NovelToon NovelToon
PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

PACAR BAYARAN : Kukira Pelayan Ternyata Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Kantor / Konglomerat berpura-pura miskin / Wanita Karir / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / CEO / Percintaan Konglomerat
Popularitas:35.9k
Nilai: 5
Nama Author: F.A queen

Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.

Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.

Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.

Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.

Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.

Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.

“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”

Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part Tiga Puluh Tiga

Mikhasa masuk ke dalam taksi dan menyebutkan alamat tujuannya.

"Saya sudah dalam perjalanan ke rumah Anda, Bu Maura," tulisnya melalui pesan singkat.

Balasan datang tidak lama.

"Wah, aku senang kau sungguh berkenan datang, Mikhasa. Hati-hati di jalan, ya."

Mikhasa memasukkan kembali ponselnya kedalam tas. Dia menatap jalanan dari balik kaca jendela. Pikirannya kembali dipenuhi satu nama yang sejak tadi tidak mau pergi.

Nyonya besar Mercier.

'Sejauh apa beliau masuk ke wilayah pribadiku? Mau sampai di mana beliau ikut campur urusanku?'

Mikhasa bukan tipe orang yang mudah mempercayai orang lain. Dan setiap kali ia mencoba percaya semuanya selalu berakhir dengan pengkhianatan.

Dulu, ada Gladys. Teman kuliahnya.

Karena percepatan akademik, Mikhasa lulus lebih dulu dan langsung bekerja di ibu kota. Satu tahun kemudian, Gladys menyusul. Gadis itu menumpang tinggal di apartemen Mikhasa dengan alasan sedang mencari pekerjaan.

Setelah mendapatkan pekerjaan, Gladys tetap tinggal di sana. Dengan alasan yang sederhana bahwa gaji Mikhasa lebih besar, jadi akan lebih ringan jika mereka berbagi tempat tinggal.

Mikhasa tidak pernah keberatan, dia bahkan senang bisa membantu Gladys dan punya teman di malam-malamnya yang sepi.

Sampai akhirnya ia tahu… perempuan itu juga mengambil seseorang yang Mikhasa cintai.

Ironisnya, pria itu memang sejak awal lebih terbuka pada Gladys. Mungkin karena Mikhasa terlalu kaku. Gandengan tangan saja jarang, apalagi ciuman.

Hubungan mereka berjalan lurus dan tenang. Bertemu, berbagi cerita tentang pekerjaan, makan bersama, lalu pulang. Sesederhana itu. Namun bagi Mikhasa… itu sudah terasa istimewa.

Ia merasa dimengerti. Dihormati. Steve tidak pernah melanggar batas yang ia buat. Dan justru itu yang membuatnya merasa aman.

Sangat berbeda dengan Axel. Pria itu tiba-tiba menciumnya. Tiba-tiba menggenggam tangannya. Seolah semua batas yang Mikhasa bangun selama ini bisa diterobos begitu saja olehnya dengan mudah.

"Tuan… Anda sungguh menyeramkan," gumam Mikhasa pelan. Namun di kepalanya, suara Axel justru seperti bergema, satu per satu.

''Hai, Nona pulu-pulu.''

''Sweety.''

''Baiklah, Nona sopan santun.''

''Oh, Sweetheart.''

''Dasar si aneh.''

''Kau mirip alien.''

''Nona siput.''

Mikhasa memijit pangkal hidung di antara alisnya pelan, mencoba mengusir bayangan suara itu.

Tepat saat itu ponselnya berdering. Ia tersentak kaget. Tangannya refleks merogoh tas dan menatap layar.

"Nomor tidak dikenal, siapa lagi ini? Penipu? Oke, kali ini bakal kutipu balik," gumamnya semangat untuk menipu balik.

Ia menarik napas pelan, lalu menerima panggilan itu.

"Sweetheart."

"AXEL?!" Mikhasa mendelik lebar. Ia menatap ponselnya seolah benda itu baru saja berubah menjadi makhluk hidup yang menyeramkan.

'Apa pikiranku barusan menjadi mantra pemanggil orang ini?' batinnya. Ia mendekatkan ponselnya lagi ke telinga.

"Mikha, seseorang memblokir nomorku. Apa kau tahu alasannya?" tanyanya Axel dengan suara lemah teraniaya.

Mikhasa mendesah pelan. "Mungkin karena kamu menyeramkan," jawabnya tanpa minat. Jelas tahu siapa yang Axel maksud.

"Oh ya?"

"Hmm."

"Kenapa dia berpikir aku menyeramkan? Padahal aku hanya ingin bertanya sedang apa dia pagi ini?" kata Axel.

"Justru itu yang membuatmu menyeramkan."

"Kenapa dia berpikir begitu? Apakah menanyakan kabar itu menyeramkan?" Tanyanya dengan sengaja. Di sana dia bahkan menyilangkan kaki dengan anggun dan bersandar santai di sofa.

