Alya, seorang mahasiswi berusia 21 tahun yang tengah menempuh pendidikan di Universitas ternama di semarang. Tak pernah membayangkan hidupnya akan berubah begitu drastis, di usia yang seharusnya di penuhi mimpi dan kebebasan. Dia justru harus menerima kenyataan menjadi ibu sambung bagi dua anak kembar berusia enam tahun, lebih mengejutkan lagi. Anak-anak itu adalah buah hati seorang CEO muda yang berstatus duda, tanpa pengalaman menjadi seorang ibu. Alya di hadapkan pada tanggung jawab besar yang perlahan menguji kesabaran, ketulusan dan perasaannya sendiri. Mampukah dia mengisi ruang kosong di hati si kembar yang merindukan sosok ibu, dan di tengah kebersamaan yang tak terduga. Akankah perasaan asing itu tumbuh menjadi benih cinta antara Alya dan sang papa si kembar, atau justru berakhir sebagai luka yang tak terusap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yas23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Tubuh Alya seketika menegang ketika suara Dinda terdengar begitu jelas di telinganya. Bahkan kini, wanita itu sudah berdiri tepat di sampingnya. Si kembar yang menyaksikan pemandangan tersebut langsung terperanjat. Tanpa menunggu lama, keduanya segera menahan tangan Alya, khawatir jika Dinda benar-benar akan membawa ibu mereka pergi.
“Hai, menantuku tercinta.” ulang Dinda dengan senyum tipis yang sulit ditebak.
Air mata Alya sudah tumpah tanpa bisa ia bendung. Kepalanya ia gelengkan perlahan, seperti sebuah permohonan bisu agar Dinda berhenti, agar wanita itu tak menyakiti dirinya maupun si kembar. Namun Dinda tetaplah Dinda, sosok perempuan yang hatinya telah lama membatu, dikikis ambisi yang masih menyala dan tak pernah padam.
“Argh, jangan! Lepaskan aku, Ma! Lepaskan!” Alya menjerit histeris ketika tangan Dinda mencengkeram rambutnya tanpa ampun.
“Ibu!” jerit kedua anak kembar itu hampir bersamaan.
Serangan gerak Dinda yang cekatan dan penuh tenaga memaksa si kembar melepaskan Alya.
Dengan tenaga penuh, Dinda menarik Alya keluar dari persembunyian. Tangannya mencengkeram rambut Alya lebih keras, seolah tak peduli pada jeritan kesakitan yang keluar, apalagi rasa nyeri dari bekas jahitan yang kembali terasa menyiksa.
Niat si kembar untuk menolong sang ibu terhenti ketika tiga anak buah Dinda menahan tubuh mereka. Tendangan dan perlawanan yang mereka lakukan sia-sia, karena tenaga mereka tak sebanding dengan kekuatan anak buah neneknya itu.
“Ma, hentikan… tolong lepaskan aku. Ini sakit!” teriak Alya histeris.
Setiap sebutan mama dari Alya terasa seperti duri yang menusuk kesabaran Dinda.
“Siapa yang memberimu keberanian memanggilku mama?” suara Dinda meninggi, tajam dan penuh amarah.
Dengan dorongan keras, Dinda membuat Alya tersungkur, dadanya naik turun menahan emosi yang meluap.
“Rupanya kau memang keras kepala. Aku sudah memintamu menjauh dari anakku, tapi kau menganggapnya tak lebih dari angin lalu.” bentak Dinda lantang.
Tangis Alya pecah tanpa bisa ditahan. Rasa sakit di kepalanya belum reda, namun yang paling menyakitkan adalah kata-kata itu, ucapan yang tak pernah ingin ia dengar seumur hidupnya.
“Aku tidak ingin mengulanginya.” ucap Dinda pelan. “Pergilah dari hidup Romeo. Kau tak pantas berdiri sejajar dengannya.”
“Tidak! Ibu tidak boleh pergi!” teriak Selina keras, suaranya pecah oleh ketakutan.
Dinda yang mendengar ucapan itu tak mampu menyembunyikan kekesalannya. Rahangnya mengeras, napasnya tertahan sejenak, lalu dengan langkah tegas ia menghampiri kedua cucunya yang berdiri di hadapannya.
“Sudah, kalian tidak perlu bicara apa-apa.” ujar Dinda lembut namun mengandung tekanan.
