Fi......!"

"Aku sudah tak tahan harus berada dalam situasi seperti ini. Harus pura-pura tersenyum saat bersama pangeran. Aku tersiksa karena merasa mengkhianati suamiku." Fiana menatap kedua sahabatnya. "Besok, ajak dokter Edgar ke sini. Kebetulan aku akan berada di perpustakaan untuk mengerjakan tugasku. Jelita, menurut mu dokter Edgar itu layak dipercaya kan?"

"Aku percaya karena dia pernah menolong papaku. Kamu ingat kan dulu papaku pernah terlibat dalam proyek bodong yang membuatnya harus di penjara selama 5 tahun? Namun papaku sangat tersiksa berada di penjara. Dokter Edgar memberikan papa obat yang menunjukan bahwa papa mengidap kanker paru stadium 4. Akhirnya papa di rumahkan atas pertimbangan kalau penyakitnya bisa menulari siapa saja. Pada hal setelah papa keluar penjara, dokter memberikan penawarnya dan akhirnya papaku bisa sehat lagi." kata Jelita dengan sangat yakin.

"Aku percaya padamu, Jelita. Tapi apa yang akan terjadi setelah aku pura-pura mati?" tanya Fiana.

"Ini memang resiko yang sangat berat. Karena kita akan berhadapan dengan kerajaan. Namun kamu tahu kan hukuman di kerajaan ini? Siapa yang mati bunuh diri tidak akan diijinkan di kubur dalam kota. Dia harus segera dimakamkan tanpa ada upacara apapun. Dan tempat pemakaman khusus bagi yang mati bunuh diri adalah lembah hitam yang letaknya 200 km dari sini." kata Jelita lagi.

"Pada saat kamu sudah dikuburkan, maka kami akan menggali mayat mu lagi. Dokter akan memberikan penawarnya kepadamu sehingga kamu akan hidup kembali." kata Tita.

"Dan Arjuna?" tanya Fiana.

"Arjuna akan menyelesaikan hukumannya selama 6 bulan. Jangan memberitahukan kepadanya. Sehingga sandiwaranya akan semakin nyata. Lagi pula, dia tak akan menerima berita apapun di sana sebab di sana tak ada TV, internet atau alat komunikasi apapun. Nanti setelah ia bebas, kita akan memberitahukan kepada Arjuna tentang sandiwara ini. Arjuna dapat menyusul mu ke Amerika." ujar Jelita membuat Fiana menatap sahabatnya itu dengan dahi berkerut. "Kamu sudah memikirkan semuanya ini secara matang?"

Jelita mengangguk. "Karena aku tak ingin kamu menikah dengan pangeran Jeremi. Lelaki itu sudah membuat adikku patah hati sampai akhirnya adikku memilih pergi dari kerajaan ini. Dia bahkan sudah menyerahkan dirinya pada pangeran Jeremi. Ternyata dia hanya dipermainkan."

"Aku tahu kalau pangeran Jeremi seorang play boy. Namun aku tak menyangka kalau adikmu pernah menjadi korban." kata Tita dengan saja sedih.

Jelita menarik napas panjang beberapa kali. "Fiana berhak bahagia dengan lelaki yang dicintainya. Walaupun sebenarnya resiko yang akan kita hadapi terlalu besar, karena kita mendustai kerajaan."

"Makanya kita harus mengerjakannya dengan sangat hati-hati. Jangan percaya kepada siapapun juga." kata Fiana. Ada secercah harapan baginya untuk bisa keluar dari negara ini.

*************

Keesokan harinya, dokter Edgar bertemu dengan Fiana di perpustakaan kampus. Ternyata dokter Edgar adalah juga dosen di kampus ini sehingga mereka bertemu tanpa harus mengatur skenario.

Dokter Edgar adalah lelaki tampan yang menggunakan kaca mata. Usianya baru 35 tahun.

"Mengapa dokter mau menolong saya?" tanya Fiana. Keduanya berdiri diantara rak-rak buku. Perpustakaan siang ini sangat sepi.

Tita bertugas memperhatikan sekeliling sehingga bisa memberitahukan jika ada yang akan menuju ke arah lorong tempat Fiana dan dokter bertemu.

Edgar yang sedang berdiri membelakangi Fiana, pura-pura melihat deretan buku yang ada di depannya.

"Aku tahu bagaimana rasanya menikah dengan seseorang yang tak kita sukai. Bagaikan memakan buah pahit setiap hari. Makanya aku ingin menolong mu untuk bersama dengan kekasihmu."

