hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘
Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.
Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.
kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: permulaan
Pintu apartemen penthouse itu tertutup dengan dentuman pelan namun tegas, seolah memutus benang yang selama ini mengikat Safira pada masa lalunya yang menyesakkan. Setelah kepergian dua tamu tak diundang tadi, keheningan menyelimuti ruangan. Namun, ini bukan keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang membebaskan.
Vian masih berdiri di dekat jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota. Ia menyesap susu cokelatnya, matanya menerawang.
"Kak," panggil Vian pelan. "Apa menurutmu mereka benar-benar menyesal?"
Safira yang tengah merapikan beberapa berkas di atas meja kerja kecilnya, mendongak. Ia menatap adik laki-lakinya itu dengan tatapan lembut namun realistis. "Penyesalan sering kali datang bukan karena sadar akan kesalahan, Vian, tapi karena mereka mulai merasakan akibat dari kehilangan. Mereka kehilangan kendali atas kita, dan mereka mulai merasakan bagaimana dunia memperlakukan mereka tanpa 'pelindung' yang selama ini mereka injak-injak."
Vian mengangguk pelan. Ia merasa jauh lebih dewasa hanya dalam hitungan hari sejak meninggalkan rumah besar yang dulu ia anggap sebagai istana, namun nyatanya hanyalah sangkar emas yang beracun.
Keesokan harinya adalah hari pertama Vian di sekolah barunya. Safira memutuskan untuk mengantar adiknya secara langsung. Ia tidak ingin menggunakan jasa sopir pribadi; ia ingin menikmati setiap detik kemandirian ini.
Mobil sedan mewah yang dikendarai Safira berhenti di depan gerbang sebuah sekolah internasional bergengsi. Di sana, tidak ada yang mengenal mereka sebagai "si anak terbuang" atau "si anak kesayangan yang nakal". Di sini, mereka adalah lembaran baru.
"Belajarlah yang benar, Vian. Jangan biarkan siapa pun merendahkanmu, tapi jangan pula merendahkan orang lain," pesan Safira sambil membetulkan kerah seragam Vian.
Vian tersenyum lebar, senyuman yang selama ini jarang terlihat di rumah lama mereka. "Siap, Kak. Aku akan buktikan kalau aku bisa jadi kebanggaan Kakak."
Safira melihat Vian masuk ke gedung sekolah dengan langkah tegap. Ada rasa hangat yang menjalar di dadanya. Setidaknya, satu nyawa telah ia selamatkan dari pengaruh buruk keluarga tersebut.
Setelah memastikan Vian aman, Safira tidak langsung pulang. Ia memacu mobilnya menuju sebuah gedung perkantoran di pusat bisnis Jakarta. Di sana, ia sudah memiliki janji temu dengan seorang konsultan keuangan independen.
Di dalam kantor yang minimalis namun elegan, Safira duduk berhadapan dengan seorang wanita paruh baya yang sangat kompeten di bidangnya.
"Ibu Safira, saya sudah meninjau beberapa portofolio yang Anda kirimkan melalui asisten Anda, Pak Andi," ucap konsultan itu. "Keputusan Anda untuk mengalihkan investasi dari sektor properti tradisional ke teknologi hijau dan startup medis sangat cerdas. Dalam lima tahun ke depan, nilai aset ini bisa naik tiga kali lipat."
Safira mendengarkan dengan saksama. "Saya ingin memastikan bahwa semua aliran dana ini bersih dan tidak dapat dilacak oleh pihak manapun yang memiliki akses ke sistem lama saya. Saya ingin membangun kekaisaran saya sendiri, sesuatu yang murni milik saya dan masa depan Vian."
"Tentu saja. Kami akan menggunakan struktur holding company yang berbasis di Singapura untuk lapisan keamanan tambahan. Nama Anda tidak akan muncul secara langsung di permukaan."
Safira tersenyum puas. Ia menyadari bahwa kecerdasan yang selama ini ia sembunyikan demi menyenangkan hati orang tuanya kini menjadi senjata paling mematikan. Ia bukan lagi gadis yang hanya bisa menangis di pojok kamar. Ia adalah seorang pengatur strategi yang sedang membangun bentengnya sendiri.
Sore harinya, Safira menjemput Vian. Mereka tidak pergi ke restoran mahal untuk merayakan hari pertama sekolah. Sebaliknya, mereka mampir ke sebuah kedai ramen kecil di pinggir jalan yang direkomendasikan oleh teman baru Vian.
"Kak, ramennya enak banget! Jauh lebih enak daripada makan malam yang membosankan bareng klien Papa dulu," seru Vian dengan mulut penuh mi.
Safira tertawa pelan. "Itu karena sekarang kamu makan dengan hati yang tenang, Vian. Rasa makanan itu tergantung pada siapa yang menemanimu dan apa yang ada di pikiranmu."
Mereka menghabiskan sore itu dengan berbincang tentang banyak hal—tentang pelajaran sekolah, tentang rencana liburan pendek saat akhir pekan nanti, dan tentang mimpi-mimpi kecil yang dulu mustahil untuk diucapkan.
...****************...
Maaf ya author hari ini up nya cuma sedikit soalnya ada uas hari ini🙏🏻🙏🏻, tapi untuk Jumat di usahakan double up👍🏻
Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas