NovelToon NovelToon
Air Mata Shafira

Air Mata Shafira

Status: tamat
Genre:Angst / Keluarga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh / Tamat
Popularitas:146.8k
Nilai: 4.7
Nama Author: Gentra

Shafira adalah, seorang perempuan yang berusia 25 tahun dan sudah menikah dengan seorang pria berkepribadian keras bernama Erick. Selama menikah, ia kerap kali mendapatkan perlakuan kasar dari suaminya. Namun, perempuan itu selalu sabar menghadapi kekasaran dari pria yang dinikahinya itu.

Sikap kejam Erick tidak di situ saja, ia tega selingkuh dengan rekan kerja yang merupakan cinta pertamanya, tanpa sepengetahuan istrinya.
Namun, suatu hari hal naas terjadi saat perselingkuhan itu akhirnya terbongkar.

Akankah Shafira bisa mempertahankan pernikahan mereka setelah semua yang terjadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gentra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

“Sayang! Kenapa mau bawa dia pulang, sih?” kata Wulan, sambil menghambur ke dalam pelukan Erick.

“Dia sakit dan butuh pengobatan, aku harus bertanggung jawab padanya sesuai perjanjian. Jadi, aku harus menjaganya!” itu adalah alasan Erick namun sebenarnya ia tidak bisa menolak kata hatinya.

“Tapi kita tetap akan tidur bersama kan?”

“Ya, Shafira biar tidur di kamarnya sendiri!”

“Oh, baiklah kalau begitu tidak masalah!” Kata wulan ketus.

Wanita itu melirik sinis pada Shafira dan melepaskan genggaman tangan sang suami darinya. Ia benci dengan keadaan yang di luar perkiraannya.  

Ia tidak tahu apa yang terjadi di dalam villa itu, tapi iya heran bagaimana bisa Erick berubah pikiran dalam sekejap. Ia mengira jika kemungkinan Ardan mengancam suaminya hingga laki-laki gagah itu mengalah dengan mudah.

“Sana, tidur sana ke kamar kamu!” katanya, lalu meraih tangan Erick dan mengajaknya makan malam.  

Miran sudah menyiapkan makanan yang ia pesan dari restoran, sepulangnya dari berbelanja. Ia merasa lega karena Safira tidak ikut makan bersama mereka sebab Ia hanya membeli makanan cukup untuk bertiga saja.

Shafira menuruti keinginan Wulan, untuk tidur di kamar yang pernah iya tempati sebelumnya. Apalagi, tubuhnya juga masih butuh istirahat, kebetulan ia tidak lapar karena tadi sudah makan cukup banyak di rumah Ardan.

“Erick!” panggil Miran pada anaknya saat mereka sudah duduk berdekatan di meja makan.  

Wanita itu melirik kamar Shafira yang sudah tertutup rapat, ia yakin kalau menantunya itu tidak akan mendengar apa yang akan dia bicarakan.

“Apa, Ma!” sahut Erick dengan malas ia mengambil nasi cukup banyak, ia lapar karena perkelahian di rumah Ardan tadi menguras energi yang tidak sedikit.

“Kamu ini gimana sih? Kenapa tidak ceraikan saja Dia?”

“Siapa maksudnya, Mama? Shafira ... dia istriku Ma, aku takut kualat!” kata Erick sambil menyuap makanan ke dalam mulutnya. Ia tidak peduli apa komentar mamanya ataupun Wulan akan keputusannya hari ini.

“Alasan saja! Kualat apanya? Mama kira kamu akan menceraikan istrimu, kamu tidak mencintai dia, kan?” tanya Mirna penuh penekanan pada anaknya.  

Wulan hanya mengangguk mendengarkan ucapan selamat ibu mertua.

“Ma, soal cinta dan tidak cinta itu urusanku dan kalau aku takut kualat, Itu bukan alasan!” sahut Erick.

“Tapi, Sayang! Bukannya dia sudah berselingkuh? Kamu sudah menemukan dia di rumah laki-laki itu, kan?” Wulan ikut menimpali ucapan Mirna.

Erik menyimpan sendoknya dan berhenti mengunyah. Ia menatap istrinya itu penuh tanda tanya.

