罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18 - Dojo part I
...**...
...肉に残る火...
...-Niku ni nokoru hi-...
...'Api yang tertinggal di dalam arang'...
...⛩️🏮⛩️...
..."Naga tidak tumbuh dari kemenangan....
...Mereka tumbuh dari luka yang tak kunjung sembuh."...
...⛩️🏮⛩️...
Tubuh Noa masih terkulai di lantai. Sunyi begitu pekat hingga bunyi napas tiga pria itu pun terdengar seolah berirama.
Akiro masih berdiri tegak, seperti pilar batu.
Reiji menyunggingkan senyum tipis, raut wajah yang tak bisa ditebak.
Kaede, dengan napas teratur yang kembali dingin, menatap tanpa belas kasihan.
...⛩️🏮⛩️...
Arena diliputi keheningan yang berat.
Semua orang yang menyaksikan tahu—naga itu terbangun melalui kekuatannya.
Hanya saja tubuh pewarisnya belum mampu atau terlalu lelah untuk menampungnya.
Dan seketika itu jari Noa bergetar samar—residu terakhir dari kekuatan yang terlalu besar untuk tubuhnya—para tetua saling bertukar pandang.
"Bukan pertarungan," bisik salah satunya.
"Ini hanya peringatan."
...⛩️🏮⛩️...
Pertarungan ini bukan pelepasan penuh. Bukan ledakan dahsyat yang menghancurkan segala hal di sekelilingnya.
Ini hanyalah bisikan gelap dari kekuatan yang belum seluruhnya menguasai tubuhnya. Tanpa kesiapan dan latihan yang matang, tubuh Noa hanya mampu menanggung sebagian dari kekuatan itu lalu runtuh, bukan karena kalah, tapi karena batas dirinya sendiri.
Kuraokami belum memberi izin penuh. Ia menunggu. Menguji.
Namun, sudah cukup bagi dunia ini untuk tahu bahwa api itu menyala. Dan Noa... sudah mulai menjadi sesuatu yang tak bisa diabaikan.
...⛩️🏮⛩️...
Oyabun berdiri.
Tidak ada ekspresi di wajahnya.
Tapi ia berkata, cukup lantang untuk seluruh arena mendengar.
"Dia... belum naga seutuhnya. Tapi tempaannya mulai benar."
Tatapan Hane dari tribun atas, khawatir tapi tak bisa berbuat apa-apa. Jin dan Torao saling bertukar pandang, mereka yang melatih Noa tahu, keterampilan bertarungnya belum seharusnya diuji secepat ini, tapi... mungkin ini satu-satunya cara untuk tahu kebenarannya.
Kuroda, duduk diam, wajah tanpa ekspresi. Tapi jari buntung di tangannya menggenggam kuat kursi seakan tahu ini momen yang telah ditentukan sejak pengorbanannya dimasa lalu.
Lalu dengan nada sangat datar, Raizen mengangkat satu tangan dan berseru ke seluruh klan:
"Kalau esok dia tidak bertahan, itu salahnya.
Tapi kalau dia hidup...
... kalian semua harus belajar menerima naga baru di rumah ini."
...⛩️🏮⛩️...
Empat hari berlalu setelah pertarungan itu. Sejak darah Noa memenuhi beberapa titik lantai arena, dan naga tua di dalam tubuhnya mulai mengaum untuk pertama kalinya.
Selama empat hari, tubuhnya masih terbaring di ruang pemulihan, penuh perban, napas pendek, dan denyut nadi yang kadang menggila, kadang lenyap bagai ditarik keluar dari dunia ini.
Para tabib bekerja siang dan malam. Bukan hanya dengan obat herbal dan teknik pengobatan tubuh, tapi juga jampi dan pengikat roh.
Kekuatan itu... tidak berhenti.
Bahkan ketika tubuhnya terkulai lemah, ketika napasnya nyaris tak terdengar, sesuatu tetap bergerak di dalam Noa.
Kuraokami—roh purba yang seharusnya tertidur—masih menyala di dalam darahnya. Ia menolak diam. Menolak tunduk.
