Setelah lulus SMA, Syafana menikah siri dengan kekasihnya yang baru saja lulus Bintara TNI-AD. Sebagai pengikat bahwa Dallas dan Syafana sudah memiliki ikatan sah. Pernikahan itu dirahasiakan dari tetangga maupun kedinasan.
Baru beberapa hari pernikahan siri itu digelar, terpaksa Dallas harus mengikuti pendidikan selama dua tahun. Mereka berpisah untuk sementara.
"Nanti setelah Kakak selesai pendidikan dan masa dinas dua tahun, kakak janji akan membawa pernikahan kita menjadi pernikahan yang tercatat di secara negara," janji Dallas.
"Kak Dallas janji, harus jaga hati," balas Syafana.
Namun baru sebulan masa pendidikan, Dallas tiba-tiba saja menalak cerai Syafana. Syafana hilang kata-kata, sembari melepas Hp nya ke ubin, tangan Syafana mengusap perutnya yang kini sudah ditumbuhi janin. Tangis Syafana pecah seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Penemuan Yang Sangat Mencengangkan
Tes pertama telah usai, para calon siswa bintara yang sudah lolos tes pertama, diberi arahan sedikit untuk tes kedua yang akan dilaksanakan tiga minggu kemudian.
"Kalian yang lolos di tes pertama, kami harapkan rajin berlatih fisik maupun akademik. Semoga kalian sukses di tes berikutnya. Semangat." Salah satu panitia penyelenggara bintara memberikan sedikit ulasan agar para calon siswa bintara PK tahun ini berlatih dan punya semangat tinggi.
Ada senyum bahagia di balik tembok sebuah ruangan. Kapten Dallas menatap ke arah para calon bintara atau disingkat Caba, terutama pada sosok Sakala. Sebuah doa dan harap selalu ia panjatkan, agar Sakala lulus Caba PK tahun ini.
Meskipun Kapten Dallas belum bisa memastikan siapa Sakala sebenarnya dan apa hubungan dirinya dengannya. Namun, hati kecil Kapten Dallas berkata, seperti ada ikatan batin yang kuat antara dirinya dan Sakala.
"Hari ini, aku harus bisa mengikuti ke mana Sakala pulang. Mumpung masih siang dan aku tidak disibukkan dengan pendaftaran bintara kali ini." Hati Dallas girang, karena hari ini dia bisa mengikuti ke mana Sakala pulang.
Setelah mengikuti arahan, para calon siswa bintara dibubarkan. Mereka yang lolos akan kembali ke kesatuan Ajenxxx untuk tes selanjutnya tiga minggu kemudian.
Sakala merasa lega, ia melihat jam di tangannya. Sontak Sakala ingat akan pesan sang mama. Jika pulang tes masih siang, sang mama berpesan untuk menengok emak dan abahnya di kota Bdg.
Sakala menuju parkiran motor, setelah itu ia segera melajukan motornya meninggalkan pelataran kesatuan Ajenxxx menuju alamat emak dan abahnya.
Tidak mau ketinggalan, Dallas pun segera melajukan mobilnya dan keluar dari gerbang kesatuan. Ia berusaha mengikuti ke mana Sakala pergi.
"Harusnya tadi aku pakai motor menuju kantor, supaya bisa mengikuti Sakala lebih cepat," sesalnya merasa takut Sakala yang menggunakan motor tidak bisa ia ikuti.
Tapi sejauh ini Dallas bersyukur, motor Sakala masih bisa ia ikuti. Terlebih kini Sakala tiba-tiba saja menghentikan motornya di depan kios buah. Terlihat Sakala menuruni motornya dan membeli buah-buahan yang saat ini sedang musim.
"Sakala membeli buah, kira-kira dia mau ke mana setelah ini? Sepertinya dia tidak sedang menuju ke kota Cikaracak sesuai alamatnya sekarang." Dallas menajamkan penglihatannya menuju ke mana Sakala pergi, dia tidak ingin kehilangan jejak Sakala.
Dallas buru-buru menyalakan kembali mesin mobilnya dan mengikuti kembali motor Sakala yang mulai melaju.
Kini motor Sakala berbelok ke arah kanan, Dallas terus mengikuti jalan yang Dallas lalui. Lama-kelamaan Dallas seakan kenal jalan yang dilalui Dallas, seperti jalan yang sama yang Dallas lalui ketika ia menuju ke alamat rumah orang tua Syafana.
"Apakah aku tidak salah lihat? Sakala juga melewati jalan ini, jalan yang menuju ke alamat rumah orang tua Syafana. Aku tidak boleh kehilangan jejaknya, aku harus pastikan Sakala ke rumah siapa." Dallas masih terus berbicara sendiri dengan mata yang terus fokus pada motor Sakala.