“Dari mana kamu tahu? Apa kamu mau mata-matai aku?” tanyanya terlihat tidak suka, karena merasa Wulan ikut campur dalam urusan privasinya.

“Bukan begitu ... aku hanya menebak saja!” kata Wulan serba salah dan kikuk, “soalnya di sini dia tidak punya saudara dan orang tua ... tapi dia bisa baik-baik saja selama beberapa hari ini! Jadi, di mana lagi kalau bukan di tempat selingkuhannya itu!”

“Tutup mulutmu!” kata Erick, membuat Wulan menjadi geram.

Wulan mengepalkan tinjunya di bawah meja, kesal pada Shafira yang sudah membuat suaminya berubah. Ia menganggap madunya itu sudah merebut cinta dan kasih sayang Erik darinya.

Mirna dan dan Erivk menyelesaikan makanannya sampai habis, kecuali Wulan. Tiba-tiba saja wanita itu tidak nafsu makan, pikirannya melayang membuat rencana untuk menghancurkan Safira sampai tak tersisa. Kalau bisa jangan sampai ada wanita itu lagi di rumah suaminya.

Malam harinya, Wulan tidak bisa tidur karena memikirkan rencananya yang sangat brilian di otaknya. Ia memeluk Erik sambil menyeringai karena sudah menemukan cara yang tepat untuk menyingkirkan Safira.

Baru saja wanita itu hendak memejamkan mata ia mendengar suara-suara yang tidak biasa di dapur. Ia keluar kamar secara perlahan-lahan agar suaminya tidak terbangun. Begitu ia melihat Shafira ada di sana, ia pun menganggukkan kepalanya.

“Kebetulan sekali!” gumamnya sambil menyeringai.

Shafira merasa lapar dan haus, mungkin karena pengaruh dari kehamilannya. Ia keluar kamar setelah memastikan semua orang sudah tertidur. Dalam hati ia masih takut kalau saja Wulan ataupun Mirna berbuat curang. Sekarang ia harus melindungi diri lebih baik lagi, mengingat janin yang ada di dalam tubuhnya.  

Shafira tahu kalau dirinya hamil, saat berada di rumah Ardan. Setelah mendengar penjelasan dari dokter Riyan dan perawatnya. Mereka sudah melakukan pemeriksaan pada dirinya secara menyeluruh hingga mereka tahu kalau ia sudah berbadan dua.

Wulan turun, untuk mengambil minum juga dan kehadirannya mengagetkan Safira.

“Kamu haus?” tanyanya ramah pada Shafira, ia tidak boleh kasar kalau tidak ingin disalahkan oleh Erick.

Shafira mengangguk setelah berhasil menguasai rasa terkejutnya. Lalu, ia menghabiskan sisa air di gelasnya.

“Eh iya, tolong bawakan minum juga buat Erick, tadi dia nyuruh aku bawain minum ke atas, tapi aku lagi pusing, nih!” kata Wulan, sambil memijat kepalanya, sementara tangannya membawa satu gelas air yang ia sembunyikan di belakang badannya.

“Oh, iya, nanti aku bawain!” sahut Shafira masih gugup, karena Ia tidak menyangka Wulan akan bersikap ramah padanya.

Wulan berjalan lebih dulu, meninggalkan Shafira yang mengambil segelas air untuk Erick.  

Tak lupa Wulan menyiramkan air yang dibawanya pada beberapa anak tangga. Setelah itu ia masuk kamar sambil tersenyum, menyiratkan raut wajah yang licik. Ia kembali merebahkan diri di sisi suaminya.

Tak lama setelah itu terdengar suara yang cukup keras dari arah tangga. Suara berasal dari teriakan Shafira, bersamaan dengan pecahnya gelas minum yang di bawanya.

“Aaahk! Ibuuu!” teriak Shafira sambil memegangi perut dan kepalanya. Sementara bagian badannya yang lain, terlihat mengeluarkan darah terkena pecahan kaca.

Wulan sudah membuat Shafira terpeleset dari tangga, hingga membuat tubuh perempuan itu tergelincir dan kepalanya terbentur dengan keras.  