Setiap kali jantung Noa berdetak, segel naga merah di punggungnya ikut berdenyut seperti makhluk hidup. Tinta itu berpijar samar, menyala redup di bawah kulit—merah bara, kemudian meredup, lalu kembali menyala. Seolah sedang bernafas.
Tabib tertua yang mengawasi proses pemulihan hanya bisa menunduk, suaranya berat seperti menahan beban rahasia.
"Bukan kekuatan yang tak terkendali," katanya.
"Tapi tubuhnya belum cukup mampu untuk menampungnya. Ini bukan luka. Ini penyesuaian."
Dan dengan itu, efek samping pun mulai tampak.
Otot-otot di lengan Noa berdenyut tidak normal. Urat di lehernya mengeras, membentuk pola samar seperti sisik yang tertanam di bawah kulit. Kedua matanya, bahkan saat tertidur, berkilat biru keperakan—warna khas Kuraokami. Kadang sinarnya muncul seperti pantulan air, lalu padam kembali begitu cepat seolah bersembunyi.
Namun, segel di punggungnya menahan semuanya agar tidak meledak keluar.
Itulah fungsi utamanya: menyelaraskan antara roh dan tubuh.
Segel naga merah bukan hanya kurungan, tapi juga penyeimbang—membatasi agar Kuraokami tidak menelan tubuhnya sekaligus memastikan agar tubuh itu tidak hancur saat beradaptasi dengan kekuatan roh.
Setiap kali kekuatan itu bangkit terlalu kuat, sisik-sisik naga merah di punggungnya menyala, dan pola naga tampak bergerak, menelan aliran energi liar di sepanjang tulang belakang.
Kadang Noa merasa dadanya sesak. Kadang ia tak sadar tubuhnya terbakar suhu tinggi yang tak bisa dijelaskan secara medis.
Tapi segel itu selalu menekan, mengatur, menyeimbangkan.
Tabib menulis dalam catatan ritual:
'Segel naga Tenryuu bukan hanya belenggu. Ia adalah penengah antara dua dunia—antara air dan api, antara kutukan dan penyelamat.'
Hari berganti malam. Malam berganti hari.
...⛩️🏮⛩️...
Pada hari kelima, saat kabut pagi masih menggantung di halaman kuil karantina, Noa membuka matanya.
Napasnya masih berat. Tapi kali ini... ia tak lagi gemetar. Tubuhnya bangkit perlahan, dengan bertumpu pada tangan yang masih lemah, dan ia berdiri.
Pusing langsung menyergap. Noa terdiam sejenak, mata terpejam rapat, satu tangan menekan pelipis sambil menunggu keseimbangannya kembali. Rasa pening itu segera mereda. Dengan tubuh sedikit membungkuk, ia melangkah pelan menuju cermin yang tergantung di dinding karantina.
Setiap langkah, tubuhnya seperti menolak perintah kepala. Tapi tetap ia paksa bergerak—karena ia tak ingin terlihat menyedihkan dan satu-satunya cara untuk pulih dengan cepat dengan melenturkan setiap engsel tubuhnya.
Pantulan pertama yang ia lihat adalah wajah pucat dan lesu—seperti seseorang yang baru terbangun dari tidur panjang. Selain itu, terlihat jelas semburat bekas luka dan lebam samar di beberapa titik tubuh. Beberapa perban yang sebelumnya menutupi luka telah dibuka.
Ia membalikkan badan, membelakangi cermin. Di punggungnya, tato naga merah itu tampak... normal. Meski begitu, ia masih bisa merasakan sisa kedutan halus yang berulang—pelan, teratur, dan stabil.
Ia tahu apa artinya itu.
Ia hidup bukan karena roh Kuraokami membiarkannya.
Ia hidup karena segel itu menahannya untuk tetap di dunia manusia.
Dan pertama kalinya, Noa menyadari sesuatu:
bahwa setiap detak jantungnya kini bukan miliknya lagi, melainkan bagian dari kontrak dua arwah purba yang terus saling menimbang— siapa yang lebih dulu menelan siapa.