“Cucu-cucu nenek yang manis, nenek paling tahu apa yang terbaik untuk kalian berdua. Diam saja dan jangan ikut mencampuri urusan nenek.” Ia lalu menunduk sedikit, menyunggingkan senyum yang terlihat hangat namun terasa palsu. “Nanti nenek belikan es krim, ya.” bujuknya, manis di luar, licik di dalam.
“Tidak! Nenek jahat! Jangan bawa ibu kami! Kami benci nenek!” teriak si kembar serempak, suara mereka bergetar menahan tangis.
Kesabaran Dinda akhirnya runtuh karena ulah si kembar. Ia sudah terlalu lelah berpura-pura ramah dan lembut pada cucu-cucu yang tak pernah benar-benar ia sayangi. Kini, rasanya kedua bocah itu memang perlu diberi pelajaran.
“Bawa mereka ke mobil dan ikat. Aku tidak mau ada kesalahan. Jika mereka kabur, kalian yang menanggung akibatnya.” Dinda menatap tajam dua anak buahnya.
“Baik, Nyonya.” jawab kedua anak buah Dinda serempak. Mereka segera bersiap mengangkat si kembar, meski jelas membutuhkan tenaga lebih untuk melakukannya.
Si kembar tak berhenti melawan. Mereka meronta liar, bahkan salah satunya menancapkan gigi ke telinga anak buah nenek mereka hingga pria itu menjerit kesakitan. Belum cukup sampai di situ, jari-jari kecil mereka bergerak nekat, mencoba mencederai mata lawan. Tindakan brutal itu seketika membakar amarah anak buah Dinda, membuatnya kehilangan kendali.
Menyaksikan kejadian itu, Alya langsung memutar otak. Pikirannya berpacu, mencari cara agar ia dan si kembar bisa lolos dari cengkeraman Dinda. Pandangannya lalu tertumbuk pada sebuah tongkat bisbol yang tergeletak di sudut ruang kerja Romeo. Tanpa membuang waktu, Alya bergegas ke sana, meraih benda itu dengan napas memburu.
Dinda sempat lengah. Ia baru menyadari bahwa Alya kini memegang sesuatu yang bisa menjadi senjata untuk melawannya. Tanpa diduga, perempuan yang selama ini ia anggap lembut dan penurut itu justru mengayunkan tongkat bisbol ke arah kakinya. Benturan keras membuat Dinda tersentak. Alya menggenggam tongkat itu erat, berharap serangan mendadaknya akan memaksa anak buah Dinda melepaskan si kembar, setidaknya memberi mereka kesempatan untuk lolos.
Dan firasat itu terbukti. Dua anak buah Dinda yang tengah kewalahan menahan si kembar yang terus meronta tiba-tiba tersentak, terperanjat oleh teriakan Dinda yang menggema tajam di seluruh ruangan.
“Brengsek… menantu tak tahu diri!” Dinda memaki serak sambil ambruk ke lantai, tangannya gemetar menahan kaki yang terasa nyeri. “mati saja kau, Alya!”
“Nyonya Dinda!” seru kedua anak buah itu hampir bersamaan, nada panik langsung terdengar jelas.
Tubuh Alya gemetar hebat. Di dalam batinnya, ia terus melantunkan doa dan permohonan ampun kepada Tuhan atas dosa dan kejahatan yang terpaksa ia lakukan. Alya tahu ia tak memiliki pilihan lain, ini satu-satunya jalan agar anak sambungnya dapat dilepaskan dari cengkeraman anak buah mertuanya.
Si kembar yang akhirnya berhasil melepaskan diri dari cengkeraman dua anak buah neneknya, spontan meraih stik golf milik Romeo yang tergeletak tak jauh dari mereka. Dengan sisa tenaga dan amarah yang membuncah, keduanya menghantam tubuh para anak buah Dinda berkali-kali. Bahkan tanpa mereka sadari, ayunan itu sempat mengenai kepala salah satu dari mereka.
Dua pria bertubuh kekar itu menjerit menahan perih. Niat awal mereka untuk membela sang bos justru berbalik menjadi penderitaan bagi diri sendiri. Dinda yang menyaksikan pemandangan itu langsung diliputi amarah. Rasa nyeri yang luar biasa menjalar di kakinya, membuatnya tak mampu bangkit meski hanya untuk berdiri.