Shafira sempat melihat ke arah telapak tangan yang berdarah, setelah memegang kepalanya. Lalu, ia melihat semuanya menjadi gelap dan ia tidak bisa merasakan apa-apa.

Erick dan Mirna terbangun dalam keadaan masih mengantuk. Mereka terkejut mendengar suara teriakan dan benturan yang sangat keras.

“Suara apa itu Sayang?” teriak Wulan sambil menyibakkan selimutnya.

Erick menatap ke arah istrinya sambil menggeleng kepala.

“Aku tidak tahu! Apa itu Shafira?” katanya seraya keluar kamar dengan langkah cepat.

Ia terkejut ketika melihat Shafira tergeletak di dekat tangga. Ada banyak darah mengucur dari kepala, serta beberapa bagian lain dari tubuhnya.

“Shafira!” teriak Erick dengan panik. Iya segera mengangkat tubuh Shafira ke atas pangkuannya dan membelai kepalanya yang berdarah.

Mirna sudah ada di sana ia melihat keadaan itu tak kalah paniknya.

“Mama, Wulan, kalian di rumah saja! Aku akan membawa Shafira ke rumah sakit sekarang juga!” Erick berkata sambil membopong tubuh istrinya.

“Mama! Tolong ambilkan kunci mobil dan tolong bukakan pintu juga!” kata Erick dan ia keluar dengan cepat dari rumah menuju mobilnya dengan cepat pula, di bantu oleh Mamanya.

Shafira pun langsung dilarikan ke rumah sakit, pada saat itu keadaannya sudah tidak sadarkan diri.  

Sementara Wulan terlihat kecewa melihat reaksi suaminya kepada Shafira. Ia heran sejak kapan Erick mulai terlihat peduli pada istrinya itu, padahal sebelumnya Erick tidak segan-segan menyiksa. Namun, untuk sekarang ia tidak bisa memperlihatkan kebenciannya sebab bisa membuat suaminya atau siapa pun menjadi curiga.

“Menurutmu gimana Shafira bisa jatuh?” tanya Mirna setelah kepergian anaknya ke rumah sakit.

Jangan lupa, tinggalkan jejak!

1
Rusmiati Eyus
ceritany bgs dn sngt menarik
💞®²👸ᖽᐸ🅤ᘉᎿ🅘💞: Terimakasih kk🙏
total 1 replies
Yunerty Blessa
Makasih banyak kak thor buat karya indah nya
sungguh mantap sekali ✌️ 🌹🌹🌹
terus berkarya dan sehat selalu 😘😘
Yunerty Blessa: Sama² kak thor....karya yang baik
dan yang penting tetap semangat kak thor ✌️
total 2 replies
Yunerty Blessa
cerita yang menarik....ada sebahagian bisa dijadikan pelajaran..
syabas kak thor
Yunerty Blessa
sabar bu Renata... mereka adalah tamu kalian...
Yunerty Blessa
ibu mertua yang baik dan perhatian sekali....
Yunerty Blessa
tahniah buat kelahiran baby boy kalian...
Yunerty Blessa
aduh lucunya 🤣🤣
Yunerty Blessa
akhirnya Riyan dan Shafira bisa hidup bahagia lagi.... tahniah buat pernikahan kalian....
Yunerty Blessa
menyesal kan
Yunerty Blessa
maka nya isteri itu disayangi bukan disyaki
Yunerty Blessa
apa sudah jadi dengan Erick....
Yunerty Blessa
akhirnya Shafira menerima Riyan juga...
Yunerty Blessa
syabas Riyan
Yunerty Blessa
salah satu nya wasiat kedua orang tua Shafira tidak ditetapi oleh Erick 😏
Yunerty Blessa
takut pilihan nya dibeli oleh calon Ardan....
Yunerty Blessa
terima lah Shafira...
Yunerty Blessa
itulah balasan buat Erick kerana terlalu jahat sama Shafira
Yunerty Blessa
seorang anak haus akan kasih sayang seorang ibu
Yunerty Blessa
kalau memang kau tidak mahu kehilangan Shafira lagi.....nikahi dia Riyan....
Yunerty Blessa
berarti Riyan juga suka dengan Shafira....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!