Yang Chi, seorang mahasiswi sekaligus penulis novel amatir, terbangun di dalam dunia ceritanya sendiri setelah menyelesaikan bab tragis tentang kematian sang Permaisuri, Yang Nan. Namun, bukannya menjadi pahlawan, ia justru terjebak dalam tubuh Xiao Xi Huwan, putri dari kerajaan tetangga sekaligus antagonis utama yang baru saja membunuh Permaisuri tersebut.
Kini, Yang Chi harus berhadapan dengan murka Kaisar Long Wei, pria yang seharusnya menjadi pelindung permaisurinya namun kini bersumpah akan memenggal kepala Xiao Xi dengan tangannya sendiri. Berbekal pengetahuannya sebagai penulis tentang rahasia istana dan plot masa depan, Yang Chi harus memutar otak untuk membersihkan namanya, menghindari hukuman mati, dan mengungkap konspirasi gelap yang ternyata jauh berbeda dari apa yang ia tulis di atas kertas
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di bawa ke istana
Long Wei menarik pintu lemari dengan satu sentakan keras. Yang Chi yang sedang bersandar pada pintu lemari tidak siap menahan berat tubuhnya sendiri yang kehilangan sandaran.
"Aaaaa!" teriak Yang Chi saat tubuhnya jatuh terjerembap ke depan.
Bruk!
Kejadiannya begitu cepat. Karena jarak Long Wei yang terlalu dekat, Yang Chi jatuh tepat di atas tubuh kaisar yang perkasa itu. Mereka berdua jatuh ke lantai marmer yang dingin dengan posisi Yang Chi menindih tubuh Long Wei.
Wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja. Yang Chi bisa merasakan napas panas Long Wei yang memburu karena marah, dan aroma maskulin yang bercampur dengan bau besi dari darah di pakaian pria itu. Untuk sejenak, dunia seolah berhenti berputar.
Mata tajam Long Wei menatap langsung ke dalam mata Yang Chi yang ketakutan. "Kau... berani-beraninya kau menyentuhku setelah membunuh permaisuriku?!" geram Long Wei dengan suara rendah yang menggetarkan dada.
Yang Chi gemetar hebat, ia ingin segera bangkit tapi kakinya terasa lemas seperti jeli. "I-ini tidak seperti yang kamu bayangkan, Om... eh, Baginda!" ucap Yang Chi keceplosan.
"Om? Siapa itu Om?!" bentak Long Wei dengan suara yang menggelegar. Alisnya bertaut, benar-benar tidak mengerti dengan kata asing yang baru saja keluar dari mulut wanita yang dianggapnya iblis ini.
Tanpa belas kasihan, Long Wei langsung mencengkeram leher Yang Chi yang sedang berada di atas tubuhnya. Cengkeramannya begitu kuat hingga Yang Chi kesulitan menghirup oksigen. Wajah kaisar itu sangat dekat, memancarkan kebencian yang mendalam.
"Lepasin... le-pasin saya..." rintih Yang Chi sambil memukul-mukul lengan kekar Long Wei yang terasa seperti besi. Matanya mulai berair, rasa sakit di lehernya benar-benar nyata, bukan sekadar imajinasi penulis lagi.
"Lepaskan?" Long Wei tertawa dingin, sebuah tawa yang terdengar sangat mengerikan di telinga Yang Chi. "Kau sudah membunuh istriku dengan tanganmu sendiri! Kau ingin aku melepaskanmu agar kau bisa lari kembali ke kerajaanmu yang busuk itu?!"
Cengkeramannya semakin menguat. Yang Chi merasa dunianya mulai berputar. Di ambang kesadarannya, ia sadar bahwa jika ia tidak bicara sekarang, nyawanya akan benar-benar berakhir di bab pertama novelnya sendiri.
"Aku... aku tidak membunuhnya, Kaisar!" seru Yang Chi dengan sisa tenaga yang ada, suaranya parau dan tercekik.
Long Wei tertegun sejenak. Ia menatap mata wanita di bawahnya. Biasanya, Xiao Xi Huwan akan menatapnya dengan penuh obsesi atau kesombongan, tetapi mata di hadapannya sekarang hanya memancarkan kejujuran dan ketakutan yang luar biasa.
"Jangan berbohong!" geram Long Wei, meski sedikit melonggarkan cengkeramannya karena bingung melihat perubahan sikap wanita itu. "Pedangmu ditemukan di samping tubuhnya! Semua pelayan melihatmu keluar dari sana!"
"Itu fitnah... ahh, maksudku... aku dijebak! Tolong beri aku waktu untuk membuktikannya!" Yang Chi memohon, tangannya gemetar memegang pergelangan tangan Long Wei.
Long Wei terdiam, menatap tajam ke dalam manik mata Yang Chi, mencari-cari kebohongan di sana. "Jika kau berbohong, aku sendiri yang akan memisahkan kepalamu dari tubuhmu dan melemparkannya ke jurang perbatasan."
Yang Chi memutar otak sekuat tenaga. Keringat dingin mengucur di pelipisnya sementara tangan Long Wei masih terasa dingin di lehernya. Ia mencoba mengingat-ingat setiap baris kalimat yang ia ketik di laptopnya tadi siang.
Ayo, Yang Chi! Pikir! Kenapa kamu membuat Xiao Xi sejahat itu? batinnya frustrasi.
