NovelToon NovelToon
PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Konglomerat berpura-pura miskin / Wanita Karir / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:15.8k
Nilai: 5
Nama Author: F.A queen

Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.

Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.

Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.

Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.

Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.

Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.

“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”

Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dua Puluh Empat

Mikhasa melangkah ke arah yang berbeda, melangkah dengan percaya diri.

Tak lama, ia berpapasan dengan tiga orang, dua pria muda dan seorang wanita berusia sekitar tiga puluhan. Mereka berjalan beriringan, menuju arah yang berlawanan dengannya.

Saat berpapasan, Mikhasa mengangguk sambil tersenyum sopan. Sapaan ramah pun ia terima balik. Ia tetap melangkah dengan percaya diri, hingga beberapa langkah kemudian ia berhenti.

“Kalau mereka ke arah sana…” gumamnya sambil menoleh sedikit, “berarti lift ada di sana, kan? Jadi aku salah arah dong.”

Ia mendengus kecil, lalu membalik badan. Dengan langkah tenang dan tidak terburu-buru, Mikhasa menyusul tiga orang itu dari belakang.

Belum jauh melangkah, suara percakapan mereka terdengar jelas.

“Kudengar, Tuan Axel punya asisten pribadi baru, ya?” ujar pria berkacamata.

“Iya,” jawab karyawan yang wanita. “Pak Edo sekarang jadi penasihat.”

“Berarti perempuan itu pasti sangat cerdas. Nggak mungkin bisa duduk di posisi itu dengan mudah," sahut pria satunya, yang lebih tinggi dari mereka bertiga.

“Iya,” sambung yang berkacamata. “Jabatan tinggi, tingkat kesulitannya juga pasti lebih tinggi. Nggak ada yang benar-benar mudah di dunia ini.”

“Dan juga punya tanggung jawab lebih besar,” tambah si wanita.

“Aku jadi penasaran. Secerdas apa perempuan itu. Pasti pengalaman kerjanya luar biasa sebelum bisa berada di sisi Tuan Axel," ucap pria berkacamata.

Langkah Mikhasa tetap stabil di belakang mereka, wajahnya tenang. Tapi tangannya refleks mengusap kening, menahan rasa geli yang tiba-tiba muncul.

Wanita cerdas? Pengalaman kerja yang luar biasa? Ah, tidak. Hanya wanita yang kebetulan beruntung. Beruntung karena punya wajah yang mirip dengan mantan kekasih Axel. Beruntung bertemu Axel di malam itu.

Beruntung, ya? Ya… anggap saja begitu. Sekarang, yang penting bukan itu. Selama ia masih berdiri di sini, selama ia diberi kesempatan, ia akan menjalani semuanya dari sisi terbaik yang bisa ia pilih. Karena kalau selalu mengeluh, tak akan ada habisnya.

Mereka mulai memasuki lift. Mikhasa sedikit mempercepat langkahnya dan ikut masuk.

“Permisi, maaf,” katanya sopan.

“Iya, nggak apa-apa, silahkan,” jawab karyawan wanita itu ramah, bahkan bergeser memberi ruang.

Pintu lift menutup. Mesin bergerak turun perlahan. Wanita itu melirik Mikhasa dari samping. “Bukannya kita tadi berpapasan, ya?”

“Ah… iya, benar,” jawab Mikhasa agak canggung. “Ternyata aku salah arah," imbuhnya.

“Karyawan baru?” tanya pria berkacamata, menoleh menatapnya.

“Iya," jawab Mikhasa cepat. “Karyawan magang,” tambahnya refleks.

“Hmm, baru masuk atau sudah lama?” tanya si wanita lagi.

“Baru masuk.”

“Oh…” Wanita itu mengangguk-angguk. “Kalau jam makan siang, ikut bareng kami saja. Kamu pasti belum punya teman dekat di sini, kan?”

“Ah, iya. Terima kasih banyak tawarannya, Kak.”

“Oh ya, kamu bagian apa?”

Mikhasa menunduk sesaat, memejamkan mata sepersekian detik. Harus jawab bohong apa ya...

Ding. Pintu lift terbuka.

'Selamat.' Ia mengusap dadanya pelan.

Mereka keluar lift hampir bersamaan.

“Aku duluan ya, bye,” ucap si wanita cepat, lalu melangkah menuju pintu keluar lebih cepat.

“Aku ke kantin dulu. Mau beli sesuatu,” ujar pria yang tinggi.