Fiana tersenyum senang. "Apakah dokter bisa menjaga rahasia?" tanya Fiana sambil membuka lembaran-lembaran buku yang di pegangannya.

"Percayalah. Aku sangat membenci raja dan keluarganya."

"Apakah resiko dari meminum obat mati suri itu?"

"Mayatmu tidak boleh diawetkan. Penawar harus diberikan 16 jam setelah kamu dinyatakan meninggal."

"Jadi, aku harus melibatkan orang rumah jika ingin mayatku cepat ditemukan?" tanya Fiana.

"Ya. Orang itu harus menelepon rumah sakit tempat aku bekerja. Nanti aku sendiri yang akan datang melihat mayat mu."

"Terima kasih, dokter."

"Sama-sama." dokter Edgar pun lebih dulu keluar dari lorong itu sambil terus membawa sebuah buku. Ia memberikannya kepada petugas perpustakaan untuk dicatat sebagai buku pinjaman, setelah itu Fiana menyusul dan pura-pura duduk di salah satu meja sambil membuka laptopnya. Jantung gadis itu berdebar-debar karena takut ada yang mengenali mereka.

************

2 Minggu kemudian......

Semalam, Fiana sudah diberikan gelar bangsawan oleh raja. Seluruh orang menyambut dengan sukacita. Pangeran Jeremi semakin berani mencium Fiana di dahinya. Walaupun hanya ciuman pipi dan dahi, Fiana merasa sangat jijik. Ia terus membayangkan kekasihnya akan segera pulang dan memeluknya.

Rina sudah tahu rencana Fiana. Awalnya janda dari Jordy itu menolak karena takut dengan resiko yang ada.

Sudah seminggu ini Rina keluar dari mansion keluarga Adams dan kembali ke istana. Dia berencana akan pergi ke Perancis beberapa hari lagi.

"Selamat pagi mama....!" sapa Rina. 1 jam yang lalu Fiana sudah meneleponya dan mengatakan kalau ia akan segera meminum obatnya.

"Tumben datang ke sini pagi-pagi." kata Wulan sedikit menyindir karena sebenarnya ia tak setuju Rina akan pergi dengan membawa cucu mereka. Namun Wulan juga tak bisa berbuat apa-apa karena raja sendiri yang meminta agar Keluarga Adams mengijinkan Rina pergi membawa putranya.

"Aku membawakan beberapa kosmetik pesanan Fiana. Di mana dia?" tanya Rina.

"Ada di kamarnya. Sepertinya ia belum bangun."

"Aku menemui Fiana dulu ya, ma " pamit Rina lalu segera menaiki tangga menuju ke kamar Fiana.

Rina membuka pintu kamar sambil menahan napas. Saat pintu terbuka ia melihat tubuh Fiana sudah terbaring dengan wajah pucat. Ada darah yang mengalir di sudut bibirnya.

"Fiana......! Fiana .....!" panggil Rina sambil menggoyangkan tangan Fiana. Gadis itu diam tak bergerak. Rina melihat ada sebuah botol di samping tubuhnya dan juga ada surat yang sudah diletakkan nya di atas nakas.

Rina menarik napas panjang sebelum akhirnya berteriak panik. "Mama....papa....tolong.....!" teriaknya dari depan pintu kamar Fiana.

Wulan segera berlari menaiki tangga lalu diikuti suaminya dan Jerry.

"Fiana...anakku..Fiana....!" Wulan memeluk tubuh Fiana.

"Telepon rumah sakit cepat.....!" teriak Johny panik.

"Aku telepon." Rina langsung bergerak cepat sebelum Jerry yang melakukannya.

Dokter Edgar datang bersama tim medisnya. Ia segera memeriksa tubuh Fiana lalu menatap botol yang ada di samping tubuh Fiana.

"Dia sudah meninggal sekitar 2 jam yang lalu. Nona Fiana sepertinya meminum racun." kata Edgar.

"Tidak mungkin......! Tidak mungkin! Fiana tidak akan mempermalukan keluarga kita seperti ini. Tidak.....!" teriak Wulan.

Rina mengambil surat di atas nakas. "Mama, sepertinya ini surat yang ditinggalkan oleh Fiana."

Jerry langsung merampas surat itu dari tangan Rina.

Aku sangat mencintai Arjuna. Aku tak bisa bersama pangeran. Maaf, aku pergi dengan cara seperti ini. Aku sangat tersiksa karena kalian memaksa aku untuk bersama pangeran.

Jerry meremas surat itu dengan wajah merah menahan emosi. "Kamu sangat bodoh, Fiana!"

