Perbedaan kasta yang terlalu jauh membuat Dina hanya bisa menjadi wanita simpanan seorang CEO muda dan kaya, dapatkah ia hidup bahagia bersama irang yang ia cintai dan harapkan, meski semua menentang dan memisahkan Dina dan kekasihnya ?
Update seminggu 5x ya kalau lebih berarti aq lagi baik dan ada waktu lebih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cahaya_bintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perfect Holiday
Dina menyeret kopernya dengan kesal melihat Rey dan Rita berjalan berdampingan, sementara Dina hanya bisa melihat mereka dari kejauhan juga menggunakan kaca mata hitam agar tidak ketahuan oleh Rita. Tadi pagi Rey menjemput Rita agar mereka pergi bersama sementara Dina hanya bisa naik taxi dengan berat hati.
Andaikan ia tidak mencintai Rey dan ingin tau apa yang di lakukan kekasihnya bersama calon istrinya itu maka ia tidak sudi untuk ikut mereka liburan, dan menjadi pengutit yang hanya bisa melihat mereka, ingin sekali Dina memisahkan mereka, teringat kembali kejadian kemarin.
#Flasback on
"Aku memang akan pergi dengan Rita tapi aku juga akan mengajakmu". ucap Rey
" Apa kau gila Rey, bisa-bisanya kau mau pergi denganku juga dengannya, dimana kewarasanmu ?". Dina seketika marah dengan penjelasan Rey yang amat gila menurutnya.
"Memangnya kau mau aku pergi dengannya hanya berdua saja, kau tidak takut jika kami melakukan sesuatu yang...". ucap Rey menggantung dan melihat ekspresi Dina yang kini nampak marah, gelisah juga takut karena memang itu yang ia harapkan.
"Awas saja kalu kau macam-macam dengannya". Dina menunjuk muka Rey karena sangat marah hingga kini nafasnya naik turun, ia tak terima Rey pergi dan berdua dengan wanita lain.
"Aku dan dia hanya berdua saja di tempat yang jauh darimu, dan jika kami melakukan sesuatu kau pasti tak tau....". ucap Rey terpotong.
"Baiklah baiklah aku akan ikut denganmu". Dina tak tahan saat membayangkan Rey bersama wanita lain, dan mendengar jawaban Dina yang sesuai apa yang ia rencanakan sebelumnya, Rey menyunggingkan senyuman penuh kemenangan.
#Flashback off
Kini jika diingat Dina sangat menyesal mengapa ia ikut dan hanya menjadi menguntit diantara Rey juga Rita. Jika bisa ia ingin menarik kebali kata-katanya. Semua penumpang dengan tujuan ke Bali memasuki pesawat, sesekali Rey melirik Dina yang ada di belakangnya dan terlihat gadis itu sangat kesal.
Rey duduk di sebelah Rita sementara Dina duduk di belakang Rey. Kemudian Rey mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan untuk Dina guna mengecek keadaan gadis itu. Dina mendengar HP-nya berbunyi yang berada di saku bajunya, ia mengambil benda pipih tersebut dan segera ia lihat ternyata pesan dari Rey, kemudian membalasnya dengan kesal.
"Hei sayang apa kau baik-baik saja ?" ~ Rey
"Menurutmu ?" ~ Dina
"Kau kesal ?" ~ Rey
"Menurutmu ?" ~ Dina
"Apa kau tidak bisa menjawab selain menurutmu ?" ~ Rey
"Menurutmu ?" ~ Dina
"Baiklah aku mencintaimu" ~ Rey
"Aku membencimu" ~ Dina
"Aku menyayangimu" ~ Rey
"Aku ingin membunuhmu" ~ Dina
"Aku akan dengan senang hati mati setelah pelepasan di atas tubuhmu" ~ Rey.
Dina membelalakkan matanya membaca isi pesan Rey, dalam hati Dina ia merasa jika Rey sangat tak tahu malu dan bisa-bisanya ia mengatakan itu. Dilihatnya Rey didepan dan menoleh memperlihatkan senyum yang tampak menjijikkan bagi Dina, dan sebalnya lagi. "Bagaimana bisa ia sangat mencintai dan mau saja mengikuti lelaki itu". Fikirnya dalam hati.
"Kau sedang apa sih sampai senyum sendiri ?". Tanya Rita penasaran hingga ingin melihat isi HP Rey karena ia merasa diacuhkan dan Rey malah berfokus kepada hpnya saja, dan saat ia hendak mengintip terlebih dulu Rey menjauhkan Hp-nya.
"Kau tak perlu tau, ini tak ada hubungannya denganmu". ucap Rey tak suka kala Rita mengintip isi pesannya, jika Rita tau kalau ia sedang bertukar pesan dengan Dina maka akibatnya tidaklah baik, yang ada acara liburan ini akan berantakan dan lebih parah lagi akan mengadukannya kepada sang papa.
Dina melihat kedekatan Rey juga Rita yang tepat duduk didepannya, lalu segera mengirim pesan dan dibalas Rey.
"Mati saja kau " ~ Dina.
"Dengan senang hati sayang aku juga akan mengajakmu" ~ Rey.
Balas Rey dengan kekehan kala ia menoleh ke arah Dina dan terlihat sekali kekesalan wanita itu, kembali Rey mengetikkan pesan namun seorang pramugari mendekat dan berada di sampingnya.
