Zafira Amara, belajar bahwa cinta tidak selalu berakhir dengan indah. Ditinggal Anggara tanpa kabar setelah janji melamar, ia membangun benteng tinggi di hatinya.
Hingga akhirnya datang Aditya Pranata, pengagum rahasia yang mengisi kekosongan itu. Dari teman, menjadi hubungan tanpa status, hingga akhirnya resmi berpacaran.
Namun ironi terjadi, saat status sudah jelas, mereka justru kehilangan esensi. Trauma masa lalu Zafira bertabrakan dengan ketakutan komitmen Aditya.
Di tengah hiruk pikuk Yogyakarta, mereka belajar bahwa tidak semua yang dicintai bisa bertahan. Tidak semua janji bisa ditepati. Dan terkadang, melepaskan adalah bentuk cinta paling tulus meski itu menyakitkan. Sebuah kisah tentang kehilangan, trauma, dan keberanian untuk move on.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mentari_Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelanggan yang Konsisten
Dua minggu setelah Anggara pergi untuk kedua kalinya, Zafira seperti robot. Bangun, mandi, kerja, pulang, dan tidur. Semuanya berulang tanpa ada variasi, ia nggak menangis lagi, nggak marah lagi, nggak merasakan apa-apa lagi, semuanya hanya terasa kosong.
Rania sudah berkali-kali mencoba mengajak jalan, mengajak ngobrol, tapi Zafira cuma senyum tipis terus bilang. "Aku baik-baik saja kok, Ran." Padahal sudah jelas banget bahwa dia nggak baik-baik saja.
Hari ini, tepat hari Sabtu, Zafira kerja sif sore di Kafe Senja seperti biasa. Ia agi mengelap meja yang baru ditinggalkan oleh pengunjung. Saat bel pintu berbunyi, Zafira nggak mengangkat kepalanya, ia cuma reflek bilang, "Selamat datang, silahkan duduk."
"Hallo, Zafira."
Suara itu terasa familiar, Zafira mengangkat kepalanya dan melihat Aditya berdiri di depan pintu sambil tersenyum. Di tangannya terdapat bunga mawar pink kecil, cuma tiga tangkai, lalu dibungkus dengan kertas coklat simple.
"Aditya," ucap Zafira yang sedikit kaget.
Zafira sudah lupa sama laki-laki ini, laki-laki yang memberi dia note, 'Senyummu indah' beberapa minggu lalu, sebelum drama Anggara datang dan pergi lagi.
"Aku boleh masuk kan?" tanya Aditya sambil mengangkat alisnya sebelah.
"Oh iya, silahkan duduk."
Aditya jalan ke meja yang berada di pojok, sama seperti waktu pertama kali ia datang. Aditya menaruh bunga mawarnya di meja sambil mengeluarkan ponsel.
Zafira menghampiri sambil membawa menu, tapi matanya nggak bisa lepas dari bunga itu. Bunga mawar pink yang segar, kelopaknya masih kuncup rapat, ada tetesan air di daunnya seperti baru disemprot.
"Ehm, ini..." ucap Zafira, sambil menunjuk bunga itu. "Bunga ini cantik, tapi ini buat siapa?" lanjutnya.
Aditya melihat bunga itu sebentar, lalu kembali melihat pada Zafira, " Ini bunga buat kamu."
Jantung Zafira berdetak nggak karuan., "Hah? Buat aku, tapi kenapa kamu mau memberikannya untukku?"
"Iya, tadi aku kebetulan lewat toko bunga di jalan. Terus, entah kenapa aku kepikiran sama kamu. Jadi, ya sudah aku membelinya."
Kebetulan lewat toko bunga?
Toko bunga yang searah sama kafe ini jaraknya lumayan jauh, nggak mungkin cuma lewat doang. Tapi Zafira nggak protes, ia cuma memperhatikan bunga itu. Tapi ada perasaan aneh yang nggak bisa ia jelaskan.
"Tapi... kenapa mawar warna pink?" tanya Zafira pelan.
Aditya berpikir sebentar, "Kata penjualnya, mawar pink artinya kebahagiaan yang lembut. Aku pikir kamu butuh kebahagiaan seperti gitu. Yang lembut, dan nggak memaksa."
Zafira terdiam, ada sesuatu yang mencengkram dadanya. Kebahagiaan yang lembut. Kapan terakhir ia merasakan kebahagiaan kayak gitu? Kayaknya itu sudah lama banget.
"Di batangnya, ada kartu kecil juga tuh," ucap Aditya sambil menunjuknya.
Zafira mengambil bunga itu, dan benar saja, ada kartu kecil tergantung di salah satu batangnya. Zafira membuka, dan membacanya. Tulisan tangan Aditya yang agak sedikit berantakan.
"Senyum itu nggak harus dipaksakan. Tapi kalau suatu saat kamu mau tersenyum lagi, aku harap aku bisa jadi salah satu alasannya."
