Sinopsis:
Choi Daehyun—penyanyi muda terkenal Seoul yang muncul kembali setelah 5 tahun menghindari dunia hiburan.
“Aku hanya ingin memintamu berfoto denganku sebagai kekasihku,” kata Choi Daehyun pada diriku yang di depannya.
Namaku Sheryn alias Lee Hae-jin—gadis blasteran Indonesia-Korea yang sudah mengenali Choi Daehyun sejak awal, namun sedikit pun aku tidak terkesan.
Aku mengangkat wajahnya dan menatap laki-laki itu, lalu berkata, “Baiklah, asalkan wajahku tidak terlihat.”
Awalnya Choi Daehyun tidak curiga kenapa aku langsung menerima tawarannya. Sementara aku hanya bisa berharap aku tidak akan menyesali keputusanku terlibat dengan Choi Daehyun.
Hari-hari musim panas sebagai “kekasih” Choi Daehyun dimulai. Perubahan rasa itu pun ada. Namun aku ataupun Choi Daehyun tidak menyadari kebenaran kisah lima tahun lalu sedang mengejar kami.
🌸𝐃𝐈𝐋𝐀𝐑𝐀𝐍𝐆 𝐊𝐄𝐑𝐀𝐒 𝐂𝐎𝐏𝐘
🌸𝐊𝐀𝐑𝐘𝐀 𝐀𝐒𝐋𝐈 𝐀𝐔𝐓𝐇𝐎𝐑/𝐁𝐔𝐊𝐀𝐍 𝐏𝐋𝐀𝐆𝐈𝐀𝐓
🌸𝐇𝐀𝐏𝐏𝐘 𝐑𝐄𝐀𝐃𝐈𝐍𝐆
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Olivia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Daehyun bolak-balik memutar kepala dan terus mencari. Tiba-tiba matanya terpaku pada sosok yang berdiri agak jauh dari kerumunan. Orang itu hanya mengenakan piama, berdiri menatap gedung yang dilalap api dengan pandangan kosong.
“Sheryn!” Daehyun berseru namun gadis itu tetap bergeming.
Rasa lega membanjiri dirinya ketika ia berlari menghampiri gadis itu.
“Sheryn…” Kini Daehyun sudah berdiri di samping Sheryn dan menyentuh lengannya.
Gadis itu menoleh dengan linglung dan Daehyun melihat wajahnya kotor karena asap. Ada sinar ketakutan di mata besarnya. Ketika Daehyun memegang lengan Sheryn, ia baru menyadari tubuh gadis itu gemetaran.
“Kau tidak apa-apa? Ada yang luka?” tanya Daehyun dengan nada khawatir sambil mengamati Sheryn dari atas ke bawah.
Gadis itu hanya mengenakan piyama tanpa alas kaki. Rambutnya tergerai kusut di bahu dan kedua tangannya meremas syal basah bermotif kotak-kotak hitam dan putih. Syal yang diberikan Daehyun kepadanya sewaktu acara jumpa penggemar dulu.
Sheryn mengangguk masih dengan raut wajah linglung. “Ya, aku tidak apa-apa,” sahutnya pelan. Daehyun mendengar suaranya juga bergetar.
Daehyun mengembuskan napas lega dan langsung memeluk gadis itu. “Syukurlah kau tidak apa-apa.”
“Aku tidak sempat membawa apa-apa,” gumam Sheryn.
Daehyun merenggangkan pelukannya dan menatap Sheryn yang sepertinya masih terguncang. “Tidak apa-apa. Asalkan kau selamat, itu sudah cukup. Ayo, ikut aku.”
Sheryn menurut dan membiarkan Daehyun menuntunnya ke tempat mobilnya ditinggalkan. Mata Sheryn terus terpaku pada api yang berkobar dan asap yang bergulung-gulung. Sepanjang perjalanan Sheryn tidak berbicara dan Daehyun juga tidak mengajaknya bicara.
Ketika akhirnya mereka tiba di rumahnya, Daehyun baru menyadari rumahnya terang benderang, pintu rumahnya lupa dikunci, dan televisinya lupa dimatikan karena ia begitu terburu-buru keluar rumah tadi.
“Kau duduk dulu di sini,” katanya sambil mendudukkan Sheryn di sofa.
“Aku akan mengambil minuman untukmu.”
Ketika kembali membawa secangkir teh hangat, ia melihat Sheryn menangis. Sepertinya kesadaran gadis itu sudah kembali sepenuhnya dan akibat guncangan tadi mulai terasa olehnya.
Daehyun meletakkan cangkir di meja, duduk berhadapan dengan Sheryn, lalu memandang khawatir gadis itu. “Ada yang sakit?”
Sheryn menggeleng-geleng sambil menghapus air mata dengan punggung tangannya. Lalu ia berbicara sambil terisak-isak. Dengan agak susah payah, Daehyun mendengarkan kata-kata yang tidak terlalu jelas karena diucapkan sambil menangis, tapi ia bisa menarik kesimpulan dari kalimat Sheryn yang kacau-balau.
Sheryn bercerita api itu berasal dari apartemen sebelah. Saat itu ia sedang menonton televisi lalu tiba-tiba merasa panas dan susah bernapas. Kemudian segalanya menjadi kacau.
Alarm tanda kebakaran berbunyi nyaring dan orang-orang berteriak. Ia panik dan hanya sempat berpikir harus mengambil sesuatu untuk menutupi hidung dan mulutnya. Ia pun menyambar syal pemberian Daehyun yang tergeletak di samping tempat tidurnya dan langsung berlari keluar dari apartemen.
