Sekuel Istri Tomboy Sang Pangeran 1, jadi yang belum baca Istri Tomboy Sang Pangeran 1 baca dulu ya... penasaran yuk kepoin novel ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Its Zahra CHAN Gacha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19 # Guru Baru Part 2
"Sudah ngaji?, bisa ngaji tidak?" tanyanya lagi
Cassey hanya diam dan tersenyum kepadanya.
"Jawab ibu!" tanya Umi
Cassey lagi-lagi hanya tersenyum tanpa menjawab.
"Saya bisa ngaji Bu, tapi saya tidak pernah ngaji, jangankan ngaji sholat saja saya masih bolong-bolong," jawab Cassey
"Sehari kamu sholat berapa kali?" tanya Umi
"Sekali, kadang dua kali itu juga kalau diperintah sama guru disekolah atau diajak teman, kadang juga gak sholat sama sekali, jawab Cassey
"Astaghfirullah!!, apa ayah kamu tidak menyuruh kamu sholat!" tanya Umi dengan nada tinggi
"Ayah saya sudah meninggal Bu," jawab Cassey
"Terus ibu kamu tidak nyuruh kamu sholat?" tanya Umi Kulsum
"Ibu saya juga jarang sholat, jadi ya tidak pernah menegur saya," jawab Cassey
"Hmmm, tapi kamu sudah baligh kan?" tanya Umi
"Sudah Bu," jawab Cassey
"Kamu tahukan kalau sholat itu wajib apalagi bagi yang sudah baligh seperti mu, lalu apa yang akan kamu berikan kepada ayahmu yang sudah meninggal jika kamu jarang sholat?, bahkan mendoakannya saja pasti tidak pernah apalagi mengiriminya Al Fatihah," ucap Umi
Cassey hanya diam dengan mata berkaca-kaca, ia sadar semua yang oleh Umi Kulsum memang benar, dan dia menyesal karena tidak pernah mendoakan papihnya atau mengirimkan Al Fatiha.
"Sekarang sholat dzuhur dan jangan lupa doakan ayahmu dan hadiahkan Al Fatihah untuknya, karena bagi orang tua kita yang sudah meninggal yang dia harapkan cuma satu, yaitu doa dari anak-anaknya. Sekarang ambil wudhu dan sholat! , jangan lupa balik lagi ke ruangan ini untuk mengaji!" perintah Umi
Cassey segera pergi menuju ke mushola untuk sholat dzuhur.
*************
Bagas masih menunggu Cassey dikelasnya.
"Kaka tidak pulang?" kata Naeswari yang menghampirinya di kelas bersama Pandu
"Aku nunggu Key dulu," jawab Bagas
"Hari ini paman Tama tidak bisa menjemput, nanti aku boncengan bareng Pandu, kaka bareng ka Cassey ya," ucap Nay
"Iya, tapi tungguin biar kita pulang bareng," sahut Bagas
"Ok, tapi masih lama gak, kalau lama Nay duluan saja," ucap Naeswari
"Itu dia sudah selesai!" jawab Bagas senang
"Kaka nanti anter kaka ke rumah kakek ya, soalnya paman Tama tidak menjemput, " ucap Naeswari
"Siap!, tapi aku tidak tahu rumahnya gimana?" tanya Cassey
"Nanti kita pulang bareng, santuy aja Pandu sudah tahu kok," sahut Nay
"Ok, kuylah kalau gitu," balas Cassey
Mereka berempat segera bergegas menuju ke parkiran.
"Hallo Key, udah kelar sholatnya," sapa Hermes
"Hai Mez, udah dong nih aku mau pulang sekarang," sahut Cassey
"Lo pulang kerumah atau mampir dulu?" tanya Hermes
"Gue mau nganter my baby ke rumah kakeknya dulu, lo mau ikut ga?" tanya Cassey
"Boleh kalau diijinin, lagi bt juga kalau pulang ke rumah," sahut Hermes
"Guys, si Hermes boleh ikut ke rumah kakek Danar ga?" tanya Cassey
"Boleh!" jawab Nay
"Hey, Nay juga ikut toh," sahut Hermes senang
"Yoi Bro, kan Nay sama Bagas yang mau ketemu kakeknya," jawab Cassey
"Jadi mereka ini adik kakak toh?" tanya Hermes
"Yoi!’ jawab Cassey
Mereka kemudian melesatkan motornya meninggalkan sekolahnya.
Umi Kulsum berjalan menuju ke halte bus untuk menunggu bus yang akan mengantarkannya kerumahnya.
Tak berapa lama bus yang ditunggu pun datang, ia segera naik ke atasnya.