Zafira membacanya sampai berkali-kali. Hatinya campur aduk, antara terharu, takut, bingung, dan ada sedikit hangat. Tapi Zafira nggak langsung mengusir perasaan hangat itu, kata-kata manis dari laki-laki cuma omong kosong. Anggara sudah mengajarkan hal itu.
"Makasih," ucap Zafira pelan sambil menaruh kembali bunga itu di meja. "Jadi, mau pesan apa?"
"Americano, sama kali ini aku mau banana cake lagi deh. Kemarin rasanya enak."
Zafira mengangguk lalu balik ke counter buat bikin pesanannya. Sambil menyeduh kopi, ia melirik sedikit ke arah Aditya yang lagi asyik memainkan ponselnya. Sesekali Aditya senyum-senyum sendiri, lalu terlihat mengetik sesuatu, terus tersenyum lagi.
Lucu juga sih, laki-laki ini, kok bisa segembira itu ya? Apa dia nggak punya masalah? Apa hidupnya seindah itu?
Beberapa menit kemudian, Zafira membawa pesanan ke meja Aditya. Kali ini ia menaruhnya pelan, sambil mencoba nggak terlalu lama di sana, soalnya dadanya terasa masih aneh, gara-gara bunga tadi.
"Makasih, Zafira," kata Aditya sambil mengangkat gelas kopinya seperti memberi toast.
"Sama-sama."
"Eh tunggu, sekarang kamu nggak sibuk kan? Kayaknya kafe lagi sepi."
Zafira melirik sekeliling, dan memang benar, cuma ada dua pengunjung selain Aditya dan mereka berdua lagi asyik sendiri sama laptopnya.
"Memangnya kenapa?"
"Boleh nggak, kamu duduk sebentar? Aku pengen ngobrol sama kamu."
"Maaf, ngobrol soal apa?"
"Apa saja, kamu kan belum cerita, sukanya film genre apa?"
Zafira mengerutkan keningnya sambil berkata, "Film?"
"Iya, film. Kemarin kan kita udah ngobrol tentang musik, sekarang giliran film. Aku penasaran selera kamu kayak gimana."
Entah kenapa, Zafira merasa bahwa pertanyaan ini nggak berbahaya. Jadi ia akhirnya duduk di kursi tepat di depan Aditya, dengan tangan yang dilipat di atas meja.
"Aku sih sukanya drama. Yang bikin nangis gitu. Kalo kamu?"
"Wah beda lagi," Aditya tertawa kecil. "Aku sukanya action, thriller, yang bikin deg-degan. Tapi sesekali nonton drama juga sih, cuma jarang yang bisa membuat aku nangis."
"Laki-laki emang nggak gampang nangis ya?"
"Bukan nggak gampang, cuma mungkin kita nangisnya buat hal yang berbeda. Kamu nangis nonton drama cinta, aku nangis nonton, entah... film soal keluarga gitu."
Zafira diem sebentar. "Keluarga?"
Seketika senyum Aditya memudar, tapi ia langsung tersenyum kembali. "Iya, soalnya keluargaku agak rumit. Jadi kalau nonton film tentang keluarga yang harmonis, rasanya sedih sendiri."
Ada sesuatu dari nada suara Aditya yang membuat Zafira penasaran. Rumit gimana? Tapi Zafira merasa nggak enak jika harus bertanya lebih jauh, apalagi mereka baru kenal.
"Oh, maaf."
"Nggak apa-apa kok," ucapnya sambil menggelengkan kepala. "Sudah lama juga, dan sudah biasa."
Suasana menjadi hening, cuma ada suara musik latar kafe yang mengisi tempat itu.
"Kamu suka baca buku nggak?" tanya Aditya tiba-tiba.
"Suka, tapi sekarang sudah jarang, karena aku sibuk kerja."
"Kalo boleh tahu, kamu suka baca genre apa?"
"Aku suka fiksi, yang ceritanya bisa membuat aku lupa dengan dunia nyata meskipun hanya sebentar. Tapi aku lebih suka sama genre mafia dan horror sih."
Aditya mengangguk pelan, "Aku juga suka fiksi, tapi aku sukanya romance. Seru aja gitu bisa kabur dari realita."
Zafira tersenyum tipis. Pertama kalinya dalam dua minggu ini, ia tersenyum bukan karena dipaksa.
"Kayaknya kita beda semua ya," kata Zafira sambil ngangkat alis.
"Iya, beda musik, beda film, beda buku. Tapi.. menurutku itu bagus. Jadi bisa saling ngenalin hal baru."
Zafira nggak tau kenapa, kata-kata itu terasa menarik. Bukan menarik dalam arti jatuh cinta atau gimana, tapi lebih seperti penasaran. Penasaran sama laki-laki ini yang bisa senyum segembira itu, meski dia bilang bahwa keluarganya rumit.