"Maaf tuan pesawat akan segera take off mohon hp-nya dimatikan lebih dulu". Ucap pramugari yang ada di samping Rey, dan membuatnya kesal namun ia matikan juga hp-nya, walau sebenarnya ia masih ingin menggoda Dina.
Dina yang mendengar arah pramugari juga langsung menyimpan hp-nya karena jika pramugari itu menegurnya maka itu akan membuat Rita menoleh ke belakang dan membuatnya ketahuan.
Dina ketiduran selama perjalanan di pesawat, entah dia capek tubuh atau capek hati melihat Rey bersama Rita. Rey sesekali melirik dan menoleh ke belakang dan terlihat Dina sedang tidur dengan kaca mata hitam yang masih bertengger di matanya, ia sangat kasian dengan gadis itu, tapi mau bagaimana lagi dari pada ketahuan.
Rey merasa berat pada bahunya dan ia menoleh mendapati Rita yang juga tertidur dan menyenderkan kepalanya pada pundak Rey. Membuatnya jengah dan segera ia mengarahkan kepala Rita untuk menjauh darinya dan bersender pada jendela.
Cukup lama akhirnya pesawat landing, Rey membangunkan Rita dengan menepuk pipi wanita itu lumayan keras hingga membuatnya tersadar seketika. Dilihatnya Dina dibelakang juga sudah bangun walaupun masih menguap kecil.
******
Rey dan Rita kini sudah tiba dihotel yang dekat dengan pantai. Sedangkan Dina masih menunggu Rey di kafe yang berada dekat dengan hotel tersebut. Rita ribut di depan lobi membuat semua yang ada di sana menoleh ke arah sumber suara.
"Kenapa bisa kamar kita terpisah, aku kan sudah menyewa satu kamar untuk kita berdua". Ucap Rita meledak-ledak karena ingin satu kamar dengan Rey, padahal dia adalah gadis terhormat dengan pendidikan tinggi namun ucapan dan tingkah lakunya seperti seorang yang tidak pernah mengenyam pendidikan.
"Aku memang menyewa dua kamar, lagi pula kan kita belum menikah untuk apa satu kamar, dan kamar kita juga bersebelahan kau tak perlu khawatir sampai seperti itu". Jawab Rey jengah akan semua ini.
"Tapi aku ingin satu kamar denganmu, lagi pula kita juga sebentar lagi menikah". Rita masih kesal dan tak terima dengan kamar mereka yang terpisah, ia merasa tak ada masalah satu kamar apalagi mereka hendak menikah.
"Sudahlah jangan berdebat denganku aku tidak suka keributan lebih baik kita segera kekamar aku sudah lelah". Rey kini meninggalkan Rita dan masuk ke kamarnya diikuti Rita di belakang dan hendak masuk juga tapi tidak bisa karena lelaki itu segera menutup pintu dan menguncinya.
Dengan sebal Rita masuk kekamar tepat sebelah Rey dan menutup pintunya dengan kuat hingga terdengar suara bantingan pintu. Diintipnya dari lubang pintu ternyata Rita sudah tak ada lalu Rey bergegas menghubungi Dina.
"Sayang aku ada di kamar 811 ". Rey tersenyum saat mendengar ketukan di pintu dan saat diintipnya ternyata Dina, ia dengan segera membuka pintu dan hendak memeluk Dina namun, segera Dina menghindar tak ingin di sentuh oleh Rey.
"Jangan memelukku aku masih marah padamu". Dina kini melipat tangannya diatas perut dan melihat Rey dengan tatapan nyalang, malas akan rencana Rey yang sangat merugikannya.
"Baiklah aku minta maaf, yang penting kita bisa satu kamar kan dan lagi aku menjaga jarak dengannya". ucap Rey bersungguh-sungguh dan membuat Dina luluh. Karena sedari tadi ia mengikuti mereka yang ada hanyalah keributan dan Rey sangat menjaga jarak.
"Baiklah aku maafkan". ucap Dina membuat Rey menyunggingkan senyuman dan segera memeluk Dina dari belakanng.
"Terima kasih ya sayang, kita anggap liburan ini sebagai honeymoon kita bagaimana ? lagipula aku merindukanmu". Rey kini meregangkan pelukannya namun meraba Dina dan berusaha membuka kaitan gadis itu.
"Rey kau jangan macam-macam ya Rita ada di sebelah nanti dia dengar". ucap Dina seraya berusaha mencegah tangan Rey agar tak bertindak jauh.
"Kamar ini kedap suara, lagi pula aku sudah tak tahan". Kini Rey menggendong dan merebahkan tubuh Dina di kasur, segera setelah ia melepas gespernya lalu mengungkung gadis itu.
Kala itu mereka beradu desahan nafas, tak terfikir lagi dengan Rita yang ada di kamar sebelah, apalagi Rey yang masih asyik memasuki Dina. Keringat mereka bercucuran dan Dina sendiri seperti terhipnotis dengan permainan Rey. Hingga Rey tumbang karena kelelahan dan tanpa melepas penyatuan, ia tersenyum kala berhasil melakukan pelepasan di tubuh gadis yang ia cintai.
sehingga membuat dadakuu sakit.