Motor Sakala akhirnya berhenti di sebuah rumah. Rumah yang selama beberapa tahun setelah perceraiannya dengan Dista, sering ia kunjungi demi sebuah maaf dari Syafana maupun kedua orang tuanya.
"Aku tidak salah lihat, benarkah Sakala menuju rumah kedua orang tua Syafana? Jadi, Sakala merupakan anak dari Pak Syakir, bapaknya Syafana?" Otak Dallas masih berputar-putar tentang Sakala anak Pak Syakir dan Syafana yang sama-sama memiliki ayah yang bernama Pak Syakir.
"Kalau Sakala berkunjung ke rumah ini, itu artinya ...."
***
Setelah menemukan sebuah penemuan yang baginya sangat mencengangkan, Dallas segera pulang menuju rumah sang kakak. Dallas merasa harus segera melaporkan penemuan terbarunya kepada sang kakak, sebab selama ini sang kakak memang tempatnya curhat dan pengertian.
"Als, kamu? Bagaimana kabar hari ini?" Daisya menyambut kedatangan Dallas yang terlihat sedikit berbeda.
"Kamu terlihat lebih berseri daripada kemarin Als, ada apa nih? Apakah ada kabar baik?" lanjut Daisya penasaran.
"Ke mana Amira dan Lala, Mbak?" Dallas bukan menjawab, ia justru menanyakan dua keponakannya.
"Lala sebentar lagi pulang kuliah, kalau Amira baru saja bobo siang. Mas Ferdi masih belum pulang. Ayo masuklah, mbak punya makanan favorite buat kamu." Layaknya anak kecil, Dallas begitu senang saat sang kakak menawarinya makanan favoritnya.
"Sebentar, ya. Mbak mau ke dapur dulu." Daisya meninggalkan Dallas sejenak di ruang tamu. Daisya menuju dapur, di sana ia sudah disambut Bi Asti.
"Bi Asti tolong siapkan satu mangkok tomyam buat adik saya. Jangan lupa jus mangga tanpa gulanya satu, ya."
"Baik, Non," patuh Bi Asti segera melaksanakan tugas dari Daisya. Daisya kembali ke ruang tamu menghampiri Dallas.
"Als, makanan favorit kamu sedang disiapkan Bi Asti. Sekarang sambil menunggu makanannya, coba ceritakan apa yang mau kamu ceritakan ke Mbak. Sepertinya kali ini berbeda dari biasanya, ada bau-bau kebahagiaan," goda Daisya mencoba menebak.
Dallas mulai menceritakan penemuannya hari ini tentang Sakala, tanpa terlewat. Daisya manggut-manggut berusaha mencerna cerita Dallas.
"Jadi, Sakala pergi ke rumah orang tua Syafa? Apakah Sakala adiknya Syafa? Tapi, kenapa mukanya mirip banget sama kamu? Mbak jadi bingung," ujar Daisya menanggapi cerita Dallas mengenai penemuannya hari ini yang cukup mencengangkan.
"Itu dia Mbak, kalau Sakala memang adik kakak dengan Syafana, tapi kenapa wajahnya justru mirip banget dengan Als? Als sampai berpikir jangan-jangan Sakala adalah darah daging Als, tapi Syafana mendaftarkan Sakala ke dalam kartu keluarganya Pak Syakir," simpul Dallas.
Daisya termenung beberapa saat, diapun berpikir yang sama dengan adiknya. Menurut firasatnya, Sakala adalah darah daging Dallas yang dimasukkan ke dalam kartu keluarga ayahnya Syafana.
"Als merasa semakin bersalah, Mbak. Syafana sampai memasukkan Sakala ke dalam kartu keluarga ayahnya. Als berdosa sama mereka, terutama pada Sakala." Air mata Dallas kembali tumpah mengenang betapa menderitanya Syafana saat melahirkan dan membesarkan Sakala waktu itu.
"Kamu harus tenang Als. Sekarang kunci itu sudah mulai terbuka, tinggal kamu perlahan memasukinya dengan penuh kehati-hatian. Kamu mulai dekati Sakala, ambil hatinya dan buat dia simpatik padamu. Curahkan segala kasih sayangmu padanya. Tanpa ditanya, walaupun Sakala mengakui di dalam kartu keluarganya merupakan anak dari Pak Syakir, tapi Mbak yakin 1000 persen kalau Sakala adalah darah dagingmu," pungkas Daisya penuh keyakinan.
jejak dlu ka ya Lina, iklan mndarat salam dari Sebatas Istri Simpanan.. 🤗