Mereka ngobrol lebih lama dari yang Zafira kira. Dari film, buku, sampai ngobrolin makanan favorit. Aditya ternyata suka banget makan soto, sementara Zafira lebih suka bakso. Mereka debat kecil soal mana yang lebih enak, sampai akhirnya tertawa bareng.
"Sudah lama aku nggak ngobrol seenak ini," kata Aditya, nada suaranya jadi serius.
Zafira menatap Aditya, "Emang, biasanya kamu ngobrol sama siapa?"
"Temen-temen sih, tapi kayaknya beda gitu. Kalau sama kamu, rasanya natural aja."
Zafira nggak tau harus jawab apa. Ia cuma mengangguk pelan sambil melihat gelas kopinya yang sudah kosong.
"Eh iya, aku liat story kamu beberapa hari yang lalu," kata Aditya pelan, agak hati hati. "Kamu lagi sedih ya?"
Jantung Zafira langsung berdetak kenceng.
Story?
Story yang mana?
Zafira berpikir sejenak, lalu ia mengingat story itu. Story ketika Zafira memposting foto abu, sisa membakar kardus kenangan Anggara dengan caption, 'Selamat tinggal'. Dia lupa nggak di privat.
"Oh, story yang itu, " Zafira mencoba tersenyum, tapi gagal. "Itu... Nggak ada apa-apa kok."
"Zafira," panggil Aditya lembut. "Aku nggak bermaksud mau maksa kamu untuk cerita, tapi kalau kamu butuh temen buat didengaekan, aku siap mendengarkan keluh kesah kamu."
Ada sesuatu dari tatapan Aditya yang membuat Zafira hampir percaya. Hampir, tapi luka dari Anggara masih terlalu dalam buat Zafira bisa percaya sama laki-laki lain.
"Makasih, Ditya. Tapi aku baik-baik saja."
Aditya mengangguk pelan, "Oke, tapi inget ya, tawaran aku masih berlaku sampai kapanpun."
***
Sejak hari itu, Aditya jadi pelanggan tetap Kafe Senja. Tiap hari Sabtu dan Minggu, Aditya pasti datang. Bahkan ia selalu duduk di meja pojok yang sama, selalu pesan americano dan banana cake, dan selalu ngobrol dengan Zafira kalau kafe lagi sepi.
Minggu berikutnya, Aditya dateng membawa sebuah buku.
"Aku membawa buku fantasi, yang aku bilang kemarin. Kamu mau pinjem?"
Zafira melihat buku itu, sampulnya gambar naga sama kastil. "Aku nggak tau, apa aku suka dengan buku romance."
"Coba saja dulu, siapa tau kamu suka. Kalau kamu nggak suka, ya sudah kembalikan saja."
Dan Zafira akhirnya meminjam buku itu.
Saat malam hari, Zafira mencoba membaca buku romance milik Aditya. Dan ternyata lumayan seru juga, Zafira menghabiskan waktu semalam, tapi setidaknya Zafira ada kegiatan selain melamun memikirkan Anggara.
Minggu berikutnya, Aditya datang lagi dengan membawa cemilan. "Ini brownies buatan temen aku, enak banget. Kamu cobain deh."
"Kenapa sih kamu suka banget bawain sesuatu?"
"Nggak tau, kebiasaan aja kali ya. Aku suka ngasih sesuatu sama orang yang aku anggap teman."
Tanpa sadar, setiap hari Zafira mulai menunggu kedatangan Aditya. Bukan karena ia suka, bukan karena ia tertarik, tapi karena penasaran. Penasaran dengan laki-laki ini akan membawakan apa lagi, akan cerita apa lagi.
Aditya jadi distraksi. Distraksi dari pikiran tentang Anggara yang masih sesekali muncul tengah malam. Distraksi dari rasa sakit yang kadang tiba-tiba datang tanpa alasan.
Dan Zafira nggak tau kalau distraksi ini pelan-pelan mulai jadi sesuatu yang lebih. Sesuatu yang ia sendiri belum siap menghadapnya.
Sementara Aditya, di balik senyum ramahnya, ia juga mempunyai rahasia sendiri. Rahasia tentang Jessica, mantan pacarnya yang belum bener-bener ia lupakan.
Setiap malam Aditya masih sering scroll foto-foto lama mereka, foto itu berada di galeri ponselnya yang di hidden. Perasaan Aditya pada Zafira mungkin bukan cinta, tapi cuma pelarian dari luka yang belum sembuh.
Tapi sekarang, mereka berdua cuma dua orang yang lagi mencari penghiburan, di tengah luka mereka masing-masing.
Dan tanpa sadar, mereka mulai berjalan ke arah yang mungkin, bakal membuat mereka lebih sakit lagi. Atau mungkin, mereka akan bisa saling menyembuhkan dari luka itu, dan hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.
jadilah wanita teges jng terlalu bucin ma laki. fira Cinta sendirian 🤣