Ini tentang sebuah perselisihan dua puluh Tahun lalu antara Atmaja dan Biantara
Mereka berperang pertumpuhan darah pada saat itu. Atmaja kalah dengan Biantara, sehingga buat Atmaja tak terima dengan kekalahannya dan berjanji akan kembali membuat mereka hancur, sehancur-hancurnya
Hingga sampai pada waktunya, Atmaja berhasil meraih impiannya, berhasil membawa pergi cucu pertama Biantara yang mampu membuat mereka berantakan.
Lalu, bagaimana nasib bayi malang yang baru lahir dan tak bersalah itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skyl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 20
Aruna melompat ke atas ranjang sehabis mandi. Sedangkan Kaivan masih berada di dalam kamar mandi.
"Ipan Una pakai baju sendiri, ya. Una bisa," teriak Aruna saat udah setengah jam Kaivan belum juga keluar dari kamar mandi.
Aruna mendekati lemari, mencari pakaiannya. Namun, dia tertarik oleh kemeja Kaivan yang berwarna biru muda.
Gadis itu mengambil kemeja Kaivan lalu memakainya.
"Wah..." Aruna memutar-mutar badannya di depan cermin.
Kemeja Kaivan besar di tubuhnya, tetapi panjangnya hanya sebatas paha Aruna.
"Ipan kok lama," teriak Aruna di depan pintu.
"Sebentar Aruna," teriak Kaivan dari dalam membuat Aruna bernapas lega, dia pikir terjadi sesuatu pada Kaivan di dalam sana.
Karena terlalu banyak aktivitas bersama mama mertuanya tadi membuat Aruna merasa lelah. Dia pun memilih untuk tidur.
Beberapa saat kemudian. Kaivan keluar dari kamar mandi dengan wajah yang sudah segar. Ia melirik ke ranjang, Aruna tertidur pulas dengan tubuh ditutupi selimut.
"Mama udah pergi belum, ya." Kaivan keluar dari kamar untuk memastikan mamanya masih ada atau sudah pulang.
"Nyonya besar sudah pulang dari tadi Tuan, Tuan besar yang menjemputnya," ucap bodyguardnya.
Kaivan hanya mengangguk saja, dia kembali ke kamar.
"Aruna bangun," pinta Kaivan. "Kamu belum makan, kita makan dulu baru kamu tidur," lanjut Kaivan.
"Ipan Una capek, Una mau tidur aja." Aruna membelakangi Kaivan.
"Perut kamu nanti sakit jika tidak makan, ayo bangun dulu."
"Ipan makan aja, Una enggak mau ih." Aruna semakin menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Kaivan menghela napas panjang, sulit sekali membuat gadis ini menurut. Akhirnya dia menyuruh pelayan membawa makanan ke kamar mereka.
Dia makan lebih dulu, jika menunggu Aruna mungkin ia akan mengalami sakit perut. Makanan bagian Aruna ia simpan di meja dekat sofa. Nanti gadis itu makan jika sudah bangun.
Kaivan ikut menaiki ranjang, tetapi tidak langsung tidur. Ia membuka laptopnya, mengecek laporan dari Denis.
Aruna memeluknya dari samping membuat Kaivan tersentak kaget. Ia menoleh ke arah Aruna yang masih tertidur pulas.
"Astaga! Kenapa dia memakai kemejaku," ucap Kaivan saat selimut itu tersingkirkan dari tubuh Aruna. Terlihat paha mulus Aruna yang tidak tertutupi apapun.
"Ujian apa yang kamu berikan kepadaku, Aruna." Kaivan mengacak kasar rambutnya. Baru saja dia menyelesaikan tugasnya di dalam kamar mandi tadi, sudah dibuat pusing kembali oleh tingkah Aruna.
Buru-buru Kaivan menyelimuti kembali Aruna, sebelum dia kehilangan kesabaran.
"Kalau kaya gini, saya tidak janji untuk tidak menyentuhmu di waktu terdekat ini, kamu yang memancing singa lapar." Kaivan menaroh laptopnya ke nakas lalu memandang Aruna.
"Punya istri cantik kaya gini rugi sekali untuk dianggurin." Kaivan mencium bibir Aruna berulang kali.
Tubuh Aruna ideal seperti gadis pada umumnya yang lagi memasuki masa subur. Kaivan jelas tergoda kalau diberi pancingan seperti ini dihadapannya.
"Ipan," gumam Aruna merasa terganggu dengan aktivitas yang dilakukan Kaivan pada tubuhnya.
"Ipan ngapain?" tanya Aruna pada suaminya.
"Ayo makan."
"Iya Una lapar, tapi Una malas gerak."
Kaivan mengancing kembali kemeja yang digunakan Aruna. Hampir saja kebablasan untung saja Aruna terbangun. Ia beranjak mengambil nampan di meja lalu kembali ke ranjang.
"Aa..." Aruna membuka mulutnya, Kaivan pun menyuapinya.
"Enak..."
"Ipan mama masih ada?"
"Udah pulang."
"Kok udah pulang? kok enggak nemuin Una dulu? Mama marah ya sama Una?" tanya Una berturut-turut pada suaminya.
"Kan tadi kamu tidur," ucap Kaivan seadanya.
"Tapi mama enggak marahkan sama Una?"
"Tidak Aruna, ayo makan lagi." Kaivan kembali menyuapi Aruna. Kaivan serasa mengasuh anak balita.
Setelah menghabiskan makan malam. Aruna bersandar di bahu Kaivan sambil menonton di ipad Kaivan. Sedangkan Kaivan menyelesaikan pekerjaan kantor.
Bukan sekedar nonton, kedua tangan Aruna terdapat dua snack, mulutnya tidak berhenti mengunyah.
Berapa kali gadis itu berganti posisi untuk menonton. Yang tadinya kepalanya bersandar di bahu Kaivan, kini kakinya berada di atas kaki suaminya dengan posisinya tengkurap.
Kaivan sempat berulang kali berdecak pelan dengan pergerakan Aruna yang menganggu fokusnya.
"Aruna diamlah."
"Una enggak nyaman," jawab gadis itu. "Ipan buat apa itu?" Merasa sudah bosan menonton, Aruna mengubah posisi duduknya di samping Kaivan.
"Kerja."
"Masih lama, ya?"
"Kenapa?"
Aruna hanya menggeleng, dia menaroh dagunya di lengan Kaivan.
Merasa istrinya hanya diam, Kaivan menoleh ke samping. Menatap mata bulat Aruna yang kini ikut memandangnya.
"Una bosan," ucap Aruna.
Kaivan menyuruh gadis itu duduk dipangkuannya, Aruna pun menurut.
"Besok kita keluar lagi mau?"
"Mau."
"Tapi kita terapi dulu, ya. Besok." Besok jadwal Aruna terapi kembali bersama psikolog.
Aruna tak jadi dipindahkan ke psikiater, Kaivan memilih untuk ikut membantu penyembuhan istrinya dengan memberi perhatian. Mungkin penyebab Aruna sering mengamuk karena merasa di abaikan, merasa jenuh, jika sendiri pikirannya kemana-mana hingga emosi. Dengan cara mengeluarkan seluruh isi pikirannya ya mengamuk.