"Kalau kamu yang bertanya, iya," jawab Mikhasa cepat.

Axel terkekeh pelan. "Menarik. Jadi aku harus bagaimana supaya tidak terlihat menyeramkan?"

Mikhasa mendengus, udah mulai kesal. "Coba saja berhenti menghubungi orang yang jelas-jelas tidak mau dihubungi."

"Hmm... opsi yang sulit," gumam Axel, terdengar seperti benar-benar mempertimbangkan ucapan Mikhasa padahal tidak sama sekali. Mana mungkin ia berhenti menghubungi.

Axel lalu menambahkan. "Bagaimana kalau aku memakai kacamata bulat? Tipe kutu buku biasanya terlihat tidak berbahaya, kan?"

Mikhasa mengernyit. "Apa hubungannya dengan kacamata?"

"Karena mungkin dia menyukai pria berkacamata bulat. Tipe kutu buku, misalnya," jawab Axel ringan.

Mikhasa mendengus pelan. "Lucu sekali. Kenapa kamu pikir dia menyukai pria berkacamata?"

Ia sadar mereka sebenarnya sedang membicarakan dirinya sendiri. Anehnya, Mikhasa tidak merasa keberatan melanjutkan percakapan ini.

"Karena dia nggak suka pria tampan," jawab Axel.

"Hey, semua wanita di dunia ini menyukai pria tampan." Sahut Mikhasa.

"Oh, kau juga?"

"Hm?" Mikhasa tersentak, sadar bahwa dia sedikit salah langkah dengan jawabannya. "Lihat dulu pria tampannya kayak gimana. Kalau sering ngeselin ya males banget."

"Kalau pria tampannya aku?"

"Kamu itu masuk kategori pria ngeselin tingkat dewa, Axel!!! Emangnya kamu nggak sadar kalau kamu ngeselin banget." Mikhasa berapi-api menjawab.

Di seberang sambungan, tawa Axel terdengar lepas dan puas, seolah sengaja menikmati kekesalan Mikhasa.

Mendengar tawa itu, Mikhasa semakin sebal. Memangnya ada ya orang yang bahagia melihat orang lain kesal? Sepertinya cuma Axel yang seperti itu. Aneh sekali.

"Sekarang aku tahu alasanmu yang sebenarnya kenapa menelponku pagi-pagi," ucap Mikhasa ketus.

"Apa?" tanya Axel santai.

"Untuk membuatku kesal. Dan setiap aku kesal, kamu akan tertawa. Sepertinya kamu sangat puas melihatku kesal. Dasar Tuan aneh," gerutu Mikhasa.

"Ya… kamu tidak sepenuhnya salah, Sweetheart," jawab Axel ringan.

"Tuan Axel yang terhormat," ucapnya menahan emosi, "orang normal itu menelpon buat ngobrol baik-baik. Bukan buat cari hiburan dari penderitaan orang lain."

"Siapa bilang aku normal?" sahut Axel cepat, jelas menggodanya. "Selain itu, aku cuma mau memastikan satu hal," lanjut Axel santai.

"Apa lagi sekarang?"

"Memastikan kamu masih bisa marah."

Mikhasa mengernyit. "Itu alasan paling nggak penting yang pernah kuengar."

"Penting buatku," jawab Axel.

"Kenapa?"

"Kalau kamu masih bisa marah, berarti kamu masih baik-baik saja."

Mikhasa terdiam mendengar jawaban itu. Namun sebelum suasana berubah terlalu serius, Axel langsung menambahkan.

"Dan juga… kalau kamu berhenti marah, aku bakal kehilangan hobi baruku."

Emosi Mikhasa langsung melonjak drastis.

"AKU INI HOBI?!"

"Hobi premium."

"AXEL!!!" Mikhasa berteriak lebih marah. "Kalau kau bukan bossku, kupastikan aku sudah mencekikmu."

Tawa Axel pecah lagi, terdengar jelas, lepas, dan tanpa beban.

Sementara pengemudi taksi sampai melirik Mikhasa lewat kaca spion, bingung kenapa penumpangnya seperti sedang berdebat dengan setan pribadi.

Di sana, Axel menyesap minumannya pelan setelah tawanya mereda.

Ada perubahan kecil tapi terasa berarti. Mikhasa tetap berada di sambungan telepon, meskipun kesal. Gadis itu tidak memutus panggilan sepihak lalu menonaktifkan ponselnya seperti yang sudah-sudah.

Hal sederhana namun cukup membuat Axel merasa lega, kedua sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman.

'Sweetheart… kau tidak bisa terus menghindar. Kau harus terbiasa denganku.'

Taksi akhirnya berhenti di depan kediaman Maura.

Rumah tiga tingkat berdiri megah dengan arsitektur modern yang elegan. Halamannya luas, dipenuhi taman yang tertata rapi.