Kini tersisa Mikhasa dan pria berkacamata itu. “Mau langsung pulang?” tanyanya.

“Iya,” jawab Mikhasa.

Mereka berjalan berdampingan menuju lobi utama.

“Namaku Ernest,” katanya sambil tersenyum. “Kalau kamu?”

“Mikhasa.”

Ernest mengangguk. “Salam kenal.”

“Iya.”

Begitu keluar dari pintu utama, mereka berdiri di forecourt utama perusahaan, area eksklusif yang tak sembarang kendaraan boleh singgah.

“Yang kakak perempuan tadi namanya Kak Mia,” lanjut Ernest santai. “Kalau yang cowok tinggi tadi Aldrin.”

“Senang bertemu kalian. Semoga ke depannya bisa berteman dengan baik," ucap Mikhasa ramah, sedikit basa-basi.

“Tentu,” jawab Ernest. “Kami semua welcome sama karyawan baru. Seperti kata Kak Mia, besok kamu bisa ikut kami pas istirahat siang.”

Mikhasa mengangguk dan tersenyum tulus. “Iya, terima kasih banyak.”

Di sisi lain, dari dalam mobil yang nyaman, Axel menatap ke arah forecourt. Tatapannya tertahan pada satu pemandangan.

Mikhasa ... tersenyum.

Wanita itu tersenyum dengan mudah? Bukan senyum tipis yang terpaksa. Bukan senyum profesional yang biasa ia lihat. Tapi senyum ringan, mudah dan terlihat tulus. Tersenyum dengan pria berkacamata itu.

Alis Axel berkerut tipis. "Dia bisa tersenyum seperti itu… Semudah itu?"

Kenapa dengannya Mikhasa selalu tegang? Selalu defensif? Selalu siap membantah? Selalu kesal setiap waktu.

Tangan Axel mengepal. “Dia suka pria berkacamata?” gumamnya dingin.

Entah kenapa, perasaan itu tidak nyaman dan Axel sama sekali tidak menyukainya.

“Naik bus, taksi, atau bawa mobil sendiri?” tanya Ernest santai.

Belum sempat Mikhasa menjawab, seseorang datang menghampiri.

Ernest langsung menegakkan sikap. “Sore, Pak Bayu.” Dia menyapa sopan. Siapa yang tidak mengenal asisten-asisten sang tuan.

Pria yang disapa Pak Bayu mengangguk singkat. “Sore.”

Tatapan pria itu kemudian beralih pada Mikhasa. “Nona Mikhasa…”

Darah Mikhasa seolah berhenti mengalir, dia panik duluan.

Astaga. Bapak ini... Orang yang kemarin pagi mengantarnya ke ruangan eksklusif. Orang Axel. Jangan sampai Ernest tahu kalau dirinya adalah wanita yang tadi mereka bicarakan.

“Ma—maaf, Pak,” Mikhasa menyela cepat. “Apakah lamaran kerja saya ada yang kurang?” Lalu, tanpa menunggu jawaban, ia menoleh ke Ernest. “Maaf ya, aku pergi dulu.”

“Oh, iya. Silakan,” jawab Ernest, tanpa curiga.

Mikhasa segera melangkah menjauh. Pak Bayu ikut berjalan di sampingnya, ritmenya tenang tapi tegas.

“Nona,” ucapnya rendah, “Tuan Axel menunggu Anda. Mari ikut saya.”

Langkah Mikhasa terhenti. Ia menoleh perlahan, menatap Pak Bayu.

“Maaf, Pak. Bukankah Tuan sedang rapat?”

“Rapatnya sudah selesai beberapa menit yang lalu,” jawab Pak Bayu datar. “Sekarang beliau menunggu Anda di mobil.”

“Tapi ini sudah bukan jam kerja, Pak,” sanggah Mikhasa. “Tolong sampaikan pada beliau, saya tidak menerima lembur hari ini.”

Pak Bayu terdiam sesaat, lalu menggeleng pelan. “Maaf, Nona. Saya tidak bisa menyampaikan itu.”

Mikhasa mendengus kesal, menahan umpatan yang hampir lolos pada Axel. 'Huff, ambil sisi baiknya, Mikha. Dapat tumpangan gratis. Mobil mewah pula. Kalau nggak sama Axel, nggak mungkin bisa naik mobil seharga ginjal plus mata kanan kiri, ya kan.'

