"Bagiku, mencintaimu adalah anugerah terindah. Namun, membiarkanmu terus berjuang untukku yang hampir mati adalah sebuah dosa."
Arini tahu hidupnya tidak lama lagi. Di saat Rangga datang membawa cincin dan janji masa depan, Arini justru memilih untuk menghancurkan hati laki-laki itu. Ia ingin Rangga pergi, mencari wanita yang lebih sehat, dan hidup bahagia tanpa beban dirinya.
Namun, Rangga bukanlah pria yang mudah menyerah. Semakin Arini mengusir, semakin erat Rangga menggenggam.
"Aku tidak butuh masa depan tanpa kamu, Rin. Kalau kamu bilang kamu rapuh, maka biarkan aku hancur bersamamu."
Bisakah cinta yang sekarat menang melawan takdir yang kejam? Ataukah perjuangan Rangga hanya akan berakhir pada nisan yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Harga Sebuah Kesetiaan
BAB 3: Harga Sebuah Kesetiaan
Pagi itu, sinar matahari menembus celah gorden apartemen Arini dengan ragu-ragu, seolah takut mengganggu keheningan yang rapuh di dalam ruangan itu. Arini terbangun dengan rasa mual yang lebih hebat dari biasanya. Kepalanya terasa seberat beton, dan setiap kali ia mencoba menggerakkan lehernya, dunia seakan berputar dengan kecepatan yang menyakitkan.
Ia menoleh ke samping dan mendapati Rangga tertidur dalam posisi duduk di kursi kayu sebelah tempat tidurnya. Laki-laki itu masih mengenakan kemeja yang sama dengan kemarin, kini tampak sangat kusut. Wajahnya yang biasanya terlihat segar kini nampak kuyu, dengan lingkaran hitam yang mulai tegas di bawah matanya. Di pangkuannya, terdapat beberapa brosur rumah sakit dan catatan kecil yang penuh dengan angka-angka.
Arini menatap wajah tidur Rangga dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Lihatlah apa yang sudah kulakukan padamu, Ga, batinnya perih. Baru satu malam Rangga tahu kebenarannya, dan laki-laki itu sudah terlihat kehilangan separuh nyawanya.
Dengan susah payah, Arini bangkit. Namun, gerakan kecil itu membuat botol air mineral di nakas terjatuh. Suaranya cukup keras untuk membuat Rangga tersentak bangun.
"Rin? Kamu sudah bangun? Ada yang sakit? Mau ke kamar mandi? Atau mau minum?" Rangga menghujani Arini dengan pertanyaan beruntun, matanya langsung siaga meskipun nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
Arini menggeleng lemah. "Aku nggak apa-apa, Ga. Kamu... kamu nggak masuk kantor? Ini sudah jam delapan lewat."
Rangga tertegun sejenak, melirik jam tangannya. "Aku sudah kirim pesan ke bos. Aku ambil izin darurat hari ini. Aku harus mengantarmu ke rumah sakit untuk konsultasi ulang. Aku mau dengar langsung dari dokter soal prosedur pengobatanmu."
"Ga, kamu baru saja dapat promosi," suara Arini bergetar. "Jangan hancurkan kariermu cuma buat mengurusi orang yang... yang bahkan nggak tahu punya masa depan atau enggak. Tolong, pergi ke kantor. Aku bisa ke dokter sendiri.
Rangga berdiri, mendekati Arini dan menggenggam jemarinya yang kurus. "Karierku nggak ada artinya kalau aku kehilangan kamu, Rin. Jangan bahas soal itu lagi. Sekarang, kamu mandi pelan-pelan, aku siapkan sarapan. Kita berangkat jam sepuluh."
Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat panjang dan penuh tekanan. Di dalam mobil, tidak ada musik yang diputar. Hanya suara deru mesin dan klakson kota yang bising. Arini terus menatap ke luar jendela, sementara Rangga sesekali melirik ke arah tas Arini yang berisi surat rujukan dan hasil laboratorium.
Sesampainya di sana, aroma antiseptik yang tajam langsung menyambut mereka. Bagi Arini, bau ini adalah bau keputusasaan. Namun bagi Rangga, ini adalah medan perang baru yang harus ia menangkan.
Di ruang dokter spesialis onkologi, Rangga duduk dengan tegak, mendengarkan setiap penjelasan Dokter spesialis dengan sangat teliti. Ia mencatat nama-nama obat, jadwal kemoterapi, hingga kemungkinan efek samping yang akan dialami Arini.
"Jadi, Dokter, berapa peluangnya?" tanya Rangga dengan suara yang berusaha tetap stabil, meski Arini bisa merasakan tangan Rangga yang menggenggamnya di bawah meja sedang gemetar.