"Jangan laporkan ini sebagai kasus bunuh diri. Aku mohon padamu." pinta Johny.

"Maaf. Aku tak bisa melanggar aturan kerajaan." Kata dokter Edgar lalu segera menelpon pihak berwajib.

Berita kematian Fiana Adams karena bunuh diri segera diberitakan di semua media sosial. Pangeran Jeremi bahkan tak diijinkan datang ke rumah keluarga Adams karena ini adalah hal yang dikatakan sebagai aib terbesar.

Dokter Edgar sudah mengurus semuanya. Hanya keluarga inti saja yang diijinkan menghadiri pemakamannya.

Setelah Fiana dimakamkan, Wulan Adams langsung jatuh pingsan. Sedangkan Johnya Adams mendapatkan serangan jantung sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit.

Jelita dan Tita diijinkan untuk datang melayat saat semua keluarga sudah meninggalkan lembah hitam.

"Fiana, bertahan di sana ya? Tunggu saat kondisinya aman." kata Tita sambil pura-pura menaburkan bunga.

Jelita menelpon dokter Edgar. Dokter itu mengatakan kalau dia sudah meninggalkan obat penawarnya di dalam peti yang berisi mayat Fiana.

Malam semakin larut. Kedua gadis itu akhirnya mulai menggali kubur itu. Untungnya lubang yang dibuat tak begitu dalam. Setelah beberapa jam, peti Fiana akhirnya terlihat. Jelita dan Tita segera membuka peti itu dan mencari obat penawarnya. Mereka meminumkannya pada Fiana.

15 menit berlalu tak ada reaksi. Jelita kembali menelepon dokter Edgar.

"Bagaimana mungkin Faina belum bangun? Seharusnya obat itu sudah bereaksi 5 menit setelah diminumkan."

"Dokter, ini sudah lewat 15 menit." teriak Jelita panik.

"Maaf. Sepertinya teman kalian mengalami komplikasi serangan jantung saat meminum racun yang pertama."

"Maksud dokter?"

"Teman kalian sudah benar-benar mati."

"Tidak.......!" teriak Jelita sambil menangis pilu dan memeluk tubuh Fiana.

Dari jauh ada sepasang mata yang mengawasi kalian. "Akhirnya kamu mati karena kebodohanmu, Fiana." katanya lalu segera pergi.

Perempuan itu menemui dokter Edgar yang sudah menunggunya di lokasi tak jauh dari lembah hitam itu.

"Ini bayaranmu!" katanya.

"Terima kasih nona Deissy." kata Edgar lalu segera meninggalkan tempat itu dengan mobilnya.

***********

Deissy........😱😱😤😤

1
Liina Anjani Malick
ada apa ya aku jg bingung bang juna😔🤣
Liina Anjani Malick
makin ke sini makin k sono🤣 jd fiana udh meninggal bnrn😤
Syavira Vira
gemessss
Syavira Vira
lanjut
Gia Nasgia
oh ternyata Edgar dendam dgn orang tua Fiana karena Jordy menikung Edgar🤔 ehh si Juna candu🤭
tintiin21
semakin seru semakin penuh teka teki ini.... 😁😁😁😁
momAriqa
terlove love kak author ❤❤ lanjut kak 🤗🤗
Enny Olivia: makasi ya
total 1 replies
Gia Nasgia
Ihhh kak Hen ternyata kisahnya Arjuna and Fiana penuh teka teki🤭tetap cemungut 🫶💪
Gia Nasgia
Lah giliran Juna yg takut dgn Fiana ehh Diana😂
tintiin21
Dokter edgar masih tanda tanya bgt.. 🤔🤔🤔
tintiin21
ini namanya kado terindah Jun... 😁😁😁
Liina Anjani Malick
jadi gmn moms... 😤teka teki nya bnym syekali... aku udh pusing mikirin kehidupan ku eh jd ikut mikirin idup fiana... astagfirullah🤣
Enny Olivia: makasi tetap membacanya walaupun sudah pusing 😄😄🙏🙏
total 1 replies
Maria Kibtiyah
si edgar punya dendam ma siapa si
Syavira Vira
🥰🥰♥️♥️
Syavira Vira
semangat kak dilanjut 🙏💪👍🏻♥️
Liina Anjani Malick
diana = fiana ya moms😔
Syavira Vira
👍🏻👍🏻💪💪👍🏻♥️♥️♥️
Syavira Vira
lanjuttttt
Syavira Vira
lanjut
Gia Nasgia
Sepertinya Edgar punya rencana lain meskipun menerima rencana Dessy🤔berarti fix Fiana ,itu Diana🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!