Daehyun menyodorkan sekotak tisu kepada Sheryn dan gadis itu menerimanya. “Baiklah, aku sudah mengerti. Sudah, tidak apa-apa.”
Sheryn terlihat lebih tenang. Ia mengeringkan air mata dan membersihkan hidung. Lalu ia memandang Daehyun dengan cemas.
“Sekarang bagaimana?”
“Di sini banyak kamar kosong. Sebaiknya malam ini kau tinggal di sini dulu.” Daehyun menunjuk cangkir teh di meja.
“Minumlah. Masalah lainnya kita pikirkan besok saja.”
Sheryn mengangkat cangkir itu dengan kedua tangannya. Walaupun Sheryn masih agak tegang, Daehyun melihat tangan gadis itu sudah tidak gemetar lagi. Sheryn meminum tehnya pelan-pelan, lalu memandang piamanya yang kotor.
Daehyun berdeham. “Ibuku tidak meninggalkan pakaiannya di sini, tapi kalau kau tidak keberatan, aku bisa meminjamkan bajuku.”
Sementara Sheryn membersihkan diri dan berganti pakaian, Daehyun menelepon manajernya dan menceritakan apa yang terjadi.
“Baiklah, aku akan ke sana besok pagi,” kata Park Hyun-Shik sebelum menutup telepon.
“Syukurlah dia tidak apa-apa.”
Sheryn kembali ke ruang duduk ketika Daehyun menutup telepon. Daehyun tersenyum kecil ketika melihat penampilan gadis itu. Sheryn mengenakan kaus lengan panjang yang kebesaran untuknya, dan celana panjang yang ujungnya harus dilipat berkali-kali. Wajahnya sudah dibersihkan dan rambutnya basah karena baru keramas.
“Boleh aku pinjam teleponmu?” tanya Sheryn.
“Aku ingin menelepon temanku, Minjie. Aku tidak tahu dia sudah dengar tentang kejadian ini atau belum. Kalaupun sudah, aku hanya ingin memberitahunya aku baik-baik saja.”
“Tentu saja,” sahut Daehyun sambil menyodorkan telepon kepada Sheryn. Ia berjalan ke dapur untuk memberikan sedikit privasi, walaupun tentu saja dari sana ia masih bisa mendengar ucapan gadis itu
“Minjie... Ini aku,” kata Sheryn.
“Oh, kau sudah tahu? … Tidak, tidak, aku baik-baik saja. Kau tidak usah cemas… Sekarang?”
Daehyun menyadari Sheryn meliriknya sekilas.
“Emm… aku di rumah teman,” gumam Sheryn, lalu cepat-cepat menambahkan, “begini, Minjie, aku mau minta tolong. Aku boleh pinjam pakaianmu? Aku tidak sempat membawa apa-apa. Bahkan ponselku tidak sempat ku selamatkan… Besok pagi? Terima kasih banyak… Oh, alamatnya?”
Sheryn menyebutkan alamat rumah Daehyun dan setelah itu menutup telepon.
“Apa kata temanmu?” tanya Daehyun.
“Dia sudah tahu tentang kebakaran itu dan sudah berusaha menghubungiku sejak tadi. Katanya dia bisa meminjamkan pakaiannya untukku. Tadi dia menawarkan diri untuk mengantarkan pakaiannya ke sini. Kuharap kau tidak keberatan karena aku sudah memberikan alamat rumahmu kepadanya.”
Daehyun hanya mengangkat bahu. “Dia temanmu yang kau ceritakan itu, kan? Yang sudah tahu segalanya tentang kita? Kurasa tidak masalah.”
Sheryn mengangguk dan mengangsurkan pesawat telepon yang dipegangnya kepada Daehyun.
“Choi Daehyun ssi, bagaimana kau bisa tahu tentang kebakaran itu?”
Daehyun menerima teleponnya dan menunjuk ke arah televisi. “Dari televisi.”
Sheryn menatap Daehyun sambil tersenyum. “Kenapa rambutmu begitu?”
Tangan Daehyun langsung menyentuh kepalanya. Ia baru menyadari rambutnya acak-acakan. Ia baru ingat ia tadi sedang mengeringkan rambut ketika melihat berita kebakaran itu di televisi. Saking paniknya, ia langsung melesat keluar tanpa memikirkan penampilan.
Daehyun berdeham dan menyisir rambut dengan jari-jari tangannya. “Tadi baru keramas,” gumamnya tidak jelas, lalu kembali menyodorkan pesawat telepon yang dipegangnya kepada Sheryn.
“Masih ada yang ingin kautelepon? Orangtuamu?”
Sheryn berpikir sejenak. “Orangtuaku ada di Jakarta. Kurasa mereka tidak akan tahu tentang gedung apartemen yang terbakar di Korea. Aku juga tidak ingin membuat mereka khawatir. Lagi pula sekarang sudah larut sekali. Lain kali saja baru ku ceritakan kepada mereka.”
“Baiklah, terserah kamu,” kata Daehyun.
“Sebaiknya sekarang kau istirahat. Ayo, kuantar kau ke kamarmu.”
Ia membawa Sheryn ke kamar tamu di lantai dua. “Silakan,” kata Daehyun setelah membuka pintu kamar itu.
Sheryn mengangguk dan melangkah masuk. Ketika berbalik, Daehyun mendengar
Sheryn memanggilnya. Ia pun menoleh Sheryn berdiri di sana dengan tangan memegang pintu kamar yang terbuka.
"Terima kasih," katanya sambil tersenyum kecil.
“Untuk semuanya.”
Daehyun membalas senyumnya. “Selamat malam.”