Dokter itu menghela napas, menatap hasil CT-scan di layar komputer. "Stadium empat selalu sulit, Pak Rangga. Tapi medis tidak pernah mengenal kata mustahil. Masalahnya, pengobatan ini akan sangat intensif dan... biayanya tidak sedikit. Kita bicara soal ratusan juta untuk tahap awal, belum termasuk biaya rawat inap jika kondisinya drop."
Arini merasa seluruh darahnya tersedot keluar dari wajahnya. Ratusan juta. Angka itu terdengar seperti lonceng kematian baginya. Ia tahu tabungan Rangga yang selama ini dikumpulkan dengan susah payah—tabungan untuk DP rumah impian mereka—tidak akan cukup jika harus menanggung semua ini.
"Ga, dengar kan? Kita pulang saja," bisik Arini dengan air mata yang mulai menggenang. "Jangan buang uangmu buat sesuatu yang belum pasti. Itu uang buat rumah kita... maksudku, buat rumahmu."
Rangga tidak menoleh. Ia tetap menatap dokter itu dengan tatapan tajam yang penuh tekad. "Lakukan yang terbaik, Dok. Masalah biaya, saya yang akan tanggung. Kapan kemoterapi pertamanya bisa dimulai?"
"Rangga!" Arini setengah menjerit saat mereka keluar dari ruangan dokter. "Kamu gila? Itu tabungan kamu selama lima tahun bekerja! Kamu mau tinggal di mana kalau uang itu habis?"
Rangga menghentikan langkahnya di tengah koridor rumah sakit yang ramai. Ia memegang kedua bahu Arini, memaksa gadis itu menatap matanya.
"Rin, rumah itu cuma bangunan. Rumahku itu kamu. Kalau kamunya nggak ada, rumah itu cuma jadi kuburan buat aku," ujar Rangga dengan nada yang dalam dan menyayat hati. "Jangan pernah pikirkan soal uang. Aku masih punya tenaga, aku bisa ambil lembur, aku bisa cari pinjaman. Yang harus kamu lakukan cuma satu: bertahan. Jangan menyerah, karena kalau kamu menyerah, aku nggak punya alasan lagi buat berjuang."
Arini terisak di pelukan Rangga. Rasa bersalah itu kini terasa lebih menyiksa daripada penyakitnya. Ia merasa menjadi beban, menjadi penghalang bagi kesuksesan Rangga. "Pusing" yang ia rasakan bukan lagi sekadar fisik, tapi pusing memikirkan bagaimana cara membalas kebaikan laki-laki ini jika suatu saat nanti ia tetap harus pergi.
Sore harinya, Rangga kembali ke apartemen Arini untuk mengambil beberapa pakaian Arini, karena dokter menyarankan Arini untuk mulai dirawat inap beberapa hari guna observasi. Saat Arini sedang tertidur karena pengaruh obat, ponsel Rangga berdering. Itu dari bosnya.
Rangga menjauh ke balkon agar suaranya tidak membangunkan Arini.
"Halo, Pak? Iya, maaf tadi saya tidak bisa masuk... Apa? Besok ada presentasi proyek di depan investor? Tapi, Pak, istri saya... maksud saya, calon istri saya sedang kritis... Saya mengerti ini proyek besar, tapi..."
Rangga terdiam. Wajahnya mengeras. Arini yang ternyata tidak sepenuhnya tertidur, menguping dari balik pintu kamar dengan hati yang hancur. Ia mendengar Rangga meminta maaf berulang kali, mencoba menegosiasikan waktu, hingga akhirnya Rangga berkata, "Kalau begitu, silakan berikan posisi manajer itu kepada orang lain, Pak. Saya tidak bisa meninggalkan dia sendirian saat ini."
Sambungan telepon terputus. Rangga menyandarkan kepalanya di pagar balkon, menarik napas panjang yang terdengar sangat berat. Ia baru saja melepaskan impian terbesarnya demi menjaga Arini.
Arini menutup mulutnya dengan tangan agar isakannya tidak terdengar. Ia ingin berlari ke balkon, memeluk Rangga, dan menyuruhnya pergi ke kantor. Tapi ia tahu, Rangga terlalu keras kepala. Laki-laki itu sedang mempertaruhkan seluruh hidupnya demi satu orang yang "rapuh" dan hampir hancur.
Malam itu, Arini bersumpah dalam hati. Jika Tuhan memberinya sedikit saja sisa waktu, ia tidak akan lagi meminta Rangga pergi. Ia akan mencoba bertahan, bukan untuk dirinya sendiri, tapi untuk membayar setiap peluh dan air mata yang Rangga jatuhkan demi menjaganya tetap bernapas.
Namun, di tengah doa itu, rasa sakit kembali menghantam kepalanya. Pusing yang luar biasa, seolah-olah ada sesuatu yang sedang merenggut kesadarannya secara paksa. Arini jatuh tersungkur di lantai kamar, membuat Rangga yang berada di luar langsung berlari masuk dengan wajah penuh kepanikan.
"Arini! Rin! Bangun!"