Ia teringat satu detail: Di draf aslinya, Xiao Xi membunuh Yang Nan karena merasa terancam. Yang Nan diam-diam berencana mengambil alih wilayah kekuasaan Xiao Xi dan mengusirnya dari istana. Xiao Xi yang keras kepala tidak terima dan gelap mata.
Tapi ada satu hal yang mengganjal...
Waktu itu bukan hanya Xiao Xi yang ada di sana, batin Yang Chi. Ada seorang pria berbaju hitam yang mengawasi dari balik pilar. Dia yang sebenarnya memberikan pedang itu pada Xiao Xi!
"Siapa pria itu..." gumam Yang Chi tanpa sadar. "Kok aku bisa lupa siapa pria yang aku buat sendiri sih?!"
Long Wei menyipitkan mata, cengkeramannya sedikit mengendur karena heran melihat wanita di bawahnya ini malah bergumam tidak jelas bukannya meminta ampun. "Pria? Pria mana yang kau maksud? Jangan mencoba mengalihkan perhatianku dengan omong kosong!"
Yang Chi tersadar. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa Yang Nan yang memulai semuanya. Long Wei sedang sangat berduka; jika ia menuduh Yang Nan sebagai pihak yang jahat lebih dulu, Long Wei pasti akan langsung memenggalnya karena dianggap menghina kehormatan mendiang istrinya.
"Kaisar! Dengar dulu!" seru Yang Chi, mencoba mengatur napasnya yang sesak. "Aku memang ada di sana, tapi aku tidak sendiri! Ada pria lain yang sengaja menjebakku. Dia yang merencanakan semua ini agar Anda membenciku dan kerajaan kita berperang!"
Long Wei terdiam sejenak, menatap Yang Chi dengan tatapan merendahkan. "Kau pikir aku akan percaya? Siapa pria itu? Sebutkan namanya!"
Yang Chi menggigit bibir bawahnya. Sial, dia benar-benar lupa nama karakter figuran itu karena dia menulisnya saat sedang mengantuk berat.
"Dia... dia memakai pakaian serba hitam! Dia memiliki tato burung gagak di pergelangan tangannya!" Yang Chi mencoba mengarang detail yang sekiranya cocok dengan gaya tulisannya yang biasanya suka memberikan tanda pada tokoh jahat.
Long Wei tertegun. Ekspresinya berubah dari marah menjadi sangat waspada. "Tato burung gagak?"
Mampus, apa aku salah sebut? pikir Yang Chi panik melihat perubahan wajah Long Wei.
Saran Kelanjutan:
Tato burung gagak itu ternyata adalah simbol organisasi rahasia yang memang sedang dicari oleh Long Wei, sehingga Long Wei mulai ragu untuk membunuh Yang Chi sekarang.
Ekspresi Long Wei langsung berubah drastis. Amarah yang tadinya meledak-ledak kini berganti menjadi ketajaman seorang pemburu. Ia melepaskan leher Yang Chi, namun sorot matanya mengunci wajah gadis itu dengan sangat intens.
"Tato burung gagak... Jadi mereka benar-benar sudah masuk ke istanaku," gumam Long Wei dengan suara rendah yang berbahaya.
Yang Chi masih terbatuk-batuk kecil sambil menghirup oksigen sebanyak-mungkin. Ia merasa lega karena nyawanya baru saja tersambung kembali. Namun, kalimat Long Wei selanjutnya membuat jantungnya hampir copot.
"Jika kau tahu tentang organisasi itu, maka kau adalah satu-satunya saksi sekaligus umpan yang aku butuhkan," ucap Long Wei dingin.
Tanpa aba-aba dan tanpa permisi, Long Wei tiba-tiba menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Yang Chi. Dengan satu gerakan kuat, ia mengangkat tubuh Yang Chi ke dalam gendongannya (gaya bridal style).
"Ehh?! Mau bawa saya ke mana, Om?! Eh... Baginda!" pekik Yang Chi panik. Tangannya refleks mengalung ke leher Long Wei agar tidak jatuh. Tubuh kaisar itu sangat kokoh seperti batu karang, dan Yang Chi bisa merasakan detak jantung Long Wei yang stabil namun kuat.
"Diamlah, atau aku benar-benar akan melemparmu ke jurang!" bentak Long Wei sambil melangkah lebar keluar dari kamar, mengabaikan pelayan-pelayan yang bersujud ketakutan di sepanjang koridor.
"Tapi saya bisa jalan sendiri! Turunin saya!" seru Yang Chi, wajahnya memerah karena malu dan takut secara bersamaan. Bayangkan saja, ia baru saja membunuh istri pria ini (menurut alur novel), dan sekarang pria itu menggendongnya di depan seluruh penghuni istana.
"Kau adalah tahanan pribadiku sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu lepas dari pengawasanku barang sejengkal pun," jawab Long Wei datar. Ia membawanya bukan menuju penjara bawah tanah, melainkan ke arah sayap istana bagian barat—wilayah pribadi sang Kaisar yang sangat dijaga ketat.
Yang Chi hanya bisa pasrah. Ya Tuhan, ceritanya jadi makin ngawur dari yang kutulis! Di novelku Long Wei itu benci setengah mati sama Xiao Xi, tapi kenapa sekarang malah jadi begini? batinnya frustrasi sambil menyembunyikan wajahnya di dada Long Wei karena malu dilihat orang banyak.