Bagi Zayden Abbey, dunia adalah medan tempur yang bising dan penuh amarah, sampai suatu siang di perempatan kota, ia dipaksa berhenti oleh lampu merah. Di tengah deru mesin motor yang memekakkan telinga dan kepulan asap knalpot yang menyesakkan, Zayden melihatnya—Anastasia Amy.
Gadis itu berdiri tenang di trotoar, seolah memiliki dunianya sendiri yang kedap suara. Saat Amy menoleh dan menatap Zayden dengan pandangan dingin namun tajam, jantung Zayden yang biasanya berdegup karena adrenalin tawuran, tiba-tiba berhenti sesaat. Di mata Zayden, Amy bukan sekadar gadis cantik; dia adalah "hening yang paling indah." Dalam satu detik itu, harga diri Zayden sebagai penguasa jalanan runtuh. Pemuda yang tak pernah bisa disentuh oleh senjata lawan ini justru tumbang tanpa perlawanan hanya karena satu tatapan datar dari Amy. Zayden menyadari satu hal: ia tidak sedang kehilangan kendali motornya, ia sedang kehilangan kendali atas hatinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Khayalan Gila dan Dendam Rindu
Bagi Amy, setiap sudut kota Jakarta kini hanya berisi remahan kenangan yang menyesakkan dada. Ia bukan lagi "Ice Girl" SMA Garuda yang misterius; kini ia adalah mahasiswi paling jenius sekaligus paling dingin yang pernah ada di kampusnya.
Kehidupan Amy hanya berputar di antara perpustakaan kampus dan sebuah bengkel di pinggiran kota. Bengkel Zayden kini telah berubah menjadi "Abbey & Amy Modif".
Amy menggunakan kecerdasannya untuk mengelola keuangan dan manajemen bengkel tersebut. Di bawah tangan dinginnya, bengkel itu kini menjadi pusat modifikasi paling bergengsi di Jakarta.
Setiap akhir bulan, Amy duduk di kursi kerja lama milik Zayden, menghitung keuntungan yang kian melimpah.
"Semuanya sudah siap, Zay," bisiknya pada kursi kosong di depannya.
"Uangnya sudah banyak. Kamu bisa beli suku cadang apa pun yang kamu mau. Tapi kamunya di mana?"
.
.
Di kampus, Amy tidak pernah sendirian. Bukan karena ia populer, tapi karena ada tiga bodyguard konyol yang selalu menjaganya. Dio, Hendi, dan Bima, yang kini sudah bekerja di bengkel—selalu bergantian mengantar jemput Amy dengan motor sport mereka.
"Mbak Amy, ada cowok anak teknik sipil kirim salam lagi tuh. Mau gue kempesin ban mobilnya?" tanya Dio sambil memakai kacamata hitam yang salah satu gagangnya disambung lakban.
"Nggak usah, Dio. Biarin aja," jawab Amy datar.
"Bener, Mbak. Lagian muka itu cowok kayak busi mati, nggak ada api-apinya. Nggak pantes buat Tuan Putri-nya Panglima," sahut Hendi sambil memarkirkan motornya.
Meskipun mereka sering konyol, Amy tahu mereka sama hancurnya dengan dirinya. Mereka tetap menjaga Amy karena bagi mereka, Amy adalah satu-satunya jangkar yang menghubungkan mereka dengan Zayden yang hilang tanpa jejak.
Suatu malam, saat Amy sedang melamun di teras kamarnya yang masih dijaga pengawal ayahnya, ia memegang sebuah foto lama Zayden yang sedang tersenyum lebar dengan noda oli di dahi.
"Zayden Abbey..." Amy menggigit bibirnya sendiri hingga terasa perih. "Kalau kamu berani muncul lagi di depan mataku, aku bersumpah..."
Amy mulai membayangkan skenario pertemuan mereka yang gila.
"Aku akan gigit bibir kamu sampai berdarah, biar kamu tahu rasanya sakitnya ditinggal tanpa pamit! Aku akan peluk kamu sekuat tenaga sampai tulang rusukmu bunyi krek! Dan kalau perlu..." Amy tertawa kecil di tengah tangisnya yang mulai jatuh, "...aku bakal belah jantung kamu, terus aku goreng buat aku makan. Biar kamu nggak bisa lari lagi ke mana-mana. Biar kamu selamanya ada di dalam perutku!"
Ia tahu pikirannya sudah mulai tidak waras. Rindu telah mengubah cintanya menjadi sesuatu yang obsesif, konyol, dan sangat menyakitkan.
Tiba-tiba, ponsel Amy bergetar. Sebuah pesan dari nomor internasional yang tidak dikenal masuk.
Hanya ada satu lampiran foto.
Foto sebuah tangan yang menggenggam kunci inggris tua dengan ukiran kecil di gagangnya: "Satu Derajat".
Itu adalah kunci inggris milik Zayden yang dulu pernah hilang.
Tangan di foto itu terlihat memiliki bekas luka bakar yang sudah mengering, namun bentuk jemarinya sangat Amy kenali. Jantung Amy serasa berhenti berdetak. Ia segera berlari keluar kamar, berteriak memanggil Dio yang sedang tertidur di pos penjagaan depan.
"DIO! BANGUN! DIA MASIH HIDUP! ZAYDEN MASIH HIDUP!"
Dio terjungkal dari kursinya. "Hah?! Apa?! Siapa yang mati?!"
"Zayden, Dio! Lihat ini!" Amy menunjukkan foto itu dengan tangan gemetar hebat.
Di saat yang sama, di Los Angeles, Zayden berhasil berdiri tegak untuk pertama kalinya tanpa alat bantu. Ia menatap Elisa yang menangis haru di sudut ruangan. Zayden mengambil ponselnya, menatap foto Amy yang menjadi wallpaper-nya selama dua tahun ini.
"Tunggu aku, Amy. Sebentar lagi, aku bakal pulang buat kamu goreng jantungnya," bisik Zayden dengan suara yang kini lebih berat dan penuh otoritas.
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 🥰😍🥰🥰