Alya segera berlari mendekati si kembar dan ikut melampiaskan amarahnya, menghantam dua pria bertubuh kekar itu tanpa ragu. Sementara itu, Dinda perlahan mengerahkan sisa tenaganya, menahan rasa sakit yang mendera, bersiap membalas semua yang telah dilakukan Alya.
Di saat perhatian Alya sepenuhnya teralihkan, Dinda memanfaatkan kelengahan itu. Dengan langkah tertahan dan nyaris tanpa suara, ia bergerak mendekati meja kerja milik Romeo. Pandangannya tertambat pada sebuah gunting yang tergeletak di sana. Sudut bibirnya terangkat tipis, dalam benaknya, benda itu bisa menjadi jalan untuk menyingkirkan Alya selamanya.
**********
Sementara itu, Romeo masih terjebak di bandara dengan perasaan tak menentu. Penerbangannya mendadak ditunda hingga empat jam, membuat dadanya terasa sesak oleh kegelisahan. Ia sempat terpikir untuk beralih ke maskapai lain, namun sialnya tak ada satu pun jadwal yang sesuai dengan waktu yang ia butuhkan. Sejak tadi, Romeo hanya mondar-mandir tanpa tujuan jelas di lounge maskapai yang akan ia naiki, pikirannya kacau dan firasat buruk terus menghantuinya.
“Lo kenapa, Rom? Duduk dulu. Dari tadi mondar-mandir nggak jelas, kalah setrikaan sama Lo juga.” seru Satria kesal, jengah melihat Romeo yang tampak panik tak karuan.
“Entah kenapa, gue ngerasa nggak enak.” akhirnya Romeo meluapkan perasaan yang sejak tadi ia tahan.
"Perut lo sakit, ya?" Satria menebak sambil terkekeh.
"Bukan, Setan. Ada yang bikin gue resah, tapi gue nggak ngerti apa." kata Romeo dengan nada kesal.
"Bos setan lo! Sesuka lo aja manggil gue setan." geram Satria tak kalah kesal.
"Apa gue coba telpon Alya, entah kenapa gue merasa nggak tenang." ucapnya lagi.
Satria menangkap keseriusan di wajah Romeo, kali ini, pikirannya tampak sungguh-sungguh. Tanpa ragu, Satria pun sependapat dengan keinginan Romeo untuk menghubungi Alya.
"Gimana, nggak diangkat, ya?" Satria bertanya penasaran, matanya mengikuti gerakan tangan Romeo yang terus mengutak-atik ponselnya.
"Nggak diangkat. Gue coba telpon rumah aja dulu." serunya lagi.
Sayangnya, tak ada satu pun panggilan yang dijawab. Romeo pun mencoba menghubungi pos keamanan rumahnya, namun hasilnya tetap sama, tidak ada seorang pun yang mengangkat telepon.
"Rom, kenapa nggak coba hubungi Arlo? Kan dia pengawal utama yang jagain rumahmu." usul Satria dengan cepat.
"Ah, iya… gue kelupaan, harusnya gue telpon Arlo dari tadi." kata Romeo seraya menghela napas.
Romeo segera menghubungi Arlo, pengawalnya yang setia. Sayangnya, setelah empat kali mencoba menelepon, tak satupun panggilan berhasil tersambung.
Kecemasan merayap perlahan ke setiap sudut hati Romeo, membuatnya nyaris tak bisa bernapas.
"Kenapa nggak diangkat juga, ya? Sialan… pasti ada yang nggak beres." gerutu Romeo sambil frustrasi.
Melihat paniknya Romeo, Satria tiba-tiba teringat sesuatu. CCTV di rumah Romeo bisa ia pantau langsung lewat laptop kerja miliknya. Entah kenapa, hatinya yakin cara itu akan mengungkap jawaban yang saat ini ia cari.
"Rom, Lo harus liat ini." ujar Satria, nadanya tersendat seperti menelan kata-kata.
Menyadari pentingnya hal itu, Romeo segera melangkah mendekat dan meraih laptop itu dari tangan Satria.
"Sial, Alya dan anak-anak dalam bahaya!" teriak Romeo, suaranya penuh kepanikan.
"Tante Dinda berbahaya, Rom! Alya diseret paksa olehnya." ujar Satria.