“Baiklah,” kata Mikhasa akhirnya. “Di mana beliau, Pak?"

Pak Bayu memberi isyarat sopan ke arah kiri. “Mari saya antarkan.”

Dan tanpa pilihan lain, Mikhasa melangkah mengikutinya.

Sesampainya di mobil mewah Axel. Pintu segera di bukakan.

Pria itu duduk tenang, memakai kaca mata hitam dan menoleh ke arahnya dengan wajah tampan yang nyebelin. Mikhasa membungkuk sopan sebelum masuk ke dalam mobil.

"Selamat sore, Tuan." Sapanya sopan tapi agak kesal.

"Dasar keras kepala," sahut Axel. "Bukankah sudah berulang kali kukatakan kalau diluar jam kantor kita adalah sepasang kekasih."

Mikhasa menoleh tajam. "Tapi saya tidak pernah merasa pernah jadian dengan anda, Tuan Axel yang terhormat."

"Kalau aku bilang jadian, ya jadian, Mikha..." Uh rasanya pengen cubit pipi Mikhasa. Atau langsung cium bibirnya.

Wanita itu mlengos kesal. "Terserah." Katanya masam.

"Kalau terserah, harusnya kau patuh."

"Terserah." ulang Mikhasa, makin masam.

"Hmm." Axel semakin menatap Mikhasa. "Bagaimana dengan kacamataku?" Tanyanya tiba-tiba.

Mikhasa reflek menoleh. Menatap Axel. "Apakah sore ini terasa panas?" Tanyanya.

Axel menggeleng. "Enggak."

"Apakah mata Tuan lagi sakit?" Tanya Mikhasa.

"Enggak."

"Terus kenapa pakai kaca mata hitam?"

"Ck." Axel mengalihkan pandangan sejenak. Mengeratkan gigi lalu membuka kaca matanya dengan kesal. "Kau tidak suka aku memakai kaca mata?" Tanyanya, menatap Mikhsa lekat, kesal bukan main.

Mikhasa mengangkat bahu. "Aneh aja," jawabnya.

"Aneh?!! Aneh kau bilang?!" Axel mendesis kesal. Kedua tangannya mengulur dan memakaikan kaca mata hitam itu pada Mikhasa. Kini kacamata hitam itu bertengger di wajah Mikhasa.

"Hei, kenapa malah memakaikannya padaku?" Protes Mikhasa terkejut.

"Karena kau aneh. Jadinya cocok," jawab Axel kesal. "Kaca mata ini untukmu, Nona aneh. Dan kau mirip alien sekarang karena memakai kaca mata kebesaran."

Mikhasa mendengus merasa tak percaya Axel menyebutnya mirip alien. “Axel... "

“Alien yang keras kepala,” potong Axel sambil bersandar lagi.

1
taju gejrot
Mikha gampang tersenyum saat bersama orang lain karena gak ada tekanan😂
Nay@ka
intinta cuma patuh mikha...jgn ngeyel ntar tuan muda ngambek🤣
Nay@ka
pas banget..buka apk ada yg up tuh💃
Momogi
wakakakkkk sabar, tuan. sabaarrrr😆
Momogi
karena axel pikir kamu suka pria berkaca mata 🤣🤣
Momogi
Langsung pake kaca mata dooong 🤣🤣🤣 ciee yg cari perhatian cieee
Momogi
uhukkk awaaasss ya
Momogi
bisa dong. kenapa? kesel ya liat mikha senyum ke orang lain
Momogi
semoga setelah ini kalian akur ya
Momogi
alahh bilang aja cemas mikha pake alesan short drama
Momogi
timpuk aja Mikha, timpuk 🤣🤣
Momogi
semoga kamu segera sadar ya akan luka hati Mikha. jangan bikin dia sedih
Momogi
berharap ini happy end buat kalian. sama2 saling menyembuhkan
Momogi
Yuhuuu mantap Mikha jangan mau ditindas Axel
Momogi
untungnya Mikha tau tentang ini lebih dlu jadinya dia ga bakal nyesek
Momogi
nyesek banget perjalanan hidupmu mikha 😭
Momogi
ya ampun mikha 🥺 kamu dimanfaatin keluarga bibimu ternyata ya
Momogi
Aihh kok kita sama sih. curiga besok aku ketemu cogan ternyata ceo
Momogi
tom and jarry kalian tuuh
Momogi
dimana lagi dapet 1 milyar ya mikha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!