“Sudah sampai, Nona,” ujar sopir.

Mikhasa menoleh ke samping, menatap rumah mewah itu beberapa detik sebelum menghela napas pelan.

“Axel, aku matikan teleponnya.”

“Jangan blokir nomor utamaku,” pinta Axel dari seberang sana.

“Oke, dewa ngeselin.”

Klik. Mikhasa memutus panggilan. Ia segera membayar ongkos taksi, lalu turun dari kendaraan.

Pintu gerbang tinggi terbuka setelah sekuriti mengenalinya sebagai tamu. Tak lama kemudian, Maura terlihat keluar dari dalam rumah dan berjalan menghampirinya dengan senyum hangat.

“Aku senang sekali kamu benar-benar datang, Mikhasa. Terima kasih sudah bersedia mampir. Yuk, masuk.”

Mikhasa mengangguk pelan. Ia berjalan beriringan dengan Maura. Pandangannya lurus ke depan, kedua tangannya saling menggenggam di depan tubuh.

Menyadari ketidaknyamanannya itu, Maura berusaha mencairkan suasana. “Aku tinggal di sini bersama suamiku dan ketiga anakku,” ucapnya ringan. Menceritakan siapa saja yang tinggal di rumah ini adalah bentuk pendekatan psikologis sederhana, agar Mikhasa merasa memiliki gambaran lingkungan dan tidak merasa terancam oleh situasi baru.

Mikhasa mengangguk singkat.

Mereka memasuki rumah yang terasa luas dan nyaman.

“Suamiku seorang pilot, jadi jarang berada di rumah. Putraku kuliah di luar negeri. Putriku sedang mendaki gunung, dan yang paling kecil sedang ikut les balet sejak pagi.”

Padahal, anak bungsunya sedang menginap di rumah sang nenek sejak kemarin. Alasan les balet hanyalah cara agar Mikhasa bersedia datang ke rumah ini. Sesuai permintaan sang tuan.

Pagi hari di akhir pekan, Maura harus disibukkan oleh dua pasiennya.

1
Taty Thoge
kirain isi dlm kotak..surat wasiat gituh...eh ga taunya kacamata 3 M...dasar nona pulupulu🫠
💕Miuccia💓
cie cie... pagi pagi dah bikin senyum senyum mah ini. 🥰🥰🥰🤣
Ky2 SSC 💖
penasaran siapa adiknya axel ya, kok ga pernah di ceritain
Ky2 SSC 💖
berarti axel ga punya foto liora dong
Author.N.: wanita kedua selain ibunya. berarti ibunya ga dihitung beb 😅 Pertama Liora lah tentu... kedua Mikhasa 😅 gini ngitungnya
total 1 replies
Ky2 SSC 💖
kenapa feeling ku berkata mereka ini saudara kembar yg terpisah, eh tpi ga tau juga sih hanya author yg tahu wkwk
Nunuk Bunda Elma
perasaan asing yg aneh itu namanya cinta
Ky2 SSC 💖
wkwkwk ga jadi damainya deh sabar ya mik 🤣🤣🤣
Ky2 SSC 💖
jangan" bener liora itu kembaran mikhasa, entahlah kita liat aja
Ky2 SSC 💖
waduh siapa nih
Ky2 SSC 💖
kalau aku jadi kmu aku udah ga peduli lagi sama bibi kmu anggap aja ga punya keluarga 🥺🥺 terkesan jahat sih tapi sakitt ga kuat 😭😭
Nunuk Bunda Elma
stop over thinking Mikhasa
Ky2 SSC 💖
baru ngeh kalau bu Maura itu ternyata psikolog
Nunuk Bunda Elma
sepertinya memang Liora dan Mikhasa saudara kembar yg terpisah
Nunuk Bunda Elma
pokoknya percuma jadi mending diterina ajah ya Mik
Nunuk Bunda Elma
aihhhh...manisnya
Ky2 SSC 💖
jadi tuan maunya gimana? debat salah ramah juga salah 🤣🤣🤣
Ky2 SSC 💖
ada harta paling berharga ya mik 😂😂 harus dijaga sebaik mungkin 🤭🤭
Istri Leo J
ya Allah gusti tibake isine kacamata Axel yg 3 milyar to🤣🤣

ciee..yg udh mulai suka sama Axel,mulai senyum senyum walaupun kesel
taju gejrot
apartemen fasilitas lengkap, mewah dan luas,seremm kalau di huni sendirian, udah nikah aja sama Axel biar ada yg nemenin.mending bobo di temenin sosok ganteng Axel daripada ditemenin sosok menyeramkan 🤭😂
Nabila Syakib: nxebelin tpi suka😍😍
total 1 replies
Q⃟🆄𝐞𝐞𝐧🦋
Wkwkwkw gimana ga ngamuk anak orang 🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!