Setelah kepergian sang ayah untuk selama nya, Clarisa mendapati satu kenyataan pahit bahwa suami nya telah mendua kan diri nya. Hal yang lebih menyakitkan adalah wanita yang menjadi selingkuhan nya adalah adik tiri nya.
Sang suami lebih memilih sang adik dan hal itu di dukung oleh ibu tiri nya, Clarisa kembali ke kampung halaman ibu nya dan tinggal bersama sang nenek setelah dia memilih berpisah dari pada di madu.
Tapi ternyata takdir berkata lain, Clarisa bertemu dengan seorang pria yang ternyata adalah bos dari sang mantan suami. Pria itu jatuh cinta pada Clarisa kemudian menikahi nya.
Suami baru Clarisa membawa nya kembali ke kota tempat di mana sang mantan suami dan keluarga nya berada, kedatangan Clarisa kali ini membuat dia mengetahui rahasia di balik kecelakaan yang merenggut nyawa ibu nya puluhan tahun yang lalu.
Ikutan kisah Clarisa yang membalas perbuatan orang yang menjadi dalang di balik kecelakaan yang di alami oleh ibu hingga membuat sang ibu meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
04
"Mama sama Wulan kemana sayang? Kok gak kelihatan!" Arvin langsung bertanya pada Risa ketika dia tiba di rumah.
"Mama sama Wulan lagi keluar mas!" Jawab Risa sambil meraih tas kerja dari tangan Arvin.
"Oh, gitu ya. Mama sama Wulan biarkan tinggal di kamar tamu ya, biar kan mereka tinggal di kamar yang berbeda. Kan kasihan kalau tinggal damai satu kamar nanti nya jadi gak nyaman!" Arvin berkata pada Risa.
"Iya mas, udah kok. Makasih ya mas kamu udah mengizin kan Mama dan Wulan tinggal di rumah kita!" Risa memeluk suami nya dengan haru.
"Itu udah kewajiban aku bantu keluarga kamu sayang, lagian kan Mama dan Wulan juga keluarga aku kok!" Jawab Arvin sambil mencubit hidung mancung milik Risa.
Risa sangat bahagia dan dia sangat bersyukur memiliki suami sebaik Arvin, kesedihan nya karena di tinggal kan oleh sang ayah menjadi sedikit terobati karena sikap sumai nya.
Sepasang suami istri itu melangkah kan kaki nya naik menuju ke lantai atas, di mana kamar mereka berada.
"Mas, kamu mandi dulu ya. Aku siapin minuman sama cemilan buat kamu!" Risa menyimpan tas kerja milik Arvin di tempat nya.
"Iya sayang, makasih ya!" Ujar Arvin lagi.
Risa segera pergi ke dapur dan dia menyiapkan 2 gelas teh hangat untuk diri nya dan juga suami nya, tidak lupa dia juga menyiapkan cemilan juga.
Risa dan Arvin punya kebiasaan minum teh sambil ngemil sesuatu ketika sore hari sambil menunggu azan magrib berkumandang.
Hari ini Arvin sengaja pulang lebih cepat dari kantor nya, karena dia ingin menemui sang selingkuhan nya yang kini tinggal di rumah nya. Risa bahkan tidak tahu jika suami yang sangat dia cintai telah mendua kan diri nya dengan adik tiri nya.
Risa membawa nampan berisi 2 gelas teh hangat lengkap dengan sebuah toples berisi cemilan, dia meletakkan nya di atas meja yang ada di balkon kamar nya. Risa kembali ke kamar nya dan dia menyiapkan pakaian ganti untuk sang suami.
"Mama sama Wulan tadi tidak bilang ya mau kemana?" Tanya Arvin basa - basi.
"Tidak mas!" Jawab Risa sambil menggeleng kan kepala nya.
"Sejak kapan mereka keluar?" Tanya Arvin lagi.
"Sejak tadi siang mas!" Jawab Risa singkat.
Arvin menyesap teh hangat buatan Risa, dia tidak tahu kemana sang kekasih hati pergi. Untuk menelepon nya tidak mungkin, busa ketahuan dia sama Risa.
Risa teringat dengan nota perhiasan yang dia temukan tadi pagi, dia ingin menanyakan tentang semua itu.
"Apa sebaik nya aku tanya sama mas Arvin saja ya? Tapi gimana jika memang perhiasan itu memang untuk memberi surprise pada ku, jadi bukan lagi suprise nama nya jika aku tahu sekarang!" Guman Risa di dalam hati.
