Kehadiran sosok wanita cantik yang memasuki sebuah rumah mewah, tiba-tiba berubah menjadi teror yang sangat mengerikan bagi penghuninya dan beberapa pria yang tiba-tiba saja mati mengenaskan.
Sosok wanita cantik itu datang dengan membawa dendam kesumat pada pria tampan yang menghuni rumah mewah tersebut.
Siapakah sosok tersebut, ikuti kisah selanjutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pemeriksaan
"Sayang, jangan marah-marah, ini masih pagi dan itu hanya seorang anak kecil. " Dayanti menyambut Mahardika. Lalu menuntunnya ke meja makan.
Pria itu tak berkutik saat sang wanita menggeser kursi kosong dan memintanya untuk duduk. "Sarapanlah, aku sudah menyiapkan masakan yng lezat untukmu. " wanita itu membawa dua bola-bola crispy yang disiram dengan saus tiram pedas manis serta taburan wijen.
Lagi-lagi Mahardika tak dapat membantah. Ia melihat itu adalah bakso yang begitu menggiurkan dengan balutan tepung renyah dan gurih.
Sementara itu, Puteri yang melihat lumuran darah pada bola-bola crispy itu berjalan mundur dengan wajah pucat pasi.
Begitu juga dengan Yuli, ia melihat ada sesuatu yang janggal, namun tidak bagi Mahardika, ia tampak lahap dalam menyantap sarapannya.
Yuli mengajak anak perempuannya menjauh dari tempat itu, dan berniat membersihkan ruang tengah sembari mencuci yang menggunakan mesin.
"Bu, kenapa Om tadi makan bakso yang ada darahnya, ya? " bocah itu begitu sangat penasaran.
Yuli tersentak kaget, bagaimana mungkin ia dan gadis kecilnya dapat melihat keanehan tersebut, sedangkan Mahardika tidak?
Ia sangat bergidik membayangkannya bahkan ingin muntah, namun segera melupakan semua peristiwa itu dengan menyibukkan diri bekerja.
"Mungkin Puteri salah lihat, sudahlah, kamu main saja diruangan yang itu, dan jangn sentuh barang apapun, " pesan Yuli dengan nada penegasan, sembari menunjuk ke ruang keluarga tempat dimana untuk bersantai.
Gadis itu menganggukkan kepalanya dengan paruh. Meskipun ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan dari sang ibunda, Puteri memilih untuk menurut, karena ia takut ditinggal dirumah jika sampai melakukan kesalahan.
****
Polisi melakukan identifikasi pada jasad Jony dan lagi-lagi mereka dikejutkan oleh sidik jari milik Sutini yang menempel disana. Bahkan cairan wanita yang melekat di area selangka milik pria malang itu adalah milik Sutini.
Kali ini pihak kepolisian hrus bekerja keras karena kasus yang mereka hadapi sangat rumit.
"Periksa CCTV rumah sakit dan pastikan tidak ada yang merusaknya! " titah salah satu pimpinan yang menangani kasus pembunuhan berantai tersebut.
"Siap! Pak! " dua petugas penyidik berangkat ke rumah sakit dan berusaha menyelidiki CCTV, bahkan para perawat serta petugas polisi serta security yang bertugas shift malam itu tak lepas dari pemeriksaan.
Setelah memeriksa semuanya, tidak ada kejanggalan yang terjadi. Bahkan terlihat normal, dimana para petugas jaga terlihat menjalankan tugasnya dengan benar, dan Sutini berada di atas ranjangnya sedang tertidur pulas. Lalu bagaimana sidik jari tersebut dapat berada ditempat kejadian perkara?
Dua petugas penyidik membawa bukti rekaman CCTV yang memperlihatkan jika semua yang terjadi malam itu adalah hal normal, tidak ada yang mencurigakan dari Sutini.
Namun salah satu diantaranya mencoba memeriksa Sutini, namun wanita itu masih tertidur pulas dan dengkurannya terdengar sangat keras yang menandakan ia sedang lelap.
Nanti kita lakukan pemeriksaan lagi, dan biarkan ia tertidur dahulu, " salah satu diantaranya mengingatkan. "Sebab pesan ibuku, ada tiga saat yang tidak boleh diganggu dari seseorang, yaitu saat ketika sedang makan, saat sedang tidur, dan juga saat sedang ibadah, " ujar petugas penyidik itu, sembari menatap wajah Sutini yang tampak pulas.
Mendapatkan laporan yang bertentangan dengan bukti dilapangan yang tidak sinkron, tentu membuat kinerja para penyidik dipertanyakan. Mereka tidak ingin malu jika sampai tidak dapat menyelesaikannya dan institusi mereka akan dianggap tidak becus.