Untuk saat ini ia hidup. Ia bertahan.
Dan di pagi itu... Noa mulai berjalan keluar.
Dengan satu pengawal di belakangnya—kali ini Arakawa Kaito, Noa melangkah pelan melewati koridor utama markas. Setiap langkah terasa ganjil seolah tubuhnya sedang menyesuaikan kembali.
Dan beberapa langkah berikutnya, tubuhnya mulai tegap kembali.
Anggota klan yang dilewatinya berhenti untuk sedikit menganggukkan kepala—memberi salam. Tak semua ramah. Tak semua suka. Tapi... tak ada yang mengabaikan kini.
Di balik rasa sakit, ia menyadari satu hal: namanya sudah masuk ke dalam topik pembicaraan. Ia bukan lagi bayangan di belakang yang tak dianggap.
Ia mulai bagian dari peta.
Dan klan mulai memperhatikannya.
...⛩️🏮⛩️...
Saat melewati halaman latihan, Noa berhenti.
Dojo* utama berdiri di tengah halaman luas yang dikelilingi pohon cemara dan tiang-tiang kayu tua. Bangunannya semi-terbuka—beratap tradisional, tapi sisi-sisinya dibiarkan terbuka agar angin dan cahaya masuk dengan bebas. Bau keringat, bambu, dan tanah basah bercampur dalam udara pagi.
Puluhan anggota muda dan dewasa tengah berlatih. Suara benturan kayu, napas berat, dan pekikan teknik memenuhi ruang terbuka itu. Irama brutal yang hanya lahir dari disiplin dan rasa sakit.
Namun bukan hanya mereka yang ada di sana.
Di sisi kiri dojo, terpisah dari barisan biasa, tiga sosok muda berlatih sendiri: Yamaguchi Akiro, sang ahli teknik dua bilah yang tak pernah tersenyum; Reiji, gerakannya sunyi tapi mematikan; dan Kaede, paling agresif: kekuatan mentah yang dibungkus kendali militeristik.
Ketiganya telah pulih jauh lebih cepat dari yang diperkirakan. Sehari setelah pertarungan, mereka sudah layaknya manusia tanpa luka. Tubuh mereka, penuh bekas luka dari latihan dan medan nyata, seolah telah terbentuk untuk menyatu dengan rasa sakit. Mereka tidak hanya menahan luka—mereka hidup dari luka.
Gerakan mereka presisi, cepat, dan tanpa ampun. Mewarisi darah Oyabun bukan sekedar kehormatan, tapi juga beban dan takhta yang harus direbut satu sama lain.
Di sisi kanan dojo, lima sosok bertopeng Gokaishu—berlatih dalam keheningan mematikan. Dengan satu sosok ketua—Hayato yang hanya diam di pojok mengamati. Gerakan mereka berlima seperti mesin pembunuh: efisien, tenang, tak bernyawa. Topeng mereka berbeda: rubah putih, tengkorak retak, burung hantu hitam, senyum joker, dan wajah arang seperti luka bakar.
Salah satu dari mereka, tengkorak retak berhenti. Dan Hayato, menoleh. Hanya Hayato yang mengangguk pelan saat memandang Noa. Lama. Seolah mencoba mencium bau sesuatu yang tumbuh dari dalam dagingnya.
Lalu mereka kembali mengalihkan pandangan.
...—つづく—...
...*tempat di mana orang berlatih seni bela diri...
disisi lain, noa bener² berjuang bertahan hidup bersama bibi yang memang sebenarnya ibu kandungnya. kondisi yang cukup memprihatinkan untuk mereka berdua yang sebatang kara
sungguh alur cerita ini membuat penasaran untuk terus membacanya
kuat banget udahan, pengambilan konfliknya juga menarik. Geisha, si penghibur yang dihargai di Jepang. pasti si Rin ini cantik banget sampai kayaknya jadi pusat. Btw kakak Author kamu risetnya jalur film apa pernah kesana, bisa buat setting yang jepang banget 👍