Risa begitu penasaran dengan apa yang dia temukan tadi pagi, mengingat harga perhiasan itu cukup mahal. Bahkan selama ini belum pernah Arvin memberikan Risa perhiasan semarak itu sepanjang pernikahan mereka.
Dia ingin menunggu surprise itu, tapi di sisi lain hati nya meronta - ronta ingin tahu tentang nota itu.
"Mas, aku mau nanya sesuatu sama kamu!" Risa memberanikan diri langsung bertanya.
"Iya sayang ada apa?" Arvin menatap mata istri nya dengan serius.
"Tunggu sebentar mas!" Risa bangun dan melangkah kan kaki ke kamar nya, dia mengambil apa yanh dia temukan tadi pagi.
"Ini punya mas ya?" Tanya Risa sambil memberikan kertas yang dia temukan tadi pagi di dalam saku celana suami nya.
"Ini,,,ini,, ini punya teman mas sayang!" Jawab Arvin dengan gugup.
"Tapi kok di nota ini nama nya nam mas Arvin?" Tanya Risa lagi.
"Duh, kenapa aku bisa seceroboh itu sih. Sampai Risa menemukan nota itu, aku harus cari alasan biar dia tidak curiga!" Batin Arvin sambil berfikir kerasa.
"Sayang, itu memang punya teman mas. Kemarin dia ingin memberi kejutan pada istri nya dengan memberikan sebuah kalung. Tapi dia sengaja pake nama mas saat membeli nya biar gak ketahuan sama istri nya, kalau ketahuan sama istri nya nama nya juga bukan kejutan lagi!" Arvin memberikan alasan pada Risa agar dia tidak curiga.
"Oh, gitu ya. Kiran punya mas, abis di nota ini tertulis nama mas sebagai pembeli nya!" Risa tampak percaya dengan apa yang di katakan oleh suami nya.
"Sini nota nya, berikan sama mas. Biar nanti mas berikan nota itu pada nya, kan sekarang perhiasan nya udah di kasih sam istri nya jadi .as mau balikin nota nya yang kemarin di titipin sama mas!" Arvin meraih secarik kertas kecil itu dari tangan Risa dan menyimpan nya.
"Duh, hampir saja aku ketahuan!" Arvin menarik nafas lega.
"Mas, sholat yuk udah azan tuh!" Risa berkata pada suami nya.
"Kamu duluan aja sayang, nanti mas nyusul!" Ujar Arvin sambil tersenyum.
Risa segera masuk ke dalam untuk mengambil air wudhu, kesempatan itu di gunakan oleh Arvin untuk mengirim kan pesan pada Wulan. Arvin ingin tahu kenapa sampai saat ini Wulan dan Mama nya belum juga pulang ke rumah.
Karena Arvin tidak kunjung masuk, akhir nya Risa sholat magrib sendirian. Hingga Risa selesai sholat magrib, Arvin tampak masih fokus pada ponsel nya.
"Mas, sholat dulu. Nanti waktu magrib keburu berakhir!" Risa mengingat kan suami nya.
"Iya sayang, mas sholat dulu ya. Kamu jangan lupa siapin makan malam, sebentar lagi Mama dan Wulan pulang!" Arvin memberikan perintah pada istri nya.
"Iya mas!" Jawab Risa tanpa merasa curiga sedikit pun pada Arvin.
Risa segera turun ke bawah dan begitu tiba di bawah dia melihat Mama Lia dan Wulan baru saja pulang.
"Baru pulang ma?" Sapa Risa basa - basi.
"Iya, Mama sama Risa habis belanja ni!" Mama Lia menunjuk kan paper bag yang dia letak kan di sebelah nya.
"Mas Arvin nya mana mbak?" Tanya Wulan pada Risa.
"Mas Arvin nya lagi sholat magrib di kamar!" Jawab Risa lagi.
"Oh, gitu ya!" Wulan tampak tersenyum senang mendengar jawaban Risa.
"Mama mau mandi dulu, Mama capek!" Mam Lia meraih paper bag milik nya dan pergi ke kamar nya.
"Aku juga capek mbak, mau bersih- bersih dulu!" Wulan berjalan meninggal kan Risa yang masih menatap nya.
Ketika Wulan berjalan melewati nya, mata Risa menatap pada sesuatu yang melingkar di leher Wulan.
"Kalung itu kenapa seperti gambar kalung yang ada di nota itu ya? Padahal mas Arvin bilang itu punya teman nya!" Guman Risa sambil mengernyit kan kening nya.
Setelah Wulan pergi dari hadapan nya, Risa tampak termenung. Entah kenapa dia malah kepikiran pada kalung yang sedang di pakai oleh adik tiri nya tersebut.