Ditengah perjalanan ia melihat segerombolan anak-anak berseragam SMA yang sedang baku hantam menggunakan berbagai senjata tajam. Ia bergidik ngeri melihat kejadian itu, ia juga sangat miris melihat anak-anak muda yang saling menyakiti itu. Banyak mobil yang terpaksa berhenti atau harus memutar balik karena tawuran itu. Sebenarnya ia ingin tidak peduli seperti orang lain yang hanya menontonnya tanpa berani melerai mereka, namun hati kecilnya berkata ia harus melerai mereka ia tidak mau terjadi pertumpahan darah atau jatuh korban dalam tawuran itu.
"Kiri bang!" teriak Kulsum
Sopir bus segera menghentikan mobilnya, dan Umi Kulsum segera turun dari sana.
Ia melihat ponselnya dan memberanikan diri untuk membubarkan tawuran itu.
"Bismillah, Ya Allah lindungilah hamba mu ini," batinnya
Ia tersenyum simpul ketika melihat seorang pengamen jalanan, dan mendekatinya.
"Boleh saya pinjem sound sistemnya?" tanya Umi
Karena hari itu tanggal dua puluh lima tentu saja Umi Kulsum memakai seragam PGRI sehingga orang lain pasti bisa menebak kalau dia adalah seorang guru.
"Boleh bu guru silahkan," jawab wanita itu
"Terima kasih ibu," ucap Kulsum
"Sama-sama bu guru," jawab wanita itu
Ia segera menyambungkan kabel ponselnya ke sound sistem itu dan segera memutar bunyi sirine mobil polisi, sehingga membuat para siswa yang sedang tawuran lari kocar-kacir. Tapi tak sedikit dari mereka yang masih stay disana hanya untuk menyelesaikan perkelahiannya.
"Bubar!!!, mau jadi apa kalian!" teriak Umi mendekati mereka
Ia kemudian mengambil senjata yang mereka pegang, satu persatu.
"Apa kalian mau mati konyol!, apa sudah bosan hidup!!, apa kamu sudah siap masuk neraka!!, makanya mau jadi jagoan sok-sokan mau bunuh orang!"
"Lihat Ibu!, walaupun ibu bukan guru kalian, tidak mengajar kalian tapi ibu peduli dengan kalian, anggap saja saya ini ibu kalian!, jadi sekarang bubar!, sayangi nyawa kalian!!, jangan sampai kalian mati konyol gara-gara tawuran, mati masuk neraka lagi, apa kalian mau seperti itu hah!" ujar Umi
"Hah, emak-emak tua bacot apaan sih!" teriak salah seorang dari mereka
Umi Kulsum segera menghampiri anak itu dan segera menamparnya dengan keras.
***Plaak!!!
"Sakit?" tanya Umi
"Baru ditampar saja sudah sakit bagaimana kalau kamu ditusuk samurai, dibacok pakai gir, apa gak mati kamu!, pikir pakai otak, jangan pakai dengkul!" cibir Kulsum sembari menepuk-nepuk kepalanya
"Sekarang bubar!!, atau kalau tidak ibu telpon polisi sekarang!" bentaknya
Seketika semua anak-anak itu langsung bubar meninggalkan tempat itu.
"Alhamdulillah!, akhirnya bubar juga!" ucap Kulsum menghela nafas
Tiba-tiba ada seseorang yang tidak terima dengan tindakan yang dilakukan oleh Umi Kulsum.
Diam-diam ia memanggil teman-temannya dan kembali menghampiri wanita paruh baya itu.
Cassey menghentikan motornya ketika melihat seorang guru yang sedang dikepung oleh sekelompok anak laki-laki berseragam SMA.
"Bukankah dia guru baru itu!" gumam Cassey yang turun dari motornya dan berjalan mendekati mereka
"Jangan sok pahlawan deh ibu!" hardik salah seorang dari mereka
"Gara-gara ibu yang sok jagoan musuh kami kabur!, makanya ibu harus tanggung jawab atas apa yang sudah ibu lakukan, kami tidak peduli walaupun kamu adalah seorang guru, tidak guna!!, tanpa kamu kami juga tetap hidup kok, kami gak butuh ceramah kamu," ucapnya sinis
"Sekarang kamu boleh bicara seperti itu, tapi kamu akan menyesal nanti, ingat perkataan ibu itu!" jawab Kulsum
"Ahhh bacoot!!" pemuda itu hendak melayangkan sebuah gir kearah Umi Kulsum tapi Cassey segera menahan lengan pemuda itu.
"Jangan beraninya melawan orang tua yang lemah!, kalau lo berani lawan gue!" tantang Cassey
"Emangnya siapa kamu!" tanya pemuda itu
"Gue anaknya!" jawab Cassey
tp kok mlh gk nyambung gini ya.
agak sedih kecewa😔😥
suka bget sama novel kk😘
info lanjutannya dong kaaa,, makasiii
wkwkwk
yakali cuman 25 dah berat?
gang gesrekk
😂😂😂😂