Tanpa menunda sedikit pun, Romeo dan Satria segera berangkat kembali ke rumah. Perjalanan bisnis kali ini ia putuskan untuk dibatalkan begitu saja, tanpa peduli komentar para petinggi saham nanti. Baginya, yang paling penting sekarang adalah keselamatan sang istri dan kedua buah hatinya.
Sementara itu, Edgar yang menerima pesan dari Bi Dewi segera bergerak, membawa pengawal dan beberapa anggota. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Tante Dinda akan seberani itu, selalu mencari kesempatan sempurna untuk menyerang Alya.
Saat ini, Edgar sedang dalam perjalanan menuju rumah Romeo. Perjalanan itu memakan waktu cukup lama, sekitar tiga puluh menit, karena ia harus mengawal rombongan lengkap pengawal dan anggota kepercayaannya.
Kembali pada Romeo, ia mengebut mobilnya dengan kecepatan tinggi. Satria terpaksa memegangi pegangan di atas pintu agar tidak terhuyung ke sana-sini akibat gaya mengemudi Romeo. Meski Satria dikenal pemberani, menghadapi ulah Romeo membuatnya cukup merasa takut.
“Ya Allah… selamatkan kami. Jangan biarkan hamba Mu yang belum menikah ini celaka.” ucap Satria pelan di dalam hati.
Romeo tak peduli lagi pada apapun. Ia menekan pedal gas hingga mobil melaju kencang. Biasanya perjalanan dari Bandra ke rumah memakan waktu dua jam, tapi Romeo berharap bisa sampai di tujuan kurang dari satu jam.
**********
Kembali ke ruang kerja Romeo yang tegang, Dinda mendekati meja dengan langkah hati-hati. Tangannya menjulur ke arah gunting yang tersimpan di antara alat tulis Romeo. Dia berusaha secepat mungkin, tapi tetap diam, tak ingin menarik perhatian si kembar maupun Alya. Jika saja gagal, rencananya akan berantakan.
Dua anak buah Dinda kini terkapar tak sadarkan diri. Sikembar menggigit telinga mereka dengan ganas, nyaris merobeknya, sementara darah mengalir deras dari sela-sela telinga pria-pria berbadan kekar itu. Kesalahan mereka hanyalah satu, tak berani menyakiti anak kecil sesuai perintah Dinda. Karena itu, mereka hanya menahan sakit tanpa mampu membalas serangan si kembar.
Kini, gunting itu sudah tergenggam erat di tangan Dinda. Senyum licik terlukis di wajahnya, pikirannya dipenuhi bayangan sekali tusuk tepat ke dada atau bekas luka Alya, dan yakin itu akan mengakhiri nyawa lawannya. Dinda merasakan keyakinan yang membara, seolah tak ada yang bisa menghentikannya. Perlahan, ia merangkak mendekat ke arah si kembar dan Alya, setiap gerakan dipenuhi niat jahat yang siap dijalankan. Namun...
Brak!
Pintu ruang kerja Romeo terbanting terbuka. Alya dan si kembar spontan menoleh, menyadari kedatangan seseorang, dan bukan sendiri, tapi bersama rombongan yang jumlahnya banyak. Ya, Edgar datang tepat waktu. Tanpa ragu, dia menyerbu ke arah Dinda, merengsek dengan tenaga penuh. Dalam sekejap, gunting itu berhasil direbut dari genggaman ibu sahabatnya. Kekuatan Dinda tak main-main, membuat Edgar terpaksa menggunakan sedikit kekerasan agar senjatanya bisa diamankan.
Krak!
"Ahhh!" teriak Dinda, tubuhnya menegang ketika sendi pergelangan tangannya terdengar seperti retak keras.
Edgar tak punya pilihan selain bertindak, karena Dinda menahan gunting itu erat-erat, bahkan mencoba mengarahkannya ke arahnya, memaksa Edgar untuk melindungi dirinya sendiri.
“Maaf, Tante Dinda.” ucap Edgar, namun siapa sangka, saat kata itu keluar, satu matanya justru menyipit nakal ke arah Dinda.
Gunting itu terlepas, dan Edgar melemparkannya ke arah jendela. Dengan cepat, dia menahan tangan Dinda dan menguncinya dengan borgol. Entah darimana dia mendapatkan borgol itu, hanya Edgar yang tahu.
