Diseret paksa oleh ayahnya untuk menggantikan kakaknya yang kabur sehari sebelum pernikahan, membuat hidup Aneska berubah 360 derajat.
Aneska yang membutuhkan uang untuk biaya berobat ibunya, yang sudah bercerai dengan ayahnya itu, akhirnya menerima perintah tersebut dengan berat hati.
Dan saat Danish mengetahui kalau sebenarnya yang dia nikahi bukan Aresha, melainkan Aneska, membuat ia menjadi sangat marah, dan bahkan tidak mempedulikan Aneska. Terlebih setelah fitnah yang Aresha lakukan pada adiknya sendiri.
Sementara Aneska menjalani kehidupan terburuknya setelah pergi dari Danish, dan ditinggal sang ibu untuk selamanya, tiba-tiba teman masa kecilnya datang. Pria itu juga membawa Aneska jauh dari kota tersebut, membuat Aneska meninggalkan kenangannya dengan sang suami, membawa benih cinta yang tertanam di rahimnya.
***
Original story by MYLIHU
Image from Freepik
Edited by Canva
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EgaSri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak terduga
Setelah selesai sarapan yang bisa dibilang sangat kesiangan itu, Aneska dan juga Danish kini sedang menuju ke tempat wisata Gili Trawangan. Mereka diantar oleh tour guide kesana.
Tour guide itu juga menjelaskan kepada mereka tentang tempat wisata itu, hingga Danish dan juga Aneska mengangguk paham. Dengan senyuman yang mengembang, Aneska berjalan di samping Danish.
Saat mereka tiba di Gili Trawangan, tidak terlihat satupun kendaraan di sana, karena pulau ini disebut sebagai pulau yang bebas polusi.
Menikmati pemandangan indah yang ada didepan mereka, Danish dan Aneska saling berpandangan penuh cinta. Dan setelah menjelaskan pada keduanya, tour guide yang sedari tadi menemani, akhirnya pergi dari sana, membiarkan kedua suami istri itu untuk menikmati momen berdua.
Saat keduanya puas menikmati pemandangan dan juga melakukan aktivitas fisik di tempat itu, perut yang sudah diisi tadi pagi, kini merasa kembali lapar.
Aneska dan juga Danish memiliki untuk makan di salah satu tempat makan di sana. Itu juga dibantu oleh tour guide mereka.
Kebahagiaan Aneska rasanya benar-benar membuat hatinya berbunga-bunga. Dalam hidupnya, baru kali ini Aneska merasa sebebas dan juga sesenang ini. Bersama dengan Danish sang suami.
Saat keduanya sudah kembali dari perjalanan mereka menyusuri Gili Trawangan, Aneska dan juga Danish kembali ke hotel. Rasa lelah hari ini rasanya terbayar oleh lembutnya ranjang hotel dan juga suasana hati yang bahagia.
Menikmati bulan madu mereka selama beberapa hari di Lombok, menyusuri tempat-tempat wisata populer, nyatanya itu menjadi healing yang sangat menyenangkan untuk mereka.
Dan setelah hampir satu Minggu di sana, kini mereka akan bersiap untuk pulang ke Jakarta.
"Kamu tunggu di dalam mobil sebentar, ya. Mas tiba-tiba pengen ke toilet," ujar Danish saat mereka sudah berada di lobby hotel.
Mendengar itu, Aneska pun mengangguk. Ia tersenyum menatap kepergian Danish, dan kemudian matanya beralih ke ponselnya. Ia membaca pesan-pesan yang dikirimkan oleh dokter yang merasa ibunya, dan mengatakan kalau perkembangan ibunya semakin baik.
Aneska menunggu cukup lama di dalam mobil, tapi Danish tak kunjung tiba di sana. Hingga Aneska mengerutkan keningnya, dan memilih untuk keluar dari mobil, berniat untuk menyusul Danish.
Setelah pamit ke supir mobil itu, Aneska berjalan ke arah toilet yang ada di lantai dasar. Ia terus mencari-cari keberadaan suaminya tapi nyatanya tak jumpa. Hingga lumayan lama ia menunggu di depan toilet pria, tapi Danish tak kunjung menunjukkan batang hidungnya.
Aneska merasa khawatir, ia lalu mencoba untuk menelepon Danish, tapi panggilan itu tidak diangkat oleh sang suami. Aneska takut terjadi apa-apa dengan Danish, ia terus berusaha untuk menghubungi suaminya itu, tapi tak berhasil.
"Mas? Kamu dimana?" tanya Aneska pada dirinya sendiri. Aneska semakin cemas, kemudian ia berputus mencari keberadaan Danish hingga ia melihat siluet suaminya itu berada di bagian samping hotel.
Dada Aneska berdebar kencang saat dia melihat Danish sedang berbicara serius dengan seorang wanita. Hingga saat Aneska tiba di depan kedua orang itu, betapa terkejutnya dia, saat melihat orang itu, ternyata adalah Aresha.
Aneska menatap mata Danish yang memandangnya dengan tatapan penuh kesakitan. Tatapan kecewa itu membuat Aneska merasa sangat bersalah.
"Mas ...." Aneska berusaha untuk meraih tangan Danish, tapi pria itu lekas menghindar. Sedangkan Aresha yang melihat adik kembarnya tampak kacau, tersenyum senang karena ia sudah berhasil mengacaukan hidup adiknya tersebut.
"Mas ... aku bisa jelasin sama kamu, Mas," ucap Aneska saat ia masih berusaha untuk meraih Danish. Tapi pria itu memberikan jarak yang membuat Aneska semakin merasa sakit.
"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan, Neska! Aku sudah mengatakan semuanya pada Danish!" seru Aresha, yang membuat Aneska menatap tajam kakaknya tersebut.
Dengan mata yang memerah karena menahan tangis, Aneska memandang pedih kakaknya itu. "Kamu pasti mengatakan yang tidak-tidak padanya, kan?! Kamu pasti mengatakan kebohongan, kan, Aresha!" Aneska berteriak marah, tapi kakaknya itu hanya tersenyum sinis.
"Ayo kembali! Kita akan membahas ini saat tiba di rumah nanti!" Danish mengatakan itu dengan nada suara yang terdengar dingin dan juga ketus. Bahkan sebelumnya, Aneska tak pernah mendengar nada bicara ini keluar dari mulut Danish.
"Mas?!" Aneska mencoba menolak, ia juga masih berusaha untuk meraih Danish, tapi kaki Danish yang tiba-tiba melangkah dari sana, membuat harapan Aneska pupus.
Kepergian Danish membuat hati Aneska terasa sangat sakit. Ia kemudian menatap kearah Aresha yang tersenyum puas.
"Kamu memang benar-benar bukan manusia! Tidak ada seorang Kakak, yang seperti kamu!"
***
Selamat membaca!