"Apa kesimpulannya, Pak? Apakah terduga Sutini adalah pelaku pembunuhnya?" Salah satu bawahan yang menangani kasus itu tampak begitu antusias untuk mendengarkan jawaban sang komandan yang yang ditunjuk sebagai pemimpin dalam memecahkan kasus ini.
Bayangan kenaikan pangkat akan sia-sia jika tidak dapat menyelesaikannya.
"Ada hal yang janggal sekali." Pria berseragam coklat itu menopang dagunya dengan jemari telunjuknya. "Bagaimana mungkin satu orang dapat berada didalam dua tempat secara bersamaan? Ini adalah hal yang mustahil! " ujarnya dengan perasaan yang campur aduk.
"Mungkin pakai ilmu menghilang, " ledek sangat bawahan dengan nada kelakarnya.
Sang komandan tidak menanggapi, ia. Masih sibuk untuk memecahkan kasus tersebut, sebab karirnya akan terancam jika tak juga menangkap pelakunya. Apakah ia harus mencari seseorang untuk dikambinghitamkan agar kasusnya tidak berlarut cukup lama.
Sementara itu, Jojo tiba disekolah dengan wajah pucat. Namun ia berusaha untuk menutupi semuanya. "Jo, wajahmu pucat sekali. Kamu kenapa? " tanya salah satu rekan yang merupakan tetangga dan juga teman bermain saat ia belum bekerja di warung kang Bakso.
"Hah! " Jojo tersentak kaget. Ia mengusap dadanya yang bergemuruh dan menatap wajah sahabatnya. "Kamu ngagetin saja! " omelnya dengan wajah kesal.
Hal tersebut membuat sang sahabat terpingkal saat melihat ekspresi Jojo yang terlihat begitu panik.
"Kamu ngelamunin apaan, sih? Cewek cantik yang kamu anterin malam itu? " ledek bocah itu dengan semakin puas membuat Jojo merasa terpojok.
"apaan, Sih! Gak lucu! " Jojo beranjak bangkit dari duduknya dijok motor, lalu meninggalkan parkiran dan menuju kelas.
Sahabatnya berlari kecil mengejar Jojo yang terlihat masih sangat murung dan juga pucat pada wajahnya.
*****
Sutini terbangun dari tidurnya. Ia menguap, namun tak dapat menggeliat, sebab ia sedang mengalami stroke dan tubuhnya tidak dapat digerakkan.
Akan tetapi, ia dikejutkan oleh dua orang penyidik kepolisian yang ternyata sudah duduk disamping ranjangnya dan menunggunya sejak tadi.
"Apa kabar, Bu Sutini? Bagaimana dengan tidurnya malam ini? " tanya penyidik dengan senyum yang sulit dimengerti.
Sutini mengerutkan kedua alisnya. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda dari pertanyaan pria berseragam coklat tersebut.
"Emmm, " jawabnya. Hanya itu saja yang dapat keluar dari mulutnya.
Penyidik sedikit repot dengan Sutini. Bahkan untuk bertanya saja mereka harus kesulitan. "Seperti biasa, anggukkan kepala jika jawaban ia dan gelengkan kepala jika tidak! " penyidik memberikan intruksi.
Penyidik mengambil foto Jony dan memperlihatkannya pada Sutini. "Lihat foto ini, apakah Bu Sutini mengenalnya? " tanya penyidik dengan wajah sangat serius.
Sutini menatap foto Jony, lalu dengan seksama memperhatikannya, dan ia menggelengkan kepalanya.
Penyidik menyimpan foto tersebut. Lalu mengambil benda lain yang merupakan penyanggah melon wanita dengan renda berwana putih gading. "Apakah bra ini milik, ibu Sutini? " penyidik kembali memperlihatkan benda tersebut.
Sutini merasa tidak pernah memiliki benda tersebut, sebab ia menyukai warna merah dan juga hitam. Namun apa tujuan Polisi bertanya seperti itu padanya?
Ayu Sutini menggelengkan kepalanya, sebab ia tidak merasa memiliki barang yang diperlihatkan oleh penyidik.
Lalu Petugas Polisi itu menyimpan kembali barang bukti yang ditemukan di tempat kejadian perkara, dan kali ini mengambil satu foto, lalu memperlihatkannya pada Sutini.
Sontak Sutini tersentak kaget dan menutup matanya karena tidak tahan melihat kengerian tersebut. Dimana seorang pria terlihat berlumuran darah dengan dua bola matanya yang menghilang.
Sutini menggelengkan kepalanya, dan ia sungguh merasa ngeri atas apa yang baru saja dilihat.
Kedua penyidik itu saling bertatapan, dan sepertinya mereka harus mencari bukti lainnya di tempat kejadian perkara yang mana akan membuat petunjuk bagi mereka dalam memecahkan kasus tersebut.
apa jangan-jangan kematian Dayanti itu ulah paman nya yaa ❓❓
ohh pasti yg bikin yanti jelek ya dia itu
hadehhh dasar