Dinda meradang, rencananya tergagalkan lagi kali ini. Dia tak pernah menyangka bahwa seseorang akan mengetahui strateginya.
“Om Edgar!” teriak kedua si kembar bersamaan, suara mereka serentak menggema.
Alya tampak kacau, wajahnya memerah bekas tamparan Dinda yang sempat menghujam. Sudut bibirnya luka, rambutnya acak-acakan, dan jahitan di kepalanya mulai mengeluarkan darah, membuat Edgar merasa cemas luar biasa.
"Alya, tahan dulu! Tunggu Arjuna atau siapa pun yang datang, akan bawa kamu ke rumah sakit. Jangan tutup matamu! Aku nggak mau Romeo salah paham nanti." teriak Edgar panik saat melihat Alya semakin lemah.
Arjuna akhirnya datang, setelah sebelumnya Bi Dewi berkali-kali menghubunginya. Melihat kondisi Alya, hatinya langsung tersentak. Tanpa membuang waktu, ia segera mencari kotak obat untuk menghentikan darah yang mengucur dari bekas jahitan Alya.
Brak!
Pintu itu terus-terusan terdorong dengan keras, dan kali ini yang melakukannya adalah Romeo.
Amarah membara dalam diri Romeo saat matanya menangkap pemandangan istrinya dan si kembar yang kini duduk di samping Alya.
"Romeo, kamu bakal menyesal! Berani-beraninya kamu durhaka pada Mama!" teriak Dinda dengan amarah.
Romeo menoleh, matanya menatap tajam ke arah ibunya. Sejujurnya, dia berharap tak pernah lahir dari rahim Dinda, wanita yang dingin, tanpa empati, dan seolah hatinya terkunci rapat.
"Pikirkan dulu semua dosa mama selama hidup di dunia ini, baru berani bilang aku durhaka. Aku tidak akan tega menghukummu, sekarang biarkan polisi yang menjalankan itu." ujar Romeo, matanya menembus pandangan Dinda dengan tajam.
Dinda terkejut. Apakah Romeo benar-benar akan melaporkannya ke pihak kepolisian? Apakah ia tega membuatnya berurusan dengan hukum? Dinda menggeleng keras. Tidak, ia yakin Romeo tidak akan tega melakukan itu padanya.
Namun siapa yang menyangka, tanpa sepengetahuan Dinda, Satria sudah menyebarkan rekaman CCTV dari kantor Romeo saat itu. Belum cukup, rekaman beberapa menit yang lalu pun ikut dia sebar. Tindakan ini tentu membuat publik heboh. Tidak ada yang menyangka, ibu dari Romeo Andreas, ternyata begitu kejam dan kriminal.
"Rom, geser sedikit posisi kepala Alya. Biar aku obati bekas jahitannya." kata Arjuna sambil muncul membawa seluruh peralatannya.
Romeo mengacuhkan diri dari Dinda, tak ingin menatap wajah ibunya lagi. Fokusnya kini tertuju pada Alya, sementara Dinda terus berontak, mencoba menarik perhatiannya.
Edgar tampak sedikit kewalahan, lalu cepat-cepat membawa Dinda keluar dari ruangan itu. Satria mendekati si kembar, memeluk mereka dengan erat, menyalurkan ketenangan kepada dua anak sahabatnya.
"A-aku takut… S-selina takut, Om." gumam Selina dengan suara bergetar.
Serena pun sama, ia terus menggelengkan kepala berulang kali. Padahal tadi, saat bertemu Edgar, mereka tampak tenang seperti tak ada masalah. Namun kini, wajahnya memperlihatkan ketakutan yang jelas.
"Jangan sakiti Ibu… Nenek, jangan kejam pada Ibu. Nenek… nenek jahat!" isak Serena sambil menutup wajahnya.
Tubuhnya gemetar saat teringat bagaimana ibunya ditarik oleh neneknya tadi.
"Sayang… tenang, ibu baik-baik saja," bisik Satria lembut, tangannya menahan bahu Serena agar ia tak mundur. "Serena… lihat om. Tatap mata om. Lihat… om ada di sini."
Serena tampak kehilangan fokus, pandangannya melayang-layang tanpa arah, hingga tiba-tiba… sesuatu menarik perhatiannya dengan cepat.
Bugh!
"Serena....."